Share

Bab 7

Penulis: Zoro
Maya terbangun di rumah sakit dengan tubuh yang terasa seolah baru saja digilas truk. Rasa sakit yang tajam seperti dipahat pisau terasa di bagian tulang rusuknya.

Selain itu, perutnya juga dibalut perban tebal.

Rasa sakit yang ganjil itu memberinya firasat buruk.

"Sudah bangun?" Howard berdiri di sampingnya, tatapannya dingin dan berjarak.

Pria itu terdiam sejenak, lalu berkata, "Dua hari lagi Gisel harus menghadiri rapat penting. Dia anggota inti, jadi nggak boleh absen."

Maya tidak menyahut.

Sosoknya yang tak bernyawa tampak seperti boneka kain yang kehilangan jiwanya.

Dia sangat ingin mengatakan pada Howard, bahwa pria itu tidak perlu lagi menggunakan alasan membosankan seperti itu untuk membohonginya.

Lagi pula, dia sudah menggunakan seluruh hidupnya untuk melihat betapa dingin dan dangkalnya hati pria itu.

"Oh ya." Howard berhenti sejenak. "Kondisi tubuh Gisel sedang nggak baik, ginjalnya rusak. Jadi, aku sudah menyuruh dokter memindahkan salah satu ginjalmu untuk diberikan padanya."

Mendengar kalimat itu, Maya akhirnya bereaksi.

Dia mendongak menatap Howard.

Matanya menyiratkan keterkejutan, kepedihan, dan keputusasaan yang begitu pekat layaknya tinta yang mustahil luntur.

Kecelakaan itu sepenuhnya kesalahan Gisel, tapi justru dia yang harus membayar dengan satu ginjal?

Ternyata cinta pria itu pada Gisel sudah membabi buta hingga ke tahap ini?

Maya mendadak tertawa.

Dia menertawakan betapa bodoh dirinya di kehidupan lalu, menyia-nyiakan masa muda yang indah demi pria yang tidak punya hati ini!

Tawa Maya entah mengapa membuat Howard merasa tidak nyaman.

Dia menatap Maya dan berkata dengan nada dingin, "Istirahatlah dengan baik agar bisa segera pulang. Keluarga Bandri membutuhkanmu, anak-anak juga membutuhkanmu."

Maya membuka mulut, suaranya kering dan serak. "Tapi Howard ...."

Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi.

Sebelum kata-kata terakhir itu terucap, seorang perawat muda masuk.

"Pak Howard, Nona Gisel bilang lukanya terasa sakit ...."

Mendengar hal itu, Howard segera berbalik pergi, hanya menyisakan bayangan punggung yang dingin dan teguh bagi Maya.

...

Setelah hari itu, Howard tidak pernah datang menjenguknya lagi.

Namun, kabar tentang pria itu masih sesekali mampir ke telinganya.

"Pak Howard baik sekali pada Nona Gisel. Setiap hari dia membawa kedua anaknya untuk menjenguk, bahkan bekerja pun dilakukan di dalam bangsal Nona Gisel!"

"Kalian nggak tahu? Nona Gisel adalah cinta pertama Pak Howard. Mereka itu pasangan idola saat kuliah. Dulu saat mereka LDR, Pak Howard rela naik pesawat pulang-pergi selama empat jam setiap hari hanya demi makan malam bersama Nona Gisel."

"Pantas saja! Selama ada Nona Gisel, sang cinta pertama, Nona Maya hanya bisa menjadi pengganti murahan ...."

Mendengar ucapan-ucapan itu, hati Maya yang sudah penuh lubang, tak lagi merasakan riak sedikit pun.

Di hari terakhir masa jeda perceraian, dia keluar dari rumah sakit lebih awal dan pergi ke kantor Pengadilan Agama untuk menyelesaikan prosedur perceraian.

Saat memegang akta cerai, hati Maya tidak terasa perih seperti yang dibayangkan, melainkan hanya ada rasa hampa dan mati rasa.

Dia memanggil jasa kurir, mengirimkan salinan akta cerai yang satunya lagi ke rumah, lalu berangkat menuju bandara.

Sebelum pesawat lepas landas, Maya menghapus dan memblokir semua kontak Howard. Penderitaan yang menumpuk di hatinya seolah terbang terbawa angin. Napasnya kini terasa jauh lebih ringan.

Di kehidupan sebelumnya, Howard adalah "suami tak kasat mata" yang absen dari semua suka dan duka dalam hidupnya.

Maka di kehidupan ini, biarlah Maya yang menjadi sosok tak kasat mata itu, menghilang sepenuhnya dari dunia pria itu!

...

Howard baru mengetahui dari dokter beberapa hari kemudian bahwa Maya telah keluar dari rumah sakit lebih awal.

Mengingat pengorbanan ginjal Maya untuk Gisel, dia merasa sedikit tidak tega. Dia pun membelikan sebuah kalung, berniat untuk sedikit membujuk istrinya.

Setibanya di rumah, kedua anaknya melemparkan jaket sembarangan ke sofa dan berlari ke lantai atas dengan antusias.

"Ibu, aku mau makan kue kering dan kue tar!"

"Kuenya mau yang rasa cokelat!"

Namun, jawaban yang mereka terima hanyalah keheningan.

Howard merasakan ada yang janggal, lalu bertanya pada kepala pelayan, "Di mana Nyonya?"

Kepala pelayan menggeleng dan menyerahkan sebuah paket padanya. "Nyonya tidak pulang selama beberapa hari ini, tapi beliau mengirimkan ini ke rumah. Penerimanya adalah Anda."

Howard menerima paket itu dengan kening berkerut.

Kepala pelayan menambahkan, "Tiga hari lalu adalah ulang tahun pernikahan Anda dan Nyonya. Sepertinya ini kado ulang tahun pernikahan yang beliau siapkan untuk Anda."

Mendengar hal itu, alis Howard yang menegang sedikit mengendur.

Keraguan di hatinya pun sirna.

Ternyata benar, meski Maya sedang merajuk, dia tetap tahu batasan.

Biarpun merasa diperlakukan tidak adil, dia masih ingat untuk menyiapkan kado ulang tahun pernikahan.

Howard pun mengambil gunting dari kepala pelayan. Jari-jarinya yang panjang perlahan membuka bungkus paket itu.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 19

    Saat itu, Gisel dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena sengaja melukai orang lain. Setelah bebas, dia mencoba kembali ke dunia kerja dan menyadari bahwa segalanya telah berubah. Dia mengirim banyak resume, tetapi semuanya berakhir sia-sia. Entah tidak ada kabar sama sekali, atau dia ditolak mentah-mentah karena memiliki catatan kriminal.Dalam keputusasaan, dia mencari Howard dengan harapan pria itu mau membantunya. Namun, dia bahkan tidak bisa melewati pintu gerbang perusahaan. Gisel dihadang oleh petugas keamanan yang menyodorkan sejumlah uang kepadanya."Pak Howard bilang, ambil uang ini dan jangan pernah hubungi dia lagi!"Gisel berdiri di bawah gedung Perusahaan Bandri sambil menggenggam uang itu. Hatinya dipenuhi rasa tidak rela dan penyesalan mendalam. Dia dulu mengira akan menikah dengan Howard dan menjadi Nyonya Bandri yang membuat iri semua orang. Namun siapa sangka, dia justru berakhir mengenaskan seperti ini!...Berbeda dengan penderitaan kedua orang itu, kehidupa

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 18

    Maya mendengar nama Howard kembali pada suatu sore, lima tahun kemudian.Hari itu, dia baru saja menyelesaikan seminar pengasuhan anak. Seorang anak magang di studionya sedang melihat berita di ponsel dan berceletuk, "Direktur Perusahaan Bandri, Howard, masuk berita viral lagi. Katanya, dia gagal dalam negosiasi dengan mitra bisnis karena nggak bisa konsentrasi gara-gara masalah keluarga."Tangan Maya yang sedang merapikan dokumen sempat terhenti sejenak. Dia tidak mendongak, hanya berkata datar, "Fokus saja pada pekerjaan kalian."Si anak magang itu menjulurkan lidahnya dan segera menyimpan ponselnya. Namun, berita tentang Howard itu, tetap seperti kerikil kecil yang menimbulkan riak tipis di hati Maya. Bukan karena masih peduli, dia hanya merasa sedikit getir.Lima tahun telah berlalu. Pria yang dulu menjadi pusat dunianya itu, kini hanyalah "tokoh berita" yang tidak penting dalam hidupnya.Belakangan, dia mendengar dari teman-temannya bahwa hidup Howard selama lima tahun ini tidak

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 17

    Setelah kembali ke negaranya, Howard membatalkan semua pekerjaannya dan tinggal di rumah sakit untuk fokus merawat kedua anaknya. Namun, saat terbangun dan melihat bahwa dialah yang berjaga di samping mereka, mata anak-anak itu justru dipenuhi kekecewaan.Malam itu, suhu tubuh Jesika tidak kunjung turun. Dia terus mengigau dalam sakit panasnya, "Mau makan bubur buatan Ibu."Howard mencoba membuat bubur dengan kaku mengikuti tutorial di internet. Namun, saat bubur itu disodorkan ke tepi ranjang, Jesika langsung menepisnya. Bubur yang masih panas itu tumpah berserakan di lantai."Nggak mau! Ini bukan buatan Ibu!" Tangis anak itu penuh kepedihan. "Bubur buatan Ibu selalu diberi kurma merah yang manis. Ayah nggak tahu apa-apa!"Melihat kekacauan di lantai, hati Howard terasa seperti dihantam benda tumpul. Dulu, dia mengira rumah ini akan baik-baik saja meski tanpa Maya. Baru sekarang dia sadar bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan keberadaan Maya.Di hari-hari berikutnya,

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 16

    Maya terdiam sejenak, lalu bertanya balik, "Justru karena nggak tega, aku selalu memilih untuk mengalah. Tapi apa pengabdianku selama bertahun-tahun ini membuahkan hasil yang baik? Nggak, ‘kan?"Setelah berkata demikian, dia menutup telepon tanpa keraguan sedikit pun....Setelah Howard masuk rumah sakit, kehidupan Maya segera kembali ke jalurnya. Hari itu, dia sengaja menemui Benny untuk berterima kasih karena telah membantunya menghalangi gangguan Howard sebelumnya.Benny duduk di kursi kerjanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau kamu benar-benar mau berterima kasih, aku punya sebuah ide.""Ide apa?""Virga sangat menyukaimu." Benny berhenti sejenak. "Aku mau kamu jadi ibu angkatnya. Apa kamu bersedia?"Virga adalah anak dari kakak laki-laki Benny. Beberapa tahun lalu, kakak dan kakak iparnya meninggal dalam kecelakaan, dan mereka menitipkan anak itu kepadanya. Selama ini Benny berperan sebagai ayah, dan mendidik Virga menjadi anak yang penurut dan pengertian

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 15

    Pupil mata Maya mengecil karena terkejut, dia mundur setengah langkah. Sebelum dia sempat bereaksi, sebuah sosok yang tegap, mendadak menerobos masuk dari pintu dan mencengkeram pergelangan tangan Gisel."Gisel, letakkan pisaunya!" Howard mengertakkan gigi, suaranya sedingin es.Mata Gisel memerah, dia berontak ingin melepaskan diri. "Nggak mau! Kecuali kamu berjanji padaku untuk nggak mencarinya dan berhubungan dengannya lagi!"Howard tidak menjawab, dia justru memperkuat cengkeramannya. Sikap diamnya itu seperti menyiram bensin ke dalam api, memicu kemarahan Gisel sepenuhnya. Gisel meronta dengan sekuat tenaga. Di tengah aksi saling dorong itu, mata pisau itu menusuk telak ke perut Howard dengan bunyi yang mengerikan.Darah seketika merembes membasahi setelan jas abu-abu tuanya, menetes ke lantai. Udara seolah membeku seketika. Gisel terpaku di tempat, wajahnya penuh rasa tidak percaya. Maya juga panik, dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ambulans.Petugas keam

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 14

    Sepuluh tahun yang lalu di Universitas Kenington, Benny dan Howard diakui sebagai dua mahasiswa yang sangat jenius. Yang satu tajam dan berpikiran cepat.Yang satunya lagi tenang dan tegas dalam bertindak. Dari debat di kelas hingga peringkat kompetisi, keduanya selalu bersaing sengit dan tidak ada yang mau mengalah.Meski sudah bertahun-tahun lulus, satu sama lain tetap menjadi "duri dalam daging" yang paling disegani dalam peta persaingan bisnis mereka. Hingga akhirnya Benny pergi mengembangkan karier di Negara Artina, barulah nama itu perlahan menghilang dari daftar musuh bisnis Howard.Dia tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun akan terjadi dalam situasi seperti ini."Aku juga nggak menyangka akan bertemu denganmu di sini," kata Benny sambil tersenyum tipis. "Lagi pula, aku kira setelah Maya menceraikanmu, kamu akan segera menikah dengan Gisel."Kening Howard semakin berkerut. "Perceraian itu nggak sengaja terjadi. Aku nggak akan menikahi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status