MasukLangit sudah gelap, menandakan bahwa saat ini sudah malam. Evan segera berpamitan pulang setelah pekerjaannya selesai.
Saat akan sampai di pintu keluar, ia kembali berpapasan dengan Erinna yang hendak makan malam. “ Evan, kamu mau pulang? Makan malam dulu bareng kita. “ tawar Erinna.
Evan tersenyum dan mengangguk sopan. “ Terimakasih atas tawarannya, Nyonya. Saya masih ada keperluan saat ini. “ tolaknya dengan halus.
“ Oh, yaudah. Hati-hati di jalan. “
“ Baik, Nyonya. Saya permisi. “
Erinna melihat ke arah sekertaris suaminya itu, hingga siluetnya benar-benar menghilang dari pandangannya.
Ia masih mengingat-ingat tentang Evan. “ Dia kan cuma sekertaris biasa. Tapi kenapa penulis masukin dia di tokoh istimewa? “ gumam Erinna.
Buku ini ada dua jilid, dan sayangnya Erinna hanya membaca jilid pertama. Di jilid pertama tidak terlalu dijelaskan tentang Evan, tapi pria itu masuk kedalam tokoh penting cerita.
Mengangkat kedua bahu seolah tak peduli, padahal isi kepalanya penuh dengan rencana hidup untuk kedepannya. “ Udahlah, makan dulu aja. Nanti mikir lagi. “
Mata Erinna kembali berbinar, selain melihat harta mata wanita itu juga akan berbinar saat melihat makanan. “ Sebanyak ini? Ih buang-buang makanan padahal. “
Erinna segera membalik piring, mulai mengambil makanan yang begitu menggugah selera. “ Kamu makan tanpa ajak suami kamu? “
Suara Arlo menghentikan kegiatan menyenangkan Erinna. Wanita itu memutar bola matanya dengan malas.
Menampilkan senyum terindahnya sebelum berbicara dengan Arlo. “ Iya suamiku, ayo kita makan. “ suaranya terdengar manis dan dibuat-buat.
Tapi, itulah seharusnya yang ia lakukan sebagai tokoh jahat dan penggoda. Tidak, Erinna yang ini sudah bertaubat.
Ia takkan mengulangi kesalahan yang akan memperburuk keadaan untuknya.
“ Cih, “ decak sebal Arlo sebelum duduk di sampingnya.
Erinna makan begitu lahap, ia tak peduli dengan tatapan tidak percaya yang Arlo tunjukan. “ Hey, sejak kapan kamu makan sebanyak ini? “
“ Udah ada di meja, kalo ngga dimakan ya mubazir. “
Arlo benar-benar tidak percaya, Erinna menghabiskan makanan begitu banyak.
Perasaan aneh muncul saat melihat Erinna. Istrinya itu tampak menggemaskan saat makan. “ Aih, aku udah gila. “ batin Arlo.
***
Dua hari kemudian, Erinna masih menikmati hari cutinya di rumah. Ia benar-benar menikmati peran wanita kaya.Dreddt! Dreeeddt!
Ponsel wanita itu berdering, ia yang sedang menggunakan masker wajah segera mengangkat panggilan telepon tersebut tanpa melihat siapa yang menelpon.
“ Halo, “
Panggilan tersambung, Erinna mendengarkan suara seseorang dibalik sana yang tengah berbicara. “ Apa! Aku kesana sekarang! “
Sementara itu, di sekolah dasar elite yang terkenal di kota. Saat ini Xavier tengah berada di ruang guru, menunduk dan diam.
“ Kenapa kamu pukul teman kamu, Xavier? “ tanya wali kelas anak itu.
Disampingnya ada teman yang ia pukul dan ibunya. “ Dasar anak kurang ajar! “ kesal ibu temannya.
Wajah Xavier juga lebam akibat pukulan, tapi tidak separah wajah temannya. Hal itu membuat ibu temannya kesal.
“ Langsung saja hukuman apa yang harus aku terima, Pak. “ seru Xavier, layaknya orang dewasa yang berbicara.
“ Saya sudah telepon ibu kamu, tunggu dia datang. “
“ Percuma, dia—“
“ Xavier! “
Erinna datang dengan napas tersengal-sengal, wanita itu berlari dari gerbang sekolah hingga ke ruangan ini.
“ Kamu gapapa? Kenapa muka kamu lebam gini? “ tanya Erinna penuh kekhawatiran.
“ Begini, Nyonya Laverent. Tadi Xavier berkelahi dengan temannya. “ seru sang guru yang mewakili jawaban Xavier.
Erinna beralih menatap pria yang nampak seusia dengannya. “ Mereka saling memukul, dan Xavier menyebabkan temannya terluka. “
“ Anda tidak melihat putra saya juga terluka! Mana anak yang Xavier pukuli! “ kesal Erinna, ia bekacak pinggang dan berbicara dengan berani pada guru di depannya.
“ Di samping anda, Nyonya. “
“ Eh. “ Erinna menoleh dan baru sadar dengan kehadiran teman Xavier, anak itu terluka cukup parah.
Aih, entah apa yang Xavier lakukan hingga berakhir seperti itu. Jangan lupakan wajah kesal ibunya, ia bahkan tak sudi menatap Erinna.
“ Xavier, kamu apain temen kamu. “ Erinna berbisik pada putranya itu.
“ Maaf, Mah. Aku ngerepotin. “
Erinna menghela napas. “ Anak saya tidak mungkin berani berbuat seperti itu jika tidak ada pemicunya. “ seru Erinna.
Ini kesempatan untuk dirinya agar bisa mengambil hati Xavier. “ Katakan sayang, apa yang anak itu lakuin sama kamu. “
“ Dia hina aku ngga punya ibu, Mah. “
Dress bunga dengan punggung terbuka menjadi pilihan pakaian yang Erinna pakai untuk pergi, ia sudah siapa dengan kaca mata hitam juga topi yang menutupi sebagian wajahnya dari sinar matahari.Pakaian nya cukup terbuka, dan dirinya sudah terbiasa dengan itu. Erinna benar-benar menikmati kehidupannya ini. “ Mau gimana lagi, bajunya kebuka semua. “ pikir Erinna.Bukannya tak mampu membeli yang lain, tapi ia terlalu malas untuk memilih pakaian.Saat Erinna dan Xavier menunggu Arlo keluar, tiba-tiba sebuah mobil menghampiri. Mobil mewah berwarna hitam legam itu berhenti tepat di depan Erinna dan Xavier.Disusul dengan seorang pria muda turun dari sana. Beralis tebal, hidung mancung dan jangan lupakan dada bidang itu yang membuat Erinna terpukau. “ Nyonya? ““ Hah? Iya, kenapa Evan? “ tanya Erinna gugup.Ah, Evan begitu tampan. Untuk sesaat Erinna tersihir dengan ketampanan pria itu.Kaos hitam polos dengan celana pendek membuat pria di depannya ini tampak semakin muda di matanya. “ Kamu ik
Semua teman Xavier baru saja pulang, anak itu terlihat begitu senang merayakan pesta kecilnya. Arlo baru saja turun dan melihat sisa-sisa pesta itu.Ia memalingkan wajahnya saat melihat Erinna. Sungguh, malu rasanya jika mengingat kebodohannya. “ Pah, papa darimana? “ tanya Xavier saat Arlo melewati mereka.Langkah Arlo terhenti sejenak, ia menoleh pada Xavier. “ Papa—“Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, Erinna sudah menyela. “ Papa sedang menyiapkan hadiah untuk kamu. Iyakan? “ sela Erinna.Wanita itu dengan sengaja membuat suami durjana nya dalam masalah. “ Wah, beneran pah? “ tanya Xavier dengan wajah berbinar.Arlo menggertakan giginya dengan kesal, jelas Erinna sengaja melakukan hal itu. “ Iya, papa putuskan kita akan liburan dan berangkat nanti sore. “ jawab Arlo.Erinna yang sebelumnya tersenyum senang seketika berubah terkejut. “ Apa? Liburan! “ pekik Erinna tidak percaya.Senang? Bukan, wanita itu justru merasa terpojok. Sebab sebelumnya saat ia di kamar Arlo, de
“ Mah, mau bawa aku kemana emangnya? “ ucap Xavier.Mata anak itu di tutupi oleh kain, dengan Erinna yang menuntunnya berjalan. “ Kamu siap? “ tanya Erinna sebelum melepas penutup mata itu.Xavier mengangguk, kain itu di lepaskan. Seketika matanya berbinar dan terpukau. “ Surprise! “ seru Erinna diikuti suara teman-temannya yang mengucapkan selamat ulang tahun.Sebuah acara pesta ulang tahun sederhana, untuk pertama kalinya Xavier mendapatkan itu. Ia tak bisa berkata-kata lagi, memeluk ibunya dengan erat. “ Makasih, Mah. ““ Eyy, ngga boleh nangis dong. Masa anak laki-laki nangis, ayo tiup lilinnya. “ seru Erinna dengan tertawa renyah.Untuk pertama kalinya, Xavier meniup lilin di acara ulang tahunnya sendiri. Tepukan tangan teman-temannya yang hadir di sana semakin menambah sorak gembira.Setumpuk hadiah tertata di sana. Xavier sering mendapatkan hadiah, namun kali ini benar-benar berbeda dan tidak biasa.“ Mama nyiapin ini sendirian? “ tanya anak itu dengan polosnya. “ Dimana papa?
“ Makasih ya, Kak. Udah antar aku pulang. “ seru Erinna sedikit menunduk untuk melihat Zidan yang di dalam mobil.Zidan tersenyum seraya mengangguk. Ah, wajah tenangnya begitu menyejukkan hati. “ Ngga masalah. Aku pulang dulu, ya. “ balas Zidan sebelum melajukan mobilnya.Mobil Zidan pergi dari area kediaman Arlo. Perlahan senyum indah dan tulusnya berubah menjadi senyum licik. “ Jangan salahin aku, Er. Kamu yang mulai duluan. “ gumam Zidan.Erinna melangkahkan kaki, masuk ke kediamannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, keadaan sudah sepi bahkan beberapa lampu sudah di matikan.Ia pergi ke dapur untuk menyimpan kue yang baru saja ia beli, untuk hadiah lainnya sengaja ia bawa ke kamar. “ Capek banget, padahal naik mobil. Apalagi kalau jalan, ya. “Kaki panjang Erinna perlahan menaiki anak tangga satu per satu, bahkan kakinya sudah lelah saat menaiki tangga.Tiba di kamarnya, ia segera membersihkan diri sebelum tidur di kasur empuknya. Belum sempat berpakaian, dan masih me
Malam dingin yang tetap ramai itu tiba. Gedung-gedung tinggi dan besar itu nampak gelap dari dalam, tak seperti jalanan yang temaran.Erinna berdiri di depan pintu masuk, menunggu Arlo yang masih belum keluar. “ Ayo pulang. “ seru Arlo saat melihat Erinna.Wanita itu mendongakkan kepalanya, menoleh ke arah Arlo yang baru saja berdiri di sampingnya. “ Kamu duluan, aja. Aku mau beli barang dulu. “ tolak Erinna.Mendengar ucapan Erinna, kedua alis pria itu saling bertaut. “ Kamu mau kemana malam-malam begini? Biar aku antar. “ tawar Arlo.Sekali lagi Erinna menggelengkan kepalanya, ia tidak berniat pergi bersama Arlo. “ Engga, kamu pulang duluan aja. Aku sebentar juga. “ tolaknya lagi.Setelah berpikir sejenak, akhirnya Arlo mengangguk. Biasanya juga ia tidak peduli dengan Erinna, untuk apa mengkhawatirkan wanita itu. “ Baiklah, jangan pulang terlalu malam. “Tubuh tegap Arlo melenggang pergi, masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil tersebut.Erinna sendiri, wanita itu berjalan menuju t
“ Kamu mikirin apa sih? Minggir! “ seru Erinna yang melihat Arlo diam.Pria itu tersadar dari lamunannya, ia menggeleng pelan sebelum keluar bersama Erinna. “ Er, apa kamu ngga bisa kendalikan emosi kamu? “Pertanyaan Arlo membuat Erinna kesal, wanita itu menatap sinis pada pria di sampingnya. “ Gak! “ balas singkat Erinna dan berlalu meninggalkan Arlo.Keluar dari ruangan, di depan pintu ternyata Olivia sudah menunggu. Ia membantu Erinna berjalan, karena pakaian yang dikenakan wanita itu cukup panjang menjuntai.Olivia melihat jelas wajah kesal Erinna. “ Er, kamu kenapa. Tadi pak Arlo nyamperin kamu kan, biasanya kamu seneng. “ seru Olivia.Erinna menoleh sebelum kembali menatap ke depan. “ Dih, seneng? Suami durjana begitu—““ Er, jaga bicara kamu. Nanti kedenger pak Arlo lagi. “ potong cepat Olivia sebelum mereka terkena masalah.Walaupun catatannya Erinna adalah istri Arlo, namun tetap saja profesionalitas dijunjung tinggi disana.Erinna memutar bola matanya malas, tak peduli deng







