Se connecterLangit mulai menggelap ketika langkah Darian benar-benar menghilang di balik hutan utara. Angin yang semula hanya berembus berubah lebih dingin seolah wilayah itu sendiri menelan satu jiwa lagi ke dalam kebuasannya.
Lapangan pack masih diselimuti ketegangan yang belum sepenuhnya reda, tidak ada satu pun yang berani bersuara, bahkan para beta muda masih merasakan sisa tekanan dominasi yang tadi menghantam seperti badai. Morrigan berdiri tegak di tengah lapangan dengan rahang yang mengeras. Tatapannya tidak lagi pada para anggota pack melainkan pada arah hutan tempat Darian pergi. Ia akhirnya berbalik meninggalkan lapangan. Para anggota pack otomatis menunduk memberi jalan. Diantara mereka tidak ada yang berani menatapnya langsung. Namun satu orang tidak ada di sana padahal ia tadi sudah membebaskan gadis itu dari ikatan rantainya. Jantung Morrigan berdetak lebih berat dari biasanya dan tanpa berkata apa pun, ia langsung bergerak menuju kediamannya tempat Lunara selama ini ditempatkan agak jauh dari pusat pack. Saat pintu batu itu terbuka, aroma lembut khas Lunara langsung menyambutnya. Lunara duduk di sudut ruangan dengan lutut ditarik ke dada mencoba menyembunyikan diri dalam bayang-bayang. Matanya sedikit membesar saat melihat Morrigan yang sekarang tidak memakai topeng di wajahnya lagi. Topeng yang biasanya menyembunyikan identitasnya dan ketampanan Morrigan justru terasa mengintimidasi. Wajahnya adalah perpaduan antara pahatan klasik yang sempurna dan kekejaman alami seorang predator. Sepasang mata tajam berwarna hitam itu sekarang menatap Lunara dan tidak lagi membara dengan kemarahan, tapi meredup menjadi tatapan yang penuh intensitas posesif. Lunara menelan ludah dan detak jantungnya berpacu liar. “Apa yang terjadi di luar?” Morrigan tidak langsung menjawabnya. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah mendekat perlahan. Ia tidak mengenakan jubah kebesarannya lagi hanya kemeja hitam longgar yang gagal menyembunyikan otot-otot dadanya yang keras dan setiap gerakannya memancarkan kekuatan seekor Alpha yang mendominasi, membuat udara di ruangan terasa menjadi sempit dan menyesakkan. “Aku sudah menanganinya,” ucapnya singkat. Lunara mengerutkan kening. “Menangani atau menghancurkan?” Ada nada tajam di sana. Biasanya tidak ada yang berani berbicara seperti itu pada Alpha, tapi Morrigan tidak marah. Ia justru melangkah lebih dekat lagi, lalu berhenti tepat di depan Lunara dengan tubuh menjulang tinggi seperti bayangan malam yang megah dan menatapnya dalam diam selama beberapa detik. Lunara tertegun, tangan Morrigan yang besar perlahan terangkat, jari-jarinya yang panjang dan kuat bergerak mendekati wajah Lunara. Refleks, Lunara memejamkan mata, menunggu sentuhan kasar atau bahkan hukuman karena statusnya yang terlarang. Namun, yang ia rasakan adalah sentuhan lembut yang tak terduga. Punggung jari Morrigan mengusap pipi Lunara dengan kelembutan yang sangat kontras dengan penampilannya yang garang. “Kadang keduanya adalah hal yang sama," jawab Morrigan dengan suara rendah dan berat. Lunara menghela napas pelan, tapi matanya tidak menghindar. “Dan itu selalu jadi jawabanmu, Alpha." Ada sesuatu cara ia menyebut gelar itu bukan hormat, tapi jarak. Rahang Morrigan menegang. Ia tidak menyukai nada itu. Tidak dari siapa pun dan terlebih lagi tidak dari Lunara. “Jangan gunakan nada itu padaku!" desisnya, lalu membungkuk hingga wajah tampannya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lunara. Aroma tubuh Morrigan yang maskulin, kayu cendana, sekarang bercampur dengan aromanya sendiri, menciptakan keharuman memabukkan yang mengunci nalar. “Aku bagian dari masalahnya, kan?” balas Lunara lirih. “Semua ini karena aku.” Tatapan Morrigan langsung mengeras. Dalam satu gerakan cepat, ia menarik Lunara mendekat cukup kuat untuk membuat tubuh gadis itu bersentuhan dengan dadanya, tapi tidak menyakitkan. “Jangan pernah mengatakan itu lagi!" Suaranya rendah dan bergetar oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perintah. Lunara bisa merasakan detak jantungnya kuat, cepat, dan tidak stabil. “Aku memilihmu sebagai pasanganku," ucap Morrigan. Morrigan mengucapkannya dengan nada yang begitu mutlak, seolah ia sedang menantang semesta untuk membantahnya. Ia adalah Alpha yang ditakuti, namun di depan Lunara, topeng kekuasaannya retak. Lunara gemetar. Ia bisa merasakan getaran mate bond yang menyengat di bawah kulitnya, sebuah tarikan magnetis yang mencoba menyatukan jiwanya dengan sang Alpha. Namun, rasa takut masih membayangi matanya yang jernih dan napasnya tercekat. “Tapi aku bukan siapa-siapa di pack ini. Aku hanya seorang omega terbuang. Kamu tahu kan, aku berasal dari garis keturunan yang memiliki kekuatan Alpha-Bane dan mereka tidak suka, kita menjadi pasangan. Itu sebabnya mereka membenciku dan keluargaku, seharusnya mate bond ini tidak terjadi. Aku bahkan tidak ...." “Kamu milikku.” Kalimat itu keluar begitu saja. Mata Lunara melebar. Ia ingin menyangkal dan ingin melawan, tapi tubuhnya justru membeku saat Morrigan menunduk sedikit dan dahinya hampir menyentuh miliknya. Aroma alpha itu semakin kuat, membungkusnya, dan menekan naluri terdalamnya. Mata Lunara yang sewarna perak berkaca-kaca. "Bagaimana mungkin Dewi Bulan melakukan kesalahan sebesar ini?" "Dewi Bulan tidak pernah membuat kesalahan, Lunara," bisik Morrigan dan suaranya sekarang melunak, namun penuh intensitas. "Selama ini mereka menyebutmu 'terlarang' karena mereka takut pada kekuatan yang tidak mereka pahami, tapi saat tanganku menyentuhmu, aku merasakannya. Aku merasakan restu Sang Dewi mengalir di nadiku." Suara Morrigan terdengar lebih berat, ada sedikit usaha keras di dalamnya. Ia bisa merasakan lututnya sedikit goyah, sebuah sensasi kelemahan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya dan ia tahu sumber penyebabnya adalah Lunara, kekuatannya sedikit demi sedikit mulai muncul untuk melemahkannya. Saat itu juga tanpa ada peringatan, kegelapan di dalam diri Lunara, kekuatan Alpha-Bane yang tersembunyi jauh di dalam darahnya mulai berdesir. Ia merasakan dorongan insting yang aneh bukan untuk menyerah, tapi untuk menaklukkan. Tiba-tiba mata Lunara terbuka, warnanya berubah dari perak jernih menjadi abu-abu gelap yang pekat dalam sedetik. "Pilihanmu adalah kejatuhanmu, Morrigan," jawab Lunara dan suaranya mendadak tidak lagi gemetar, melainkan terdengar tenang dan sedikit dingin. Morrigan tersentak dan sedikit mengernyit saat merasakan sentuhan Lunara di pipinya mendadak terasa dingin, seperti es yang menyerap panas tubuhnya, tapi sebelum ia sempat memproses rasa asing itu, hasrat posesif sebagai mate mengalahkan logikanya. Morrigan tidak menarik diri, meskipun rasa dingin itu merayap di sepanjang tulang belakangnya dan insting serigalanya justru semakin menggila, sebuah dorongan untuk tetap mendekat meskipun api di dalam dirinya perlahan meredup. Ia tidak tahu bahwa pada saat itu, di balik kain lengan baju Lunara yang panjang, tato sulur perak mulai merambat naik, melilit pergelangan tangannya seiring dengan kekuatan Alpha-Bane yang mulai terbangun. "Jika ini adalah kejatuhanku, maka biarlah aku jatuh sedalam-dalamnya," geram Morrigan dan suaranya sekarang terdengar lebih mirip bisikan predator yang terluka. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Lunara, menghirup aroma melati yang sekarang terasa lebih tajam, dan mendominasi. Namun, sensasi aneh mulai melanda. Lutut Morrigan bergetar hebat. Kekuatan yang biasanya membuat para Beta bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan, sekarang seolah mengalir keluar dari pori-pori kulitnya, terserap habis oleh kehadiran Lunara. Lunara yang sekarang matanya masih berkilat abu-abu gelap bisa merasakan perubahan itu secara fisik. Rasa takut yang sedari tadi menghimpit dadanya telah lenyap, digantikan oleh gelombang kepercayaan diri yang asing dan memabukkan. Ia bisa merasakan detak jantung Morrigan yang melemah di bawah telapak tangannya dan anehnya hal itu membuatnya merasa berkuasa. "Morrigan, lepaskan!" suara Lunara tidak lagi mengandung keraguan. Ia meletakkan tangannya di dada Morrigan, bermaksud mendorongnya, namun sentuhan itu justru mempercepat proses penyerapan energi tersebut. Tato sulur di pergelangan tangan Lunara sekarang telah mencapai lehernya dan membentuk pola duri hitam yang kontras dengan kulit pucatnya. Setiap kali duri itu memanjang, Morrigan merasakan pandangannya mengabur. Otoritas mutlak yang menjadi identitasnya sebagai Alpha mulai terkikis dan menyisakan kerentanan manusiawi yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Morrigan terengah dan kepalanya terkulai di bahu Lunara. "Apa yang kamu lakukan padaku?" catatan: Alpha-Bane adalah sesuatu yang ditakdirkan untuk meruntuhkan kekuasaan, kekuatan, atau nyawa seorang Alpha.Kata-kata Ella membuat jantungnya serasa berhenti berdetak dan wajahnya yang semula pucat sekarang menjadi seputih kapas."Manusia serigala?" bisik Ravenna.Ia menggelengkan kepalanya."Tidak, kamu bohong! Morrigan manusia! Dia hanya pria biasa!""Dia membohongimu sejak awal demi insting binatangnya!" bentak Ella.Matanya sesaat berkilat ungu pekat dan menekan mental Ravenna hingga gadis itu mencengkeram sprei tempat tidur dengan gemetar. "Dan sekarang, kaum manusia serigala miliknya sedang menuntut darah. Mereka mengira kamuatau lebih tepatnya klon sihir yang kuciptakan menggunakan wajahmu telah membunuh salah satu dari kawanan mereka di pinggiran kota."Ravenna menatap Ella dengan pandangan kosong, otaknya menolak memercayai semua kegilaan ini. Namun, aura mengerikan dari Ella dan semua kejadian supranatural ini membuat pertahanannya runtuh. "Klon? Pembunuhan? Apa yang akan kamu lakukan padaku?"Ella tersenyum penuh kemenangan dan senyuman yang membuat bulu kuduk Ravenna mere
"Jika itu satu-satunya cara untuk membersihkan nama baik pack, mereka akan menuntutnya, Alpha!" jawab Larry dengan tegas, meskipun napasnya memburu menahan tekanan aura Morrigan yang semakin berat memenuhi ruangan.Larry menatap map hitam yang meremukkan kertas laporan medis di atas meja kerja Morrigan, lalu perlahan menegakkan postur tubuhnya. Aura dingin dan berat di dalam ruangan itu terasa seolah bisa mematahkan tulang, namun sebagai prajurit tertinggi Silver-Claw, ia tahu tugasnya di halaman luar jauh lebih mendesak."Saya rasa tidak ada lagi yang bisa saya laporkan malam ini, Alpha," ucap Larry dengan suara baritonnya yang rendah."Gelombang hasutan Darian di halaman luar harus segera saya redam sebelum fajar menyingsing. Saya tidak akan membiarkan satu pun mereka menerobos masuk ke dalam gedung ini."Morrigan tidak menoleh. Sepasang mata keemasannya masih menatap tajam menembus kegelapan malam dari balik kaca jendela besar ruang kerjanya hanya anggukan kepala samar yang dibe
"Aku akan mengawal mereka sendiri, Alpha," sahut Larry. Ia merasa bertanggung jawab penuh atas keamanan sampel biologis tersebut. "Pergilah, Larry! Pastikan tidak ada satu pun tangan luar yang menyentuh tabung itu," perintah Morrigan. Begitu Larry dan tim medis pergi, koridor bawah tanah kembali sunyi. Morrigan menatap Ezra yang masih bersandar di dinding dengan wajah gelisah. "Ezra, kembali ke atas. Awasi pergerakan Putri Isolde dan Tetua Varrek di ruang tamu agung. Jangan biarkan mereka tahu kita sedang melakukan pemeriksaan domestik seperti ini," ucap Morrigan. "Bagaimana denganmu, Alpha?" tanya Ezra ragu. "Aku akan menunggu hasil laboratorium di sini. Pergilah!" Waktu terus bergulir. Larry berdiri kokoh seperti patung di depan pintu laboratorium dengan tangan melekat pada senjata. Di dalam ruangan steril, kepala dokter Blackmoon pack sedang memasukkan beberapa tetes darah Ravenna ke dalam mesin pemindai spektrum biologis. Mesin tersebut berdegung halus, memp
"Gunakan sisa energi dari pecahan Batu Gerhana Abadi yang kusisipkan di balik pakaianmu," bisik Ella dengan senyum penuh kelicikan. "Ubah resonansi biologis raga tiruan itu. Saat jarum suntik mereka menembus kulitmu besok pagi, pastikan sel-sel yang mereka ambil terdistorsi menjadi darah manusia normal. Biarkan Alpha itu mengira indra serigalanya yang mulai gila bukan raga kita."Ella kemudian pergi menembus bayangan malam bawah tanah, menyisakan Jaxon dan para penjaga yang masih tergeletak tidak sadarkan diri.Malam harinya, ketegangan internal Blackmoon pack yang tersimpan di bawah tanah mendadak terinterupsi oleh sebuah kedatangan yang telah lama direncanakan.Di jalanan Starfield, deretan mobil sedan mewah berwarna hitam legam membelah jalanan, menuju markas utama pack.Konvoi dari Moonshadow pack telah tiba.Di halaman depan markas, Tetua Varrek berdiri tegak dengan jubah adatnya yang megah. Di sampingnya, Larry dan barisan kehormatan prajurit Blackmoon memasang postur kaku
"Jiwa seorang Alpha tertinggi memiliki resonansi energi yang sangat kuat dengan wilayah kekuasaannya," jelas Silas. Silas menatap Morrigan dengan serius. "Selama ini, kamu tidak bisa merasakan pancaran kekuatan energi dari batu itu meskipun letaknya sangat dekat dan jujur, aku pun tidak menyadarinya, karena aku berpikir anomali energi di sekitarmu hanyalah refleksi dari rasa benci yang meluap dan kekosongan batinmu pasca kepergian Lunara. Kebencianmu begitu dalam hingga bertindak sebagai tameng emosional, ia mendominasi seluruh indra serigalamu dan membutakan radar instingmu terhadap getaran sihir hitam luar yang mencoba menyusup."Morrigan terdiam dan mencerna penjelasan Silas yang sangat masuk akal. Emosi seorang Alpha yang tidak stabil memang bisa mengacaukan kepekaan indra penciuman dan spiritualnya sendiri. Namun, ketegangan mendadak saat Morrigan melangkah lebih dekat ke ranjang dan tatapannya menuntut jawaban yang lebih banyak."Jika kamu sudah tahu keberadaan artefak t
"Bawa dia lewat pintu belakang gedung Stellaris Industries," perintah Morrigan kepada Larry begitu mereka tiba di area parkir bawah tanah. "Jangan biarkan ada anggota lain yang melihatnya dalam kondisi seperti ini. Kamar penthouse terlalu terbuka, bawa dia langsung ke lantai isolasi bawah tanah." "Dimengerti, Alpha," jawab Larry sigap. "Pasukan Silver-Claw akan menutup akses lift privat sementara waktu." Namun, evakuasi senyap itu tidak berjalan sesempurna yang Morrigan harapkan. Di sudut koridor remang basement, sepasang mata milik salah satu prajurit kasta bawah yang merupakan mata-mata Darian telah mengawasi sejak ban SUV menderu masuk dan hanya dalam hitungan menit setelah pintu jeruji besi ruang isolasi berdentang menutup, prajurit tersebut langsung memanfaatkan Pack Link (telepati antar anggota pack) untuk menyebarkan informasi secara batin ke seluruh jaringan manusia serigala. Pesan berantai melalui pack link telah menyebar seperti api menyiram minyak ke anggota pack
Lampu sorot dari SUV hitam militer milik klan membelah kegelapan kabut malam, menerangi sosok wanita bergaun putih yang sebagian kainnya telah berubah merah pekat. Para prajurit Silver-Claw di bawah komando Larry bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Dalam hitungan detik, laras senapan serbu
Marva menatap Morrigan, lalu melirik Silas yang juga menatapnya dengan waspada dari atas ranjang. Di dalam benaknya, Marva teringat ancaman Ella bahwa ia harus tetap berpura-pura menjadi nenek yang bodoh jika ingin Ravenna yang asli tetap hidup. Ia terpaksa menelan kebenaran tentang klon sihir itu,
Di pinggiran kota Starfield yang selalu diselimuti kabut tebal, sebuah bar tua bernama The Rusty Fang tampak remang-remang. Tempat itu adalah salah satu titik kumpul tersembunyi bagi para petarung dan prajurit kasta rendah dari pack Blackmoon. Bau alkohol murah, asap rokok, dan aroma ketegangan me
Suasana di taman gantung itu mendadak hening. Senyum kepolosan di wajah Ravenna perlahan-lahan memudar dan digantikan oleh ekspresi datar yang amat dingin. "Luar biasa," ucap Ravenna. "Aku sudah meniru dengan sangat sempurna, tapi intuisi seorang wanita tua ternyata sekeras batu." "Kamu monst







