Se connecter
Darah Lunara Fenrirsson jatuh ke tanah lebih dulu sebelum tubuhnya. Ia tersungkur di halaman batu Pack Blackmoon dan lututnya menghantam tanah basah yang dingin. Napasnya tercekik bukan hanya oleh rasa sakit, tapi oleh tawa yang pecah di sekelilingnya, tawa para manusia serigala yang merasa berhak menginjaknya.
“Bangun, Omega sialan!" bentak seseorang. Rambut perak Lunara ditarik kasar dari belakang. Kepalanya terhentak ke atas dan memaksa matanya menatap lingkaran wajah-wajah yang penuh hinaan. Mereka bukan hanya sekadar membencinya, tapi mereka juga menikmati penderitaannya. Darian Bloodclaw berdiri paling depan, musuh lamanya dan putra tetua pack. Serigala beta yang merasa dunia berutang padanya. “Kau lambat,” kata Darian sambil menendang tulang kering Lunara. “Alpha memerintahkan kayu bakar dikumpulkan sebelum matahari terbit, tapi lihat dirimu selalu gagal dan selalu membawa sial." Ia berdecak jijik. Lunara menggigit bibirnya sampai darah terasa asin di lidahnya. “Aku sudah ...." PLAK! Tamparan itu membuat kepalanya berputar dan dunia berdenyut putih sesaat. “Jangan jawab sebelum diizinkan! Omega tidak punya suara," hardik Darian. Beberapa anggota pack lain ikut tertawa. Ada yang melempar lumpur ke wajah Lunara dan ada yang meludah ke tanah di dekat kakinya seolah ia bahkan tidak layak terkena ludah langsung. “Anak pengkhianat." Seseorang berbisik cukup keras. “Darah terkutuk.” “Seharusnya dia mati bersama ibunya.” Kalimat terakhir itu menusuk lebih dalam dari pukulan mana pun. Lunara menunduk dan jarinya mencengkeram tanah menahan gemetar yang mengancam keluar. Ia tidak akan menangis di depan mereka dan tidak akan memberi kepuasan itu. Darian jongkok di hadapannya dan menatapnya sejajar. “Kamu tahu kenapa kami masih membiarkanmu hidup?” tanyanya pelan dan suaranya hampir ramah yang justru membuatnya lebih kejam. “Karena Alpha belum memutuskan apa yang akan dilakukan pada sisa darahmu.” Ia menyeringai. “Tapi aku tidak terikat perintah itu.” Tangan Darian berubah. Kuku-kukunya memanjang, tajam, dan berkilau di bawah cahaya pagi. Sebuah cakar menekan dagu Lunara dan memaksa wajahnya terangkat. “Satu kesalahan lagi dan aku pastikan kamu tidak bangun untuk melihat purnama berikutnya," bisiknya. Cakar itu menggores pipi Lunara meskipun tidak dalam, tapi cukup untuk meninggalkan garis merah yang panas dan perih. Jeritan kecil lolos dari tenggorokannya sebelum ia sempat menahannya. “Berisik!" ujar Darian dingin. Ia mendorong Lunara hingga tubuhnya terhempas ke tanah lagi. “Sekarang bangun! Ambil kayu itu atau aku seret kamu ke kandang bawah tanah.” Lunara bangkit dengan gemetar. Tubuhnya sakit di mana-mana, tapi ia tetap berdiri, karena kalau jatuh berarti mati lebih cepat. Saat ia membungkuk mengambil tumpukan kayu, dunia terasa berputar. Bau darahnya sendiri memenuhi udara. Bau kayu basah bercampur darah menempel di tangan Lunara saat ia mengangkat tumpukan itu ke punggungnya. Tali kasar digesekkan Darian ke bahunya tanpa belas kasihan untuk mengikat kayu itu seperti beban bagi hewan pengangkut. “Kalau jatuh lagi, aku biarkan kamu membusuk di hutan,” katanya dingin. Lunara mengangguk tanpa berani menatapnya. Ia sudah belajar bahwa menatap mata anggota pack lain hanya akan mengundang lebih banyak hukuman. Ia melangkah menuju dapur utama pack, bangunan batu besar tempat para manusia serigala makan dan berkumpul. Di sanalah para omega rendahan bekerja dan Lunara berada di paling bawah dari semuanya. Seorang omega perempuan yang lebih tua dan wajahnya penuh bekas luka menyambutnya dengan tatapan iba yang tidak berani terlalu lama. “Cepat! Mereka menunggumu," bisiknya pelan. Lunara meletakkan kayu itu di sudut ruangan. Tangannya gemetar. Darah dari goresan pipinya menetes ke lantai batu, tapi tidak ada yang peduli. “Lunara!” bentak seorang beta perempuan. “Air panas untuk para prajurit sudah siap? Mereka kembali dari patroli!” “A-aku belum ...." Sebuah ember logam dilempar ke arahnya. Ember itu menghantam kakinya dan air panas di dalamnya tumpah ke tangannya dan kulitnya langsung memerah. “Jangan menjawab!” teriak beta itu. “Kamu bukan siapa-siapa di sini. Cepat bersihkan lantai aula! Dan setelah itu, kamu ikut mencuci darah dari arena latihan.” Arena latihan adalah tempat para manusia serigala melampiaskan amarah mereka. Lunara menelan ludahnya. Ia mengambil kain kasar dan mulai menggosok lantai aula, sementara para anggota pack melintas tanpa memperhatikannya. Beberapa sengaja menginjak kain yang ia pakai. Ada yang menumpahkan sisa makanan ke rambut peraknya sambil tertawa. “Cocok untuk anak pengkhianat membersihkan kotoran kami," ujar sang prajurit. Tangan Lunara terasa perih, tapi ia terus menggosok. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah keyakinan bahwa jika ia cukup patuh, mereka mungkin akan melupakannya. Namun, pack tidak pernah lupa. Di arena latihan, bau darah segar lebih pekat. Dua serigala beta sedang bertarung dan saling mencabik di bawah sorakan anggota pack. Ketika pertarungan selesai, tubuh salah satu tergeletak berdarah. “Bersihkan!" perintah seorang tetua sambil melirik Lunara. Tanpa alat pelindung dan tanpa bantuan, Lunara berlutut di tanah berlumpur menggosok darah yang mengering dengan tangan telanjang. Beberapa prajurit duduk di bangku batu, menonton seolah itu hiburan. “Lihat!" kata salah satu dari mereka sambil tertawa. “Dia lebih mirip budak daripada serigala.” Lunara tidak menjawab, karena ia tidak berani. Saat kainnya menyentuh tanah, getaran aneh muncul. Getaran itu lebih kuat dan lebih dekat seperti ada sesuatu yang menarik napas bersamanya, sesuatu yang tidak bisa ia lihat. Ia mendongak tanpa sadar. Di balkon kediaman Alpha, sosok tinggi berdiri dengan jubah hitam panjang. Rambut gelapnya tertiup angin, setengah wajahnya tertutup topeng hitam, dan matanya hitam seperti malam tanpa bintang terkunci pada dirinya, Alpha Morrigan Raventhorn. Lunara langsung menunduk. Ia tidak tahu mengapa jantungnya berdentum sekeras itu. Ia juga tidak tahu mengapa tubuhnya terasa hangat sekaligus takut. Kain di tangan Lunara jatuh ke tanah saat teriakan menggema di arena. “Cukup!” Suara tetua tua itu menggiring perhatian semua orang. Sorakan mereda dan digantikan bisik-bisik yang haus darah. Tetua Varrek melangkah ke tengah arena dan tongkat hitamnya menghentak batu. Matanya yang keruh menatap Lunara seolah ia bukan makhluk hidup. “Omega ini mengotori arena suci dengan kelalaiannya," katanya lantang. Lunara menegang dan apasnya tersendat. “A-aku sudah membersihkan ...." Tongkat menghantam bahunya. Lunara terjatuh dan darah muncrat dari bibirnya saat batu menghantam rahangnya. “Diam!” bentak Varrek. “Kamu tidak belajar, rupanya.” Darian melangkah maju dan wajahnya penuh kepuasan. “Dia menumpahkan darah prajurit ke saluran air, Tetua, dan mencemari jalur ritual," katanya Itu bohong. Semua orang tahu itu bohong. Namun, pack tidak peduli pada kebenaran. “Bawa dia ke tiang hukuman!" perintah Varrek. Dua beta menarik Lunara tanpa belas kasihan. Tubuhnya diseret melintasi arena, lututnya tergores batu, dan darahnya membentuk jejak merah yang disambut sorakan. “Bakar!” “Cambuk saja!” “Bunuh sebelum purnama!”Rasa sakit yang luar biasa menjalar di sepanjang tulang belakangnya dan darah hangat merembes dari sela-sela bibirnya yang mengatup rapat. Mereka berguling beberapa meter melewati cadas yang tajam dan menimbulkan suara deburan keras hingga akhirnya berhenti tepat di tepi aliran sungai berbatu yang dingin.Napas Morrigan memburu panas, menguar menjadi uap di udara pagi yang membeku. Meskipun seluruh tubuhnya didera rasa sakit yang teramat sangat, lengannya sama sekali tidak melonggarkan pelukan pada wanita di dekapannya. Dengan tubuh yang masih bergetar menahan sisa benturan, Morrigan perlahan merendahkan kepalanya, menatap wajah wanita yang mendekam di dadanya dengan tatapan penuh kecemasan dan rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.Sang Alpha memejamkan matanya dan mengecup dahi wanita itu dengan kelembutan yang teramat sangat."Kau aman bersamaku, Ravenna, aku bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi," bisik Morrigan.Morrigan dengan perlahan m
Manik mata perak wanita itu menatap lurus ke dalam manik mata Ravenna dan mengunci kesadaran gadis itu. "Dia adalah manusia serigala yang suka lepas kendali. Saat wujud serigalanya mengambil alih, Morrigan berubah menjadi binatang buas yang haus darah. Dia tidak segan-segan membunuh manusia dan mencabik mereka tanpa belas kasihan hanya untuk memuaskan insting liarnya.""Aku tidak percaya," ujar Ravenna lirih. Kata-kata wanita berambut perak itu Ketakutan meracuni pikirannya."Dan tahukah kamu apa yang paling menjijikkan?" Wanita berambut perak itu mengulas senyum tipis yang mematikan, lalu ia mengulurkan tangannya yang sedingin es dan menyentuh dagu Ravenna dengan lembut, namun sentuhan itu mengirimkan sengatan aneh langsung ke otak Ravenna."Morrigan dan kaumnya sedang menyalahkanmu atas semua pembunuhan itu."Ravenna terbelalak. "Apa?!""Mereka menimpakan semua kesalahan itu kepadamu, Ravenna," timpal Darian dari belakang, ikut memanaskan situasi sesuai rencana mereka. "Kamu h
Aroma kayu basah dan debu menjadi hal pertama yang merayap masuk ke indra penciuman Ravenna dan disusul oleh rasa pening luar biasa yang seolah menghantam bagian belakang kepalanya.Perlahan Ravenna membuka matanya Pandangannya kabur sebelum akhirnya terfokus pada langit-langit kayu yang dipenuhi sarang laba-laba.Ravenna tersentak bangun, namun tubuhnya langsung limbung kembali ke atas dipan tua yang keras. Seluruh persendiannya terasa lemas, seolah-olah seluruh energinya telah dihisap habis oleh kekuatan tak kasatmata. Dengan tangan gemetar, ia mencengkeram tepi dipan, berusaha duduk, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan."Aku ada di mana?" gumamnyaSetelah kesadarannya kembali sepenuhnya, ia baru menyadari sedang berada di dalam sebuah kabin kayu tua yang terbengkalai di tengah hutan. Cahaya pagi menerobos masuk melalui celah-celah dinding papan yang rapuh dan membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Ravenna melihat keluar melalui jendela kecil yang berdebu dan
Medan di depan mereka perlahan mulai berubah menjadi ekstrem. Jalur tanah hutan yang semula landai sekarang berganti menjadi tanjakan terjal berbatu yang dikelilingi oleh jajaran pohon pinus raksasa yang tumbuh rapat. Akar-akar pohonnya menyembul ke permukaan.Morrigan tidak memperlambat langkahnya sama sekali. Ravenna berada di atas sana dan semakin dekat, namun bahaya yang mengancamnya juga kian memuncak.Sepasang mata emas Morrigan menyala terang menembus pekatnya kabut pagi yang menuntun kakinya melompati batasan batu-batu licin dengan kecepatan yang sangat tinggi."Alpha! Kecepatan Anda terlalu tinggi! Kabut ini mengacaukan radar pasukan di belakang!" teriak Silas yang bersusah payah mengimbangi langkah kilat Morrigan sembari memastikan beberapa prajurit Silver Claw tidak tertinggal jauh di belakang."Aku tidak bisa menunggu, Silas! Baunya semakin pekat, dia ada di atas tebing ini!" raung MorriganSerigala di dalam dirinya meronta liar.Tiba-tiba dari balik gumpalan kabut teb
"Apa kamu bilang?!" suara Morrigan meninggi.Morrigan melangkah maju dengan kecepatan kilat, mencengkeram kerah mantel Darian, dan mengangkat tubuh pria itu beberapa senti ke udara. Napasnya memburu panas tepat di depan wajah Darian."Kenapa kamu memberitahuku soal Ravenna yang diculik Lunara?"Darian tidak meronta. Ia justru terkekeh rendah dan tatapannya menantang lurus ke sepasang mata emas Morrigan tanpa rasa takut."Tentu saja aku tidak melakukannya demi menyelamatkan manusiamu, Morrigan. Selama ini aku terus mengawasimu dan wanita manusiamu itu," jawab Darian sinis dan seulas senyum licik terukir di wajahnya. "Aku melakukan ini semua hanya untuk mempertemukanmu dengan Lunara. Bukankah kamu sedang mencari pengkhianat itu. Aku ingin melihat bagaimana sang Alpha tertinggi pack Blackmoon hancur berdarah-darah di tangan seorang pengkhianat."Morrigan menggeram rendah, lalu melempar tubuh Darian ke atas aspal dengan kasar hingga pria itu terbatuk. "Di mana dia menyekap Ravenna? K
Roda-roda besi gerbong kereta mendadak menjerit nyaring dan memuntahkan percikan api yang bergesekan ekstrem dengan rel. BRAAAK! Tubuh para penumpang terlempar ke depan akibat rem darurat yang dihantam paksa. Jeritan histeris, tangisan anak-anak, dan dentingan barang-barang bawaan yang jatuh berserakan seketika memenuhi seisi gerbong yang pengap. Kereta itu berhenti mendadak di tengah hutan pinus yang sunyi dan jauh dari stasiun mana pun. Ravenna mencengkeram erat sandaran kursi di depannya dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Di sampingnya, Marva berusaha menstabilkan posisinya sembari memandang sekeliling dengan kerutan dalam di dahi. "Ada apa ini? Kenapa keretanya berhenti di tengah jalan?" tanya Marva. "Aku tidak tahu, Nek," sahut Ravenna lirih. Perasaan buruk seketika merayap di tengkuknya. Bau karbol dan oli di mantelnya mendadak kalah telak oleh aroma anyir yang asing dan dingin yang tiba-tiba berembus masuk menembus celah jendela. Tiba-tiba lampu-lampu neon







