FAZER LOGINLucia menarik napas perlahan. Ia tidak ingin menjadi alasan Han bertengkar dengan keluarganya. Terlebih lagi, sejak awal ia memang tidak menganggap undangan ini sebagai pengumuman hubungan khusus di antara mereka.Han adalah seseorang yang telah membantunya kembali menekuni dunia arsitektur. Ia menghormati pria itu, tetapi tidak pernah menganggap dirinya memiliki hubungan istimewa dengannya.Karena itu, Lucia memilih tetap tenang. "Nyonya, saya rasa Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya datang sebagai tamu Profesor Han. Saya juga tidak memiliki niat untuk mengubah kedudukan siapa pun di keluarga ini."Ibu Han menatapnya penuh selidik. "Benarkah? Lalu mengapa kau menerima undangannya? Pakai status apa kau hadir di sini? Sebagai janda keluarga Fu? Seingatku, Keluarga Fu bahkan tidak kuundang.""Karena saya menghargai undangan seseorang yang telah membantu saya secara profesional. Tidak lebih dari
Lucia merapikan sedikit bagian gaunnya. "Terima kasih. Aku harap penampilanku tidak membuatmu malu. Wah, sepertinya acaranya mewah, mudah-mudahan penampilanku bisa mengimbangi dan tidak membuatmu malu, Profesor."Han tertawa kecil. "Justru aku yang harus berterima kasih karena kamu bersedia datang bersamaku."Ia mengulurkan tangan. Lucia menerimanya, lalu mereka berjalan memasuki aula pesta.Begitu keduanya muncul, beberapa orang langsung mengalihkan perhatian.Bisikan-bisikan mulai terdengar."Siapa wanita yang datang bersama Tuan Muda Han?""Bukankah selama ini dia tidak pernah membawa pasangan ke acara keluarga?""Dia cantik, tetapi aku tidak mengenalnya.""Lihat, bahkan Nyonya Han tidak terlihat ingin menyambut mereka."Lucia mendengar sebagian bisikan itu, ia mengeryitkan alisnya sedikit, tetapi ia tetap m
Profesor Han berjalan menuju mobilnya. Senyum tipis yang sempat menghiasi wajahnya menghilang begitu ia menerima pesan dari asistennya tadi.Ia membuka pintu mobil, duduk di belakang kemudi, lalu segera menghubungi nomor asistennya.Panggilan itu langsung tersambung."Apa maksud pesanmu tadi? Apa yang sudah kalian temukan?" tanyanya tanpa basa-basi."Tuan, kami sudah mendapatkan beberapa informasi mengenai Delaila dan Surya.""Langsung katakan."Asistennya terdiam sesaat sebelum menjawab dengan hati-hati. "Tampaknya, Delaila mengandung anak Pak Surya."Jari Han yang sedang memegang kemudi langsung berhenti bergerak. "Apa kau yakin?""Kami belum mendapatkan hasil tes DNA yang bisa memastikan semuanya, Tuan. Namun, dari informasi yang berhasil kami kumpulkan, hubungan antara Delaila dan Pak Surya jauh lebih dekat daripa
"Aku masih bisa minum," bantah Lucia, meskipun suaranya mulai terdengar tidak jelas.Han tersenyum tipis. "Tidak perlu membuktikan apa pun. Malam ini kau sudah cukup banyak bekerja, malam juga sudah larut, Gadis Kecilku sudah harus tidur.""Oh No!" Lucia mengoyang jari telunjuknya. "Kalau terlalu cepat tidur, dinding akan menertawakan kita. Sebentar, aku masih ada stok minuman!" Lucia mencoba melangkah lagi, tetapi tubuhnya justru kehilangan keseimbangan. Han segera meraih tubuhnya sebelum ia terjatuh."Baiklah, sepertinya makan malam kita sudah selesai."Lucia tidak membantah. Ia hanya menyandarkan kepalanya pada bahu Han sambil bergumam pelan.Han menunduk, memperhatikan wajah perempuan itu. Setelah memastikan Lucia benar-benar terlalu mabuk untuk berjalan sendiri, ia mengangkat tubuhnya dengan hati-hati."Profesor..." gumam Lucia samar."Ya?""Terima kasih sudah datang. Hum, bahumu besar dan dadamu kekar sekali, padat! hum, nyaman sekali."Han tersenyum lembut. "Sama-sama."Ia memb
Han terdiam sebentar, lalu menggeleng. "Tidak seperti yang mungkin dipikirkan atau dituduhkan Ethan. Kami memang pernah dekat, tetapi hubungan kami hanya sebatas teman kerja.Entah dari mana Ethan mendapat ide untuk menggunakan itu dan menunjukkannya kepadamu. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan. Merusak hubungan kita?""Jadi kalian adalah teman kerja yang cukup dekat sampai kalian sering terlihat bersama dan terlibat sesuatu seperti yang dituduhkan?" tanya Lucia.Profesor menghela napas sebentar sebelum melanjutkan. "Kami bekerja dalam proyek yang sama. Saat itu, Maya merupakan salah satu arsitek yang bekerja bersamaku. Kami sering berdiskusi, menghabiskan banyak waktu di lokasi proyek, bahkan tidak jarang makan bersama setelah bekerja. Aku pikir itu hanyalah hal biasa. Aku sendiri tidak merasa pernah memberikan perhatian lebih."Han tersenyum tipis, seolah sedang mengingat masa lalu."Pekerjaan kam
Han terlihat sedikit terkejut, tetapi keterkejutan itu segera berubah menjadi senyum puas."Oh, itu ide yang sangat bagus.""Kalau begitu, datanglah setelah urusanmu selesai, Profesor," lanjut Lucia dengan senyum kecil."Baik. Aku tidak akan terlambat."Han berpamitan sebelum akhirnya meninggalkan apartemen. Kali ini, ia tidak lagi memikirkan Ethan yang mungkin masih menyimpan kemarahan. Ada sesuatu yang jauh lebih menyenangkan untuk dinantikan malam itu.Malam harinya, apartemen Lucia dipenuhi aroma masakan yang menggugah selera.Lucia menyiapkan beberapa hidangan sederhana. Ia tidak berniat membuat sesuatu yang mewah, hanya ingin menikmati makan malam dengan suasana santai setelah melewati hari yang melelahkan.Saat memasak, Lucia beberapa kali melirik hidangan yang mulai tersaji di atas meja. Aroma masakan memenuhi dapur, tetapi tanpa disadari, piki







