Share

Bab 2

Penulis: Miarosa
last update Tanggal publikasi: 2026-03-02 08:00:10

Tiang hukuman berdiri di tengah lapangan dan tiang itu berupa kayu tua penuh bekas darah. Lunara diikat dengan rantai besi dingin dan lengannya terangkat paksa. Setiap tarikan rantai membuat sendi-sendinya berderak nyeri.

Darian mengambil cambuk kulit berduri.

“Untuk pengingat. Omega tidak punya tempat di pack ini," katanya pelan dan nyaris berbisik di telinga Lunara.

CRAAAK!

Cambukan pertama merobek punggungnya. Lunara menjerit dan teriakannya yang langsung ditelan oleh tawa anggota pack lainnya.

Cambukan kedua dan ketiga, pandangan Lunara mulai kabur. Dunia mengecil hanya tersisa rasa panas dan denyut nyeri yang tidak berujung. Cambukan keempat membuat lututnya lemas.

“Lanjutkan! Sampai dia tidak bergerak," kata Varrek.

Darian mengangkat cambuk untuk kelima kalinya dan udara tiba-tiba berubah.

Tekanan berat menyapu arena membuat beberapa manusia serigala tersentak dan berlutut tanpa sadar. Langkah kaki terdengar perlahan, berat, dan penuh otoritas.

“Berhenti!"

Namun satu kata itu membekukan darah semua orang. Alpha Morrigan Raventhorn berdiri di tepi arena. Jubah hitamnya berkibar dan topengnya berkilat di bawah cahaya siang. Matanya hitam, dalam, dan mematikan. Mata itu terkunci pada tubuh Lunara yang tergantung lemah di tiang.

Cambuk Darian jatuh dari tangannya.

“Alpha," gumam seseorang ketakutan.

Morrigan melangkah maju dan setiap langkahnya membuat udara terasa semakin sempit.

“Siapa yang memberimu izin menyentuh milikku?” tanyanya dingin.

Kata itu jatuh seperti hukuman mati dan semuanya terdiam. Varrek mencoba berdiri tegak.

“Alpha, omega itu ...."

Morrigan menoleh dan satu tatapan darinya membuat Varrek tersedak oleh kata-katanya dan lututnya menghantam tanah.

Alpha tidak mengulang perintah. Ia mengangkat tangan dan rantai besi yang mengikat Lunara retak dan patah seketika. Tubuh Lunara ambruk dan hampir menghantam tanah, lalu Morrigan menangkapnya dengan satu tangan.

Sentuhan itu membuat Lunara tersentak. Sentuhan itu terasa hangat dan kuat untuk menahan hidupnya agar tidak hilang.

“Lihat aku!" perintah Morrigan rendah.

Dengan sisa tenaga, Lunara membuka mata. Tatapan mereka bertemu dan getaran itu meledak.

Mate bond mengaum liar di antara mereka, keras, dan brutal, tidak memberi ruang untuk penolakan. Rahang Morrigan mengeras.

“Dia hidup, karena aku menghendakinya," katanya pada semua orang, suaranya penuh ancaman

Ia menatap Darian. “Dan siapa pun yang menyentuhnya lagi ...."

Cakar Morrigan muncul, hitam, panjang, dan mematikan.

"Akan mati di hadapanku.”

Tanpa menunggu jawaban lagi, Morrigan mengangkat Lunara ke dalam pelukannya. Gerakannya dingin dan posesif seolah dunia tidak berhak melihat apa yang menjadi miliknya. Saat ia berbalik pergi, Lunara kehilangan kesadarannya.

Morrigan tidak pernah percaya pada takdir.

Ia hanya percaya pada kekuatan, pada kendali, dan pada hukum pack yang dibuat untuk menyingkirkan kelemahan dan sekarang di lengannya terbaring wujud paling nyata dari semua hal yang ia benci.

Darah kering menodai rambut peraknya. Tubuhnya ringan seperti ia bisa patah hanya karena hembusan napas Morrigan. Bau darahnya menusuk tajam indera Morrigan membuat serigalanya mengaum marah di dalam dada.

Mate, kata itu kembali menghantam pikirannya sekali lagi.

“Diam!" geram Morrigan pada nalurinya sendiri.

Ia melangkah cepat menyusuri lorong batu menuju sayap terdalam kediaman Alpha. Setiap serigala yang berpapasan langsung menunduk atau menepi, merasakan aura murka yang bergulung dari tubuhnya.

Ini salah, karena takdir tidak seharusnya memilih omega buangan yang merupakan seorang anak pengkhianat. Perempuan yang bahkan tidak dianggap pack.

Morrigan mendorong pintu kamarnya dan membaringkan Lunara di atas ranjang batu berlapis bulu serigala. Tangannya berhenti sesaat saat jari-jarinya menyentuh kulitnya yang hangat dan rapuh.

Naluri posesif itu kembali menggeram menyuruhnya untuk melindungi. Morrigan mencabut tangannya seolah tersengat.

“Aku tidak akan,” katanya dingin entah pada Lunara atau dirinya sendiri.

Ia berdiri menjauh dan rahangnya mengeras. Setiap luka di tubuh Lunara seperti tuduhan. Setiap memar adalah bukti kegagalan pack yang ia pimpin dan kegagalan itu sekarang menuntutnya untuk bertanggung jawab.

Ia seharusnya memiliki Luna yang kuat berasal dari garis darah murni. Seseorang yang tidak membuat para tetua mencibir dan pack berontak.

Morrigan mengusap wajahnya kasar. Bayangan masa lalu menyelinap masuk. Ibunya Lunara mati perlahan karena mate bond yang ditolaknya sendiri. Kelemahan yang memusnahkan seorang Alpha.

Ia bersumpah tidak akan mengulangnya lagi. Tubuh Lunara bergerak dan napasnya tersengal pelan. Aroma takut bercampur dengan sesuatu yang memanggil darah Morrigan dengan cara yang tidak bisa ia abaikan. Serigalanya meraung dan Morrigan menoleh tajam.

“Jangan berani-berani mengikatku!" bisiknya, suaranya penuh dengan ancaman.

Ia melangkah mendekat lagi tanpa sadar, menarik selimut yang menutupi tubuh Lunara. Gerakan itu refleks bersifat naluriah sekalkgus memalukan. Morrigan membeku.

“Brengsek!" desisnya.

Ia mengangkat kepalanya dan memanggil penjaga dengan suara dingin dan resmi.

“Jaga pintu ini! Tidak ada seorang pun masuk tanpa perintahku.”

“Termasuk para tetua, Alpha?” tanya penjaga ragu.

Morrigan menatapnya dengan mata hitam membeku.

“Terutama para tetua.”

Pintu kembali tertutup. Morrigan berdiri sendirian bersama omega terbuang yang seharusnya tidak pernah menjadi miliknya, yaitu mate-nya.

Akhirnya Morrigan menyadari satu kebenaran yang membuat dadanya sesak bukan Lunara yang dalam bahaya, tapi seluruh pack, jika mereka memaksanya memilih.

***

Kesadaran kembali ke Lunara seperti pisau tumpul yang mengoyak perlahan. Rasa sakit adalah hal pertama yang ia sadari.

Punggungnya terasa seperti terbakar. Setiap tarikan napas membuat tulang rusuknya berdenyut. Saat ia mencoba bergerak, bunyi logam halus terdengar.

Suara klik membuat tubuhnya menegang seketika. Ia merasakan adanya rantai di tubuhnya. Lunara membuka mata dengan susah payah. Langit-langit batu gelap menyambutnya. Ukiran serigala kuno menghiasi dinding dan aura kekuasaan menekan dari segala arah. Bau tempat itu asing bersih, dingin, dan dipenuhi aroma Alpha yang kuat yang menusuk inderanya sampai membuat kepalanya pening.

Lunara sadar bahwa ruangan kni bukan dapur dan juga bukan kandang omega.

Dadanya berdebar liar. Ia menoleh pelan dan melihat rantai besi hitam melingkar di pergelangan kakinya, terhubung ke cincin baja yang tertanam di lantai batu dan cukup kuat untuk memastikan ia tidak bisa ke mana-mana.

Lunara menelan ludahnya dan tenggorokannya kering, karena ia telah menjadi seorang tahanan. Pintu batu di seberang ruangan terbuka tanpa suara.

Morrigan masuk. Langkahnya tenang. Jubah hitamnya menjuntai dan mata hitam yang tidak menyimpan empati.

Lunara refleks meringkuk dan punggungnya menekan kepala ranjang. Tubuhnya gemetar, karena naluri yang menjerit agar ia menjauh. Morrigan berhenti beberapa langkah dari ranjang dan

Ia menatapnya lama.

“Jangan berteriak! Tidak ada yang akan menolongmu," katanya, suaranya rendah dan datar.

Lunara menggigit bibirnya dan menahan napas yang bergetar. “A-aku, kalau aku melakukan kesalahan ...."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 60

    Rasa sakit yang luar biasa menjalar di sepanjang tulang belakangnya dan darah hangat merembes dari sela-sela bibirnya yang mengatup rapat. Mereka berguling beberapa meter melewati cadas yang tajam dan menimbulkan suara deburan keras hingga akhirnya berhenti tepat di tepi aliran sungai berbatu yang dingin.Napas Morrigan memburu panas, menguar menjadi uap di udara pagi yang membeku. Meskipun seluruh tubuhnya didera rasa sakit yang teramat sangat, lengannya sama sekali tidak melonggarkan pelukan pada wanita di dekapannya. Dengan tubuh yang masih bergetar menahan sisa benturan, Morrigan perlahan merendahkan kepalanya, menatap wajah wanita yang mendekam di dadanya dengan tatapan penuh kecemasan dan rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.Sang Alpha memejamkan matanya dan mengecup dahi wanita itu dengan kelembutan yang teramat sangat.​"Kau aman bersamaku, Ravenna, aku bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi," bisik Morrigan.​Morrigan dengan perlahan m

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 59

    Manik mata perak wanita itu menatap lurus ke dalam manik mata Ravenna dan mengunci kesadaran gadis itu. "Dia adalah manusia serigala yang suka lepas kendali. Saat wujud serigalanya mengambil alih, Morrigan berubah menjadi binatang buas yang haus darah. Dia tidak segan-segan membunuh manusia dan mencabik mereka tanpa belas kasihan hanya untuk memuaskan insting liarnya."​"Aku tidak percaya," ujar Ravenna lirih. Kata-kata wanita berambut perak itu Ketakutan meracuni pikirannya."Dan tahukah kamu apa yang paling menjijikkan?" Wanita berambut perak itu mengulas senyum tipis yang mematikan, lalu ia mengulurkan tangannya yang sedingin es dan menyentuh dagu Ravenna dengan lembut, namun sentuhan itu mengirimkan sengatan aneh langsung ke otak Ravenna."Morrigan dan kaumnya sedang menyalahkanmu atas semua pembunuhan itu."​Ravenna terbelalak. "Apa?!"​"Mereka menimpakan semua kesalahan itu kepadamu, Ravenna," timpal Darian dari belakang, ikut memanaskan situasi sesuai rencana mereka. "Kamu h

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 58

    Aroma kayu basah dan debu menjadi hal pertama yang merayap masuk ke indra penciuman Ravenna dan disusul oleh rasa pening luar biasa yang seolah menghantam bagian belakang kepalanya.Perlahan Ravenna membuka matanya Pandangannya kabur sebelum akhirnya terfokus pada langit-langit kayu yang dipenuhi sarang laba-laba.​Ravenna tersentak bangun, namun tubuhnya langsung limbung kembali ke atas dipan tua yang keras. Seluruh persendiannya terasa lemas, seolah-olah seluruh energinya telah dihisap habis oleh kekuatan tak kasatmata. Dengan tangan gemetar, ia mencengkeram tepi dipan, berusaha duduk, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan."Aku ada di mana?" gumamnya​Setelah kesadarannya kembali sepenuhnya, ia baru menyadari sedang berada di dalam sebuah kabin kayu tua yang terbengkalai di tengah hutan. Cahaya pagi menerobos masuk melalui celah-celah dinding papan yang rapuh dan membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Ravenna melihat keluar melalui jendela kecil yang berdebu dan

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 57

    Medan di depan mereka perlahan mulai berubah menjadi ekstrem. Jalur tanah hutan yang semula landai sekarang berganti menjadi tanjakan terjal berbatu yang dikelilingi oleh jajaran pohon pinus raksasa yang tumbuh rapat. Akar-akar pohonnya menyembul ke permukaan.​Morrigan tidak memperlambat langkahnya sama sekali. Ravenna berada di atas sana dan semakin dekat, namun bahaya yang mengancamnya juga kian memuncak.Sepasang mata emas Morrigan menyala terang menembus pekatnya kabut pagi yang menuntun kakinya melompati batasan batu-batu licin dengan kecepatan yang sangat tinggi.​"Alpha! Kecepatan Anda terlalu tinggi! Kabut ini mengacaukan radar pasukan di belakang!" teriak Silas yang bersusah payah mengimbangi langkah kilat Morrigan sembari memastikan beberapa prajurit Silver Claw tidak tertinggal jauh di belakang.​"Aku tidak bisa menunggu, Silas! Baunya semakin pekat, dia ada di atas tebing ini!" raung MorriganSerigala di dalam dirinya meronta liar.​Tiba-tiba dari balik gumpalan kabut teb

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 56

    "Apa kamu bilang?!" suara Morrigan meninggi.Morrigan melangkah maju dengan kecepatan kilat, mencengkeram kerah mantel Darian, dan mengangkat tubuh pria itu beberapa senti ke udara. Napasnya memburu panas tepat di depan wajah Darian.​"Kenapa kamu memberitahuku soal Ravenna yang diculik Lunara?"Darian tidak meronta. Ia justru terkekeh rendah dan tatapannya menantang lurus ke sepasang mata emas Morrigan tanpa rasa takut.​"Tentu saja aku tidak melakukannya demi menyelamatkan manusiamu, Morrigan. Selama ini aku terus mengawasimu dan wanita manusiamu itu," jawab Darian sinis dan seulas senyum licik terukir di wajahnya. "Aku melakukan ini semua hanya untuk mempertemukanmu dengan Lunara. Bukankah kamu sedang mencari pengkhianat itu. Aku ingin melihat bagaimana sang Alpha tertinggi pack Blackmoon hancur berdarah-darah di tangan seorang pengkhianat."​Morrigan menggeram rendah, lalu melempar tubuh Darian ke atas aspal dengan kasar hingga pria itu terbatuk. "Di mana dia menyekap Ravenna? K

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 55

    Roda-roda besi gerbong kereta mendadak menjerit nyaring dan memuntahkan percikan api yang bergesekan ekstrem dengan rel. BRAAAK! Tubuh para penumpang terlempar ke depan akibat rem darurat yang dihantam paksa. Jeritan histeris, tangisan anak-anak, dan dentingan barang-barang bawaan yang jatuh berserakan seketika memenuhi seisi gerbong yang pengap. ​Kereta itu berhenti mendadak di tengah hutan pinus yang sunyi dan jauh dari stasiun mana pun. Ravenna mencengkeram erat sandaran kursi di depannya dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Di sampingnya, Marva berusaha menstabilkan posisinya sembari memandang sekeliling dengan kerutan dalam di dahi. ​"Ada apa ini? Kenapa keretanya berhenti di tengah jalan?" tanya Marva. ​"Aku tidak tahu, Nek," sahut Ravenna lirih. Perasaan buruk seketika merayap di tengkuknya. Bau karbol dan oli di mantelnya mendadak kalah telak oleh aroma anyir yang asing dan dingin yang tiba-tiba berembus masuk menembus celah jendela. ​Tiba-tiba lampu-lampu neon

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status