Mag-log inTiang hukuman berdiri di tengah lapangan dan tiang itu berupa kayu tua penuh bekas darah. Lunara diikat dengan rantai besi dingin dan lengannya terangkat paksa. Setiap tarikan rantai membuat sendi-sendinya berderak nyeri.
Darian mengambil cambuk kulit berduri. “Untuk pengingat. Omega tidak punya tempat di pack ini," katanya pelan dan nyaris berbisik di telinga Lunara. CRAAAK! Cambukan pertama merobek punggungnya. Lunara menjerit dan teriakannya yang langsung ditelan oleh tawa anggota pack lainnya. Cambukan kedua dan ketiga, pandangan Lunara mulai kabur. Dunia mengecil hanya tersisa rasa panas dan denyut nyeri yang tidak berujung. Cambukan keempat membuat lututnya lemas. “Lanjutkan! Sampai dia tidak bergerak," kata Varrek. Darian mengangkat cambuk untuk kelima kalinya dan udara tiba-tiba berubah. Tekanan berat menyapu arena membuat beberapa manusia serigala tersentak dan berlutut tanpa sadar. Langkah kaki terdengar perlahan, berat, dan penuh otoritas. “Berhenti!" Namun satu kata itu membekukan darah semua orang. Alpha Morrigan Raventhorn berdiri di tepi arena. Jubah hitamnya berkibar dan topengnya berkilat di bawah cahaya siang. Matanya hitam, dalam, dan mematikan. Mata itu terkunci pada tubuh Lunara yang tergantung lemah di tiang. Cambuk Darian jatuh dari tangannya. “Alpha," gumam seseorang ketakutan. Morrigan melangkah maju dan setiap langkahnya membuat udara terasa semakin sempit. “Siapa yang memberimu izin menyentuh milikku?” tanyanya dingin. Kata itu jatuh seperti hukuman mati dan semuanya terdiam. Varrek mencoba berdiri tegak. “Alpha, omega itu ...." Morrigan menoleh dan satu tatapan darinya membuat Varrek tersedak oleh kata-katanya dan lututnya menghantam tanah. Alpha tidak mengulang perintah. Ia mengangkat tangan dan rantai besi yang mengikat Lunara retak dan patah seketika. Tubuh Lunara ambruk dan hampir menghantam tanah, lalu Morrigan menangkapnya dengan satu tangan. Sentuhan itu membuat Lunara tersentak. Sentuhan itu terasa hangat dan kuat untuk menahan hidupnya agar tidak hilang. “Lihat aku!" perintah Morrigan rendah. Dengan sisa tenaga, Lunara membuka mata. Tatapan mereka bertemu dan getaran itu meledak. Mate bond mengaum liar di antara mereka, keras, dan brutal, tidak memberi ruang untuk penolakan. Rahang Morrigan mengeras. “Dia hidup, karena aku menghendakinya," katanya pada semua orang, suaranya penuh ancaman Ia menatap Darian. “Dan siapa pun yang menyentuhnya lagi ...." Cakar Morrigan muncul, hitam, panjang, dan mematikan. "Akan mati di hadapanku.” Tanpa menunggu jawaban lagi, Morrigan mengangkat Lunara ke dalam pelukannya. Gerakannya dingin dan posesif seolah dunia tidak berhak melihat apa yang menjadi miliknya. Saat ia berbalik pergi, Lunara kehilangan kesadarannya. Morrigan tidak pernah percaya pada takdir. Ia hanya percaya pada kekuatan, pada kendali, dan pada hukum pack yang dibuat untuk menyingkirkan kelemahan dan sekarang di lengannya terbaring wujud paling nyata dari semua hal yang ia benci. Darah kering menodai rambut peraknya. Tubuhnya ringan seperti ia bisa patah hanya karena hembusan napas Morrigan. Bau darahnya menusuk tajam indera Morrigan membuat serigalanya mengaum marah di dalam dada. Mate, kata itu kembali menghantam pikirannya sekali lagi. “Diam!" geram Morrigan pada nalurinya sendiri. Ia melangkah cepat menyusuri lorong batu menuju sayap terdalam kediaman Alpha. Setiap serigala yang berpapasan langsung menunduk atau menepi, merasakan aura murka yang bergulung dari tubuhnya. Ini salah, karena takdir tidak seharusnya memilih omega buangan yang merupakan seorang anak pengkhianat. Perempuan yang bahkan tidak dianggap pack. Morrigan mendorong pintu kamarnya dan membaringkan Lunara di atas ranjang batu berlapis bulu serigala. Tangannya berhenti sesaat saat jari-jarinya menyentuh kulitnya yang hangat dan rapuh. Naluri posesif itu kembali menggeram menyuruhnya untuk melindungi. Morrigan mencabut tangannya seolah tersengat. “Aku tidak akan,” katanya dingin entah pada Lunara atau dirinya sendiri. Ia berdiri menjauh dan rahangnya mengeras. Setiap luka di tubuh Lunara seperti tuduhan. Setiap memar adalah bukti kegagalan pack yang ia pimpin dan kegagalan itu sekarang menuntutnya untuk bertanggung jawab. Ia seharusnya memiliki Luna yang kuat berasal dari garis darah murni. Seseorang yang tidak membuat para tetua mencibir dan pack berontak. Morrigan mengusap wajahnya kasar. Bayangan masa lalu menyelinap masuk. Ibunya Lunara mati perlahan karena mate bond yang ditolaknya sendiri. Kelemahan yang memusnahkan seorang Alpha. Ia bersumpah tidak akan mengulangnya lagi. Tubuh Lunara bergerak dan napasnya tersengal pelan. Aroma takut bercampur dengan sesuatu yang memanggil darah Morrigan dengan cara yang tidak bisa ia abaikan. Serigalanya meraung dan Morrigan menoleh tajam. “Jangan berani-berani mengikatku!" bisiknya, suaranya penuh dengan ancaman. Ia melangkah mendekat lagi tanpa sadar, menarik selimut yang menutupi tubuh Lunara. Gerakan itu refleks bersifat naluriah sekalkgus memalukan. Morrigan membeku. “Brengsek!" desisnya. Ia mengangkat kepalanya dan memanggil penjaga dengan suara dingin dan resmi. “Jaga pintu ini! Tidak ada seorang pun masuk tanpa perintahku.” “Termasuk para tetua, Alpha?” tanya penjaga ragu. Morrigan menatapnya dengan mata hitam membeku. “Terutama para tetua.” Pintu kembali tertutup. Morrigan berdiri sendirian bersama omega terbuang yang seharusnya tidak pernah menjadi miliknya, yaitu mate-nya. Akhirnya Morrigan menyadari satu kebenaran yang membuat dadanya sesak bukan Lunara yang dalam bahaya, tapi seluruh pack, jika mereka memaksanya memilih. *** Kesadaran kembali ke Lunara seperti pisau tumpul yang mengoyak perlahan. Rasa sakit adalah hal pertama yang ia sadari. Punggungnya terasa seperti terbakar. Setiap tarikan napas membuat tulang rusuknya berdenyut. Saat ia mencoba bergerak, bunyi logam halus terdengar. Suara klik membuat tubuhnya menegang seketika. Ia merasakan adanya rantai di tubuhnya. Lunara membuka mata dengan susah payah. Langit-langit batu gelap menyambutnya. Ukiran serigala kuno menghiasi dinding dan aura kekuasaan menekan dari segala arah. Bau tempat itu asing bersih, dingin, dan dipenuhi aroma Alpha yang kuat yang menusuk inderanya sampai membuat kepalanya pening. Lunara sadar bahwa ruangan kni bukan dapur dan juga bukan kandang omega. Dadanya berdebar liar. Ia menoleh pelan dan melihat rantai besi hitam melingkar di pergelangan kakinya, terhubung ke cincin baja yang tertanam di lantai batu dan cukup kuat untuk memastikan ia tidak bisa ke mana-mana. Lunara menelan ludahnya dan tenggorokannya kering, karena ia telah menjadi seorang tahanan. Pintu batu di seberang ruangan terbuka tanpa suara. Morrigan masuk. Langkahnya tenang. Jubah hitamnya menjuntai dan mata hitam yang tidak menyimpan empati. Lunara refleks meringkuk dan punggungnya menekan kepala ranjang. Tubuhnya gemetar, karena naluri yang menjerit agar ia menjauh. Morrigan berhenti beberapa langkah dari ranjang dan Ia menatapnya lama. “Jangan berteriak! Tidak ada yang akan menolongmu," katanya, suaranya rendah dan datar. Lunara menggigit bibirnya dan menahan napas yang bergetar. “A-aku, kalau aku melakukan kesalahan ...."Diantara barisan yang mulai berpencar, satu sosok berdiri kaku dengan aura yang tidak lagi tunduk sepenuhnya. “Darian.” Suara Morrigan memotong langkahnya. Seluruh lapangan kembali sunyi. Darian menoleh perlahan. “Morrigan." Ia tetap menunduk hormat, tapi tidak lagi dengan kepatuhan yang sama. “Ke depan.” Ia melangkah dan setiap langkahnya berat, tapi mantap. Anggota pack tahu ini bukan percakapan biasa. “Perbatasan utara membutuhkan pengawasan tambahan. Kau berangkat sebelum matahari tenggelam," ucap Morrigan datar. Beberapa kepala langsung terangkat. Perbatasan utara bukan sekadar tugas jaga. Itu wilayah paling liar yang merupakan tempat buangan. Darian tersenyum tipis. “Sebagai beta senior, tanpa konsultasi Dewan?” “Sebagai beta yang melampaui batas,” jawab Morrigan. Desis kecil terdengar dari kelompok timur. Darian menahan tawa pendek. “Jadi ini karena omega itu.” Raungan rendah keluar dari dada Morrigan dan membuat beberapa anggota pack mundur refleks.
“Ke dunia manusia.” Jawaban Sheltra membuat udara di ruang bawah tanah itu membeku. Beberapa tetua langsung menoleh tajam. “Mustahil. Ia darah murni," desis salah satu. “Justru karena itu, karena darah murni paling aman jika tidak seorang pun bisa mengenalinya," sahut Sheltra. Varrek menyipitkan mata. “Kau ingin membuangnya begitu saja?” “Bukan membuang,” koreksi Sheltra halus. “Tapi menghapus.” Ia berdiri perlahan dan berjalan ke tengah lingkaran simbol. Ujung jarinya menyentuh ukiran kuno yang hampir terhapus waktu. “Aku akan mengaktifkan Segel Tanda Pengabur Garis Darah." Nama itu membuat beberapa tetua menarik napas pelan. “Segel itu dilarang,” gumam Orven. “Segel itu efektif,” balas Sheltra. Api di tengah lingkaran bergetar saat ia melanjutkan. “Segel itu akan menghapus jejak garis keturunannya. Auranya akan memudar. Darahnya akan tampak biasa. Omega itu akan terlihat seperti manusia.” “Dan mate bond?” tanya Varrek. “Tidak hilang, tapi menjadi tumpul
“Aku dengar semuanya,” suara Lunara pecah sebelum ia sempat menghentikannya. Ia menatap lantai tidak berani menantang. “Tentang Darian.” Morrigan tidak segera menjawab. Ia melangkah masuk dan pintu menutup di belakangnya dan mengunci mereka dalam ruang yang terasa semakin kecil. “Dan?” tanyanya. Lunara menelan ludah. “Aku tidak memintanya.” “Tidak ada yang bilang kau meminta,” jawabnya datar. “Lalu kenapa?” Lunara mendongak, karena ketakutan sudah terlalu penuh untuk ditahan. “Kenapa sejauh itu?” Morrigan mendekat hingga ia berhenti tepat di depannya dan berlutut dan sejajar dengan tatapan Lunara. “Karena mereka lupa satu hal dan pack yang lupa perlu diingatkan," katanya dengan suara pelan. Jari Morrigan terangkat dan berhenti hanya sejengkal dari rantai di kaki Lunara. “Mulai hari ini, siapa pun yang menyebut namamu tanpa izinku akan kehilangan lidahnya dan siapa pun yang menyentuhmu akan kehilangan lebih dari sekadar tangan," lanjutnya dengan tenang. Lunara ters
“Kau hidup dan itu bukan hadiah, tapi itu keputusan," potong Morrigan dingin. Kalimat itu membuat jantung Lunara berdebar cepat. Ia bukan diselamatkan, tapi dipilih untuk ditahan. “Kenapa aku di sini?” tanyanya lirih, suaranya hampir tidak terdengar. Morrigan melangkah mendekat satu langkah, namun cukup untuk membuat aroma Alpha membungkus Lunara sepenuhnya. Naluri di dalam dirinya meronta, menarik, dan menolak pada saat yang bersamaan. “Karena pack tidak boleh menyentuhmu dan karena aku belum memutuskan apa yang akan kulakukan denganmu," jawab Morrigan. Lunara menatap rantai di kakinya. “Jadi aku tawanan.” “Ya," jawabnya dingin. “Kamu akan tetap di ruangan ini. Dijaga tidak keluar tanpa izinku dan tidak bicara dengan siapa pun kecuali aku," lanjut Morrigan. Ia berhenti sejenak dan matanya menyipit. “Dan kamu tidak akan menyebut apa pun tentang ikatan itu.” Tubuh Lunara bergetar hebat. “Ikatan?” bisiknya. Morrigan menoleh tajam dan getaran berat memenuhi ruangan.
Tiang hukuman berdiri di tengah lapangan dan tiang itu berupa kayu tua penuh bekas darah. Lunara diikat dengan rantai besi dingin dan lengannya terangkat paksa. Setiap tarikan rantai membuat sendi-sendinya berderak nyeri. Darian mengambil cambuk kulit berduri. “Untuk pengingat. Omega tidak punya tempat di pack ini," katanya pelan dan nyaris berbisik di telinga Lunara. CRAAAK! Cambukan pertama merobek punggungnya. Lunara menjerit dan teriakannya yang langsung ditelan oleh tawa anggota pack lainnya. Cambukan kedua dan ketiga, pandangan Lunara mulai kabur. Dunia mengecil hanya tersisa rasa panas dan denyut nyeri yang tidak berujung. Cambukan keempat membuat lututnya lemas. “Lanjutkan! Sampai dia tidak bergerak," kata Varrek. Darian mengangkat cambuk untuk kelima kalinya dan udara tiba-tiba berubah. Tekanan berat menyapu arena membuat beberapa manusia serigala tersentak dan berlutut tanpa sadar. Langkah kaki terdengar perlahan, berat, dan penuh otoritas. “Berhenti!" Nam
Darah Lunara Fenrirsson jatuh ke tanah lebih dulu sebelum tubuhnya. Ia tersungkur di halaman batu Pack Blackmoon dan lututnya menghantam tanah basah yang dingin. Napasnya tercekik bukan hanya oleh rasa sakit, tapi oleh tawa yang pecah di sekelilingnya, tawa para manusia serigala yang merasa berhak menginjaknya. “Bangun, Omega sialan!" bentak seseorang. Rambut perak Lunara ditarik kasar dari belakang. Kepalanya terhentak ke atas dan memaksa matanya menatap lingkaran wajah-wajah yang penuh hinaan. Mereka bukan hanya sekadar membencinya, tapi mereka juga menikmati penderitaannya. Darian Bloodclaw berdiri paling depan, musuh lamanya dan putra tetua pack. Serigala beta yang merasa dunia berutang padanya. “Kau lambat,” kata Darian sambil menendang tulang kering Lunara. “Alpha memerintahkan kayu bakar dikumpulkan sebelum matahari terbit, tapi lihat dirimu selalu gagal dan selalu membawa sial." Ia berdecak jijik. Lunara menggigit bibirnya sampai darah terasa asin di lidahnya. “Aku







