Share

Bab 130

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-04-09 21:17:15

Suasana lobi kantor yang dingin itu mendadak terasa semakin mencekam saat pintu otomatis terbuka, menampilkan sosok Rio yang melangkah masuk dengan dagu terangkat. Tidak ada lagi sisa-sisa pria santun yang selalu menunduk di depan mertuanya. Ia berjalan di tengah barisan staf barunya yang memberikan jalan dengan hormat, seolah ia adalah seorang raja yang baru saja menaklukkan wilayah baru.

​"Ada keributan apa ini?" suara Rio menggelegar, tenang tapi penuh otoritas yang memuakkan.

​Ibu Maudy lan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ananda Yanto
taeknpenulisnya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 348

    Malam kian larut, membungkus kota dengan keheningan yang semu. Namun, kedamaian yang melingkupi kamar Bayu dan Maudy, di mana kelelahan perlahan mencair menjadi kehangatan dan rasa percaya, sama sekali tidak menyentuh dua rumah lainnya. Di sudut kota yang berbeda, sisa-sisa badai dari perjamuan malam itu justru memercikkan api amarah yang siap membakar apa saja.​Di kediaman peninggalan mendiang Baron, suasana rumah terasa begitu mencekam sejak pintu depan dibanting menutup. Dara yang sudah kehabisan energi akibat tantrum hebatnya kini telah tertidur pulas di kamar, meskipun napasnya masih sesekali tersengat sesenggukan kecil.​Di ruang tengah, ketenangan itu langsung pecah. Ani berjalan mondar-mandir dengan napas memburu, wajah paruh bayanya merah padam menahan dongkol yang luar biasa. Begitu Silvy keluar dari kamar Dara setelah menyelimuti putrinya, Ani langsung menghadangnya dengan telunjuk yang bergetar.​"Kamu benar-benar anak durhaka, Silvy! Kamu mempermalukan Ibu di depan orang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 347

    Perjalanan pulang dari rumah Paman Heru dilewati dalam keheningan yang pekat. Di dalam mobil, hanya ada suara deru mesin dan helatan napas yang berat. Bayu fokus membelah jalanan malam kota, sementara Maudy menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap kosong lampu-lampu jalanan yang berpendar buram. Ibunda Maudy yang duduk di kursi belakang pun memilih diam, memahami bahwa putri dan menantunya baru saja melewati ujian emosional yang teramat melelahkan.​Begitu tiba di rumah dan mengantar sang ibu ke kamarnya untuk beristirahat, Bayu dan Maudy melangkah perlahan menuju kamar utama mereka. Begitu daun pintu itu tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Suasana ketegangan yang sejak tadi mereka tahan di depan umum seketika luruh. Kamar yang tenang itu kembali menjadi satu-satunya tempat aman bagi mereka.​Maudy tidak langsung mengganti gaunnya. Wanita itu berjalan gontai menuju tepi ranjang, lalu menjatuhkan duduknya di sana. Bahunya yang semula tegap saat menghadapi pamannya kini mer

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 346

    Maudy memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menguasai gemuruh di dadanya. Ketika ia membuka mata, kabut kepanikan di wajahnya telah berganti dengan ketegangan yang dingin dan terukur. Ia melepaskan tautan jemarinya dari Bayu, lalu melangkah maju. Bukannya membalas tatapan Tasya atau Pamannya, Maudy justru berlutut di atas lantai marmer, menyejajarkan tubuhnya dengan Silvy yang masih bersimpuh parau.​Dengan gerakan lambat yang disaksikan oleh seluruh pasang mata di ruangan itu, Maudy memegang kedua bahu Silvy dan memaksanya untuk berdiri.​"Berdirilah, Silvy. Bawa Dara pulang sekarang, Silvy. Dia butuh istirahat, bukan tontonan gatis di tempat seperti ini. Urusan besok, biar besok menjadi urusan kita secara pribadi. Tapi malam ini, selamatkan anakmu dulu." ucap Maudy, suaranya mengalun rendah tapi terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang mencekam.​Silvy menatap Maudy dengan tatapan tidak percaya sekaligus haru yang luar biasa. Dengan anggukan cepat dan berk

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 345

    Detik-detik seolah membeku di dalam ruang perjamuan yang megah itu. Pekikan histeris Dara yang menggema di langit-langit tinggi rumah paman Muady tersebut. Apalagi setelah kedatangan Ani dan cucunya. Telapak tangan Bayu masih merangkul erat pinggang Maudy. Sementara Maudy, dengan bibir yang sedikit terbuka dan wajah yang mendadak pias, menatap lurus ke ambang pintu.​Kejutan ini terlalu mendadak. Kepala Maudy terasa pening dihantam kenyataan bahwa privasi keluarganya kini ditelanjangi di depan paman dan sepupunya yang menaruh dendam lama. Ani berdiri dengan napas memburu, kedua matanya berkilat penuh kemenangan yang nekat, sementara Dara di sampingnya terus meronta, menangis parau hingga urat-urat di leher kecilnya menegang.​Melihat skandal luar biasa ini tersaji langsung di depan mata mereka, Tasya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Rasa iri yang bertahun-tahun ia pendam seolah mendapatkan bahan bakar paling murni malam ini. Tasya melangkah maju, meletakkan gelas minumannya dengan den

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 344

    Malam itu, Bayu, Maudy dan ibunya sedang bersiap untuk pergi ke rumah paman maudy. Selama di perjalanan, Maudy sempat mencemaskan sesuatu.“Bu, gimana kalau sikap keluarga paman Heru masih sama seperti dulu?” tanya Maudy pada Ibunya.“Semoga aja nggak Maudy. Tapi, biar bagaimanapun, hari ini mereka kembali ke kota ini setelah bertahun tahun pindah. Dan hanya tinggal ibu saja saudara kandung paman kamu. Jadi, entah bagaimanapun sikap mereka, kita tetap harus menemui dan menyambut kedatangan mereka di kota ini dengan baik,” tutur Ibu Maudy pada putrinya.Maudy mengangguk saat mendengar nasehat ibunya. Sementara Bayu, dia cukup dibuat heran dengan topik pembahasan mereka.“Ada apa sih?” tanya bayu.“Nanti aja aku ceritain di rumah,” sahut Maudy, lalu bayu pun mengangguk mengerti.Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan Rumah megah bergaya kolonial di kawasan pemukiman elit. Paman Heru, kakak kandung dari ibunda Maudy, sengaja memilih kediaman ini untuk menandai kembalinya mereka ke ibu

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 343

    Di belahan kota yang lain, jarum jam bergerak tenang mendekati waktu makan malam. Bayu baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah setelah menembus kemacetan kota. Kemeja kerjanya sudah sedikit dilonggarkan, namun gurat ketegasan di wajahnya tidak memudar. Di dalam kamar utama, Maudy sudah terlihat anggun mengenakan gaun semi-formal bernuansa pastel, siap untuk menghadiri acara syukuran paman kandungnya malam ini.​Melihat suaminya baru pulang, Maudy tersenyum hangat dan melangkah mendekat. "Mas baru pulang? Ayo cepat bersiap, aku sudah menyiapkan kemeja batikmu di atas tempat tidur. Kita tidak enak kalau datang terlambat ke rumah Paman Heru."​Namun, alih-alih langsung bergegas ke kamar mandi atau meraih kemeja batiknya, Bayu justru menatap Maudy dengan pandangan mata yang dalam dan serius. Pria itu meraih kedua tangan Maudy, menggenggamnya dengan lembut, lalu menuntun istrinya untuk duduk bersama di sofa panjang yang terletak di sudut kamar mereka.​Maudy mengernyitkan alisnya, me

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 222

    Lyra menyadari bahwa menyerang Bayu secara logika hukum adalah jalan buntu. Pria itu terlalu kokoh, terlalu rapi dalam menyusun pertahanannya. Maka, dia mengalihkan sasarannya.Tujuannya kini beralih pada sosok Maudy yang masih duduk di sofa. Lyra akan pergi sejenak. Lalu dia akan kembali menemui M

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 221

    Setelah beberapa jam yang lalu Lantai eksekutif menjadi tenang setelah amukan Rio, kini kembali terusik oleh ketukan langkah sepatu hak tinggi yang beradu tajam dengan lantai granit. Lyra melangkah masuk dengan aura yang berbeda. Jika Rio datang dengan kemarahan yang membabi buta, Lyra datang denga

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 220

    Keheningan yang ditinggalkan Rio terasa begitu berat, menyelimuti ruangan luas itu seperti kabut tebal setelah badai berlalu. Maudy masih berdiri terpaku di dekat jendela, kedua tangannya saling meremas dengan jari-jari yang memucat. Suara makian Rio yang tadi menggema di lorong seolah masih terngi

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 219

    Ruangan komisaris yang luas itu mendadak terasa sempit akibat energi negatif yang dibawa Rio. Napas pria itu terdengar pendek-pendek dan berat, seperti seekor binatang buruan yang terpojok, tapi masih mencoba menunjukkan taringnya yang sudah tumpul. Dia berdiri di depan meja Bayu dengan tangan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status