LOGIN"You can’t be serious," Bethany whispered, cradling the emerald Caleb had placed in her hand. "I’ve never been more certain," Caleb said, his silver gaze locked on hers. "I would give you the world if I could. But all I want is you. My mate." Her breath caught. "You barely know me." Caleb’s fingers trailed up her cheek. "I’ve waited forty years to find you, Bethany. I knew you the moment I caught your scent. And I’m never letting you go." Caleb is the unmated Alpha of a cursed werewolf pack until he meets Bethany, a shy diner waitress with a hidden strength that shakes his world. For decades, Caleb believed fate had abandoned him. But one glance, one touch, one scent changes everything. Bethany doesn’t believe in fairy tales. Abandoned at birth, she’s lived a life of invisibility and heartbreak. So when the dangerously compelling Caleb declares her his mate, her world turns upside down. With bear shifters closing in and the full moon rising, Caleb and Bethany must defy the rules of nature, power, and fate to claim a love destined to save an entire pack
View More"Wah, rumahmu besar dan luas juga ya, Arya. Ibu menyesal karena dulu nggak mau ikut kamu ke Jakarta dan tinggal di sini," ucap Bu Desi. Kedua bola matanya tampak berbinar-binar memindai seisi rumah yang ditempati Arya dan Shanum, dengan berbagai macam perabotan mewahnya.
"Ya iyalah, ibu sih. Lila kan udah bilang, mending tinggal di rumah Mas Arya aja. Eh, ibunya nggak mau!" celetuk Lila menimpali penyesalan sang ibu.Sementara itu, Shanum hanya diam dan memerhatikan gerak-gerik mereka berempat. Arya, Ibu mertua, adik ipar, serta seorang perempuan yang asing bagi Shanum.Bu Desi dan Lila yang masih terpesona dengan desain rumah mewah itu, dan Arya juga perempuan yang sedari tadi menundukkan kepalanya, enggan membalas tatapan Shanum. Mungkin … takut."Mas Arya, tolong jelaskan semua ini," pinta Shanum mulai membuka suara. Wanita itu menaruh kedua tangannya di perut sembari memindai keempat orang di hadapannya dengan tatapan menyelidik."Ah iya, aku sampai lupa untuk mengenalkannya padamu, Sha," ucap Arya santai, seakan tanpa beban, pun juga rasa bersalah telah membawa istri barunya ke istana yang ditempatinya dengan Shanum selama tiga tahun terakhir.Shanum menatap lekat ke arah Arya, menanti kata demi kata yang akan keluar dari mulutnya."Katakan, siapa dia Mas?" Penuh penekanan, Shanum bertanya. Kedua matanya tengah memindai sosok asing yang duduk di samping suaminya, bahkan bergelayut manja di lengan sang suami."Perkenalkan, dia adalah Anara, istri baruku." Tanpa dosa, lelaki yang masih berstatus suami sah Shanum itu memperkenalkan perempuan dengan riasan tebal, dan pakaian yang aduhai seksinya sebagai istri barunya. Bagaikan petir di musim kemarau ketika Arya mengenalkan sosok itu."Aku sudah menikah dengan Anara tiga bulan yang lalu," sambungnya sembari menatap mesra Anara yang duduk di sampingnya, melempar senyum remeh terhadap istri sah Arya."Hahaha…." Shanum tiba-tiba saja tertawa lepas. Dia menertawakan dirinya sendiri. Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Tiba-tiba saja dirinya dilanda kenyataan sedemikian rupa. 'Sedih, iya. Tapi hanya sedikit saja. Hatiku terlalu berharga untuk meratapi lelaki pecundang seperti Mas Arya. Mirisnya hidupku!' keluh Shanum dalam hati.Shanum menghentikan tawanya. "Lalu, maksudmu apa membawanya ke sini, Mas," ucap Shanum dengan wajah datar.Sementara keempat orang itu menatap Shanum heran. Ya, Arya, Bu Desi, Lila, dan juga perempuan muda yang baru saja dikenalkan Arya sebagai istri keduanya. Mereka tercengang dengan ekspresi Shanum.Bukan amarah atau makian yang wanita itu lontarkan. Melainkan ekspresi datar dan dingin yang Shanum tunjukkan pada mereka berempat.'Hah! Jangan harap! Aku tak akan mengotori mulutku dengan mengucapkan bermacam sumpah serapah pada mereka. Tidak akan!' Shanum membatin dalam hatinya."M–Maksudku ...." Arya tampak gugup. Pria itu mendadak ciut setelah melihat reaksi santai Shanum."Katakan saja pada Shanum, Arya. Jangan bertele-tele! Kita akan tinggal di sini mulai sekarang!" tukas Bu Desi, dengan tatapan sinisnya tertuju pada Shanum.Anara? Perempuan itu hanya mampu menundukkan wajahnya. Menyembunyikan senyum licik di balik wajahnya. Shanum dapat melihat senyuman licik dari perempuan itu. Seakan tengah mengejeknya."Tunggu, kalian? Maksudnya Ibu, Lila, dan juga perempuan ini akan tinggal di sini? Di rumahku? Aku nggak salah dengar kan, Mas?" Shanum menatap tajam tepat di manik mata suaminya.Pria itu terlihat gelagapan. Jakunnya naik turun tampak kesulitan menelan ludahnya. Dia pikir Shanum akan iya-iya saja dengan kemauannya. Tetapi, dugaannya salah besar."Be–Benar, Sha. Karena Anara sekarang jadi istriku juga. Jadi, dia akan tinggal bersama kita. Kamu nggak keberatan, kan?" ucap Arya dengan intonasi sedikit rendah."Kalau aku nggak bolehin gimana?" tantang Shanum tidak mau kalah.Anara seketika menengadahkan wajahnya menatap tajam ke arah Shanum.'Hei, gundik! Beraninya kau menatapku seperti itu. Cih!' Shanum menggeram dalam hatinya.Bu Desi dan Lila pun tak kalah sinisnya kala matanya beradu pandang dengan Shanum."Aku kepala keluarga di sini, jadi aku berhak menentukannya, Sha!" ujar suami Shanum itu, sok bijak."Rumah ini adalah rumahku. Aku nggak mau ada sampah yang masuk ke rumahku yang mewah ini," sarkas Shanum seraya mengangkat dagunya."Plis, Sha. Anara lagi hamil sekarang. Aku nggak tega kalau biarin dia, ibu dan Lila tinggal di rumah yang sempit. Bukankah di sini banyak kamar yang kosong, Sha. Biarkan mereka tinggal di sini," ucap Arya dengan tatapan mengiba."Jangan banyak protes lah kamu, Shanum!" sentak Bu Desi ketus. Tatapan matanya nyalang menatap ke arah menantunya itu.'Apalagi ini!' desis Shanum dalam hatinya ketika melihat kemarahan sang ibu mertua dan mendengarnya membentaknya untuk yang pertama kali dalam hidupnya."Kamu jangan sok berkuasa atas rumah ini. Inikan rumah hasil kerja keras Arya, putraku. Kamu kerjanya cuman ongkang-ongkang kaki, jadi jangan sok ngatur suamimu!" ketusnya lagi.'Apa? Aku tak salah dengar? Ongkang-ongkang kaki, katanya. Ibu mertuaku seperti belum sepenuhnya mengenalku.' Shanum mencibir dalam hatinya.Arya terlihat menyikut pelan ibunya. Memberi kode pada ibu mertua untuk berhenti."Sudah, Bu. Jangan dilanjutkan lagi." Arya tampak berbisik ke telinga ibunya."Sudah mandul, sok-sokan mau menguasai harta anakku. Dasar benalu kamu, Shanum!" hinanya lagi.Shanum terkesiap dengan hinaan dari Bu Desi. Wanita itu tak mengindahkan permintaan putranya untuk diam. Dia justru melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati Shanum."Apa Ibu bilang?" tukas Shanum dengan mata memerah menahan amarah.***“This place looks amazing,” Adele said.Lisa glanced over at one of her best friends.“It was a gift from Shadow.”“It’s a good gift. Speaking of you and Shadow, how are you two doing? Have you been able to make any progress?” Adele asked.One week had passed since Shadow had declared his love for her and showed her the video apology he intended to allow so many others to see, but she had told him not to. That apology was between her, Shadow, and of course Pam for filming it. No one was going to see that again.It was strange how different she felt about him after seeing him try. Before, when he learned she knew the truth, he’d acted like there was nothing wrong. He’d been so cold. Now, she saw Shadow didn’t know how to be anything else, not if he didn’t listen to his feelings or trust opening up to her.The past week had been different. He told her repeatedly how much he loved her. She moved from her old bedroom into his bedroom. Shadow had also told her that under no circumstances w
“This place looks amazing,” Adele said.Lisa chuckled.They were only a few weeks away from Christmas. Halloween and Thanksgiving had already come and gone. Shadow had told her that the pack loved Thanksgiving, so she had gone all out, creating a massive feast consisting of two turkeys, as well as two hams and even some chicken. The meal had included two types of stuffing, sweet potato casserole, green bean casserole, she’d also done mac-and-cheese, in fact, every dish she could think of to mark Thanksgiving. The table had been heaving with food. There had also been food on the counters.She’d made apple pie, pecan pie, pumpkin pie, chocolate cake, and several other desserts. She had figured all leftovers would be great, and she’d even offered baggies at the end of the night.Nope to everything. The whole pack demolished the food, and once they were done and she stood beside Shadow as they were leaving, she had been given a kiss on the cheek by the wolves. She believed there were at l
“One Week Later”Shadow stepped into the kitchen and glanced over at Lisa. She was baking again. Christmas was only a week away, but she’d been making gifts for the whole pack. Gift baskets filled with breads, cookies, cakes, biscuits, and any other sweet treat she could make. He wanted her to rest, but so long as she ate regularly and took breaks, her pregnancy seemed to be moving well.He looked at her and couldn’t believe what an asshole he’d been.“I love you,” he said.Lisa looked up and the bowl in front of her stopped.“What?”“I love you,” he said, taking a step inside the kitchen.“Shadow, you don’t have to—”He held his hand up and didn’t expect her to stop talking. It was quite the shock to see her just go silent, pressing her lips together.“I’m not just saying this. I’m telling you the truth. How you make me feel.”He took several more steps toward her, stopping at the counter. Now, all that stood between them was a counter.“I should have told you this before. From the m
This was different.Lisa sensed something was very different with Shadow. She couldn’t quite put her finger on what it was, only there was something. His movements were slow, teasing, loving. The way he touched her seemed like he was committing every part of her to memory.When she had gotten that text this evening from Adele, she had felt a little more in love with Shadow. She didn’t even need to tell him to take her friend home. He just did.No Wolves Road was a safe town, and the packs surrounding the town knew they were not to attack humans. To do so would be breaking so many rules. It was safe for women to walk, to be themselves. Shadow still walked Adele home. She loved that about him. There was so much she loved about him.Like, the fact he put the toilet seat down and cleaned the sink after he brushed his teeth. He always made sure the kettle had hot water for her to enjoy a cup of tea, seeing as she couldn’t stand the scent of coffee. Ice cream was always fully stocked in the






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.