Share

Dua Ronde

last update publish date: 2025-11-26 18:27:05
Di sebuah apartemen modern dengan jendela besar yang menghadap ke langit Jakarta, Rhevan duduk santai di meja makan mungil. Rambutnya masih acak-acakan, kaus putihnya kusut seperti baru bangun tidur. Di hadapannya, piring berisi roti panggang dan telur orak-arik masih mengepul.

Amanda keluar dari dapur sambil membawa dua gelas jus jeruk. Ia juga masih memakai piyama satin warna baby blue—dan jelas sekali jika dia juga baru bangun.

Ia duduk di seberang Rhevan, menyeliplan rambutnya ke belakan
CH. Blue Lilac

Ayo semangatin othor biar bisa rajin lagi up-nya.

| 25
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Ayu Aqilla
semangat y thor.
goodnovel comment avatar
Wahyuningsih D.Sumitro
pasti disemangatin terus donk makin seru makin deg2an manda sama rhevan. andai rhevan tau kl manda udh ngirim bukti perselingkuhan mereka ke Nadin gimana y....
goodnovel comment avatar
Aas Hasanah
ko ga ada lanjutannya thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Terimakasih Pengertiannya

    "Ga, aku boleh tanya sesuatu?" Perempuan itu mulai angkat bicara. Namun terdengar nada kehati-hatian di sana. Juga sedikit rasa ragu. Alis Dirga sedikit berkerut saat melihat ekspresi wajah Nadine yang berubah jadi lebih serius. "Nanya apa, Nad?" “Kalau nanti kita udah nikah—” Nadine berhenti sebentar, mencari kata. “Aku boleh tetap kerja nggak?” Dirga menatapnya. Wajahnya berubah serius dan dalam. Pertanyaan barusan membuatnya agak kaget. Nadine menelan ludah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Kalau aku mau lanjut karir aku—” lanjutnya pelan, “kamu gimana?” Dirga tidak langsung menjawab. Ia bersandar sedikit, lalu menghela napas pendek. Dan ketika ia bicara, nadanya berubah tegas. “Kenapa kamu nanya itu?” Nadine sedikit gugup. “Cuma… pengen tau aja.” Dirga menatapnya lekat. Lalu berkata tanpa ragu, “Kamu mau tetap kerja atau enggak, bukan hakku untuk mengaturnya, Nad.” Nadine langsung terdiam. Kalimat Dirga barusan cukup membuat jantungnya berdegup kencang. A

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Coba Tanya Dirga!

    Sarah menatap Nadine dengan ekspresi penuh harap, meskipun masih ada sisa kesal di wajahnya. “Mba Nad…” katanya sambil mendekat sedikit, menurunkan nada suara. “Coba deh ngomong ke Pak Dirga.” Nadine langsung mengernyit tipis. “Ngomong apa?” “Ya soal ini,” jawab Sarah cepat. “Suruh buka loker baru buat admin gitu! Kita kekurangan orang banget kayaknya. Makanya kerjaan jadi numpuk semua ke kita.” Dea yang berdiri di samping hanya melirik sekilas, sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Nadine menghela napas pelan. “Mba Sarah…” ucapnya hati-hati, “itu kan kebijakan perusahaan, dan itu nggak ada hubungannya sama aku.” “Iya, aku tau,” potong Sarah cepat. “Tapi kan kamu bisa ngomong ke dia. Maksudku, kamu kan calon istrinya Pak Dirga. Pasti bisa dong bujuk dia untuk nambah pegawai.” Nadine langsung menggeleng kecil. “Aku nggak mau ikut campur urusan kayak gitu,” jawabnya tenang, tapi tegas. “Meskipun aku sama dia ada hubungan, tapi itu diluar ranahku, Mba." Sarah mendengkus

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ingin Jadi Satu-satunya

    Amanda terdiam cukup lama setelah kata-katanya sendiri menggantung di udara. Tangannya masih menggenggam ponsel, tapi kini perlahan melemah. Lalu tiba-tiba sebuah ingatan muncul begitu saja. Ucapan yang dulu pernah ia lontarkan dengan santai, bahkan sambil tertawa kecil. [“Aku mah nggak masalah kalau harus jadi pelakor lagi.”] Amanda langsung mengernyit. Wajahnya berubah. “Itu…” gumamnya pelan, suaranya terdengar getir, “bohong.” Ia menggeleng kecil. Bukan “bohong” sepenuhnya, lebih tepatnya—menutupi apa yang sebenarnya ia rasakan. Siapa sih yang benar-benar mau jadi orang ketiga? Siapa yang mau dicintai tapi harus berbagi? Amanda tertawa kecil meskipun tidak ada yang lucu. “Konyol banget aku waktu itu,” bisiknya lirih. Ia menatap jauh ke depan, matanya mulai berkabut. “Aku juga pengen jadi satu-satunya.” Amanda tidak menyangkalnya. Ia juga ingin dicintai dengan utuh. Tanpa bayangan orang lain. Tanpa harus sembunyi-sembunyi. Tanpa harus merasa bersalah. “Tapi kenapa?” alisny

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jadi Pelakor Untuk Kedua Kalinya?

    Sementara itu, di tempat lain… Langit malam tampak gelap tanpa bintang. Angin berhembus pelan, mengibaskan tirai tipis di balkon rumah Amanda. Amanda berdiri di sana, bersandar pada pagar balkon dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya muram, alisnya berkerut sejak tadi. Tatapannya kosong, tapi pikirannya penuh. Sudah tiga hari. Tiga hari sejak Dimas bilang “keluar kota” untuk urusan kerja. Dan sejak itu, pria itu seperti hilang. Membuat Amanda merasa ditinggalkan. Teleponnya jarang diangkat. Kalaupun tersambung, jawabannya singkat, terburu-buru, seperti tidak punya waktu. Chat? Dibalas.Tapi lama. Sangat lama. Amanda menghela napas panjang, rahangnya mengeras. “Apa sih sebenarnya yang dia lakukan?” gumamnya pelan. Ia mengambil ponselnya lagi, menatap layar chat yang terakhir. [“Kamu lagi di mana?”] Ia mengetik pesan itu dari pagi. Dan dibalas singkat sore harinya sambil berjanji akan mengubunginya lagi nanti. Dan “nanti” itu hanya jadi angin lewat hingga detik ini. Amanda meng

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Belum Selesai

    "Sekarang ayo kita cek souvenir!" ajak Dirga sambil masuk ke mobil. Nadine langsung menyandarkan kepala ke kursi. “Boleh-boleh," katanya dengan penuh semangat. Toko souvenir yang mereka datangi penuh dengan berbagai pilihan—dari lilin aromaterapi, mini plant, sampai pouch custom. Nadine berjalan pelan, matanya berbinar lagi meskipun lelah. “Lucu banget…” gumamnya sambil memegang mini succulent. Dirga berdiri di sampingnya. “Yang ini?” “Hmm… iya. Tapi takut ribet.” Mereka pindah ke rak lain. “Aku suka yang ini,” kata Dirga tiba-tiba, menunjuk set kecil berisi lilin aroma terapi dan kartu ucapan. Nadine melihatnya. “Bagus juga sih. Bisa buat bikin ruangan wangi." “Kita coba cek sana dulu, deh!" Nadine mengangguk setuju. Mereka memilih beberapa barang yang bisa dijadikan souvenir. Akhirnya, setelah cukup lama memilih dan berdiskusi, mereka sepakat mengambil souvenir yang sederhana tapi berkesan—sesuatu yang bisa dipakai dan diingat. *** Hampir jam 7 malam ketika

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Custom Gaun

    "Tunggu! Biar aku tebak. Kalian ke sini pengen buat gaun pengantin kan?" Tebakan Risma itu membuat Nadine langsung salah tingkah. Pipinya memerah, ia refleks melirik Dirga sebentar sebelum menunduk kecil. Dirga yang melihat itu justru menyeringai tipis. “Wah,” celetuknya santai. “Selain jadi designer, sekarang kamu jadi tukang ramal juga ya, Ris? Kok bisa tau tujuan kita ke sini?” Risma yang awalnya santai, langsung membeku sepersekian detik. “Hah?” matanya membulat. “Loh—” Ia menatap mereka bergantian. “INI SERIUSAN?!” suaranya langsung naik satu oktaf. Dirga hanya tersenyum kecil. Alisnya bergerak naik turun tanda mengiyakan. “YA AMPUNNN!!” Risma langsung heboh sendiri. Tanpa aba-aba, ia langsung memeluk Nadine dengan antusias. “Selamat! Selamat ya kalian!” katanya sambil sedikit menggoyang tubuh Nadine saking senangnya. Nadine terkekeh kecil, masih malu-malu. “Makasih, Mba.” Risma melepaskan pelukannya, tapi kedua tangannya masih memegang lengan Nadine. Wajahnya benar-benar

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Bertengkar

    Amanda tertawa pendek, getir. “Oh, jadi sekarang kamu mau hitung-hitungan?” Ia melangkah mendekat, menantang. “Aku dapat itu semua juga karena aku udah ngasih kenikmatan buat kamu. Hal yang nggak bisa Nadine berikan?”Ucapan Amanda menggantung di udara, tajam dan menusuk. Rhevan terdiam. Untuk sesa

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tak Sudi!

    “Kalau Mama mau, Mama saja yang pergi memohon ke Nadine supaya bebaskan si Rhevan. Papa nggak sudi!”Ucapan itu masih menggantung di udara ketika Pak Wijaya berbalik dan melangkah pergi. Suara langkah kakinya terdengar menjauh, disusul bunyi pintu kamar yang ditutup keras—seolah menjadi penegasan b

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Dari Siapa?

    Ia mengambil benda itu dan mengeceknya. Ternyata itu dari Bu Keke. “Dari siapa?” “Bu Keke.” “Ya udah, angkat aja!” Nadine menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. Dirga bisa melihat jelas jemari perempuan itu masih sedikit bergetar. “Halo, Bu,” jawab Na

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Kamu Meragukanku?

    Dirga mengerutkan keningnya dalam, sementara jarinya masih menahan dagu Nadine. Tatapan menajam—tapi bukan marah, hanya sedikit tersentil oleh ucapan Nadine.“Nada bicaramu barusan,” ucap Dirga pelan namun serius, “kedengarannya kayak kamu meremehkan aku.”Nadine tersentak. Ia segera menggeleng, ag

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status