LOGINArlo menarik Erinna ke ruangannya sebelum wanita itu berjalan lebih jauh. “ Ikut aku sebentar. “ serunya tanpa aba-aba.
Cengkraman Arlo ditangannya cukup kuat, Erinna menarik cengkraman itu. “ Lepasin, aku bisa jalan sendiri. “
Ia mengibaskan tangannya yang terasa sakit akibat cengkraman pria itu. Untuk apa Arlo membawanya ke ruangan, sementara dirinya ada jadwal pemotretan sebentar lagi.
Brugh!
Pintu ditutup dengan keras, bahkan Arlo menguncinya. Hal itu membuat Erinna berkedip-kedip, sedikit takut dengan tindakan Arlo. “ Kenapa lagi suami durjana ini. “ batin Erinna.
“ Kamu bilang aku apa? “ tanya Arlo tidak terima.
Erinna bingung dengan ucapan Arlo, ia tidak mengatakan apapun. Apa yang dimaksud pria itu. “ Apa? Aku daritadi diam saja. “
Arlo terdiam. Ada benarnya, sedari tadi Erinna belum berbicara. Lalu, muncul darimana suara itu. “ Apa itu suara hatinya? “ batin Arlo.
“ Kamu mau bicara apa? Ya ampun, aku harus bekerja. “ keluh Erinna yang hanya melihat Arlo melamun.
Mata tajam Arlo mengarah jelas pada Erinna, ia mendengus kesal membuat wanita itu bungkam dengan tatapannya. “ Diamlah, kamu bahkan digaji dari uangku. “
“ Sombong amat! “ batin Erinna.
Lagi-lagi Arlo bisa mendengar suara hati Erinna. Ia yakin itu keajaiban, dan dengan begitu ia bisa memanfaatkannya.
“ Kenapa kamu ngga marah waktu ada yang godain aku?” tanya Arlo pada akhirnya.
Dua alis Erinna terangkat, dengan mulut sedikit terbuka seolah mengatakan kata hah dengan tidak percaya. “ Kamu bawa aku kesini cuma buat nanyain itu? “
Arlo memalingkan wajahnya sebelum mengiyakan pertanyaan Erinna. “ Iya. “ balasnya singkat.
Satu sudut bibir Erinna terangkat, ia ingin sekali menertawakan pria dihadapannya ini. Dulu saat ia selalu protektif Arlo hanya abai, sekarang saat ia abai justru pria itu yang merasa aneh.
“ Mampus! Ngerasa kehilangan kan. “ batin Erinna.
“ Kenapa aku ngga bisa denger lagi suara hatinya? “ batin Arlo.
Erinna membasahi tenggorokan nya dulu dengan air minum yang tersaji di meja Arlo. Selesai dengan minumnya ia baru melanjutkan pembicaraan. “ Itu keinginan kamu bukan? “
“ Kamu suka bilang kalau aku berlebihan. Yaudah sekarang aku diam, apa salah? “ sambung Erinna yang berhasil membungkam mulut pria itu lagi.
“ Tapi—“
“ Kamu sendiri yang bilang, aku terlalu posesif sama kamu. “ sarkas Erinna menyela Arlo sebelum pria itu berbicara.
“ Tidak seperti itu juga, Erinna! “ geram Arlo. Ia kesal karena istrinya itu berkali-kali membuatnya bungkam.
Erinna memutar bola matanya dengan malas, apa mau pria ini. “ Yaudah, kamu maunya apa? “ tanya Erinna pada akhirnya.
“ Ngga ada. “
“ Hih, ngga jelas. Buka pintunya, aku mau keluar. “ seru Erinna, tangannya mendorong pelan tubuh Arlo yang menghalanginya.
Bukannya mundur, Arlo justru menarik pinggang Erinna. Seketika membuat wanita itu menempel padanya. “ Kamu cemburu? “ celetuk Arlo.
Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut tidak tahu diri seorang Arlo. Erinna benar-benar tidak habis pikir, seperti penulis lupa menuliskan sikap menyebalkan pria itu.
“ Aku mau keluar Arlo sayang. “ mohon Erinna. Kali ini membawa kata sayang supaya semuanya segera selesai dan ia bisa keluar.
“ Jawab dulu. “ kekeh Arlo yang tak mau kalah.
“ Suami durjana! Tidak tahu diri! “ batin kesal Erinna. Tapi itu hanya batinnya, yang tanpa di sadari Arlo bisa mendengarnya.
Kini yang menyunggingkan senyum pria itu, ia bisa tahu bahwa Erinna tengah mengumpat padanya. “ Ayo jawab. “
Erinna berdecak sebal sebelum akhirnya menjawab. “ Iya! Aku cemburu. Puas! “
Pelukan itu terlepas, Arlo bahkan membukakan pintu untuknya. Erinna keluar dengan menghentakkan kakinya, pagi-pagi sudah di buat kesal.
Ia tidak menyangka, Arlo benar-benar pria yang menyebalkan. Tidak seperti pria pada novel-novel lain, yang irit bicara dan menjaga citranya saat di depan wanita.
“ Oh ayolah, apa yang kamu harapkan dari suami durjana itu, Er. “ gumam Erinna.
Wanita itu berjalan menuju lift untuk turun ke lantai selanjutnya, sebab ruangan Arlo berada di lantai teratas gedung itu.
Saat pintu lift terbuka, bertepatan dengan itu Evan keluar dari sana. Pria muda itu tersenyum sopan dan menyapanya. “ Selamat pagi, Nyonya Erinna. “
“ Pagi, Evan. “ balas Erinna dengan senyum tipis.
Hanya sapaan singkat, sebelum mereka berpisah dari sana. Tapi, ada hal yang mengganjal di hati Erinna mengenai Evan.
“ Gara-gara wanita ini, aku malas membaca buku jilid kedua. “
Dress bunga dengan punggung terbuka menjadi pilihan pakaian yang Erinna pakai untuk pergi, ia sudah siapa dengan kaca mata hitam juga topi yang menutupi sebagian wajahnya dari sinar matahari.Pakaian nya cukup terbuka, dan dirinya sudah terbiasa dengan itu. Erinna benar-benar menikmati kehidupannya ini. “ Mau gimana lagi, bajunya kebuka semua. “ pikir Erinna.Bukannya tak mampu membeli yang lain, tapi ia terlalu malas untuk memilih pakaian.Saat Erinna dan Xavier menunggu Arlo keluar, tiba-tiba sebuah mobil menghampiri. Mobil mewah berwarna hitam legam itu berhenti tepat di depan Erinna dan Xavier.Disusul dengan seorang pria muda turun dari sana. Beralis tebal, hidung mancung dan jangan lupakan dada bidang itu yang membuat Erinna terpukau. “ Nyonya? ““ Hah? Iya, kenapa Evan? “ tanya Erinna gugup.Ah, Evan begitu tampan. Untuk sesaat Erinna tersihir dengan ketampanan pria itu.Kaos hitam polos dengan celana pendek membuat pria di depannya ini tampak semakin muda di matanya. “ Kamu ik
Semua teman Xavier baru saja pulang, anak itu terlihat begitu senang merayakan pesta kecilnya. Arlo baru saja turun dan melihat sisa-sisa pesta itu.Ia memalingkan wajahnya saat melihat Erinna. Sungguh, malu rasanya jika mengingat kebodohannya. “ Pah, papa darimana? “ tanya Xavier saat Arlo melewati mereka.Langkah Arlo terhenti sejenak, ia menoleh pada Xavier. “ Papa—“Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, Erinna sudah menyela. “ Papa sedang menyiapkan hadiah untuk kamu. Iyakan? “ sela Erinna.Wanita itu dengan sengaja membuat suami durjana nya dalam masalah. “ Wah, beneran pah? “ tanya Xavier dengan wajah berbinar.Arlo menggertakan giginya dengan kesal, jelas Erinna sengaja melakukan hal itu. “ Iya, papa putuskan kita akan liburan dan berangkat nanti sore. “ jawab Arlo.Erinna yang sebelumnya tersenyum senang seketika berubah terkejut. “ Apa? Liburan! “ pekik Erinna tidak percaya.Senang? Bukan, wanita itu justru merasa terpojok. Sebab sebelumnya saat ia di kamar Arlo, de
“ Mah, mau bawa aku kemana emangnya? “ ucap Xavier.Mata anak itu di tutupi oleh kain, dengan Erinna yang menuntunnya berjalan. “ Kamu siap? “ tanya Erinna sebelum melepas penutup mata itu.Xavier mengangguk, kain itu di lepaskan. Seketika matanya berbinar dan terpukau. “ Surprise! “ seru Erinna diikuti suara teman-temannya yang mengucapkan selamat ulang tahun.Sebuah acara pesta ulang tahun sederhana, untuk pertama kalinya Xavier mendapatkan itu. Ia tak bisa berkata-kata lagi, memeluk ibunya dengan erat. “ Makasih, Mah. ““ Eyy, ngga boleh nangis dong. Masa anak laki-laki nangis, ayo tiup lilinnya. “ seru Erinna dengan tertawa renyah.Untuk pertama kalinya, Xavier meniup lilin di acara ulang tahunnya sendiri. Tepukan tangan teman-temannya yang hadir di sana semakin menambah sorak gembira.Setumpuk hadiah tertata di sana. Xavier sering mendapatkan hadiah, namun kali ini benar-benar berbeda dan tidak biasa.“ Mama nyiapin ini sendirian? “ tanya anak itu dengan polosnya. “ Dimana papa?
“ Makasih ya, Kak. Udah antar aku pulang. “ seru Erinna sedikit menunduk untuk melihat Zidan yang di dalam mobil.Zidan tersenyum seraya mengangguk. Ah, wajah tenangnya begitu menyejukkan hati. “ Ngga masalah. Aku pulang dulu, ya. “ balas Zidan sebelum melajukan mobilnya.Mobil Zidan pergi dari area kediaman Arlo. Perlahan senyum indah dan tulusnya berubah menjadi senyum licik. “ Jangan salahin aku, Er. Kamu yang mulai duluan. “ gumam Zidan.Erinna melangkahkan kaki, masuk ke kediamannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, keadaan sudah sepi bahkan beberapa lampu sudah di matikan.Ia pergi ke dapur untuk menyimpan kue yang baru saja ia beli, untuk hadiah lainnya sengaja ia bawa ke kamar. “ Capek banget, padahal naik mobil. Apalagi kalau jalan, ya. “Kaki panjang Erinna perlahan menaiki anak tangga satu per satu, bahkan kakinya sudah lelah saat menaiki tangga.Tiba di kamarnya, ia segera membersihkan diri sebelum tidur di kasur empuknya. Belum sempat berpakaian, dan masih me
Malam dingin yang tetap ramai itu tiba. Gedung-gedung tinggi dan besar itu nampak gelap dari dalam, tak seperti jalanan yang temaran.Erinna berdiri di depan pintu masuk, menunggu Arlo yang masih belum keluar. “ Ayo pulang. “ seru Arlo saat melihat Erinna.Wanita itu mendongakkan kepalanya, menoleh ke arah Arlo yang baru saja berdiri di sampingnya. “ Kamu duluan, aja. Aku mau beli barang dulu. “ tolak Erinna.Mendengar ucapan Erinna, kedua alis pria itu saling bertaut. “ Kamu mau kemana malam-malam begini? Biar aku antar. “ tawar Arlo.Sekali lagi Erinna menggelengkan kepalanya, ia tidak berniat pergi bersama Arlo. “ Engga, kamu pulang duluan aja. Aku sebentar juga. “ tolaknya lagi.Setelah berpikir sejenak, akhirnya Arlo mengangguk. Biasanya juga ia tidak peduli dengan Erinna, untuk apa mengkhawatirkan wanita itu. “ Baiklah, jangan pulang terlalu malam. “Tubuh tegap Arlo melenggang pergi, masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil tersebut.Erinna sendiri, wanita itu berjalan menuju t
“ Kamu mikirin apa sih? Minggir! “ seru Erinna yang melihat Arlo diam.Pria itu tersadar dari lamunannya, ia menggeleng pelan sebelum keluar bersama Erinna. “ Er, apa kamu ngga bisa kendalikan emosi kamu? “Pertanyaan Arlo membuat Erinna kesal, wanita itu menatap sinis pada pria di sampingnya. “ Gak! “ balas singkat Erinna dan berlalu meninggalkan Arlo.Keluar dari ruangan, di depan pintu ternyata Olivia sudah menunggu. Ia membantu Erinna berjalan, karena pakaian yang dikenakan wanita itu cukup panjang menjuntai.Olivia melihat jelas wajah kesal Erinna. “ Er, kamu kenapa. Tadi pak Arlo nyamperin kamu kan, biasanya kamu seneng. “ seru Olivia.Erinna menoleh sebelum kembali menatap ke depan. “ Dih, seneng? Suami durjana begitu—““ Er, jaga bicara kamu. Nanti kedenger pak Arlo lagi. “ potong cepat Olivia sebelum mereka terkena masalah.Walaupun catatannya Erinna adalah istri Arlo, namun tetap saja profesionalitas dijunjung tinggi disana.Erinna memutar bola matanya malas, tak peduli deng







