ВойтиMalam kian larut, membungkus kota dengan keheningan yang semu. Namun, kedamaian yang melingkupi kamar Bayu dan Maudy, di mana kelelahan perlahan mencair menjadi kehangatan dan rasa percaya, sama sekali tidak menyentuh dua rumah lainnya. Di sudut kota yang berbeda, sisa-sisa badai dari perjamuan malam itu justru memercikkan api amarah yang siap membakar apa saja.Di kediaman peninggalan mendiang Baron, suasana rumah terasa begitu mencekam sejak pintu depan dibanting menutup. Dara yang sudah kehabisan energi akibat tantrum hebatnya kini telah tertidur pulas di kamar, meskipun napasnya masih sesekali tersengat sesenggukan kecil.Di ruang tengah, ketenangan itu langsung pecah. Ani berjalan mondar-mandir dengan napas memburu, wajah paruh bayanya merah padam menahan dongkol yang luar biasa. Begitu Silvy keluar dari kamar Dara setelah menyelimuti putrinya, Ani langsung menghadangnya dengan telunjuk yang bergetar."Kamu benar-benar anak durhaka, Silvy! Kamu mempermalukan Ibu di depan orang
Perjalanan pulang dari rumah Paman Heru dilewati dalam keheningan yang pekat. Di dalam mobil, hanya ada suara deru mesin dan helatan napas yang berat. Bayu fokus membelah jalanan malam kota, sementara Maudy menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap kosong lampu-lampu jalanan yang berpendar buram. Ibunda Maudy yang duduk di kursi belakang pun memilih diam, memahami bahwa putri dan menantunya baru saja melewati ujian emosional yang teramat melelahkan.Begitu tiba di rumah dan mengantar sang ibu ke kamarnya untuk beristirahat, Bayu dan Maudy melangkah perlahan menuju kamar utama mereka. Begitu daun pintu itu tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Suasana ketegangan yang sejak tadi mereka tahan di depan umum seketika luruh. Kamar yang tenang itu kembali menjadi satu-satunya tempat aman bagi mereka.Maudy tidak langsung mengganti gaunnya. Wanita itu berjalan gontai menuju tepi ranjang, lalu menjatuhkan duduknya di sana. Bahunya yang semula tegap saat menghadapi pamannya kini mer
Maudy memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menguasai gemuruh di dadanya. Ketika ia membuka mata, kabut kepanikan di wajahnya telah berganti dengan ketegangan yang dingin dan terukur. Ia melepaskan tautan jemarinya dari Bayu, lalu melangkah maju. Bukannya membalas tatapan Tasya atau Pamannya, Maudy justru berlutut di atas lantai marmer, menyejajarkan tubuhnya dengan Silvy yang masih bersimpuh parau.Dengan gerakan lambat yang disaksikan oleh seluruh pasang mata di ruangan itu, Maudy memegang kedua bahu Silvy dan memaksanya untuk berdiri."Berdirilah, Silvy. Bawa Dara pulang sekarang, Silvy. Dia butuh istirahat, bukan tontonan gatis di tempat seperti ini. Urusan besok, biar besok menjadi urusan kita secara pribadi. Tapi malam ini, selamatkan anakmu dulu." ucap Maudy, suaranya mengalun rendah tapi terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang mencekam.Silvy menatap Maudy dengan tatapan tidak percaya sekaligus haru yang luar biasa. Dengan anggukan cepat dan berk
Detik-detik seolah membeku di dalam ruang perjamuan yang megah itu. Pekikan histeris Dara yang menggema di langit-langit tinggi rumah paman Muady tersebut. Apalagi setelah kedatangan Ani dan cucunya. Telapak tangan Bayu masih merangkul erat pinggang Maudy. Sementara Maudy, dengan bibir yang sedikit terbuka dan wajah yang mendadak pias, menatap lurus ke ambang pintu.Kejutan ini terlalu mendadak. Kepala Maudy terasa pening dihantam kenyataan bahwa privasi keluarganya kini ditelanjangi di depan paman dan sepupunya yang menaruh dendam lama. Ani berdiri dengan napas memburu, kedua matanya berkilat penuh kemenangan yang nekat, sementara Dara di sampingnya terus meronta, menangis parau hingga urat-urat di leher kecilnya menegang.Melihat skandal luar biasa ini tersaji langsung di depan mata mereka, Tasya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Rasa iri yang bertahun-tahun ia pendam seolah mendapatkan bahan bakar paling murni malam ini. Tasya melangkah maju, meletakkan gelas minumannya dengan den
Malam itu, Bayu, Maudy dan ibunya sedang bersiap untuk pergi ke rumah paman maudy. Selama di perjalanan, Maudy sempat mencemaskan sesuatu.“Bu, gimana kalau sikap keluarga paman Heru masih sama seperti dulu?” tanya Maudy pada Ibunya.“Semoga aja nggak Maudy. Tapi, biar bagaimanapun, hari ini mereka kembali ke kota ini setelah bertahun tahun pindah. Dan hanya tinggal ibu saja saudara kandung paman kamu. Jadi, entah bagaimanapun sikap mereka, kita tetap harus menemui dan menyambut kedatangan mereka di kota ini dengan baik,” tutur Ibu Maudy pada putrinya.Maudy mengangguk saat mendengar nasehat ibunya. Sementara Bayu, dia cukup dibuat heran dengan topik pembahasan mereka.“Ada apa sih?” tanya bayu.“Nanti aja aku ceritain di rumah,” sahut Maudy, lalu bayu pun mengangguk mengerti.Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan Rumah megah bergaya kolonial di kawasan pemukiman elit. Paman Heru, kakak kandung dari ibunda Maudy, sengaja memilih kediaman ini untuk menandai kembalinya mereka ke ibu
Di belahan kota yang lain, jarum jam bergerak tenang mendekati waktu makan malam. Bayu baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah setelah menembus kemacetan kota. Kemeja kerjanya sudah sedikit dilonggarkan, namun gurat ketegasan di wajahnya tidak memudar. Di dalam kamar utama, Maudy sudah terlihat anggun mengenakan gaun semi-formal bernuansa pastel, siap untuk menghadiri acara syukuran paman kandungnya malam ini.Melihat suaminya baru pulang, Maudy tersenyum hangat dan melangkah mendekat. "Mas baru pulang? Ayo cepat bersiap, aku sudah menyiapkan kemeja batikmu di atas tempat tidur. Kita tidak enak kalau datang terlambat ke rumah Paman Heru."Namun, alih-alih langsung bergegas ke kamar mandi atau meraih kemeja batiknya, Bayu justru menatap Maudy dengan pandangan mata yang dalam dan serius. Pria itu meraih kedua tangan Maudy, menggenggamnya dengan lembut, lalu menuntun istrinya untuk duduk bersama di sofa panjang yang terletak di sudut kamar mereka.Maudy mengernyitkan alisnya, me
Setelah melihat Silvy yang begitu keras kepala dan menolak mentah-mentah untuk memeras Bayu, Ani tidak menyerah begitu saja. Otak liciknya segera berputar mencari celah lain. Jika ia tidak bisa menggerakkan ibunya, maka ia akan menggunakan sang anak sebagai pion. Dara adalah kunci yang paling rapuh
Tiga hari telah berlalu sejak ketegangan di rumah sakit malam itu. Waktu bergerak membawa perubahan perlahan pada ritme kehidupan masing-masing. Dara, yang kondisi fisiknya sempat menurun drastis, akhirnya dinyatakan membaik oleh tim dokter dan diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan di ru
Di dalam kamar rawat inap nomor yang tenang, suara dengung halus dari alat pemantau medis menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan. Dara telah tertidur lelap dengan selang infus yang menempel di punggung tangan mungilnya, menyiratkan kedamaian setelah badai demamnya perlahan mereda.Silv
Waktu seolah merayap dengan sangat lambat di selasar rumah sakit yang sunyi. Suara langkah kaki para perawat yang sesekali melintas dan dengung lampu neon di langit-langit koridor menjadi satu-satunya irama yang menemani Bayu dan Maudy. Di sela-sela kepala Maudy yang masih bersandar di bahunya, Bay







