Share

Penguntit

Penulis: CH. Blue Lilac
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-04 20:16:34

Nadine mengernyit. Tatapannya menelusuri wajah Sarah yang mendadak serius, bahkan terlalu serius untuk ukuran obrolan barusan.

“Tapi apa, Mba Sarah?” tanyanya waspada. Jantungnya sempat berdegup lebih cepat. Dalam kepalanya sudah bermunculan berbagai kemungkinan—tentang Dirga lagi, tentang Clara lagi, atau tentang sesuatu yang lebih menyakitkan.

Sarah diam beberapa detik. Alisnya sedikit berkerut, bibirnya terkatup rapat. Lalu tiba-tiba—

“Laper nih, Mba.”

Nadine auto melongo. “…Hah?”

Sarah meng
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Wahyuningsih D.Sumitro
ini udh puluhan bab tp ceritanya maaih perang dingin antara dirga dan nadin cape bgt ga sih bacanya...
goodnovel comment avatar
Surianti Ajah
ceritanya gitu aja, jadi malas de....
goodnovel comment avatar
Christina Galingging
Udah paling pas, Dirga dan Nadine sama2 cuek aja, sama2 dingin, biar makin mumet mikirinnya...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ada Orang Lain

    "Yah— kamu benar." Dirga menegakkan punggungnya, seolah baru tersadar pada satu kenyataan yang sengaja ia kesampingkan. Gerakannya refleks—menjaga jarak saat Nadine mulai menyebut nama yang sama-sama mereka hindari. "Aku lupa kalau masih punya Clara." Kalimat itu jatuh pelan, tapi cukup untuk menghantam. Nadine meremas ujung kemejanya sendiri di bawah meja. Jemarinya mengerut, menahan sesuatu yang mengganjal di dada. Ia benci saat harus mengingat fakta menyebalkan itu—fakta yang selalu berhasil mengembalikan jarak di antara mereka. "Apa kamu cemburu?" Dirga menoleh. Nada suaranya terdengar ringan, nyaris menggoda, namun matanya mengamati setiap perubahan kecil di wajah Nadine. "Kalau aku bilang iya, apa semua bisa merubah kenyataan yang ada?" Jawaban itu membuat Dirga tak kuasa menahan senyum di bibirnya. Senyum tipis—nyaris tak terlihat. Apalagi Nadine sudah terlanjur membuang muka, menatap ke arah lain seolah percakapan ini terlalu menyakitkan untuk dilanjutkan. "Nggaklah."

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Aku Pikir Kamu Menjauh

    Akhirnya mereka berdua duduk berhadapan di meja makan bulat yang hanya cukup untuk dua orang. Meja itu sederhana, tapi pagi itu terasa hangat. Dirga baru saja selesai memasak, sementara Nadine baru keluar dari kamar mandi dengan rambut masih setengah lembap. Aroma makanan rumahan memenuhi ruangan. Dirga terlihat telaten. Ia memastikan piring Nadine terisi penuh, sendok dan garpu tertata rapi, bahkan segelas air sudah ia dorong mendekat ke sisi perempuan itu. “Makan yang banyak, Nad,” ucap Dirga sambil melirik sekilas, suaranya lembut. Nadine mengangguk kecil. “Makasih, Ga,” balasnya pelan. “Iya. Sama-sama.” Untuk beberapa detik, hanya suara alat makan yang terdengar. Nadine makan perlahan, sesekali melirik Dirga diam-diam. Tatapannya mencuri-curi, seolah sedang menimbang sesuatu di kepalanya. Hingga akhirnya, ia berhenti mengunyah. “Ga?” panggilnya ragu. “Hm?” Dirga menyahut tanpa mengangkat kepala. “Kemarin, kamu kok bisa datang tepat waktu begitu?” Gerakan tangan Dirga semp

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Mimpi Buruk

    Namun saat tengah malam— Nadine menggeliat gelisah di atas ranjang. Keningnya berkerut dalam, napasnya mulai tidak teratur. Jemarinya mencengkeram selimut kuat-kuat, seolah sedang menahan sesuatu yang tak terlihat. “J-jangan…” gumamnya lirih. Tubuhnya mulai berkeringat dingin. Rambutnya menempel di pelipis, wajahnya pucat. Napasnya tersengal, semakin cepat, semakin panik. Dalam tidurnya, Nadine terjebak dalam mimpi buruk. Kamar kos yang sempit. Suara itu. Tatapan itu. “Janga Bang... Jangan…” Nadine meronta dalam tidurnya, suaranya bergetar. “Tolong… berhenti, jangan lakukan ini…” Tangannya terangkat seolah menepis sesuatu. Tubuhnya menegang. Nafasnya mulai memburu. Air mata mulai jatuh. Dirga yang tertidur di sisi ranjang langsung terbangun. “Nad?” panggilnya pelan tapi sigap. Ia segera bangkit, duduk di tepi ranjang. Begitu melihat kondisi Nadine yang terjebak dalam mimpi buruk, seketika jantung Dirga mencelos. “Nad… Nadine, bangun!” ucapnya lembut tapi tegas. Tangannya sege

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Nyaris

    “Mmphhm...” Detik itu juga, tinju Dirga terhenti di udara. “Nad…” bisiknya, suaranya langsung berubah. Amarahnya runtuh, digantikan panik yang menghantam dada. Ia mengabaikan Yanto begitu saja. Tubuh pria itu tergeletak tak berdaya di lantai dengan kondisi terengah-engah dan setengah sadar. Dirga bangkit dengan tergesa dan berlari ke arah ranjang. Ia berlutut di samping Nadine, tangannya gemetar saat menyentuh bahu perempuan itu. “Aku di sini, Nad! Aku di sini,” ucapnya cepat, suaranya serak. Dirga bergerak cepat saat mendengar suara gumaman Nadine. Dengan hati-hati, jemarinya membuka kain yang membekap mulut perempuan itu, seolah takut menyakitinya walau sedikit. Begitu kain itu terlepas, isak Nadine langsung pecah tanpa bisa ditahan. Tubuhnya bergetar hebat. Tanpa menunggu lebih lama, Dirga segera beralih ke pergelangan tangannya. Ikatan itu dilepas satu per satu sampai akhirnya tangan Nadine bebas. Dirga langsung meraih selimut di ujung ranjang, menutupi tubuh perempuan itu

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Perbuatan Tidak Senonoh

    Layar sempat gelap sepersekian detik sebelum gambar muncul. Dan detik berikutnya, napas Dirga sempat tercekat.Dirga terpaku. Syoknya menghantam tanpa aba-aba.Seorang pria yang kemarin ia temui saat berkunjung di tempat Nadine, terlihat jelas di sudut kamera sedang mendekati perempuan itu.Sementara Nadine, ia terlihat mundur ketakutan seolah menghindar pria tersebut.“Brengsek!” Amarah menyusul rasa kagetnya itu. Tangan Dirga bergetar hebat. Rahangnya mengeras, matanya memerah. "Apa yang orang itu lakukan pada Nadine?" Geram Dirga.Duda tau siapa orang itu. Orang yang sama dengan yang ia temui ketika berkunjung di kosan Nadine pagi kemarin."Awas aja dia!"Tanpa pikir panjang, ia menyambar panci di atas kompor dan mematikannya dengan gerakan kasar.“Aku harus ke sana sekarang,” gumamnya tegas.Ia berlari ke ruang depan, mengacak laci tempat kunci disimpan. Begitu kunci mobil ditemukan, Dirga langsung menyambar jaketnya.Ponsel masih digenggam erat, layar CCTV itu belum dimatikan. Se

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Obsesi Gila Yanto

    Yanto menidurkan Nadine di ranjang dengan gerakan tergesa namun penuh perhitungan. Ia meraih sepotong kain dari kursi, lalu membekap mulut Nadine dengan erat sebelum perempuan itu benar-benar sadar.Setelah itu, ia mengikat kedua tangan Nadine ke sisi ranjang, simpulnya kuat dan rapi— seperti bukan pertama kali ia melakukan hal semacam itu. Semuanya dilakukan cepat dan tepat. Juga sedikit buru-buru. Ia lalu duduk di tepi ranjang. Punggungnya membungkuk sedikit, siku bertumpu di paha. Matanya menatap lekat ke arah Nadine, tak berkedip. Ada kilat ganjil di sana—campuran obsesi, kegilaan, dan kepuasan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. “Mba Nadine...” panggilnya lirih, suaranya hampir seperti bisikan doa. Ia membungkuk lebih dekat, mengendus rambut panjang Nadine. Matanya terpejam, kepalanya sedikit mendongak, menikmati aroma wangi sampo yang masih melekat di helaian rambut perempuan itu. “Aku baru pertama kali bertemu perempuan secantik kamu, Mba. Aku benar-benar i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status