Share

Bab 3

Penulis: Miarosa
last update Tanggal publikasi: 2026-03-02 08:03:02

“Kau hidup dan itu bukan hadiah, tapi itu keputusan," potong Morrigan dingin.

Kalimat itu membuat jantung Lunara berdebar cepat. Ia bukan diselamatkan, tapi dipilih untuk ditahan.

“Kenapa aku di sini?” tanyanya lirih, suaranya hampir tidak terdengar.

Morrigan melangkah mendekat satu langkah, namun cukup untuk membuat aroma Alpha membungkus Lunara sepenuhnya. Naluri di dalam dirinya meronta, menarik, dan menolak pada saat yang bersamaan.

“Karena pack tidak boleh menyentuhmu dan karena aku belum memutuskan apa yang akan kulakukan denganmu," jawab Morrigan.

Lunara menatap rantai di kakinya. “Jadi aku tawanan.”

“Ya," jawabnya dingin.

“Kamu akan tetap di ruangan ini. Dijaga tidak keluar tanpa izinku dan tidak bicara dengan siapa pun kecuali aku," lanjut Morrigan.

Ia berhenti sejenak dan matanya menyipit.

“Dan kamu tidak akan menyebut apa pun tentang ikatan itu.”

Tubuh Lunara bergetar hebat. “Ikatan?” bisiknya.

Morrigan menoleh tajam dan getaran berat memenuhi ruangan.

“Kamu tidak perlu mengerti. Cukup patuh.”

Lunara memejamkan matanya. Ada bagian dari dirinya yang ingin tertawa pahit dari budak pack menjadi tawanan Alpha. Ia tidak memiliki kebebasan hanya bentuk penjara yang berbeda.

“Apa aku akan dibunuh?” tanyanya pelan.

Keheningan menyelimuti mereka dan untuk sesaat mata Morrigan bergerak seolah ada sesuatu di balik dingin itu yang mulai retak.

“Tidak sekarang,” jawabnya.

Morrigan berbalik menuju pintu.Tangannya berhenti di gagang.

“Satu hal lagi, Lunara Fenrirsson.”

Ia menoleh dan tatapan hitamnya mengunci Lunara tanpa ampun.

“Kau aman dari pack.”

Napas Lunara tercekat dan harapan kecil yang bodoh hampir muncul.

“Tapi tidak dariku.”

Pintu menutup dan suara kunci berputar. Pintu batu menutup dengan bunyi berat.

Namun Morrigan tidak pergi jauh. Ia berhenti di ujung lorong dengan rahangnya mengeras dan napasnya perlahan berubah lebih berat. Serigalanya menggeram di bawah kulit tidak lagi bisa dibungkam.

“Panggil Dewan Tetua!" perintahnya pada penjaga yang berjaga di lorong. “Sekarang!"

Penjaga itu menegang. “Semuanya?”

“Semua,” ulang Morrigan dingin. “Dan ikat Darian Bloodclaw.”

Arena pack kembali penuh dan kali ini tanpa sorakan. Para anggota pack berdiri membentuk lingkaran luas, sunyi, dan tegang tidak ada satu pun diantara mereka yang berani berbicara dan mengangkat kepala.

Di tengah arena, Darian Bloodclaw berlutut dan kedua tangannya terikat ke belakang dengan belenggu besi hitam penekan kekuatan. Wajahnya pucat dan sorot matanya liar.

Para tetua berdiri tidak jauh darinya dan tongkat mereka bergetar di genggamannya. Morrigan melangkah masuk. Semuanya berlutut.

“Bangun!" perintahnya pada Darian saja.

Darian berdiri tertatih. “Morrigan, aku hanya menjalankan ...."

Tinju Morrigan menghantam wajah Darian membuat tubuh beta itu terhempas ke tanah tidak ada raungan dan amarah yang meledak-ledak.

“Kesalahan pertamamu adalah berbicara tanpa izin," ujar Morrigan tenang.

Ia kemudian menatap para tetua satu per satu.

“Kesalahan kedua adalah mengira hukum pack lebih tinggi dari kehendak Alpha," lanjutnya.

Varrek melangkah maju setengah langkah. “Kami menjaga tradisi. Omega itu ...."

Morrigan menoleh dan udara disekitar mereka menjadi retak. Varrek terangkat dari tanah tanpa disentuh, tercekik oleh tekanan kekuatan Alpha. Tongkatnya jatuh dan membentur batu.

“Tradisi bukan alasan untuk pembangkangan.”

Ia menggerakkan jarinya sedikit.

Varrek jatuh berlutut, napasnya tersengal, dan wajahnya nampak ketakutan. Morrigan berbalik ke Darian yang sekarang berusaha bangkit dengan darah di sudut bibirnya.

“Kamu menyentuh apa yang berada di bawah perlindunganku dan kamu melakukannya di depan pack," kata Morrigan datar.

Ia mencabut belati hitam dari balik jubahnya hanya untuk mengingatkan.

“Sesuai hukum pack, beta yang melukai properti Alpha akan kehilangan haknya.”

Dalam satu gerakan cepat, Darian menjerit saat belati itu menancap ke tanah tepat di samping tangannya dengan meninggalkan luka panjang di lengannya cukup dalam untuk melemahkan, tapi tidak cukup untuk membunuhnya.

“Mulai hari ini kamu dilucuti dari pangkat dan kamu akan bekerja di perbatasan utara sendirian.”

Beberapa anggota pack terdiam ngeri.

Perbatasan utara adalah hukuman mati yang tertunda. Morrigan lalu menghadap para tetua.

“Kalian akan kehilangan hak suara sampai aku memutuskan sebaliknya," katanya dingin.

“Morrigan ...." Salah satu tetua mencoba bicara.

Morrigan mengangkat tangan. “Dan satu hal lagi,” tambahnya. “Jika satu luka baru muncul di tubuh omega itu ...."

Tatapan Morrigan menyapu ke seluruh arena.

“Aku akan menganggapnya sebagai pengkhianatan kolektif.”

Keheningan menggantung berat di seluruh arena.

“Bubarkan!" perintahnya.

Tidak satu pun yang berani membantah dan Morrigan kembali di kamarnya, ia berdiri di depan pintu batu yang mengurung Lunara.

Di balik pintu itu, omega terbuang yang hampir mati oleh packnya sendiri dan mate yang tidak ia minta. Tangannya terangkat, lalu berhenti. Morrigan tampak ragu, karena ia tahu hukuman itu belum cukup dan jika pack memaksanya memilih lagi, darah berikutnya yang jatuh tidak akan berhenti pada Darian atau para tetua. Ia pun pergi dari sana.

Di balik pintu batu itu, Lunara tidak tahu apa yang terjadi di arena, namun pack selalu punya cara untuk membuat ketakutan merembes lewat celah sekecil apa pun.

Langkah kaki banyak terdengar berhenti tepat di depan pintu selnya. Lunara menegang dan punggungnya menempel pada dinding dingin. Rantai di kakinya berderit pelan saat ia tanpa sadar menariknya seolah besi itu bisa berubah menjadi sayap. Aroma darah samar menyusup, aroma yang ia kenal sejak kecil.

Pintu tidak dibuka. Namun suara penjaga terdengar jelas, teredam batu tapi cukup untuk memotong napasnya.

“Beta Darian Bloodclaw dilucuti,” kata seseorang dengan suara serak seolah baru saja menelan debu dan ketakutan. “Dibuang ke perbatasan utara. Sendirian.”

Lunara terhuyung satu langkah. Perbatasan utara merupakan tempat di mana manusia serigala tidak kembali yang disebabkan mati perlahan dimakan dingin, kelaparan, dan makhluk-makhluk yang tidak mengenal belas kasihan pack.

“Apa itu karena omega?” suara lain berbisik, terlalu pelan untuk menjadi berani.

“Hush. Dewan Tetua kehilangan hak suara. Alpha mengancam pengkhianatan kolektif.”

Kata-kata itu menghantam Lunara lebih keras daripada pukulan mana pun.

"Darian dihukum," gumamnya.

Ia merosot ke lantai. Lututnya tidak kuat menahan berat kenyataan. Ada bagian kecil dalam dirinya yang seharusnya merasa puas dan lega. Darian adalah tangan yang paling sering menarik rambutnya, suara yang paling keras menyebutnya “aib”, dan kaki yang paling ringan menendang tulangnya, tapi yang datang justru ketakutan.

Lunara bertanya-tanya, "Jika ini hukuman untuknya, lalu apa aku bagi Alpha itu?"

Langkah kaki menjauh. Lorong kembali sunyi. Lunara menutup telinga dengan kedua tangannya seolah bisa menghentikan gema kata-kata itu. Napasnya terengah dan tubuhnya gemetar, karena kesadaran yang perlahan membentuk sosok utuh.

Morrigan tidak menghukumnya karena belas kasihan. Ia menghukum mereka karena dirinya dan itu jauh lebih menakutkan untuknya. Tidak lama kemudian, suara kunci berputar. Pintu batu terbuka setengah. Morrigan berdiri di ambang pintu, bayangan tubuhnya memenuhi ruangan sempit itu.

Lunara melihat sesuatu di sana yang membuat jantungnya semakin tenggelam. Kekuatan kontrol dari sang alpha.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 60

    Rasa sakit yang luar biasa menjalar di sepanjang tulang belakangnya dan darah hangat merembes dari sela-sela bibirnya yang mengatup rapat. Mereka berguling beberapa meter melewati cadas yang tajam dan menimbulkan suara deburan keras hingga akhirnya berhenti tepat di tepi aliran sungai berbatu yang dingin.Napas Morrigan memburu panas, menguar menjadi uap di udara pagi yang membeku. Meskipun seluruh tubuhnya didera rasa sakit yang teramat sangat, lengannya sama sekali tidak melonggarkan pelukan pada wanita di dekapannya. Dengan tubuh yang masih bergetar menahan sisa benturan, Morrigan perlahan merendahkan kepalanya, menatap wajah wanita yang mendekam di dadanya dengan tatapan penuh kecemasan dan rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.Sang Alpha memejamkan matanya dan mengecup dahi wanita itu dengan kelembutan yang teramat sangat.​"Kau aman bersamaku, Ravenna, aku bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi," bisik Morrigan.​Morrigan dengan perlahan m

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 59

    Manik mata perak wanita itu menatap lurus ke dalam manik mata Ravenna dan mengunci kesadaran gadis itu. "Dia adalah manusia serigala yang suka lepas kendali. Saat wujud serigalanya mengambil alih, Morrigan berubah menjadi binatang buas yang haus darah. Dia tidak segan-segan membunuh manusia dan mencabik mereka tanpa belas kasihan hanya untuk memuaskan insting liarnya."​"Aku tidak percaya," ujar Ravenna lirih. Kata-kata wanita berambut perak itu Ketakutan meracuni pikirannya."Dan tahukah kamu apa yang paling menjijikkan?" Wanita berambut perak itu mengulas senyum tipis yang mematikan, lalu ia mengulurkan tangannya yang sedingin es dan menyentuh dagu Ravenna dengan lembut, namun sentuhan itu mengirimkan sengatan aneh langsung ke otak Ravenna."Morrigan dan kaumnya sedang menyalahkanmu atas semua pembunuhan itu."​Ravenna terbelalak. "Apa?!"​"Mereka menimpakan semua kesalahan itu kepadamu, Ravenna," timpal Darian dari belakang, ikut memanaskan situasi sesuai rencana mereka. "Kamu h

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 58

    Aroma kayu basah dan debu menjadi hal pertama yang merayap masuk ke indra penciuman Ravenna dan disusul oleh rasa pening luar biasa yang seolah menghantam bagian belakang kepalanya.Perlahan Ravenna membuka matanya Pandangannya kabur sebelum akhirnya terfokus pada langit-langit kayu yang dipenuhi sarang laba-laba.​Ravenna tersentak bangun, namun tubuhnya langsung limbung kembali ke atas dipan tua yang keras. Seluruh persendiannya terasa lemas, seolah-olah seluruh energinya telah dihisap habis oleh kekuatan tak kasatmata. Dengan tangan gemetar, ia mencengkeram tepi dipan, berusaha duduk, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan."Aku ada di mana?" gumamnya​Setelah kesadarannya kembali sepenuhnya, ia baru menyadari sedang berada di dalam sebuah kabin kayu tua yang terbengkalai di tengah hutan. Cahaya pagi menerobos masuk melalui celah-celah dinding papan yang rapuh dan membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Ravenna melihat keluar melalui jendela kecil yang berdebu dan

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 57

    Medan di depan mereka perlahan mulai berubah menjadi ekstrem. Jalur tanah hutan yang semula landai sekarang berganti menjadi tanjakan terjal berbatu yang dikelilingi oleh jajaran pohon pinus raksasa yang tumbuh rapat. Akar-akar pohonnya menyembul ke permukaan.​Morrigan tidak memperlambat langkahnya sama sekali. Ravenna berada di atas sana dan semakin dekat, namun bahaya yang mengancamnya juga kian memuncak.Sepasang mata emas Morrigan menyala terang menembus pekatnya kabut pagi yang menuntun kakinya melompati batasan batu-batu licin dengan kecepatan yang sangat tinggi.​"Alpha! Kecepatan Anda terlalu tinggi! Kabut ini mengacaukan radar pasukan di belakang!" teriak Silas yang bersusah payah mengimbangi langkah kilat Morrigan sembari memastikan beberapa prajurit Silver Claw tidak tertinggal jauh di belakang.​"Aku tidak bisa menunggu, Silas! Baunya semakin pekat, dia ada di atas tebing ini!" raung MorriganSerigala di dalam dirinya meronta liar.​Tiba-tiba dari balik gumpalan kabut teb

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 56

    "Apa kamu bilang?!" suara Morrigan meninggi.Morrigan melangkah maju dengan kecepatan kilat, mencengkeram kerah mantel Darian, dan mengangkat tubuh pria itu beberapa senti ke udara. Napasnya memburu panas tepat di depan wajah Darian.​"Kenapa kamu memberitahuku soal Ravenna yang diculik Lunara?"Darian tidak meronta. Ia justru terkekeh rendah dan tatapannya menantang lurus ke sepasang mata emas Morrigan tanpa rasa takut.​"Tentu saja aku tidak melakukannya demi menyelamatkan manusiamu, Morrigan. Selama ini aku terus mengawasimu dan wanita manusiamu itu," jawab Darian sinis dan seulas senyum licik terukir di wajahnya. "Aku melakukan ini semua hanya untuk mempertemukanmu dengan Lunara. Bukankah kamu sedang mencari pengkhianat itu. Aku ingin melihat bagaimana sang Alpha tertinggi pack Blackmoon hancur berdarah-darah di tangan seorang pengkhianat."​Morrigan menggeram rendah, lalu melempar tubuh Darian ke atas aspal dengan kasar hingga pria itu terbatuk. "Di mana dia menyekap Ravenna? K

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 55

    Roda-roda besi gerbong kereta mendadak menjerit nyaring dan memuntahkan percikan api yang bergesekan ekstrem dengan rel. BRAAAK! Tubuh para penumpang terlempar ke depan akibat rem darurat yang dihantam paksa. Jeritan histeris, tangisan anak-anak, dan dentingan barang-barang bawaan yang jatuh berserakan seketika memenuhi seisi gerbong yang pengap. ​Kereta itu berhenti mendadak di tengah hutan pinus yang sunyi dan jauh dari stasiun mana pun. Ravenna mencengkeram erat sandaran kursi di depannya dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Di sampingnya, Marva berusaha menstabilkan posisinya sembari memandang sekeliling dengan kerutan dalam di dahi. ​"Ada apa ini? Kenapa keretanya berhenti di tengah jalan?" tanya Marva. ​"Aku tidak tahu, Nek," sahut Ravenna lirih. Perasaan buruk seketika merayap di tengkuknya. Bau karbol dan oli di mantelnya mendadak kalah telak oleh aroma anyir yang asing dan dingin yang tiba-tiba berembus masuk menembus celah jendela. ​Tiba-tiba lampu-lampu neon

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status