Share

Bab 5

Penulis: Zoro
Maya berganti pakaian untuk pergi keluar.

Begitu naik ke mobil, dia baru menyadari bahwa Gisel juga ikut.

"Kamu akan kerepotan kalau sendirian mengurus dua anak, jadi aku menyuruh Gisel ikut untuk membantumu," jelas Howard dengan santai.

Maya tidak mengatakan apa-apa. Dia duduk diam di kursi belakang.

Sepanjang perjalanan, Gisel berkali-kali menyuapkan camilan ke mulut Howard. Kedua anaknya juga condong ke arah kursi depan, benar-benar melupakan keberadaan Maya di dalam mobil tersebut.

Sesampainya di taman hiburan, mereka langsung menyerahkan semua tas dan barang bawaan ke tangan Maya.

"Ibu, tolong bawakan ini!"

"Aku mau naik komidi putar sama Ayah dan Tante Gisel!"

Maya semula mengira mereka mengajaknya karena masih ada sedikit rasa sayang antara ibu dan anak, ternyata dia hanya dijadikan sebagai pengasuh.

Melihat mereka tertawa riang di atas komidi putar, buku-buku jari Maya memutih karena cengkeramannya yang kuat. Rasanya sangat ironis.

Orang-orang di sekitar mereka berbisik pelan, "Keluarga berempat itu bahagia sekali, ya? Ayahnya tampan, ibunya cantik, dan kedua anaknya juga menggemaskan."

"Bahkan pengasuh yang mereka sewa pun cukup cantik!"

Mendengar kata "pengasuh", Maya tertawa getir dalam hati.

Hidupnya memang benar-benar seperti seorang pengasuh.

Untungnya, hari-hari saat dia diabaikan seperti ini akan segera berakhir.

Setelah bermain beberapa wahana, Javier dan Jesika merengek ingin naik roller coaster.

Tanpa sadar, Maya berkata, "Kalian punya asma, nggak boleh naik wahana yang terlalu memacu adrenalin."

Kedua anak itu seketika merengut tidak senang. "Nggak mau! Kami mau naik itu!"

"Ibu jahat! Ibu selalu saja ikut campur! Selalu melarang ini dan itu."

Kali ini, secara mengejutkan Howard memihak Maya.

"Ibu kalian benar. Kalian nggak boleh naik wahana se-ekstrem itu. Jadilah anak penurut."

Javier dan Jesika saling pandang, lalu berkata, "Kalau begitu Ayah dan Tante Gisel saja yang naik, kami akan melihat bebek-bebek di danau bersama Ibu!"

Mendengar hal itu, Gisel melirik Howard dengan malu-malu, seolah-olah sedang memberikan undangan.

Senyum tersungging di mata Howard, lalu dia memerintah Maya, "Tolong jaga dua anak ini sebentar."

Nadanya begitu formal dan berjarak. Bukan seperti bicara pada seorang istri, melainkan seperti memberi instruksi tugas pada bawahan.

Setelah itu, dia dan Gisel berbalik pergi.

Maya membawa kedua anaknya ke tepi danau.

Namun, sebelum mereka menemukan bebek, tiba-tiba Jesika menjulurkan kakinya dan menyandung Maya secara diam-diam.

Maya tersentak. Sebelum sempat menyeimbangkan tubuh, dia jatuh ke sungai dengan bunyi "byur" yang keras!

Air sungai yang dingin, seketika membungkus seluruh tubuhnya. Maya tersedak dan terbatuk-batuk hebat. Tangannya menggapai-gapai di dalam air, tetapi dia justru semakin tenggelam.

"Dasar menyebalkan! Mati tenggelam saja sana!" Javier berkacak pinggang dengan raut wajah penuh kebencian.

"Kalau bukan karena Ibu yang suka ikut campur, kami pasti sudah bisa naik roller coaster sama Tante Gisel!" Wajah kecil Jesika memerah karena marah.

Maya mengulurkan tangannya yang gemetar, suara parau keluar dari kerongkongannya. "Javier, Jesika ...."

Namun, kedua anak itu tetap berdiri di tepi daratan, menontonnya berjuang di dalam air tanpa ada niat sedikit pun untuk menolongnya.

Pada saat itu, hati Maya hancur berkeping-keping.

Dia teringat bagaimana dia mempertaruhkan nyawa karena pendarahan hebat saat melahirkan mereka.

Dia teringat bagaimana dia tidak tidur semalaman untuk mengompres dan menyeka tubuh mereka saat mereka demam tinggi.

Dia teringat bagaimana dia menyiapkan sarapan yang melimpah setiap subuh, mencuci pakaian mereka hingga bersih, dan merapikan tas sekolah mereka.

Namun pada akhirnya, semua itu hanya dibalas dengan kebencian yang mendalam.

Betapa menyedihkan dan konyolnya semua ini.

Keputusasaan dan rasa sakit membuat tubuh Maya perlahan-lahan tenggelam di bawah permukaan air, jatuh ke dalam kegelapan yang tak berujung.

...

Saat terbangun lagi, Maya sudah terbaring di tepi sungai dalam keadaan basah kuyup.

Howard berdiri di sampingnya.

Maya memuntahkan air kotor dari mulutnya. Sebelum dia sempat mengatur napasnya kembali, pria itu berkata dengan raut wajah dingin, "Maya, aku rasa kamu benar-benar sudah gila!"

"Aku tahu kamu nggak suka pada Gisel, tapi anak-anak suka padanya. Apa perlu kamu menggunakan cara ekstrem seperti terjun ke sungai hanya untuk memaksa mereka menjauhi Gisel?"

"Apa pernah kamu berpikir, mereka adalah anak kandungmu sendiri, tapi kenapa mereka lebih suka pada Gisel? Sebenarnya ini masalah siapa?"

Menatap wajah pria yang dingin itu, Maya tiba-tiba kehilangan tenaga bahkan untuk sekadar menjelaskan.

Howard tidak menyukainya.

Kedua anaknya juga tidak menyukainya.

Sebanyak apa pun dia bicara, tidak akan ada yang percaya.

"Kamu benar, ini memang masalahku." Dia bangkit duduk dengan tubuh yang lemas. Matanya yang memerah menatap Howard tajam. "Aku nggak seharusnya menikah denganmu, nggak seharusnya melahirkan mereka, dan lebih nggak seharusnya lagi berpikir bodoh bahwa ketulusan bisa dibalas dengan ketulusan."

"Itu adalah masalah terbesarku!"

Howard terdiam sejenak, wajahnya semakin tampak masam.

Dia pun berkata dengan nada dingin, "Sudah kukatakan sejak awal, selain status Nyonya Keluarga Bandri, aku nggak bisa memberimu apa-apa. Apa nggak terlambat bagimu baru menyadarinya sekarang?"

Maya tersenyum pahit.

Ya, di kehidupan sebelumnya memang sudah terlambat.

Tapi di kehidupan ini ... belum terlambat.

Dia akan benar-benar meninggalkan mereka dan tidak akan pernah menoleh kembali.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 19

    Saat itu, Gisel dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena sengaja melukai orang lain. Setelah bebas, dia mencoba kembali ke dunia kerja dan menyadari bahwa segalanya telah berubah. Dia mengirim banyak resume, tetapi semuanya berakhir sia-sia. Entah tidak ada kabar sama sekali, atau dia ditolak mentah-mentah karena memiliki catatan kriminal.Dalam keputusasaan, dia mencari Howard dengan harapan pria itu mau membantunya. Namun, dia bahkan tidak bisa melewati pintu gerbang perusahaan. Gisel dihadang oleh petugas keamanan yang menyodorkan sejumlah uang kepadanya."Pak Howard bilang, ambil uang ini dan jangan pernah hubungi dia lagi!"Gisel berdiri di bawah gedung Perusahaan Bandri sambil menggenggam uang itu. Hatinya dipenuhi rasa tidak rela dan penyesalan mendalam. Dia dulu mengira akan menikah dengan Howard dan menjadi Nyonya Bandri yang membuat iri semua orang. Namun siapa sangka, dia justru berakhir mengenaskan seperti ini!...Berbeda dengan penderitaan kedua orang itu, kehidupa

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 18

    Maya mendengar nama Howard kembali pada suatu sore, lima tahun kemudian.Hari itu, dia baru saja menyelesaikan seminar pengasuhan anak. Seorang anak magang di studionya sedang melihat berita di ponsel dan berceletuk, "Direktur Perusahaan Bandri, Howard, masuk berita viral lagi. Katanya, dia gagal dalam negosiasi dengan mitra bisnis karena nggak bisa konsentrasi gara-gara masalah keluarga."Tangan Maya yang sedang merapikan dokumen sempat terhenti sejenak. Dia tidak mendongak, hanya berkata datar, "Fokus saja pada pekerjaan kalian."Si anak magang itu menjulurkan lidahnya dan segera menyimpan ponselnya. Namun, berita tentang Howard itu, tetap seperti kerikil kecil yang menimbulkan riak tipis di hati Maya. Bukan karena masih peduli, dia hanya merasa sedikit getir.Lima tahun telah berlalu. Pria yang dulu menjadi pusat dunianya itu, kini hanyalah "tokoh berita" yang tidak penting dalam hidupnya.Belakangan, dia mendengar dari teman-temannya bahwa hidup Howard selama lima tahun ini tidak

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 17

    Setelah kembali ke negaranya, Howard membatalkan semua pekerjaannya dan tinggal di rumah sakit untuk fokus merawat kedua anaknya. Namun, saat terbangun dan melihat bahwa dialah yang berjaga di samping mereka, mata anak-anak itu justru dipenuhi kekecewaan.Malam itu, suhu tubuh Jesika tidak kunjung turun. Dia terus mengigau dalam sakit panasnya, "Mau makan bubur buatan Ibu."Howard mencoba membuat bubur dengan kaku mengikuti tutorial di internet. Namun, saat bubur itu disodorkan ke tepi ranjang, Jesika langsung menepisnya. Bubur yang masih panas itu tumpah berserakan di lantai."Nggak mau! Ini bukan buatan Ibu!" Tangis anak itu penuh kepedihan. "Bubur buatan Ibu selalu diberi kurma merah yang manis. Ayah nggak tahu apa-apa!"Melihat kekacauan di lantai, hati Howard terasa seperti dihantam benda tumpul. Dulu, dia mengira rumah ini akan baik-baik saja meski tanpa Maya. Baru sekarang dia sadar bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan keberadaan Maya.Di hari-hari berikutnya,

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 16

    Maya terdiam sejenak, lalu bertanya balik, "Justru karena nggak tega, aku selalu memilih untuk mengalah. Tapi apa pengabdianku selama bertahun-tahun ini membuahkan hasil yang baik? Nggak, ‘kan?"Setelah berkata demikian, dia menutup telepon tanpa keraguan sedikit pun....Setelah Howard masuk rumah sakit, kehidupan Maya segera kembali ke jalurnya. Hari itu, dia sengaja menemui Benny untuk berterima kasih karena telah membantunya menghalangi gangguan Howard sebelumnya.Benny duduk di kursi kerjanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau kamu benar-benar mau berterima kasih, aku punya sebuah ide.""Ide apa?""Virga sangat menyukaimu." Benny berhenti sejenak. "Aku mau kamu jadi ibu angkatnya. Apa kamu bersedia?"Virga adalah anak dari kakak laki-laki Benny. Beberapa tahun lalu, kakak dan kakak iparnya meninggal dalam kecelakaan, dan mereka menitipkan anak itu kepadanya. Selama ini Benny berperan sebagai ayah, dan mendidik Virga menjadi anak yang penurut dan pengertian

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 15

    Pupil mata Maya mengecil karena terkejut, dia mundur setengah langkah. Sebelum dia sempat bereaksi, sebuah sosok yang tegap, mendadak menerobos masuk dari pintu dan mencengkeram pergelangan tangan Gisel."Gisel, letakkan pisaunya!" Howard mengertakkan gigi, suaranya sedingin es.Mata Gisel memerah, dia berontak ingin melepaskan diri. "Nggak mau! Kecuali kamu berjanji padaku untuk nggak mencarinya dan berhubungan dengannya lagi!"Howard tidak menjawab, dia justru memperkuat cengkeramannya. Sikap diamnya itu seperti menyiram bensin ke dalam api, memicu kemarahan Gisel sepenuhnya. Gisel meronta dengan sekuat tenaga. Di tengah aksi saling dorong itu, mata pisau itu menusuk telak ke perut Howard dengan bunyi yang mengerikan.Darah seketika merembes membasahi setelan jas abu-abu tuanya, menetes ke lantai. Udara seolah membeku seketika. Gisel terpaku di tempat, wajahnya penuh rasa tidak percaya. Maya juga panik, dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ambulans.Petugas keam

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 14

    Sepuluh tahun yang lalu di Universitas Kenington, Benny dan Howard diakui sebagai dua mahasiswa yang sangat jenius. Yang satu tajam dan berpikiran cepat.Yang satunya lagi tenang dan tegas dalam bertindak. Dari debat di kelas hingga peringkat kompetisi, keduanya selalu bersaing sengit dan tidak ada yang mau mengalah.Meski sudah bertahun-tahun lulus, satu sama lain tetap menjadi "duri dalam daging" yang paling disegani dalam peta persaingan bisnis mereka. Hingga akhirnya Benny pergi mengembangkan karier di Negara Artina, barulah nama itu perlahan menghilang dari daftar musuh bisnis Howard.Dia tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun akan terjadi dalam situasi seperti ini."Aku juga nggak menyangka akan bertemu denganmu di sini," kata Benny sambil tersenyum tipis. "Lagi pula, aku kira setelah Maya menceraikanmu, kamu akan segera menikah dengan Gisel."Kening Howard semakin berkerut. "Perceraian itu nggak sengaja terjadi. Aku nggak akan menikahi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status