共有

Bab 8

作者: Miarosa
last update 公開日: 2026-04-16 00:15:43

Di kedalaman aula pertemuan di bawah tanah yang jauh dari kamar batu itu, keheningan malam telah pecah oleh kemarahan yang suci. Para tetua dewan berjubah abu-abu yang telah hidup lebih lama dari sejarah pack itu sendiri mendadak bangkit dari kursi batu mereka. Mereka tidak butuh mata untuk melihat, karena mereka bisa merasakannya. Gelombang aura Alpha-Bane yang tadi terbangun telah memukul batin mereka seperti hantaman ombak karang.

​"Sesuatu yang terkutuk telah terbangun," desis Tetua Sheltra, suaranya parau dan penuh kebencian. Tangannya yang keriput mencengkeram tongkat kayu jati hingga retak.

"Kekuatan Omega itu seharusnya tetap menjadi abu bukan api," teriak Sheltra, suaranya bergema di dinding gua yang dingin.

​"Morrigan telah buta. Dia membiarkan racun itu masuk ke jantung kawanan. Dia membiarkan Alpha-Bane itu menghisap esensinya. Jika kekuatan itu tidak segera dipadamkan bukan hanya Morrigan yang jatuh, tapi seluruh keturunan kita akan kehilangan taringnya," sambung Tetua Varrek.

​Ketegangan di ruang dewan itu membakar udara. Bagi mereka, Lunara bukan lagi seorang gadis melainkan sebuah anomali yang harus dihapuskan.

"Dewi Bulan sedang menguji kita atau mungkin dia sedang menghukum kita. Namun satu hal yang pasti ...."

​Para tetua lainnya menoleh, menunggu titah yang akan mengubah sejarah.

​"Satu-satunya cara membuat Lunara "aman" bagi kita semua adalah membuatnya lemah, terluka, dan sendirian," ucap Sheltra dengan senyum dingin yang mengerikan.

"Kita harus segera melakukan ritual penyegelan darah sebelum kekuatannya meluap. Pisahkan juga dia dari Morrigan, biarkan dia merasakan dinginnya pengasingan, dan pastikan dia tidak punya apa pun selain rasa sakit untuk dipeluk hanya dengan begitu, duri Alpha-Bane itu akan layu."

"Laksanakan sekarang!" titah Varrek, suaranya sedingin es yang membeku. "Bawa pasukan Silver-Claw! Jangan biarkan Morrigan menghalangi! Jika dia mencoba melawan dengan tubuhnya yang melemah, seret dia juga ke ruang penghakiman."

***

Morrigan mencoba memanggil sisi serigalanya, namun yang ia temukan hanyalah kesunyian. Serigalanya yang biasanya garang sekarang seolah meringkuk ketakutan bukan karena ancaman, tapi karena kehadiran Lunara yang secara alami mematikan dominasinya. Ia tidak kehilangan kekuatannya sepenuhnya, serigalanya masih ada di sana, terkubur jauh di dalam sanubari, namun energinya seolah diredam oleh selimut es yang tebal.

​Lunara tertegun melihat sang Alpha yang begitu perkasa nyaris bertumpu sepenuhnya pada tubuh kecilnya. Warna abu-abu di matanya perlahan memudar, kembali menjadi perak yang penuh kebingungan. Saat itulah ia melihatnya tanda hitam di pergelangan tangannya yang perlahan memudar seiring ia menarik tangan dari dada Morrigan.

​"Aku tidak tahu ...," bisik Lunara, suaranya kembali gemetar saat ia melihat Morrigan jatuh terduduk di lantai dengan napas tersenggal.

"Aku tidak melakukannya dengan sengaja, Morrigan."

​Morrigan mendongak, wajah tampannya tampak pucat di bawah cahaya lampu yang temaram. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menatap tangannya yang gemetar, lalu menatap Lunara dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara keterkejutan yang menyakitkan dan cinta yang tetap keras kepala, meskipun kekuatannya telah dijarah habis.

Ia terengah, tangannya mencengkeram lantai batu guna mencari tumpuan, sementara matanya yang biasanya berkilat tajam kini meredup, kehilangan cahaya yang menjadi simbol kekuasaannya.

"Tanda itu." Morrigan menunjuk leher Lunara dengan jari yang lemas. "Jangan biarkan siapa pun melihatnya. Jika para manusia serigala yang lain dari luar pack Blackmoon tahu, bahwa kamu adalah Alpha-Bane, mereka akan memburumu."

​Meskipun kekuatannya sedang dihisap menuju kehancuran, pikiran pertama Morrigan tetaplah satu, yaitu bagaimana cara melindungi gadis yang baru saja memulai kejatuhannya.

Lunara menarik napas dengan gemetar dan tangannya menutupi leher tempat tato sulur hitam itu perlahan bersembunyi di balik kerah bajunya. Ia bisa merasakan denyut energi asing yang sekarang bersemayam di dalam tubuhnya.

​Di hadapannya, Morrigan, sang Alpha yang biasanya tampak seperti dewa perang yang tak tergoyahkan, sekarang terduduk lemas di lantai. Namun, meski tubuhnya dikhianati oleh darah Lunara, tangannya masih berusaha meraih ujung jemari gadis itu.

​"Jangan takut!" bisik Morrigan, suaranya nyaris tidak lebih dari sekadar desiran angin. "Aku masih Alpha-mu."

"Morrigan, kamu harus menjauh dariku!" tangis Lunara. Ia mencoba mundur ke sudut ruangan, namun ikatan mate bond justru menariknya seperti rantai tak kasat mata. "Lihat dirimu! Aku membunuhmu secara perlahan! Jika aku pergi, kamu akan kuat lagi?"

"Tidak, jangan pergi ke tempat yang tidak bisa kujangkau," rintih Morrigan, mencoba mendongak.

Morrigan akhirnya berhasil menyentuh ujung jemari Lunara, meski tangannya masih gemetar hebat. Ia bisa mendengar bisikan angin yang membawa kabar buruk.

​"Mereka merasakannya, Lunara. Para tetua, mereka tidak akan memaafkan kekuatanmu," bisik Morrigan, suaranya serak dan nyaris hilang.

​Lunara menatap tangannya sendiri yang tadi menghisap kehidupan dari pria yang dicintainya. Tato hitam di lehernya masih berdenyut, seolah haus akan lebih banyak lagi. "Apa yang akan mereka lakukan?"

​"Mereka akan melakukan apa yang selalu dilakukan para pengecut terhadap hal yang tidak bisa mereka kendalikan," jawab Morrigan, suaranya terputus oleh batuk yang menyakitkan.

"Mereka akan menghancurkanmu sebelum kamu sempat menyadari betapa kuatnya dirimu."

​Belum sempat Lunara membalas, pintu batu kediaman Alpha itu dihantam oleh gelombang energi perak yang menghancurkan engselnya hingga lumat. Debu dan serpihan batu beterbangan, menyelimuti sosok-sosok yang berdiri di ambang pintu.

​Pasukan Silver-Claw, prajurit elit yang hanya tunduk pada perintah Dewan Tetua merangsek masuk dengan senjata perak yang berkilauan. Di tengah-tengah mereka, Tetua Sheltra melangkah maju, tongkat kayunya mengetuk lantai batu dengan bunyi detak yang terdengar seperti lonceng kematian.

​"Menjauh dari Omega itu, Morrigan!" perintah Sheltra, suaranya menggelegar penuh otoritas kuno yang menekan udara di ruangan itu.

"T-tidak." Morrigan berusaha bangkit, namun kakinya menyerah. Ia terpaksa merangkak, memposisikan tubuhnya yang rapuh di depan Lunara, mencoba menjadi perisai bagi gadis itu meski tanpa aura keemasannya. "Dia pasanganku. Dia milikku."

​Sheltra menatap Morrigan dengan tatapan dingin dan hampir meremehkan. "Lihatlah dirimu, Morrigan! Kamu memuja kehancuranmu sendiri."

​Sheltra mengalihkan pandangannya yang tajam kepada Lunara. Tatapannya mendarat tepat pada kerah baju Lunara yang menyembunyikan tato duri hitam.

"Bawa gadis itu! Seret dia ke Ruang Penyegelan Darah. Kita akan memutus setiap saraf kekuatannya sampai dia kembali menjadi debu."

​"Jangan sentuh dia!" jerit Morrigan, namun suaranya hanya terdengar seperti desisan lemah.

​Dua prajurit Silver-Claw maju tanpa ragu. Mereka tidak menggunakan tangan kosong, melainkan melemparkan rantai perak yang telah dibakar dalam ritual suci. Begitu rantai itu melilit pergelangan tangan Lunara, bau kulit terbakar memenuhi ruangan.

​"AAAKHHH!" Lunara berteriak kesakitan.

Rantai perak itu bukan hanya membakar kulitnya, tapi seolah mencoba menarik keluar paksa energi Alpha-Bane yang baru saja ia serap dari Morrigan.

​"Lunara!" Morrigan mencoba menerjang, namun seorang prajurit dengan mudah menendang dadanya, membuatnya tersungkur kembali ke lantai. Morrigan memuntahkan darah, matanya yang redup menatap dengan putus asa saat Lunara diseret paksa melewati lantai batu yang dingin.

​Para tetua berdiri di sana, menatap Lunara dengan jijik, dan mereka yakin bahwa dengan memisahkan sang Omega ke dalam kegelapan pengasingan, mereka telah menyelamatkan sang Alpha.

Saat Lunara diseret keluar, tato di lehernya mendadak berpendar merah gelap, warna peringatan. Matanya yang kembali berubah menjadi abu-abu pekat menatap Morrigan yang tergeletak tak berdaya.

​"Morrigan!" jeritnya untuk terakhir kali sebelum pintu tertutup rapat, menyisakan Morrigan, Tetua Sheltra, dan dua prajurit Silver-Claw dalam kesunyian yang mencekam dengan sisa-sisa harga diri yang telah hancur dan cinta yang sekarang menjadi kutukannya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 77

    ​Kata-kata Ella membuat jantungnya serasa berhenti berdetak dan wajahnya yang semula pucat sekarang menjadi seputih kapas.​"Manusia serigala?" bisik Ravenna.Ia menggelengkan kepalanya."Tidak, kamu bohong! Morrigan manusia! Dia hanya pria biasa!"​"Dia membohongimu sejak awal demi insting binatangnya!" bentak Ella.Matanya sesaat berkilat ungu pekat dan menekan mental Ravenna hingga gadis itu mencengkeram sprei tempat tidur dengan gemetar. "Dan sekarang, kaum manusia serigala miliknya sedang menuntut darah. Mereka mengira kamuatau lebih tepatnya klon sihir yang kuciptakan menggunakan wajahmu telah membunuh salah satu dari kawanan mereka di pinggiran kota."​Ravenna menatap Ella dengan pandangan kosong, otaknya menolak memercayai semua kegilaan ini. Namun, aura mengerikan dari Ella dan semua kejadian supranatural ini membuat pertahanannya runtuh. "Klon? Pembunuhan? Apa yang akan kamu lakukan padaku?"​Ella tersenyum penuh kemenangan dan senyuman yang membuat bulu kuduk Ravenna mere

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 76

    "Jika itu satu-satunya cara untuk membersihkan nama baik pack, mereka akan menuntutnya, Alpha!" jawab Larry dengan tegas, meskipun napasnya memburu menahan tekanan aura Morrigan yang semakin berat memenuhi ruangan.Larry menatap map hitam yang meremukkan kertas laporan medis di atas meja kerja Morrigan, lalu perlahan menegakkan postur tubuhnya. Aura dingin dan berat di dalam ruangan itu terasa seolah bisa mematahkan tulang, namun sebagai prajurit tertinggi Silver-Claw, ia tahu tugasnya di halaman luar jauh lebih mendesak.​"Saya rasa tidak ada lagi yang bisa saya laporkan malam ini, Alpha," ucap Larry dengan suara baritonnya yang rendah."Gelombang hasutan Darian di halaman luar harus segera saya redam sebelum fajar menyingsing. Saya tidak akan membiarkan satu pun mereka menerobos masuk ke dalam gedung ini."​Morrigan tidak menoleh. Sepasang mata keemasannya masih menatap tajam menembus kegelapan malam dari balik kaca jendela besar ruang kerjanya hanya anggukan kepala samar yang dibe

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 75

    ​"Aku akan mengawal mereka sendiri, Alpha," sahut Larry. Ia merasa bertanggung jawab penuh atas keamanan sampel biologis tersebut. ​"Pergilah, Larry! Pastikan tidak ada satu pun tangan luar yang menyentuh tabung itu," perintah Morrigan. ​Begitu Larry dan tim medis pergi, koridor bawah tanah kembali sunyi. Morrigan menatap Ezra yang masih bersandar di dinding dengan wajah gelisah. ​"Ezra, kembali ke atas. Awasi pergerakan Putri Isolde dan Tetua Varrek di ruang tamu agung. Jangan biarkan mereka tahu kita sedang melakukan pemeriksaan domestik seperti ini," ucap Morrigan. ​"Bagaimana denganmu, Alpha?" tanya Ezra ragu. ​"Aku akan menunggu hasil laboratorium di sini. Pergilah!" ​Waktu terus bergulir. Larry berdiri kokoh seperti patung di depan pintu laboratorium dengan tangan melekat pada senjata. ​Di dalam ruangan steril, kepala dokter Blackmoon pack sedang memasukkan beberapa tetes darah Ravenna ke dalam mesin pemindai spektrum biologis. Mesin tersebut berdegung halus, memp

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 74

    "Gunakan sisa energi dari pecahan Batu Gerhana Abadi yang kusisipkan di balik pakaianmu," bisik Ella dengan senyum penuh kelicikan. "Ubah resonansi biologis raga tiruan itu. Saat jarum suntik mereka menembus kulitmu besok pagi, pastikan sel-sel yang mereka ambil terdistorsi menjadi darah manusia normal. Biarkan Alpha itu mengira indra serigalanya yang mulai gila bukan raga kita."​Ella kemudian pergi menembus bayangan malam bawah tanah, menyisakan Jaxon dan para penjaga yang masih tergeletak tidak sadarkan diri.​Malam harinya, ketegangan internal Blackmoon pack yang tersimpan di bawah tanah mendadak terinterupsi oleh sebuah kedatangan yang telah lama direncanakan.Di jalanan Starfield, deretan mobil sedan mewah berwarna hitam legam membelah jalanan, menuju markas utama pack.​Konvoi dari Moonshadow pack telah tiba.​Di halaman depan markas, Tetua Varrek berdiri tegak dengan jubah adatnya yang megah. Di sampingnya, Larry dan barisan kehormatan prajurit Blackmoon memasang postur kaku

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 73

    ​"Jiwa seorang Alpha tertinggi memiliki resonansi energi yang sangat kuat dengan wilayah kekuasaannya," jelas Silas. Silas menatap Morrigan dengan serius. "Selama ini, kamu tidak bisa merasakan pancaran kekuatan energi dari batu itu meskipun letaknya sangat dekat dan jujur, aku pun tidak menyadarinya, karena aku berpikir anomali energi di sekitarmu hanyalah refleksi dari rasa benci yang meluap dan kekosongan batinmu pasca kepergian Lunara. Kebencianmu begitu dalam hingga bertindak sebagai tameng emosional, ia mendominasi seluruh indra serigalamu dan membutakan radar instingmu terhadap getaran sihir hitam luar yang mencoba menyusup."​Morrigan terdiam dan mencerna penjelasan Silas yang sangat masuk akal. Emosi seorang Alpha yang tidak stabil memang bisa mengacaukan kepekaan indra penciuman dan spiritualnya sendiri. ​Namun, ketegangan mendadak saat Morrigan melangkah lebih dekat ke ranjang dan tatapannya menuntut jawaban yang lebih banyak.​"Jika kamu sudah tahu keberadaan artefak t

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 72

    "Bawa dia lewat pintu belakang gedung Stellaris Industries," perintah Morrigan kepada Larry begitu mereka tiba di area parkir bawah tanah. "Jangan biarkan ada anggota lain yang melihatnya dalam kondisi seperti ini. Kamar penthouse terlalu terbuka, bawa dia langsung ke lantai isolasi bawah tanah." ​"Dimengerti, Alpha," jawab Larry sigap. "Pasukan Silver-Claw akan menutup akses lift privat sementara waktu." ​Namun, evakuasi senyap itu tidak berjalan sesempurna yang Morrigan harapkan. Di sudut koridor remang basement, sepasang mata milik salah satu prajurit kasta bawah yang merupakan mata-mata Darian telah mengawasi sejak ban SUV menderu masuk dan hanya dalam hitungan menit setelah pintu jeruji besi ruang isolasi berdentang menutup, prajurit tersebut langsung memanfaatkan Pack Link (telepati antar anggota pack) untuk menyebarkan informasi secara batin ke seluruh jaringan manusia serigala. Pesan berantai melalui pack link telah menyebar seperti api menyiram minyak ke anggota pack

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 54

    Morrigan tertegun dengan kata-kata Silas. Pria itu bersandar pada kursi kebesarannya dan tatapannya beralih menatap langit-langit ruangan dengan senyuman pahit yang menyedihkan.​"Kamu tidak mengerti, Silas," bisik Morrigan dan nada suaranya mendadak terdengar begitu rapuh dan kehilangan wibawa seo

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 49

    Ravenna mencengkeram lengan Marva dengan keputusasaan."Aku tidak ingat apa-apa! Aku berjalan dalam tidur dan terbangun dengan ketakutan ini! Aku tidak mau egois. Aku tidak boleh membiarkan Morrigan hancur hingga tidak tersisa karena melindungiku. Tolong, Nek, kali ini saja, ikuti aku! Kita harus p

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 44

    ​Kamera beralih menampilkan gedung pencakar langit Stellaris, sementara sang pembawa berita terus membaca teksnya."Spekulasi sekarang merebak di kalangan publik mengenai hubungan antara sang konglomerat bertangan besi dengan tersangka pembunuhan tersebut, serta motif di balik tindakan Mr. Raventho

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 42

    Marva menghentikan gerakannya sejenak dan tatapannya menerawang ke arah uap hangat yang mengepul dari cangkir porselen itu. ​"Tuan Morrigan adalah teman kami," jawab Marva pelan. "Dia memberikan tempat berteduh bagiku dan Ravenna saat kami dalam kesulitan. Hubungan kami lebih dari sekadar tuan rum

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status