LOGINEdna went from being a slave to the luna of Aman pack,passing through tough hurdles that could easily break anyone. Not only did she had to deal with her inner problems,she had to face the constant humiliation and betrayal from Theresa who she had always treated like a sister with love and affection Alpha prince Ray thought he had found a pure soul mate.while enjoying one of the best moment of their life he came across a shocking discovery. Out of pride and ego he rejected his mate,Edna right in front of everyone forgetting their beautiful moments went in a hurry without looking back and had to face the consequences that came with it. Would Edna forgive him?would he regain himself? Who would reveal the secret and why? Find out!
View More“Bella, aku ambilkan ini khusus untuk kamu. Aku tahu kalau kamu itu suka banget sama sup udang. Nih, makan sampai habis, ya!” Sagar menatap wanita cantik yang tengah duduk menatapnya. Tangan Sagar menjulurkan semangkuk sup udang dengan kuahnya yang berwarna merah terang.
Sebuah senyum tercetak di wajah Bella. Kebahagiaan terpancar dengan jelas di mimik wajahnya.
Jemari-jemari lentiknya mengambil-alih mangkuk sup yang diberikan Sagar kepadanya. “Terima kasih banyak, Kak Sagar! Kak Sagar tahu banget kalau aku suka ini!”
Melihat bagaimana akur dan mesranya sepasang suami istri itu membuat keluarga Biruga ikut bahagia. Mereka menyangka jika perjodohan yang dilakukan Zoku pastilah sukses besar karena bisa memberikan kebahagiaan di wajah Sagar.
“Duh, pasutri baru ini mesra terus ya kerjaannya,” goda Hana, wanita paruh baya yang sejak kecil sudah mengurus Sagar selayaknya putra sendiri. “Melihat kalian rasanya Bibi jadi merasa muda lagi dan ingin merasakan hal yang sama.”
Sagar tersentuh akan ucapan wanita itu. “Bibi Hana seharusnya tidak usah memperdulikan aku. Sekarang, aku sudah dewasa dan bahagia, kuharap Bibi juga sama bahagianya denganku,” balas Sagar yang membuat Hana merasa terharu.
Di tengah kehangatan dan keharmonisan acara makan malam keluarga Biruga itu, sebenarnya ada sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh mereka sebelumnya. Kemesraan Sagar dan Bella sama sekali tidak berasal dari hati yang tulus. Sagar bahkan dengan asal menyebutkan makanan favorit Bella dan mengaku-ngaku seolah ia sudah mengenal Bella dengan baik.
Sagar pun merasa tenang karena Bella mengikuti aktingnya dengan baik.
***
Pernikahan Bella dan Sagar sudah berlangsung selama hampir 8 bulan lamanya, sebuah usia pernikahan yang tidak ada bedanya dengan benih seumur jagung. Orang-orang yang mengetahui pernikahan Bella dengan Sagar pasti akan berpikir jika pasangan ini sangatlah romantis, rupa keduanya pun tampan dan cantik. Keduanya seolah-olah memang diciptakan untuk melengkapi satu sama lain.
Akan tetapi pada kenyataannya, baik Sagar maupun Bella tidak ada yang saling mencintai. Pernikahan ini mereka lakukan semata-mata hanya karena tidak bisa menolak desakan perjodohan dari kakek-kakek mereka yang sudah lama berteman baik.
'Sudah jam segini, pasti Bella sudah pulang,' batin Sagar menatap arloji perak yang melingkari tangannya yang menunjukkan angka pukul tujuh malam.
Bella yang bekerja sebagai ahli gizi di sebuah rumah sakit ternama itu biasanya bekerja pada shiff pagi dan akan pulang saat malam hari. Sebenarnya tidak ada bedanya dengan pekerjaan Sagar sebagai CEO di perusahaan Biruga. Namun, berbeda dengan Bella yang selalu pulang tepat waktu, Sagar tidak seperti itu. Ia lebih suka mampir di beberapa tempat untuk bermain bersama dengan teman-temannya atau sekadar menuangkan rasa lelahnya dan akan pulang ketika ia mengantuk.
“Bukannya ini Tuan Sagar yang tampan?” seorang wanita datang mendekat ke arah Sagar dan dengan manja menempelkan badannya pada pria itu. Aroma menyengat dari parfum mahal tercium di hidung Sagar. “Jarang sekali aku lihat kamu ke sini lagi. Tumben, nih? Aku kangen banget jalan-jalan sama kamu.”
Sagar mendorong wanita itu agar melepaskannya. “Iya, sibuk sama kerjaan,” jawab Sagar seadanya.
“Nggak biasanya Tuan Sagar lebih memilih pekerjaan daripada bermain bersama wanita-wanita di sini,” komentar wanita itu. “Kamu tahu, nggak? Banyak banget perempuan yang cari kamu, lho!”
Dulu, Sagar memang sering bergonta-ganti wanita. Setiap kali ia datang kemari, ia selalu datang dengan wanita yang berbeda. Minggu ini wanita A, lalu minggu depan akan jadi wanita B. Sifatnya yang suka berganti-ganti wanita sama sekali tidak membuatnya terlihat sebagai orang yang dibenci. Hal itu justru semakin membuat banyak wanita mengantri untuk menjadi pasangannya.
Sayangnya, semenjak Sagar menikah dengan Bella, entah mengapa kebiasaan buruknya itu perlahan mulai berkurang. Sagar semakin jarang bermain dengan wanita-wanitanya, bahkan beberapa kali ia habiskan minggunya sendirian.
“Kalau lagi kosong, main sama aku, yuk!” wanita itu tampak tidak menyerah dan berusaha menarik perhatian Sagar dengan menyentuh dada bidang pria itu.
“Jangan sekarang, Laura.”
Penolakan Sagar membuat wanita itu cemberut. Wanita yang dipanggil Laura itu adalah seorang aktris terkenal yang sering datang ke tempat ini. Saat kemari, ia selalu berusaha untuk berada di dekat Sagar. Tidak jarang ia menggoda Sagar demi menarik perhatian pria itu.
“Jangan-jangan kamu lagi suka sama seseorang, ya?” tebak Laura yang membuat tatapan Sagar beralih kepadanya. “Emang dia secantik apa? Lebih cantik dari aku, ya?”
Sagar memperhatikan Laura dari atas sampai bawah. Rambutnya bergelombang panjang hingga menutupi punggungnya terlihat halus dan mengembang. Kulitnya terlihat sangat terawat dan bisa dipastikan ia menghabiskan jutaan uang untuk merawatnya tiap bulan. Badannya pun bagus dengan lekukan di tempat-tempat yang seharusnya. Wajahnya pun adalah tipe wajah yang bisa membuat mata pria dan wanita menatapnya tanpa berkedip.
Di tempat ini, tentu saja semua orang akan mengakui jika Laura Guan adalah yang tercantik. Belum lagi wanita itu juga seorang aktris papan atas yang membuatnya dikenal oleh siapa saja. Banyak laki-laki yang mengincarnya dan para wanita hanya bisa menatapnya dengan iri.
Sayangnya, mata Laura hanya tertuju pada Sagar. Berbagai cara akan Laura lakukan demi mendapatkan hati pria itu. Baginya, membuat pria playboy jatuh hati padanya adalah sebuah kemenangan besar. Belum lagi Sagar adalah pria kaya raya yang tampan dan matang.
Jika Sagar mau, hanya dengan sekali anggukan saja, maka Laura bisa menjadi pasangannya.
Tidak hanya Laura, seluruh wanita di sini pun pasti tidak keberatan untuk menjadi pacarnya. Akan tetapi, akhir-akhir ini Sagar seperti tidak tertarik dengan wanita manapun, tidak peduli seberapa cantik dan menggodanya mereka.
Sagar sendiri tidak paham mengapa ia berperilaku seperti itu. Rasanya, sejak menikah dengan Bella, sikapnya yang suka bergonta-ganti pasangan perlahan menghilang. Jika Sagar dibilang terpikat oleh kecantikan Bella, maka Sagar akan dengan senang hati menyanggahnya. Bella mungkin cantik, tetapi jika dibandingkan dengan Laura maka akan sangat berbeda.
'Apa mungkin karena kutukan pernikahan, ya?' batin Sagar yang larut dalam pikirannya sendiri itu. Dalam pernikahan mereka, Sagar sudah berjanji untuk hidup setia dan tetap berada di sisi Bella dikala susah maupun senang hingga nyawa memisahkan mereka berdua.
Di tengah kesibukan Sagar dengan pikirannya sendiri, Laura terus memperhatikan pria itu dari samping. Raut wajah Sagar tampak berubah ketika Laura mengatakan jika Sagar pasti sedang jatuh cinta dengan wanita lain. Kekesalan menyelimuti diri Laura. Perasaan kesal dan amarah membungkus hati wanita itu.
'Siapa wanita yang berhasil membuat Sagar jadi seperti ini?' batin Laura geram. Padahal Laura sudah bersusah payah agar bisa membuat Sagar jatuh ke dalam pelukannya. Ia sudah memakai lotion tubuh dan parfum mahal yang ia beli dari luar negeri demi menarik perhatian pria itu. Laura bahkan rela mengganti tatanan rambutnya setiap kali ia ingin menemui Sagar.
Akan tetapi, usahanya tidak pernah membuahkan hasil yang maksimal. Bahkan saat ini, Sagar hanya menatapnya beberapa kali. Pria itu terlihat sibuk dengan pikirannya yang entah melayang ke mana. Padahal jika itu pria lain, mereka pasti tidak akan membuang kesempatan untuk berada di dekat Laura dengan sia-sia.
Kapan lagi ada aktris papan atas yang terkenal akan kecantikan dan kemolekan tubuhnya duduk berhimpitan denganmu?
“Sagar, minumanmu sepertinya mau habis, tuh! Mau aku pesankan lagi?” tawar Laura dengan penuh perhatian.
Sagar tersentak seolah baru menyadari jika alkohol dalam gelas di tangannya hanya tinggal dua teguk saja. “Iya, pesankan yang seperti biasa saja.”
Senyum kemenangan tercetak jelas di wajah Laura. Ia dengan cepat memesankan dua minuman pada bartender yang ada di dekat mereka. Diam-diam, tangannya merogoh ke dalam tas kecil bermerknya, mengambil bungkusan kecil berisi butiran-butiran halus berwarna putih. Jika ia menuangkan ini ke dalam gelas milik Sagar, maka pria itu bisa menjadi miliknya dalam semalam.
Membayangkan malam panas yang akan ia dan Sagar lalui membuat Laura tersenyum tidak sabar. Ia segera menuangkan serbuk itu ke dalam minuman Sagar yang baru saja datang dan mendorong gelasnya ke arah pria itu.
“Nih, minumannya,” ucap Laura dengan suasana hati yang membaik. Sagar menerimanya tanpa pikir panjang. “Eh, gimana kalau kita cheers dulu?” tawar Laura dan menghentikan gerakan Sagar untuk meminum alkoholnya.
Sagar mengangkat gelasnya tanda menerima tawaran tersebut. Suara dentingan gelas yang beradu terdengar merdu di telinga Laura. “Cheers!”
Dalam hatinya, Laura menyeringai licik ke arah Sagar yang sedang meneguk minumannya itu. ‘Kena kau Sagar Biruga! Malam ini kau pasti akan menjadi milikku!’
Bersambung ....
Edna's POVHonestly, Alpha Prince Ray was the most compassionate person I knew at that time, he showered me with all the love I could get and I couldn't express my gratitude no matter how hard I tried…but the fact that I was a slave from the duke family continue to taunt me. Each day I woke up my first prayer was that Theresa would never get the chance to meet Alpha Ray, because at that instant I would lose everything.Few days to my grand arrival to the palace I decided to take a stroll around the mansion for atleast one more time when I saw Theresa and her mother talking in a distance, I wasted no time in hiding myself away from them while I secretly eavesdrop on their conversation."Mom, he bit her what else can I possibly do about that. It's been confirmed they are both mates." Theresa said to her mother clearly frustrated, I couldn't believe my ears. Weren't they happy I was finally leaving the house and now they want to sabotage my only chance of happiness due to jealousy, I cou
Authors POVAlpha Ray then stopped for a moment to look into her eyes more.As they gazed, they saw themselves trying to whisper something.They tried to open their mouth to speak and what came out of their mouth shocked even they themselves."MATE!"They froze.Immediately, they crossed necks and bit each other on their neck.After that, they released themselves and look at the bite mark they had just placed on themselves.Alpha Ray smiled."I found you!" he said to her."Yes!" she said as an unexplainable joy built up in heart."Where are you coming from?" he asked.She was such a beautiful lady and probably from an elite background. He thought."I came from the Duke mansion." she answered.Her answer cleared his doubts.Rising up, he asked to drop her off. Stretching his hand, she brought up her hands and he took her up.He assisted her to go take all she wanted to take from the Duke farm and they headed towards the car.When Edna had saw that it was Alpha Ray, she had doubts but o
Alpha Ray got to the garage and entered on of the cars to go visit the empty land so as to check each plot out."Sir, I will ride you!" a guard ran to him."Get lost!" he interrupted and got into the front driver seat and drove away speedily.While he drove by, werewolves who saw that he was the one bowed until he walked past.While he drove, he looked through the land as he admired the structures.Edna had already gotten to the farm by then.The Duke farm was a very large farm. In fact, it was the second largest after the palace.Looking at it, she saw that some weeds were already coming up.If she left it, it might spoil their plants.Bending down, she started uprooting the weeds.The soil was black by nature, as she weeded, she had no idea that there was a sharp metal deep in the soil. Dipping her hand in there, she felt a sharp pain.Immediately, she stood up only to see blood gushing out of her fingers serious.Picking up a piece of clothing from the basket she had went with, she
Alpha Ray stood at the balcony at the upper building of the palace.His left hand was in his pocket as he stood majestically. His body exuded a strong aura. Far behind him was the chamber of the great palace.The empty throne shinned brightly on it own as it stayed at the centre of the chamber in its glory.The whole places exuded luxury. This was the palace of the great Aman Pack, a pack filled mostly with good hearted werewolves.Luna Jessy then walked into the chamber. Her eyes wandered around. She was in search of Alpha Ray."Where could he be?" she thought.As she was about to leave the chamber, her eyes caught the figure of a person in the balcony.She then headed towards there. When she got to the door, she stopped to gaze at her son.With pride her eyes, she smiled.Alpha Ray had already noticed someone coming but he pretended not to. As he looked at what was happening in the pack from where he stood, the morning sun shone on his very white skin.Luna Jessy looked at her son's
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.