Share

Bab 6

Penulis: Zoro
Lima hari kemudian, diadakan pertemuan orang tua di sekolah.

Maya menerima pesan singkat dari Howard yang mengingatkannya untuk hadir.

Karena tidak ingin memicu keributan sebelum keberangkatannya, dia pun memutuskan untuk pergi.

Aula sekolah penuh sesak dengan orang.

Maya menemukan tempat duduk.

Tak lama kemudian, dia melihat kepala sekolah naik ke podium dan berkata dengan senyum lebar, "Hari ini, kami merasa sangat terhormat bisa mengundang Ibu dari Javier dan Jesika untuk memberikan sambutan mewakili para orang tua!"

Maya tertegun.

Dia merasa aneh karena tidak ada yang memberitahunya terlebih dahulu. Namun, tiba-tiba dia melihat Gisel berjalan ke atas panggung dan memegang mikrofon.

"Halo semuanya, saya adalah Ibu dari Javier dan Jesika, Gisel Osbi."

Maya tidak mendengar sepatah kata pun dari apa yang diucapkan Gisel setelah itu.

Dia hanya melihat kedua anaknya membawa buket bunga dan berlari riang ke samping Gisel.

Dia melihat mereka menggandeng lengan Gisel di sisi kiri dan kanan untuk berfoto bersama.

Dia melihat mereka memperkenalkan Gisel sebagai ibu kesayangan mereka di hadapan tatapan iri teman-teman sekelas mereka.

Maya pun tiba-tiba merasa keberadaannya sangat tidak berguna.

Setelah pertemuan orang tua berakhir, dia segera meninggalkan lokasi secepat mungkin.

Namun saat melewati sebuah ruangan, dia mendengar suara yang sangat familier dari dalam.

"Javier, Jesika, jujurlah pada Ibu Guru. Apa Nona Gisel benar-benar Ibu kalian?" Guru wali kelas mengerutkan kening. "Ibu memegang data pendaftaran kalian, Ibu kalian jelas bernama ...."

"Kami benci wanita itu, kami nggak mau dia jadi Ibu kami!"

Javier mengepalkan tangan kecilnya. "Tante Gisel nggak pernah mengekang kami, Ayah juga menyukainya. Cepat atau lambat dia akan jadi Ibu kami!"

Jesika menimpali, "Benar, Ayah pasti akan menikah dengan Tante Gisel secepatnya!"

Maya mendengarkan dengan tenang. Rasa sakit di hatinya perlahan-lahan mulai mati rasa.

Dia mengatupkan bibir, lalu berbalik menuju pintu keluar.

Saat tiba di gerbang sekolah, tiba-tiba turun hujan sangat deras.

Maya terpaksa berteduh di bawah emperan gedung menunggu hujan reda.

Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depannya.

Kaca mobil turun, menampakkan wajah Gisel.

"Ayo pulang sama-sama. Cuaca seperti ini sulit sekali mendapatkan taksi."

Maya melirik layar ponselnya yang menunjukkan tak ada mobil yang menerima pesanan di aplikasi taksi online. Dia pun membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang depan.

Melihat Maya, senyum di wajah kedua anak itu langsung lenyap. Seolah-olah kehadiran Maya telah merusak suasana hati mereka yang indah.

"Nona Maya, aku benar-benar minta maaf soal hari ini. Javier dan Jesika bilang kamu sangat sibuk dan nggak bisa datang, makanya aku datang membantu. Kamu nggak marah padaku, ‘kan?" Gisel mengangkat alisnya sedikit sambil mengetuk kemudi dengan santai.

Maya berekspresi datar. "Tentu saja nggak. Lagi pula, aku juga akan segera pergi."

"Ibu, mau ke mana?" Mendengar dia akan pergi, Javier seketika mengernyitkan dahi kecilnya. "Aku dan Jesika masih punya banyak baju kotor yang belum dicuci!"

Jesika juga mengerucutkan bibirnya. "Benar, Ibu harus cepat kembali. Kalau nggak, rumah akan berantakan dan kami nggak bisa bermain dengan tenang bersama Tante Gisel!"

Wajah Maya makin muram.

Baru saja dia hendak mengatakan bahwa dia tidak akan melakukan semua itu lagi, tiba-tiba Gisel berteriak, "Aaah!"

Hujan lebat mengaburkan pandangan.

Gisel tidak melihat mobil yang melaju dari arah samping. Dalam kepanikan, dia memutar kemudi dengan tajam hingga menabrak pembatas jalan.

Tubuh Maya terlempar ke depan, dahinya terbentur keras ke kaca depan mobil, dan dia seketika jatuh pingsan.

Saat membuka mata kembali, dia mendapati dirinya terjebak di dalam mobil yang miring di tepi jembatan. Pandangannya tertutup warna merah darah. Di telinganya terdengar suara petugas penyelamat, "Mobil ini tersangkut di jembatan dan akan segera jatuh. Kalau kita menyelamatkan satu orang, keseimbangan mobil akan goyah dan orang yang lain akan jatuh."

"Ayah, selamatkan Tante Gisel dulu! Tante Gisel paling takut kalau sakit!"

"Ayah, jangan pedulikan Ibu! Dia saja nggak peduli kami hidup atau mati, kami juga nggak mau dia diselamatkan!"

Teriakan kedua anak itu terasa seperti belati yang ditusukkan berkali-kali ke jantung Maya.

Detik berikutnya, dia mendengar suara berat Howard. "Selamatkan Gisel dulu."

"Gisel ... apa dia yang lukanya lebih parah?" tanya petugas.

"Bukan." Howard menarik napas dalam. "Tapi dia yang berada di sebelah orang itu."

Dengan cepat, Gisel ditarik keluar oleh para petugas.

Namun, mobil yang kehilangan beban di satu sisi itu seketika kehilangan keseimbangan, membawa Maya jatuh terperosok ke bawah!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 19

    Saat itu, Gisel dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena sengaja melukai orang lain. Setelah bebas, dia mencoba kembali ke dunia kerja dan menyadari bahwa segalanya telah berubah. Dia mengirim banyak resume, tetapi semuanya berakhir sia-sia. Entah tidak ada kabar sama sekali, atau dia ditolak mentah-mentah karena memiliki catatan kriminal.Dalam keputusasaan, dia mencari Howard dengan harapan pria itu mau membantunya. Namun, dia bahkan tidak bisa melewati pintu gerbang perusahaan. Gisel dihadang oleh petugas keamanan yang menyodorkan sejumlah uang kepadanya."Pak Howard bilang, ambil uang ini dan jangan pernah hubungi dia lagi!"Gisel berdiri di bawah gedung Perusahaan Bandri sambil menggenggam uang itu. Hatinya dipenuhi rasa tidak rela dan penyesalan mendalam. Dia dulu mengira akan menikah dengan Howard dan menjadi Nyonya Bandri yang membuat iri semua orang. Namun siapa sangka, dia justru berakhir mengenaskan seperti ini!...Berbeda dengan penderitaan kedua orang itu, kehidupa

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 18

    Maya mendengar nama Howard kembali pada suatu sore, lima tahun kemudian.Hari itu, dia baru saja menyelesaikan seminar pengasuhan anak. Seorang anak magang di studionya sedang melihat berita di ponsel dan berceletuk, "Direktur Perusahaan Bandri, Howard, masuk berita viral lagi. Katanya, dia gagal dalam negosiasi dengan mitra bisnis karena nggak bisa konsentrasi gara-gara masalah keluarga."Tangan Maya yang sedang merapikan dokumen sempat terhenti sejenak. Dia tidak mendongak, hanya berkata datar, "Fokus saja pada pekerjaan kalian."Si anak magang itu menjulurkan lidahnya dan segera menyimpan ponselnya. Namun, berita tentang Howard itu, tetap seperti kerikil kecil yang menimbulkan riak tipis di hati Maya. Bukan karena masih peduli, dia hanya merasa sedikit getir.Lima tahun telah berlalu. Pria yang dulu menjadi pusat dunianya itu, kini hanyalah "tokoh berita" yang tidak penting dalam hidupnya.Belakangan, dia mendengar dari teman-temannya bahwa hidup Howard selama lima tahun ini tidak

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 17

    Setelah kembali ke negaranya, Howard membatalkan semua pekerjaannya dan tinggal di rumah sakit untuk fokus merawat kedua anaknya. Namun, saat terbangun dan melihat bahwa dialah yang berjaga di samping mereka, mata anak-anak itu justru dipenuhi kekecewaan.Malam itu, suhu tubuh Jesika tidak kunjung turun. Dia terus mengigau dalam sakit panasnya, "Mau makan bubur buatan Ibu."Howard mencoba membuat bubur dengan kaku mengikuti tutorial di internet. Namun, saat bubur itu disodorkan ke tepi ranjang, Jesika langsung menepisnya. Bubur yang masih panas itu tumpah berserakan di lantai."Nggak mau! Ini bukan buatan Ibu!" Tangis anak itu penuh kepedihan. "Bubur buatan Ibu selalu diberi kurma merah yang manis. Ayah nggak tahu apa-apa!"Melihat kekacauan di lantai, hati Howard terasa seperti dihantam benda tumpul. Dulu, dia mengira rumah ini akan baik-baik saja meski tanpa Maya. Baru sekarang dia sadar bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan keberadaan Maya.Di hari-hari berikutnya,

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 16

    Maya terdiam sejenak, lalu bertanya balik, "Justru karena nggak tega, aku selalu memilih untuk mengalah. Tapi apa pengabdianku selama bertahun-tahun ini membuahkan hasil yang baik? Nggak, ‘kan?"Setelah berkata demikian, dia menutup telepon tanpa keraguan sedikit pun....Setelah Howard masuk rumah sakit, kehidupan Maya segera kembali ke jalurnya. Hari itu, dia sengaja menemui Benny untuk berterima kasih karena telah membantunya menghalangi gangguan Howard sebelumnya.Benny duduk di kursi kerjanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau kamu benar-benar mau berterima kasih, aku punya sebuah ide.""Ide apa?""Virga sangat menyukaimu." Benny berhenti sejenak. "Aku mau kamu jadi ibu angkatnya. Apa kamu bersedia?"Virga adalah anak dari kakak laki-laki Benny. Beberapa tahun lalu, kakak dan kakak iparnya meninggal dalam kecelakaan, dan mereka menitipkan anak itu kepadanya. Selama ini Benny berperan sebagai ayah, dan mendidik Virga menjadi anak yang penurut dan pengertian

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 15

    Pupil mata Maya mengecil karena terkejut, dia mundur setengah langkah. Sebelum dia sempat bereaksi, sebuah sosok yang tegap, mendadak menerobos masuk dari pintu dan mencengkeram pergelangan tangan Gisel."Gisel, letakkan pisaunya!" Howard mengertakkan gigi, suaranya sedingin es.Mata Gisel memerah, dia berontak ingin melepaskan diri. "Nggak mau! Kecuali kamu berjanji padaku untuk nggak mencarinya dan berhubungan dengannya lagi!"Howard tidak menjawab, dia justru memperkuat cengkeramannya. Sikap diamnya itu seperti menyiram bensin ke dalam api, memicu kemarahan Gisel sepenuhnya. Gisel meronta dengan sekuat tenaga. Di tengah aksi saling dorong itu, mata pisau itu menusuk telak ke perut Howard dengan bunyi yang mengerikan.Darah seketika merembes membasahi setelan jas abu-abu tuanya, menetes ke lantai. Udara seolah membeku seketika. Gisel terpaku di tempat, wajahnya penuh rasa tidak percaya. Maya juga panik, dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ambulans.Petugas keam

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 14

    Sepuluh tahun yang lalu di Universitas Kenington, Benny dan Howard diakui sebagai dua mahasiswa yang sangat jenius. Yang satu tajam dan berpikiran cepat.Yang satunya lagi tenang dan tegas dalam bertindak. Dari debat di kelas hingga peringkat kompetisi, keduanya selalu bersaing sengit dan tidak ada yang mau mengalah.Meski sudah bertahun-tahun lulus, satu sama lain tetap menjadi "duri dalam daging" yang paling disegani dalam peta persaingan bisnis mereka. Hingga akhirnya Benny pergi mengembangkan karier di Negara Artina, barulah nama itu perlahan menghilang dari daftar musuh bisnis Howard.Dia tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun akan terjadi dalam situasi seperti ini."Aku juga nggak menyangka akan bertemu denganmu di sini," kata Benny sambil tersenyum tipis. "Lagi pula, aku kira setelah Maya menceraikanmu, kamu akan segera menikah dengan Gisel."Kening Howard semakin berkerut. "Perceraian itu nggak sengaja terjadi. Aku nggak akan menikahi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status