FAZER LOGINDi kedalaman aula pertemuan di bawah tanah yang jauh dari kamar batu itu, keheningan malam telah pecah oleh kemarahan yang suci. Para tetua dewan berjubah abu-abu yang telah hidup lebih lama dari sejarah pack itu sendiri mendadak bangkit dari kursi batu mereka. Mereka tidak butuh mata untuk melihat, karena mereka bisa merasakannya. Gelombang aura Alpha-Bane yang tadi terbangun telah memukul batin mereka seperti hantaman ombak karang.
"Sesuatu yang terkutuk telah terbangun," desis Tetua Sheltra, suaranya parau dan penuh kebencian. Tangannya yang keriput mencengkeram tongkat kayu jati hingga retak. "Kekuatan Omega itu seharusnya tetap menjadi abu bukan api," teriak Sheltra, suaranya bergema di dinding gua yang dingin. "Morrigan telah buta. Dia membiarkan racun itu masuk ke jantung kawanan. Dia membiarkan Alpha-Bane itu menghisap esensinya. Jika kekuatan itu tidak segera dipadamkan bukan hanya Morrigan yang jatuh, tapi seluruh keturunan kita akan kehilangan taringnya," sambung Tetua Varrek. Ketegangan di ruang dewan itu membakar udara. Bagi mereka, Lunara bukan lagi seorang gadis melainkan sebuah anomali yang harus dihapuskan. "Dewi Bulan sedang menguji kita atau mungkin dia sedang menghukum kita. Namun satu hal yang pasti ...." Para tetua lainnya menoleh, menunggu titah yang akan mengubah sejarah. "Satu-satunya cara membuat Lunara "aman" bagi kita semua adalah membuatnya lemah, terluka, dan sendirian," ucap Sheltra dengan senyum dingin yang mengerikan. "Kita harus segera melakukan ritual penyegelan darah sebelum kekuatannya meluap. Pisahkan juga dia dari Morrigan, biarkan dia merasakan dinginnya pengasingan, dan pastikan dia tidak punya apa pun selain rasa sakit untuk dipeluk hanya dengan begitu, duri Alpha-Bane itu akan layu." "Laksanakan sekarang!" titah Varrek, suaranya sedingin es yang membeku. "Bawa pasukan Silver-Claw! Jangan biarkan Morrigan menghalangi! Jika dia mencoba melawan dengan tubuhnya yang melemah, seret dia juga ke ruang penghakiman." *** Morrigan mencoba memanggil sisi serigalanya, namun yang ia temukan hanyalah kesunyian. Serigalanya yang biasanya garang sekarang seolah meringkuk ketakutan bukan karena ancaman, tapi karena kehadiran Lunara yang secara alami mematikan dominasinya. Ia tidak kehilangan kekuatannya sepenuhnya, serigalanya masih ada di sana, terkubur jauh di dalam sanubari, namun energinya seolah diredam oleh selimut es yang tebal. Lunara tertegun melihat sang Alpha yang begitu perkasa nyaris bertumpu sepenuhnya pada tubuh kecilnya. Warna abu-abu di matanya perlahan memudar, kembali menjadi perak yang penuh kebingungan. Saat itulah ia melihatnya tanda hitam di pergelangan tangannya yang perlahan memudar seiring ia menarik tangan dari dada Morrigan. "Aku tidak tahu ...," bisik Lunara, suaranya kembali gemetar saat ia melihat Morrigan jatuh terduduk di lantai dengan napas tersenggal. "Aku tidak melakukannya dengan sengaja, Morrigan." Morrigan mendongak, wajah tampannya tampak pucat di bawah cahaya lampu yang temaram. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menatap tangannya yang gemetar, lalu menatap Lunara dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara keterkejutan yang menyakitkan dan cinta yang tetap keras kepala, meskipun kekuatannya telah dijarah habis. Ia terengah, tangannya mencengkeram lantai batu guna mencari tumpuan, sementara matanya yang biasanya berkilat tajam kini meredup, kehilangan cahaya yang menjadi simbol kekuasaannya. "Tanda itu." Morrigan menunjuk leher Lunara dengan jari yang lemas. "Jangan biarkan siapa pun melihatnya. Jika para manusia serigala yang lain dari luar pack Blackmoon tahu, bahwa kamu adalah Alpha-Bane, mereka akan memburumu." Meskipun kekuatannya sedang dihisap menuju kehancuran, pikiran pertama Morrigan tetaplah satu, yaitu bagaimana cara melindungi gadis yang baru saja memulai kejatuhannya. Lunara menarik napas dengan gemetar dan tangannya menutupi leher tempat tato sulur hitam itu perlahan bersembunyi di balik kerah bajunya. Ia bisa merasakan denyut energi asing yang sekarang bersemayam di dalam tubuhnya. Di hadapannya, Morrigan, sang Alpha yang biasanya tampak seperti dewa perang yang tak tergoyahkan, sekarang terduduk lemas di lantai. Namun, meski tubuhnya dikhianati oleh darah Lunara, tangannya masih berusaha meraih ujung jemari gadis itu. "Jangan takut!" bisik Morrigan, suaranya nyaris tidak lebih dari sekadar desiran angin. "Aku masih Alpha-mu." "Morrigan, kamu harus menjauh dariku!" tangis Lunara. Ia mencoba mundur ke sudut ruangan, namun ikatan mate bond justru menariknya seperti rantai tak kasat mata. "Lihat dirimu! Aku membunuhmu secara perlahan! Jika aku pergi, kamu akan kuat lagi?" "Tidak, jangan pergi ke tempat yang tidak bisa kujangkau," rintih Morrigan, mencoba mendongak. Morrigan akhirnya berhasil menyentuh ujung jemari Lunara, meski tangannya masih gemetar hebat. Ia bisa mendengar bisikan angin yang membawa kabar buruk. "Mereka merasakannya, Lunara. Para tetua, mereka tidak akan memaafkan kekuatanmu," bisik Morrigan, suaranya serak dan nyaris hilang. Lunara menatap tangannya sendiri yang tadi menghisap kehidupan dari pria yang dicintainya. Tato hitam di lehernya masih berdenyut, seolah haus akan lebih banyak lagi. "Apa yang akan mereka lakukan?" "Mereka akan melakukan apa yang selalu dilakukan para pengecut terhadap hal yang tidak bisa mereka kendalikan," jawab Morrigan, suaranya terputus oleh batuk yang menyakitkan. "Mereka akan menghancurkanmu sebelum kamu sempat menyadari betapa kuatnya dirimu." Belum sempat Lunara membalas, pintu batu kediaman Alpha itu dihantam oleh gelombang energi perak yang menghancurkan engselnya hingga lumat. Debu dan serpihan batu beterbangan, menyelimuti sosok-sosok yang berdiri di ambang pintu. Pasukan Silver-Claw, prajurit elit yang hanya tunduk pada perintah Dewan Tetua merangsek masuk dengan senjata perak yang berkilauan. Di tengah-tengah mereka, Tetua Sheltra melangkah maju, tongkat kayunya mengetuk lantai batu dengan bunyi detak yang terdengar seperti lonceng kematian. "Menjauh dari Omega itu, Morrigan!" perintah Sheltra, suaranya menggelegar penuh otoritas kuno yang menekan udara di ruangan itu. "T-tidak." Morrigan berusaha bangkit, namun kakinya menyerah. Ia terpaksa merangkak, memposisikan tubuhnya yang rapuh di depan Lunara, mencoba menjadi perisai bagi gadis itu meski tanpa aura keemasannya. "Dia pasanganku. Dia milikku." Sheltra menatap Morrigan dengan tatapan dingin dan hampir meremehkan. "Lihatlah dirimu, Morrigan! Kamu memuja kehancuranmu sendiri." Sheltra mengalihkan pandangannya yang tajam kepada Lunara. Tatapannya mendarat tepat pada kerah baju Lunara yang menyembunyikan tato duri hitam. "Bawa gadis itu! Seret dia ke Ruang Penyegelan Darah. Kita akan memutus setiap saraf kekuatannya sampai dia kembali menjadi debu." "Jangan sentuh dia!" jerit Morrigan, namun suaranya hanya terdengar seperti desisan lemah. Dua prajurit Silver-Claw maju tanpa ragu. Mereka tidak menggunakan tangan kosong, melainkan melemparkan rantai perak yang telah dibakar dalam ritual suci. Begitu rantai itu melilit pergelangan tangan Lunara, bau kulit terbakar memenuhi ruangan. "AAAKHHH!" Lunara berteriak kesakitan. Rantai perak itu bukan hanya membakar kulitnya, tapi seolah mencoba menarik keluar paksa energi Alpha-Bane yang baru saja ia serap dari Morrigan. "Lunara!" Morrigan mencoba menerjang, namun seorang prajurit dengan mudah menendang dadanya, membuatnya tersungkur kembali ke lantai. Morrigan memuntahkan darah, matanya yang redup menatap dengan putus asa saat Lunara diseret paksa melewati lantai batu yang dingin. Para tetua berdiri di sana, menatap Lunara dengan jijik, dan mereka yakin bahwa dengan memisahkan sang Omega ke dalam kegelapan pengasingan, mereka telah menyelamatkan sang Alpha. Saat Lunara diseret keluar, tato di lehernya mendadak berpendar merah gelap, warna peringatan. Matanya yang kembali berubah menjadi abu-abu pekat menatap Morrigan yang tergeletak tak berdaya. "Morrigan!" jeritnya untuk terakhir kali sebelum pintu tertutup rapat, menyisakan Morrigan, Tetua Sheltra, dan dua prajurit Silver-Claw dalam kesunyian yang mencekam dengan sisa-sisa harga diri yang telah hancur dan cinta yang sekarang menjadi kutukannya.Morrigan berdiri mematung. Tangannya sudah berada di kenop pintu, namun ia tidak memutarnya. Di dalam kepalanya, bayangan wajah Lunara yang penuh darah dalam sketsa Callum terus berteriak minta dibalas. Namun, dari balik pintu kayu mahoni ini, ia mencium aroma yang sangat kontras, aroma Jasmine yang lembut dan menenangkan yang entah bagaimana mampu menjinakkan serigalanya yang tengah murka. Ia mendorong pintu itu pelan. Ravenna sedang duduk di dekat jendela dan wajahnya diterpa cahaya sore yang mulai meredup. Ia tampak sedang melamun, memilin ujung rambut hitamnya dengan ekspresi yang begitu tenang. Saat mendengar derit pintu, ia menoleh dan segera berdiri dengan canggung. "Tuan, Anda sudah kembali?" suara Ravenna lembut, membawa frekuensi yang membuat denyut amarah di pelipis Morrigan perlahan mereda. Morrigan tidak menjawab. Ia melangkah masuk dan membiarkan pintu tertutup di belakangnya. Ia menatap Ravenna lekat-lekat dan mencari jejak kebohongan atau ancaman, namun yang ia
Silas berdiri dengan sikap tegap, namun ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan dari panca indra Morrigan yang tajam. Ia memberi isyarat agar sang Alpha mengikutinya menuju ruang rekreasi kecil di sayap kanan penthouse, tempat Ezra sedang duduk terdiam menatap keluar jendela kaca besar yang menghadap ke arah Taman Kota Starfield. Anak laki-laki itu tampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Bahunya merosot dan kedua tangannya saling bertaut erat di pangkuan. Morrigan mendekat dan langkahnya yang biasanya mengintimidasi sekarang melambat. Ia bisa langsung menebak apa yang mengganggu pikiran anak itu. Pemandangan mengerikan di taman, darah, dan jasad petugas kebersihan taman yang tercabik-cabik bukanlah sesuatu yang seharusnya dilihat oleh anak seusia Ezra. "Ezra," panggil Morrigan rendah. Ia duduk di kursi sebelah anak itu. "Seharusnya aku tidak membawamu ke sana tadi pagi. Maafkan aku!" Ezra tidak langsung menjawab. Ia menoleh perlahan dan matanya yang besar tampak menyim
Keheningan di penthouse Raventhorn terasa semakin pekat seiring matahari yang merayap naik, dan menyinari sudut-sudut ruangan yang dipenuhi furnitur minimalis namun berharga selangit. Ravenna masih berdiri di balkon, membiarkan angin pagi memainkan ujung rambutnya yang hitam pekat. Ia kembali masuk ke dalam dan langkahnya nyaris tak terdengar di atas karpet beludru. Matanya menyapu ruangan, sebuah piano besar di sudut, deretan buku bersampul kulit, dan karya seni abstrak yang menghiasi dinding. Semuanya berteriak tentang kekuasaan dan kontrol. Ia merasa seperti debu yang terselip di sela-sela kemewahan ini. “Ravenna?” suara lembut Marva memecah lamunannya. Wanita tua itu muncul dari arah pintu masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan teh Jasmine yang aromanya langsung memenuhi ruangan. “Nerina sudah mulai makan sarapannya,” lanjut Marva sambil meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. “Anak itu dia punya hati yang besar, meskipun kadang imajinasinya melompat terlalu ja
Di dalam kemegahan penthouse Raventhorn yang seolah menyentuh langit Starfield, keheningan pagi terasa begitu menyesakkan bagi Ravenna. Setelah kata-kata polos Nerina masih menggantung di udara. Nerina masih menatapnya dengan binar harapan yang terpancar dari sorot matanya, jemari kecilnya masih menggenggam tangan Ravenna. Di samping mereka, Marva hanya bisa terdiam, raut wajahnya menunjukkan perpaduan antara rasa iba dan keterkejutan. "Nerina Sayang," suara Ravenna keluar dengan lembut dan hampir seperti bisikan. Ia membawa tangan kecil Nerina ke dalam kedua telapak tangannya. "Kenapa Kakak diam saja? Kakak tidak mau ya?" tanya Nerina dan matanya mulai berkaca-kaca. Ravenna tersenyum kecil, namun matanya memancarkan kesedihan. "Bukannya tidak mau, Sayang hanya saja menjadi seorang Ibu itu bukan hal yang mudah. Itu tugas yang sangat besar." "Tapi Kakak baik," sela Nerina cepat. "Papa juga tidak marah saat Kakak tidur di sini. Papa suka Kakak, aku bisa merasakannya!" Ravenn
Morrigan melirik Ravenna sekali lagi dan tatapan matanya berubah menjadi tajam dan penuh kewaspadaan sebelum ia keluar dengan langkah terburu-buru meninggalkan Ravenna yang kembali dilingkupi rasa cemas yang tak berujung. Pintu kamar tertutup dengan dentuman halus, meninggalkan getaran di udara yang masih terasa berat. Ravenna bersandar pada bantal yang baru saja dirapikan Morrigan dan masih bisa merasakan sisa kehangatan pria itu masih menyelimuti jemarinya. Aroma sandalwood yang tertinggal seolah menjadi benteng terakhir yang menjaganya dari ketakutan luar biasa semalam. Tak lama kemudian, Marva masuk kembali. Wajahnya yang keriput tampak gundah dan matanya menatap pintu seolah bisa menembus dinding beton menara itu. "Nenek, apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?" bisik Ravenna lirih. "Tuan Morrigan, raut wajahnya berubah menegangkan saat menerima telepon tadi." Marva duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Ravenna erat-erat. "Dunia di luar sana sedang tidak tenang,
Matahari pagi menyentuh pucuk-pucuk pohon di taman kota Starfield, memberikan semburat jingga yang seharusnya menenangkan. Seorang karyawati bank sedang berjalan tergesa-gesa melintasi jalur pedestrian taman dengan tas kantor yang tersampir di bahu. Udara pagi itu segar dan ia sempat menghirupnya dalam-dalam sebelum indra penciumannya menangkap sesuatu yang tidak beres, bau karat yang menusuk, amis dan pekat. Langkahnya melambat saat matanya menangkap siluet sesuatu yang tergeletak di atas rerumputan hijau yang masih basah oleh embun. Awalnya ia mengira itu hanya tunawisma yang tertidur, namun saat jaraknya hanya tersisa beberapa langkah, wanita itu membeku. Di bawah naungan pohon ek besar, seorang pria muda terbujur kaku dengan posisi yang mengerikan. Pakaian kerjanya robek menjadi serpihan kecil, tapi bukan itu yang membuat jantung wanita itu seolah berhenti berdetak. Leher dan dada pria itu hancur, terkoyak secara brutal seolah-olah dihantam oleh mesin pemotong raksasa yang la







