Masuk“Dirga, ka— umph!” Seruan Nadine terputus saat Dirga tiba-tiba menunduk dan mengecup bibirnya. Bukan ciuman yang tergesa-gesa. Bukan pula sekadar kecupan singkat. Ciuman itu lembut—namun penuh tuntutan. Seolah Dirga menahan diri untuk tidak mengambil lebih, tapi juga enggan benar-benar melepaskan. Nadine membeku seketika. Hangat napas Dirga menyelimuti wajahnya. Tekanan pelan di bibirnya terasa nyata. Bahkan detak jantung pria itu—yang berdegup cepat dan kuat—terasa jelas menabrak dadanya. Kepalanya kosong, pikirannya seolah berhenti bekerja. “Dirga—” gumamnya teredam di antara jarak yang terlalu dekat. Refleks, Nadine mengangkat kedua tangannya dan mendorong bahu Dirga. Ia mencoba bangkit dari pangkuan itu, namun lengan Dirga yang melingkar di pinggangnya justru menahan—tidak kasar, tidak menyakitkan, tapi cukup kuat untuk membuat Nadine tak bisa ke mana-mana. “Dirga… lepas,” pintanya di sela napas yang tersengal. Dirga berhenti. Ia menarik wajahnya sedikit, menghentikan c
Nadine naik ke lantai dua setelah pamit pada Dirga. Langkahnya melambat saat ia berdiri di depan kamar yang nyaris sebulan terakhir ditempati Rhevan dan Amanda. Hanya dengan mengingatnya saja, dadanya sudah terasa sesak.Ia menghela napas kesal sebelum akhirnya mendorong pintu dan masuk. Namun langkahnya terhenti. Nadine terperangah.Kamar itu… sama sekali berbeda.Perabotan lama sudah tak ada. Lemari dipindahkan. Warna sprei diganti. Tata letaknya terasa lebih lapang—lebih bersih, lebih hangat, dan sama sekali tidak menyisakan jejak dua orang yang paling ingin ia lupakan.“I-ini?” Nadine bergumam, suaranya nyaris berbisik.“Itu aku yang ubah,” jawab sebuah suara dari belakang.Nadine refleks menoleh. Dirga berdiri di ambang pintu, kedua tangannya bersedekap santai, sorot matanya mengamati reaksi Nadine dengan saksama.“Kamu?” tanya Nadine pelan, masih belum sepenuhnya percaya.Dirga mengangguk. “Iya.”“Aku kira Amanda atau Mas Rhevan yang ganti,” ucap Nadine jujur.Dirga mendengus pe
“Kalau Mama mau, Mama saja yang pergi memohon ke Nadine supaya bebaskan si Rhevan. Papa nggak sudi!”Ucapan itu masih menggantung di udara ketika Pak Wijaya berbalik dan melangkah pergi. Suara langkah kakinya terdengar menjauh, disusul bunyi pintu kamar yang ditutup keras—seolah menjadi penegasan bahwa pembicaraan mereka benar-benar selesai.Bu Wijaya tak bergerak. Ia hanya duduk terpaku di sofa ruang tamu yang luas itu, punggungnya kaku, kedua tangannya saling meremas jemarinya sendiri sampai buku-bukunya memutih.“Rhevan…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Napasnya terasa berat. Dadanya sesak. Rumah itu mendadak terasa terlalu sunyi.Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan mondar-mandir tanpa arah. Beberapa kali ia berhenti, mengambil ponsel, lalu kembali meletakkannya. Namun akhirnya, satu per satu nomor tetap ia hubungi.Teman lama. Rekan kerja. Sahabat arisan. Bahkan kerabat jauh.Namun jawabannya selalu sama.“Maaf ya, aku nggak bisa.”“Rhevan begitu, kan, karena ulahnya sen
Dirga diam cukup lama sebelum akhirnya menepikan mobil di pinggir jalan yang agak sepi. Mesin masih menyala, lampu sein berkedip pelan di sisi jalan. Ia mematikan musik yang sejak tadi mengalun samar, lalu menghela napas panjang—seolah sedang mengumpulkan keberanian.“Nad…” panggilnya pelan, suaranya terdengar berat.Nadine menoleh. Alisnya langsung berkerut saat menangkap ekspresi Dirga yang berbeda dari biasanya. Tidak bercanda. Tidak santai. Justru tampak ragu dan agak gugup.“Kamu inget, kan,” ujar Dirga akhirnya, menatap lurus ke depan, kedua tangannya masih menggenggam setir, “rumah itu tepat di sebelah rumahku.”Nadine mengangguk pelan. “Iya. Kita tetanggaan,” jawabnya hati-hati.“Itu alasannya,” sambung Dirga lirih.Nadine menunggu. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa ia sadari.“Aku nggak setuju rumah itu dijual…” suara Dirga merendah, nyaris seperti gumaman, “karena kalau kamu pindah jauh, aku juga bakal jauh dari kamu.”Nadine terdiam. Kedua matanya membesar perlahan, seo
“Dari tadi, kamu kelihatan gugup.”Suara rendah Dirga memecah keheningan di dalam mobil. Nadine yang semula menatap kosong ke arah jalanan langsung mengalihkan pandangannya. Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, menyinari wajah pria itu yang terlihat serius namun lembut.“Masa sih?” Nadine membalas sambil mengangkat tangan, refleks menyentuh pipinya sendiri. “Emang kelihatan ya?” Ia menatap Dirga dengan raut penasaran.Dirga melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. “Hm. Jelas banget malah.”Nadine menghela napas panjang, pundaknya sedikit turun seolah beban yang ia pikul tak lagi bisa ditahan. “Aku gugup karena setelah ini aku bakal resmi menjanda.”Dirga mendengus pelan, suaranya terdengar ringan tapi tegas. “Single nggak seburuk itu kalau orang yang kamu tinggalin macam si brengsek itu," balas pria dengan hoodie hitam itu.“Iya sih,” Nadine tersenyum kecil, meski matanya menyiratkan keraguan. “Tapi tetap aja aku harus mulai semuanya dari awal.”“Kamu pasti bisa, Nadine.”
Amanda menghela napas panjang. Mobilnya melaju membelah jalanan malam, lampu kota berkelebat di sisi jendela seperti bayangan pikirannya sendiri.“Aku kenapa sampai segininya sih sama Mas Rhevan?” gumamnya lirih.Ia menertawakan dirinya sendiri yang sejak beberapa saat lalu terus berjuang, memohon, bahkan merendahkan diri di hadapan Pak Wijaya.Tapi untuk apa? Tidak ada satu pun yang benar-benar menganggapnya hanya karena ia cuma selingkuhan Rhevan.“Benar kata Pak Wijaya,” ucapnya pelan, mengulang kata-kata Pak Wijaya. “Untuk apa aku harus melakukan ini semua untuk Mas Rhevan.”Amanda menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Bayangan wajah Rhevan muncul di kepalanya—putus asa, penuh tuntutan, menggantungkan seluruh hidupnya pada satu orang: dirinya.“Ck. Kenapa juga Mas Rhevan segitu bergantungnya sama aku?” desahnya.“Padahal aku bisa kabur dan mendapatkan cowok yang lebih dari dia. Bahkan aku juga bisa dapat yang lebih kaya.”“Aku mau sama dia juga karena aku bisa hidup enak,” katany







