Mag-log inTepat saat Morrigan hendak melompat keluar melalui jendela yang pecah, suara derit pintu kayu yang tersisa di engselnya terdengar memilukan. Seorang pemuda berpakaian kerja khas buruh dermag dengan rompi neon yang kotor dan sepatu bot berlumpur, melangkah masuk sambil membawa sekantong makanan hangat. "Kakek? Aku membawakan makan siang untukmu, maaf aku terlambat ...." Kalimat itu terputus di udara. Kantong plastik di tangannya jatuh ke lantai, menumpahkan isinya di atas genangan darah yang mulai mendingin. Mata pemuda itu membelalak lebar, wajahnya seketika pucat pasi saat melihat tubuh kaku di tengah ruangan, lalu beralih menatap dua pria asing yang berdiri di sana. "Apa yang kalian lakukan?" suaranya bergetar hebat. "Kakek! Tidak!" Pemuda itu hendak berlari menghampiri jasad tersebut, namun Morrigan dengan sigap menghadang jalannya. Gerakan Morrigan begitu cepat hingga pemuda itu tersentak mundur dan jatuh terduduk di lantai. "Jangan mendekat!" perintah Morrigan dengan nad
Morrigan berdiri mematung. Tangannya sudah berada di kenop pintu, namun ia tidak memutarnya. Di dalam kepalanya, bayangan wajah Lunara yang penuh darah dalam sketsa Callum terus berteriak minta dibalas. Namun, dari balik pintu kayu mahoni ini, ia mencium aroma yang sangat kontras, aroma Jasmine yang lembut dan menenangkan yang entah bagaimana mampu menjinakkan serigalanya yang tengah murka. Ia mendorong pintu itu pelan. Ravenna sedang duduk di dekat jendela dan wajahnya diterpa cahaya sore yang mulai meredup. Ia tampak sedang melamun, memilin ujung rambut hitamnya dengan ekspresi yang begitu tenang. Saat mendengar derit pintu, ia menoleh dan segera berdiri dengan canggung. "Tuan, Anda sudah kembali?" suara Ravenna lembut, membawa frekuensi yang membuat denyut amarah di pelipis Morrigan perlahan mereda. Morrigan tidak menjawab. Ia melangkah masuk dan membiarkan pintu tertutup di belakangnya. Ia menatap Ravenna lekat-lekat dan mencari jejak kebohongan atau ancaman, namun yang ia
Silas berdiri dengan sikap tegap, namun ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan dari panca indra Morrigan yang tajam. Ia memberi isyarat agar sang Alpha mengikutinya menuju ruang rekreasi kecil di sayap kanan penthouse, tempat Ezra sedang duduk terdiam menatap keluar jendela kaca besar yang menghadap ke arah Taman Kota Starfield. Anak laki-laki itu tampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Bahunya merosot dan kedua tangannya saling bertaut erat di pangkuan. Morrigan mendekat dan langkahnya yang biasanya mengintimidasi sekarang melambat. Ia bisa langsung menebak apa yang mengganggu pikiran anak itu. Pemandangan mengerikan di taman, darah, dan jasad petugas kebersihan taman yang tercabik-cabik bukanlah sesuatu yang seharusnya dilihat oleh anak seusia Ezra. "Ezra," panggil Morrigan rendah. Ia duduk di kursi sebelah anak itu. "Seharusnya aku tidak membawamu ke sana tadi pagi. Maafkan aku!" Ezra tidak langsung menjawab. Ia menoleh perlahan dan matanya yang besar tampak menyim
Keheningan di penthouse Raventhorn terasa semakin pekat seiring matahari yang merayap naik, dan menyinari sudut-sudut ruangan yang dipenuhi furnitur minimalis namun berharga selangit. Ravenna masih berdiri di balkon, membiarkan angin pagi memainkan ujung rambutnya yang hitam pekat. Ia kembali masuk ke dalam dan langkahnya nyaris tak terdengar di atas karpet beludru. Matanya menyapu ruangan, sebuah piano besar di sudut, deretan buku bersampul kulit, dan karya seni abstrak yang menghiasi dinding. Semuanya berteriak tentang kekuasaan dan kontrol. Ia merasa seperti debu yang terselip di sela-sela kemewahan ini. “Ravenna?” suara lembut Marva memecah lamunannya. Wanita tua itu muncul dari arah pintu masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan teh Jasmine yang aromanya langsung memenuhi ruangan. “Nerina sudah mulai makan sarapannya,” lanjut Marva sambil meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. “Anak itu dia punya hati yang besar, meskipun kadang imajinasinya melompat terlalu ja
Di dalam kemegahan penthouse Raventhorn yang seolah menyentuh langit Starfield, keheningan pagi terasa begitu menyesakkan bagi Ravenna. Setelah kata-kata polos Nerina masih menggantung di udara. Nerina masih menatapnya dengan binar harapan yang terpancar dari sorot matanya, jemari kecilnya masih menggenggam tangan Ravenna. Di samping mereka, Marva hanya bisa terdiam, raut wajahnya menunjukkan perpaduan antara rasa iba dan keterkejutan. "Nerina Sayang," suara Ravenna keluar dengan lembut dan hampir seperti bisikan. Ia membawa tangan kecil Nerina ke dalam kedua telapak tangannya. "Kenapa Kakak diam saja? Kakak tidak mau ya?" tanya Nerina dan matanya mulai berkaca-kaca. Ravenna tersenyum kecil, namun matanya memancarkan kesedihan. "Bukannya tidak mau, Sayang hanya saja menjadi seorang Ibu itu bukan hal yang mudah. Itu tugas yang sangat besar." "Tapi Kakak baik," sela Nerina cepat. "Papa juga tidak marah saat Kakak tidur di sini. Papa suka Kakak, aku bisa merasakannya!" Ravenn
Morrigan melirik Ravenna sekali lagi dan tatapan matanya berubah menjadi tajam dan penuh kewaspadaan sebelum ia keluar dengan langkah terburu-buru meninggalkan Ravenna yang kembali dilingkupi rasa cemas yang tak berujung. Pintu kamar tertutup dengan dentuman halus, meninggalkan getaran di udara yang masih terasa berat. Ravenna bersandar pada bantal yang baru saja dirapikan Morrigan dan masih bisa merasakan sisa kehangatan pria itu masih menyelimuti jemarinya. Aroma sandalwood yang tertinggal seolah menjadi benteng terakhir yang menjaganya dari ketakutan luar biasa semalam. Tak lama kemudian, Marva masuk kembali. Wajahnya yang keriput tampak gundah dan matanya menatap pintu seolah bisa menembus dinding beton menara itu. "Nenek, apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?" bisik Ravenna lirih. "Tuan Morrigan, raut wajahnya berubah menegangkan saat menerima telepon tadi." Marva duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Ravenna erat-erat. "Dunia di luar sana sedang tidak tenang,







