Compartir

Bab 7

Autor: Miarosa
last update Fecha de publicación: 2026-04-15 08:25:44

Langit mulai menggelap ketika langkah Darian benar-benar menghilang di balik hutan utara. Angin yang semula hanya berembus berubah lebih dingin seolah wilayah itu sendiri menelan satu jiwa lagi ke dalam kebuasannya.

Lapangan pack masih diselimuti ketegangan yang belum sepenuhnya reda, tidak ada satu pun yang berani bersuara, bahkan para beta muda masih merasakan sisa tekanan dominasi yang tadi menghantam seperti badai.

Morrigan berdiri tegak di tengah lapangan dengan rahang yang mengeras. Tatapannya tidak lagi pada para anggota pack melainkan pada arah hutan tempat Darian pergi. Ia akhirnya berbalik meninggalkan lapangan. Para anggota pack otomatis menunduk memberi jalan.

Diantara mereka tidak ada yang berani menatapnya langsung. Namun satu orang tidak ada di sana padahal ia tadi sudah membebaskan gadis itu dari ikatan rantainya.

Jantung Morrigan berdetak lebih berat dari biasanya dan tanpa berkata apa pun, ia langsung bergerak menuju kediamannya tempat Lunara selama ini ditempatkan agak jauh dari pusat pack.

Saat pintu batu itu terbuka, aroma lembut khas Lunara langsung menyambutnya. Lunara duduk di sudut ruangan dengan lutut ditarik ke dada mencoba menyembunyikan diri dalam bayang-bayang. Matanya sedikit membesar saat melihat Morrigan yang sekarang tidak memakai topeng di wajahnya lagi. Topeng yang biasanya menyembunyikan identitasnya dan ketampanan Morrigan justru terasa mengintimidasi. Wajahnya adalah perpaduan antara pahatan klasik yang sempurna dan kekejaman alami seorang predator.

Sepasang mata tajam berwarna hitam itu sekarang menatap Lunara dan tidak lagi membara dengan kemarahan, tapi meredup menjadi tatapan yang penuh intensitas posesif.

Lunara menelan ludah dan detak jantungnya berpacu liar. “Apa yang terjadi di luar?”

Morrigan tidak langsung menjawabnya. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah mendekat perlahan. Ia tidak mengenakan jubah kebesarannya lagi hanya kemeja hitam longgar yang gagal menyembunyikan otot-otot dadanya yang keras dan setiap gerakannya memancarkan kekuatan seekor Alpha yang mendominasi, membuat udara di ruangan terasa menjadi sempit dan menyesakkan.

“Aku sudah menanganinya,” ucapnya singkat.

Lunara mengerutkan kening. “Menangani atau menghancurkan?”

Ada nada tajam di sana. Biasanya tidak ada yang berani berbicara seperti itu pada Alpha, tapi Morrigan tidak marah. Ia justru melangkah lebih dekat lagi, lalu berhenti tepat di depan Lunara dengan tubuh menjulang tinggi seperti bayangan malam yang megah dan menatapnya dalam diam selama beberapa detik.

Lunara tertegun, tangan Morrigan yang besar perlahan terangkat, jari-jarinya yang panjang dan kuat bergerak mendekati wajah Lunara. Refleks, Lunara memejamkan mata, menunggu sentuhan kasar atau bahkan hukuman karena statusnya yang terlarang. Namun, yang ia rasakan adalah sentuhan lembut yang tak terduga. Punggung jari Morrigan mengusap pipi Lunara dengan kelembutan yang sangat kontras dengan penampilannya yang garang.

“Kadang keduanya adalah hal yang sama," jawab Morrigan dengan suara rendah dan berat.

Lunara menghela napas pelan, tapi matanya tidak menghindar. “Dan itu selalu jadi jawabanmu, Alpha."

Ada sesuatu cara ia menyebut gelar itu bukan hormat, tapi jarak. Rahang Morrigan menegang. Ia tidak menyukai nada itu. Tidak dari siapa pun dan terlebih lagi tidak dari Lunara.

“Jangan gunakan nada itu padaku!" desisnya, lalu membungkuk hingga wajah tampannya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lunara. Aroma tubuh Morrigan yang maskulin, kayu cendana, sekarang bercampur dengan aromanya sendiri, menciptakan keharuman memabukkan yang mengunci nalar.

“Aku bagian dari masalahnya, kan?” balas Lunara lirih. “Semua ini karena aku.”

Tatapan Morrigan langsung mengeras. Dalam satu gerakan cepat, ia menarik Lunara mendekat cukup kuat untuk membuat tubuh gadis itu bersentuhan dengan dadanya, tapi tidak menyakitkan.

“Jangan pernah mengatakan itu lagi!"

Suaranya rendah dan bergetar oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perintah.

Lunara bisa merasakan detak jantungnya kuat, cepat, dan tidak stabil.

“Aku memilihmu sebagai pasanganku," ucap Morrigan.

Morrigan mengucapkannya dengan nada yang begitu mutlak, seolah ia sedang menantang semesta untuk membantahnya. Ia adalah Alpha yang ditakuti, namun di depan Lunara, topeng kekuasaannya retak.

​Lunara gemetar. Ia bisa merasakan getaran mate bond yang menyengat di bawah kulitnya, sebuah tarikan magnetis yang mencoba menyatukan jiwanya dengan sang Alpha. Namun, rasa takut masih membayangi matanya yang jernih dan napasnya tercekat.

“Tapi aku bukan siapa-siapa di pack ini. Aku hanya seorang omega terbuang. Kamu tahu kan, aku berasal dari garis keturunan yang memiliki kekuatan Alpha-Bane dan mereka tidak suka, kita menjadi pasangan. Itu sebabnya mereka membenciku dan keluargaku, seharusnya mate bond ini tidak terjadi. Aku bahkan tidak ...."

“Kamu milikku.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Mata Lunara melebar. Ia ingin menyangkal dan ingin melawan, tapi tubuhnya justru membeku saat Morrigan menunduk sedikit dan dahinya hampir menyentuh miliknya. Aroma alpha itu semakin kuat, membungkusnya, dan menekan naluri terdalamnya.

Mata Lunara yang sewarna perak berkaca-kaca. "Bagaimana mungkin Dewi Bulan melakukan kesalahan sebesar ini?"

"Dewi Bulan tidak pernah membuat kesalahan, Lunara," bisik Morrigan dan suaranya sekarang melunak, namun penuh intensitas. "Selama ini mereka menyebutmu 'terlarang' karena mereka takut pada kekuatan yang tidak mereka pahami, tapi saat tanganku menyentuhmu, aku merasakannya. Aku merasakan restu Sang Dewi mengalir di nadiku."

Suara Morrigan terdengar lebih berat, ada sedikit usaha keras di dalamnya. Ia bisa merasakan lututnya sedikit goyah, sebuah sensasi kelemahan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya dan ia tahu sumber penyebabnya adalah Lunara, kekuatannya sedikit demi sedikit mulai muncul untuk melemahkannya.

Saat itu juga tanpa ada peringatan, kegelapan di dalam diri Lunara, kekuatan Alpha-Bane yang tersembunyi jauh di dalam darahnya mulai berdesir. Ia merasakan dorongan insting yang aneh bukan untuk menyerah, tapi untuk menaklukkan.

​Tiba-tiba mata Lunara terbuka, warnanya berubah dari perak jernih menjadi abu-abu gelap yang pekat dalam sedetik.

​"Pilihanmu adalah kejatuhanmu, Morrigan," jawab Lunara dan suaranya mendadak tidak lagi gemetar, melainkan terdengar tenang dan sedikit dingin.

​Morrigan tersentak dan sedikit mengernyit saat merasakan sentuhan Lunara di pipinya mendadak terasa dingin, seperti es yang menyerap panas tubuhnya, tapi sebelum ia sempat memproses rasa asing itu, hasrat posesif sebagai mate mengalahkan logikanya.

Morrigan tidak menarik diri, meskipun rasa dingin itu merayap di sepanjang tulang belakangnya dan insting serigalanya justru semakin menggila, sebuah dorongan untuk tetap mendekat meskipun api di dalam dirinya perlahan meredup. Ia tidak tahu bahwa pada saat itu, di balik kain lengan baju Lunara yang panjang, tato sulur perak mulai merambat naik, melilit pergelangan tangannya seiring dengan kekuatan Alpha-Bane yang mulai terbangun.

​"Jika ini adalah kejatuhanku, maka biarlah aku jatuh sedalam-dalamnya," geram Morrigan dan suaranya sekarang terdengar lebih mirip bisikan predator yang terluka.

​Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Lunara, menghirup aroma melati yang sekarang terasa lebih tajam, dan mendominasi. Namun, sensasi aneh mulai melanda. Lutut Morrigan bergetar hebat. Kekuatan yang biasanya membuat para Beta bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan, sekarang seolah mengalir keluar dari pori-pori kulitnya, terserap habis oleh kehadiran Lunara.

Lunara yang sekarang matanya masih berkilat abu-abu gelap bisa merasakan perubahan itu secara fisik. Rasa takut yang sedari tadi menghimpit dadanya telah lenyap, digantikan oleh gelombang kepercayaan diri yang asing dan memabukkan. Ia bisa merasakan detak jantung Morrigan yang melemah di bawah telapak tangannya dan anehnya hal itu membuatnya merasa berkuasa.

​"Morrigan, lepaskan!" suara Lunara tidak lagi mengandung keraguan. Ia meletakkan tangannya di dada Morrigan, bermaksud mendorongnya, namun sentuhan itu justru mempercepat proses penyerapan energi tersebut.

Tato sulur di pergelangan tangan Lunara sekarang telah mencapai lehernya dan membentuk pola duri hitam yang kontras dengan kulit pucatnya. Setiap kali duri itu memanjang, Morrigan merasakan pandangannya mengabur. Otoritas mutlak yang menjadi identitasnya sebagai Alpha mulai terkikis dan menyisakan kerentanan manusiawi yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

Morrigan terengah dan kepalanya terkulai di bahu Lunara. "Apa yang kamu lakukan padaku?"

catatan:

Alpha-Bane adalah sesuatu yang ditakdirkan untuk meruntuhkan kekuasaan, kekuatan, atau nyawa seorang Alpha.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 29

    Morrigan berdiri mematung. Tangannya sudah berada di kenop pintu, namun ia tidak memutarnya. Di dalam kepalanya, bayangan wajah Lunara yang penuh darah dalam sketsa Callum terus berteriak minta dibalas. Namun, dari balik pintu kayu mahoni ini, ia mencium aroma yang sangat kontras, aroma Jasmine yang lembut dan menenangkan yang entah bagaimana mampu menjinakkan serigalanya yang tengah murka. ​Ia mendorong pintu itu pelan. Ravenna sedang duduk di dekat jendela dan wajahnya diterpa cahaya sore yang mulai meredup. Ia tampak sedang melamun, memilin ujung rambut hitamnya dengan ekspresi yang begitu tenang. Saat mendengar derit pintu, ia menoleh dan segera berdiri dengan canggung. ​"Tuan, Anda sudah kembali?" suara Ravenna lembut, membawa frekuensi yang membuat denyut amarah di pelipis Morrigan perlahan mereda. ​Morrigan tidak menjawab. Ia melangkah masuk dan membiarkan pintu tertutup di belakangnya. Ia menatap Ravenna lekat-lekat dan mencari jejak kebohongan atau ancaman, namun yang ia

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 28

    Silas berdiri dengan sikap tegap, namun ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan dari panca indra Morrigan yang tajam. Ia memberi isyarat agar sang Alpha mengikutinya menuju ruang rekreasi kecil di sayap kanan penthouse, tempat Ezra sedang duduk terdiam menatap keluar jendela kaca besar yang menghadap ke arah Taman Kota Starfield. ​Anak laki-laki itu tampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Bahunya merosot dan kedua tangannya saling bertaut erat di pangkuan. Morrigan mendekat dan langkahnya yang biasanya mengintimidasi sekarang melambat. Ia bisa langsung menebak apa yang mengganggu pikiran anak itu. Pemandangan mengerikan di taman, darah, dan jasad petugas kebersihan taman yang tercabik-cabik bukanlah sesuatu yang seharusnya dilihat oleh anak seusia Ezra. ​"Ezra," panggil Morrigan rendah. Ia duduk di kursi sebelah anak itu. "Seharusnya aku tidak membawamu ke sana tadi pagi. Maafkan aku!" ​Ezra tidak langsung menjawab. Ia menoleh perlahan dan matanya yang besar tampak menyim

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 27

    Keheningan di penthouse Raventhorn terasa semakin pekat seiring matahari yang merayap naik, dan menyinari sudut-sudut ruangan yang dipenuhi furnitur minimalis namun berharga selangit. Ravenna masih berdiri di balkon, membiarkan angin pagi memainkan ujung rambutnya yang hitam pekat. Ia kembali masuk ke dalam dan langkahnya nyaris tak terdengar di atas karpet beludru. Matanya menyapu ruangan, sebuah piano besar di sudut, deretan buku bersampul kulit, dan karya seni abstrak yang menghiasi dinding. Semuanya berteriak tentang kekuasaan dan kontrol. Ia merasa seperti debu yang terselip di sela-sela kemewahan ini. ​“Ravenna?” suara lembut Marva memecah lamunannya. Wanita tua itu muncul dari arah pintu masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan teh Jasmine yang aromanya langsung memenuhi ruangan. ​“Nerina sudah mulai makan sarapannya,” lanjut Marva sambil meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. “Anak itu dia punya hati yang besar, meskipun kadang imajinasinya melompat terlalu ja

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 26

    Di dalam kemegahan penthouse Raventhorn yang seolah menyentuh langit Starfield, keheningan pagi terasa begitu menyesakkan bagi Ravenna. Setelah kata-kata polos Nerina masih menggantung di udara. ​Nerina masih menatapnya dengan binar harapan yang terpancar dari sorot matanya, jemari kecilnya masih menggenggam tangan Ravenna. Di samping mereka, Marva hanya bisa terdiam, raut wajahnya menunjukkan perpaduan antara rasa iba dan keterkejutan. ​"Nerina Sayang," suara Ravenna keluar dengan lembut dan hampir seperti bisikan. Ia membawa tangan kecil Nerina ke dalam kedua telapak tangannya. ​"Kenapa Kakak diam saja? Kakak tidak mau ya?" tanya Nerina dan matanya mulai berkaca-kaca. ​Ravenna tersenyum kecil, namun matanya memancarkan kesedihan. "Bukannya tidak mau, Sayang hanya saja menjadi seorang Ibu itu bukan hal yang mudah. Itu tugas yang sangat besar." ​"Tapi Kakak baik," sela Nerina cepat. "Papa juga tidak marah saat Kakak tidur di sini. Papa suka Kakak, aku bisa merasakannya!" ​Ravenn

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 25

    Morrigan melirik Ravenna sekali lagi dan tatapan matanya berubah menjadi tajam dan penuh kewaspadaan sebelum ia keluar dengan langkah terburu-buru meninggalkan Ravenna yang kembali dilingkupi rasa cemas yang tak berujung. Pintu kamar tertutup dengan dentuman halus, meninggalkan getaran di udara yang masih terasa berat. Ravenna bersandar pada bantal yang baru saja dirapikan Morrigan dan masih bisa merasakan sisa kehangatan pria itu masih menyelimuti jemarinya. Aroma sandalwood yang tertinggal seolah menjadi benteng terakhir yang menjaganya dari ketakutan luar biasa semalam. ​Tak lama kemudian, Marva masuk kembali. Wajahnya yang keriput tampak gundah dan matanya menatap pintu seolah bisa menembus dinding beton menara itu. ​"Nenek, apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?" bisik Ravenna lirih. "Tuan Morrigan, raut wajahnya berubah menegangkan saat menerima telepon tadi." ​Marva duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Ravenna erat-erat. "Dunia di luar sana sedang tidak tenang,

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 24

    Matahari pagi menyentuh pucuk-pucuk pohon di taman kota Starfield, memberikan semburat jingga yang seharusnya menenangkan. Seorang karyawati bank sedang berjalan tergesa-gesa melintasi jalur pedestrian taman dengan tas kantor yang tersampir di bahu. Udara pagi itu segar dan ia sempat menghirupnya dalam-dalam sebelum indra penciumannya menangkap sesuatu yang tidak beres, bau karat yang menusuk, amis dan pekat. ​Langkahnya melambat saat matanya menangkap siluet sesuatu yang tergeletak di atas rerumputan hijau yang masih basah oleh embun. Awalnya ia mengira itu hanya tunawisma yang tertidur, namun saat jaraknya hanya tersisa beberapa langkah, wanita itu membeku. ​Di bawah naungan pohon ek besar, seorang pria muda terbujur kaku dengan posisi yang mengerikan. Pakaian kerjanya robek menjadi serpihan kecil, tapi bukan itu yang membuat jantung wanita itu seolah berhenti berdetak. Leher dan dada pria itu hancur, terkoyak secara brutal seolah-olah dihantam oleh mesin pemotong raksasa yang la

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status