Share

Takut Ular

last update Last Updated: 2025-09-25 18:47:42

"A- ada ular di dapur..."

Nadine menahan napas. Matanya terus menatap ke arah lantai dapur, tempat ular itu meliuk-liuk dengan lidah menjulur, mengeluarkan suara mendesis kecil.

Tangannya gemetar hebat. Ponsel di telinganya hampir terlepas karena getaran di tubuhnya.

"Apa ular?" Suara Dirga terdengar panik dari line seberang.

“Di- Dirga… tolong…” suaranya sudah parau, nyaris pecah karena ketakutan. "Aku takut..."

Di seberang sana hanya terdengar tarikan napas berat Dirga, seperti menahan sesuatu. Tidak ada jawaban panjang. Dan...

Klik.

Sambungan telepon tiba-tiba terputus.

Nadine membelalakkan mata. “Ahh?! Dirga?!” Suaranya pecah, panik bercampur bingung.

Air matanya akhirnya jatuh. “Ya Tuhan, aku harus gimana?!” Isaknya pecah. Bahunya terguncang. Ia mencoba merapatkan tubuhnya ke dinding, sapu yang tadi dipegang pun kini jatuh ke lantai karena tangannya tak sanggup lagi menggenggam.

Ular itu makin mendekat, kepalanya terangkat sedikit seolah sedang mengincar.

“A- aku harus ngusir ula
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Maksud Bu Wijaya

    Nadine terkejut saat melihat Dirga justru tertidur di sofa ruang tamu. Langkahnya terhenti sesaat. Ia berdiri mematung, menatap tubuh pria itu yang terlelap dengan posisi setengah menyamping, satu lengan menutupi wajahnya.Perlahan, Nadine mendekat. Gerakannya nyaris tak bersuara, seolah takut mengganggu ketenangan yang jarang Dirga miliki.Niatnya membangunkan pria itu langsung menguap begitu ia benar-benar menyadari—Dirga sudah terlalu banyak berkorban untuknya.Dari sejak ia terbaring lemah di rumah sakit.Menemaninya bertemu pengacara. Mencarikan rumah agar ia punya tempat tinggal yang aman. Hingga sekarang.Bibir Nadine melengkung tipis. Senyumnya pahit, matanya justru terasa panas. Ia berjongkok di samping sofa, menatap wajah Dirga yang terlihat begitu tenang saat tidur—berbanding terbalik dengan hari-harinya yang selalu sibuk memikirkan Nadine.“Maaf ya, Ga…” gumamnya lirih, suaranya hampir tak terdengar. “Aku udah terlalu banyak bikin kamu repot.”Tak ada jawaban. Dirga tetap

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Masak Berdua

    Nadine baru saja mengeluarkan beberapa ikat sayuran dari dalam kulkas ketika pandangannya menangkap sosok Dirga berdiri di ambang pintu dapur. Pria itu bersandar santai, lengannya terlipat di dada, menatapnya tanpa bicara. Nadine tersenyum kecil. “Eh, Ga?” sapanya ringan sambil mengangkat satu kantong plastik. “Daripada berdiri di situ, mending bantuin aku masak.” Dirga yang semula hanya mengamati, langsung menegakkan tubuhnya. Ia melangkah masuk ke dapur, mendekat. “Kamu mau masak apa?” tanyanya sambil melirik bahan-bahan di meja. “Sop ayam aja,” jawab Nadine singkat. Dirga mengangguk. “Oke. Aku bantuin kupas wortel sama kentangnya.” Ia mengambil alih sayuran yang Nadine pegang. Nadine menyerahkan talenan dan pisau. “Ini ya. Makasih.” “Sama-sama,” balas Dirga pelan. Mereka mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Suara air mengalir, pisau memotong, dan bunyi panci sesekali bertabrakan—semuanya terasa biasa. Namun di balik itu, ada keheningan canggung yang sama-sama mereka r

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Salah Paham

    “Dirga, ka— umph!” Seruan Nadine terputus saat Dirga tiba-tiba menunduk dan mengecup bibirnya. Bukan ciuman yang tergesa-gesa. Bukan pula sekadar kecupan singkat. Ciuman itu lembut—namun penuh tuntutan. Seolah Dirga menahan diri untuk tidak mengambil lebih, tapi juga enggan benar-benar melepaskan. Nadine membeku seketika. Hangat napas Dirga menyelimuti wajahnya. Tekanan pelan di bibirnya terasa nyata. Bahkan detak jantung pria itu—yang berdegup cepat dan kuat—terasa jelas menabrak dadanya. Kepalanya kosong, pikirannya seolah berhenti bekerja. “Dirga—” gumamnya teredam di antara jarak yang terlalu dekat. Refleks, Nadine mengangkat kedua tangannya dan mendorong bahu Dirga. Ia mencoba bangkit dari pangkuan itu, namun lengan Dirga yang melingkar di pinggangnya justru menahan—tidak kasar, tidak menyakitkan, tapi cukup kuat untuk membuat Nadine tak bisa ke mana-mana. “Dirga… lepas,” pintanya di sela napas yang tersengal. Dirga berhenti. Ia menarik wajahnya sedikit, menghentikan c

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Banyak Berubah

    Nadine naik ke lantai dua setelah pamit pada Dirga. Langkahnya melambat saat ia berdiri di depan kamar yang nyaris sebulan terakhir ditempati Rhevan dan Amanda. Hanya dengan mengingatnya saja, dadanya sudah terasa sesak.Ia menghela napas kesal sebelum akhirnya mendorong pintu dan masuk. Namun langkahnya terhenti. Nadine terperangah.Kamar itu… sama sekali berbeda.Perabotan lama sudah tak ada. Lemari dipindahkan. Warna sprei diganti. Tata letaknya terasa lebih lapang—lebih bersih, lebih hangat, dan sama sekali tidak menyisakan jejak dua orang yang paling ingin ia lupakan.“I-ini?” Nadine bergumam, suaranya nyaris berbisik.“Itu aku yang ubah,” jawab sebuah suara dari belakang.Nadine refleks menoleh. Dirga berdiri di ambang pintu, kedua tangannya bersedekap santai, sorot matanya mengamati reaksi Nadine dengan saksama.“Kamu?” tanya Nadine pelan, masih belum sepenuhnya percaya.Dirga mengangguk. “Iya.”“Aku kira Amanda atau Mas Rhevan yang ganti,” ucap Nadine jujur.Dirga mendengus pe

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tak Sudi!

    “Kalau Mama mau, Mama saja yang pergi memohon ke Nadine supaya bebaskan si Rhevan. Papa nggak sudi!”Ucapan itu masih menggantung di udara ketika Pak Wijaya berbalik dan melangkah pergi. Suara langkah kakinya terdengar menjauh, disusul bunyi pintu kamar yang ditutup keras—seolah menjadi penegasan bahwa pembicaraan mereka benar-benar selesai.Bu Wijaya tak bergerak. Ia hanya duduk terpaku di sofa ruang tamu yang luas itu, punggungnya kaku, kedua tangannya saling meremas jemarinya sendiri sampai buku-bukunya memutih.“Rhevan…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Napasnya terasa berat. Dadanya sesak. Rumah itu mendadak terasa terlalu sunyi.Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan mondar-mandir tanpa arah. Beberapa kali ia berhenti, mengambil ponsel, lalu kembali meletakkannya. Namun akhirnya, satu per satu nomor tetap ia hubungi.Teman lama. Rekan kerja. Sahabat arisan. Bahkan kerabat jauh.Namun jawabannya selalu sama.“Maaf ya, aku nggak bisa.”“Rhevan begitu, kan, karena ulahnya sen

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tidak Bisa Jauh-Jauh

    Dirga diam cukup lama sebelum akhirnya menepikan mobil di pinggir jalan yang agak sepi. Mesin masih menyala, lampu sein berkedip pelan di sisi jalan. Ia mematikan musik yang sejak tadi mengalun samar, lalu menghela napas panjang—seolah sedang mengumpulkan keberanian.“Nad…” panggilnya pelan, suaranya terdengar berat.Nadine menoleh. Alisnya langsung berkerut saat menangkap ekspresi Dirga yang berbeda dari biasanya. Tidak bercanda. Tidak santai. Justru tampak ragu dan agak gugup.“Kamu inget, kan,” ujar Dirga akhirnya, menatap lurus ke depan, kedua tangannya masih menggenggam setir, “rumah itu tepat di sebelah rumahku.”Nadine mengangguk pelan. “Iya. Kita tetanggaan,” jawabnya hati-hati.“Itu alasannya,” sambung Dirga lirih.Nadine menunggu. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa ia sadari.“Aku nggak setuju rumah itu dijual…” suara Dirga merendah, nyaris seperti gumaman, “karena kalau kamu pindah jauh, aku juga bakal jauh dari kamu.”Nadine terdiam. Kedua matanya membesar perlahan, seo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status