LOGINDi dalam mobil yang melaju membelah kemacetan kota di sore hari, Bayu duduk di kursi penumpang dengan kegelisahan yang nyata. Di sampingnya, Cindy sesekali terisak. Namun fokus Bayu terpecah. Matanya menatap keluar jendela, sementara pikirannya tertinggal di parkiran kantor tadi. Ada rasa sakit yang menusuk saat dia mengingat sorot mata Maudy yang dingin dan ketus. Dia tahu, Maudy adalah tipe wanita yang lebih memilih diam seribu bahasa daripada meledak-ledak jika sedang terluka.Demi menjaga hati wanita yang dicintainya, Bayu merogoh ponselnya. Jemarinya bergerak cepat di atas layar, mengetikkan pesan singkat namun sarat akan permohonan agar Maudy tidak menutup pintu hati untuknya."Sayang, kamu marah ya? Tolong jangan salah paham. Aku terburu-buru hanya karena cemas pada kondisi Ibu angkatku. Beliau sudah seperti orang tuaku sendiri. Aku harap kamu bisa mengerti kondisi ini. Aku akan segera menemuimu setelah semuanya stabil,” tulis Bayu.Di sisi lain, Maudy yang baru saja masuk k
Sisa hari pertama kerja bagi Maudy berjalan dengan produktivitas yang luar biasa. Dukungan moral dari para staf seolah memberikan asupan energi baru baginya untuk menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas dan rencana strategis perusahaan. Namun, di balik semangat yang membara itu, Maudy sesekali melirik ke arah pintu kaca ruangannya, menyadari bahwa di luar sana, Cindy masih menatapnya dengan api permusuhan yang belum padam.Sore itu, ketika semburat jingga mulai menghiasi langit kota, Maudy merapikan meja kerjanya. Sesuai janji Bayu saat jam makan siang tadi, pria itu akan mengantarnya pulang sekaligus ingin menjenguk Ibu Maudy. Maudy merasa sedikit lega. Setidaknya dia punya bahu untuk bersandar setelah hari yang penuh drama ini.Mereka berjalan beriringan menuju area parkir khusus eksekutif. Udara sore yang sejuk menyambut mereka. Dan untuk sejenak, Maudy merasa tenang. Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik."Mas Bayu! Tunggu! Mas, gawat Mas!"Sebuah teriakan mel
Setelah punggung Rio menghilang di balik pintu lift yang tertutup dengan dentuman keras, suasana di koridor eksekutif tidak lantas menjadi sepi. Sebaliknya, keheningan yang tadi mencekam perlahan mencair, berganti dengan riuh rendah bisikan yang kini nadanya sangat berbeda. Jika pagi tadi udara di lantai itu dipenuhi dengan aroma cemoohan dan prasangka buruk, kini atmosfernya berubah menjadi simpati yang mendalam.Para staf yang tadinya memandang Maudy dengan sebelah mata, karena menganggapnya sebagai istri yang tidak setia atau wanita yang haus kekuasaan, kini tertunduk malu. Mereka baru saja menyaksikan drama kejujuran yang menelanjangi sifat asli Rio.Beberapa manajer menengah dan staf senior yang dulu pernah bekerja di bawah Maudy perlahan mendekat. Mereka tidak lagi menjaga jarak. Seorang staf bagian administrasi, seorang wanita yang tadi pagi sempat berbisik sinis, kini memberanikan diri melangkah maju dengan wajah penuh penyesalan."Bu Maudy… kami benar-benar minta maaf. Kam
Koridor lantai eksekutif itu kini benar-benar menjadi panggung sandiwara yang menegangkan. Para staf yang tadinya hanya berani mengintip, kini mulai berdiri di dekat kubikel mereka, memasang telinga lebar-lebar. Aroma ketegangan menyeruak, lebih tajam daripada wangi kopi yang biasa memenuhi ruangan.Rio, dengan segala kelicikannya segera memainkan taktiknya. Dia menatap Maudy dengan raut wajah yang memelas. Sebuah topeng kepedulian yang dia kenakan demi menarik simpati orang-orang di sekitarnya."Ayo pulang, Maudy! Di sini bukan tempatmu. Aku juga punya perusahaan besar, lalu buat apa kamu harus menghinakan diri dengan bekerja di tempat pria lain seperti ini? Kamu bisa mengelola perusahaan kita sendiri, Maudy. Atau kalau kamu lelah, kamu cukup beristirahat di rumah, biar aku yang bekerja keras untukmu. Aku tidak ingin kamu diperlakukan seperti buruh di sini,” ucap Rio dengan nada yang berat. Hingga begitu terdengar seperti sosok suami yang sedang berusaha melindungi kehormatan istri
Keheningan emosional di dalam ruangan itu mendadak pecah oleh suara hantaman keras pada pintu. Brak! Brak! Brak! Suara gedoran itu bukan lagi ketukan sopan seorang sekretaris, melainkan sebuah ledakan amarah yang sangat Maudy kenali suaranya."Maudy! Buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam dengan laki-laki itu! Keluar kamu!" Teriakkan Rio menggema hingga ke selasar luar, memicu ketegangan instan di lantai eksekutif.Maudy tersentak, tubuhnya menegang dan wajahnya memucat seketika. Refleks, dia menatap pintu dan kembali menatap Bayu dengan tatapan penuh kecemasan. Beruntung, Bayu memiliki insting yang kuat untuk selalu mengunci pintu setiap kali mereka sedang berdua. Jika tidak, Rio pasti sudah masuk dan mungkin membawa ponselnya untuk merekam posisi mereka yang sangat dekat, lalu menyebarkannya ke media sosial dengan narasi perselingkuhan yang keji.Rupanya, pengangkatan Maudy sebagai CEO telah bocor dalam hitungan menit. Seorang staf lama yang masih menjadi antek antek Rio, telah
Setelah berdebat kecil dengan Cindy, Maudy dan Bayu kemudian masuk ke ruang CEO tersebut. Keheningan mendadak menyelimuti ruangan luas itu. Maudy tidak segera melangkah menuju kursi kulit yang berada di balik meja kebesarannya. DIa hanya berdiri terpaku di tengah ruangan, memandangi setiap jengkal furnitur yang masih tertata di posisi yang sama seperti saat ia meninggalkannya dulu. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Yakni suasana hatinya yang kini jauh lebih berat.Matanya seketika berkaca-kaca menatap permukaan meja kerja yang mengkilap, lalu perlahan beralih menatap Bayu yang berdiri tak jauh darinya. Bayu, yang selalu peka terhadap setiap perubahan suasana hati Maudy, segera menyadari ada riak kesedihan di balik wajah tegar wanita itu. Ia melangkah perlahan, mendekati Maudy. Namun tetap menjaga jarak yang sopan agar tidak mengganggu lamunannya."Maudy? Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak suka dengan tata letak ruangannya? Jika kamu tidak suka, Aku bisa menyuruh orang untuk mengubah s
Sore itu, suasana parkiran basement kantor yang remang-remang terasa mencekam. Bayu baru saja hendak menaiki motor tuanya ketika sebuah mobil mewah berhenti tepat di belakangnya, menghalangi jalan. Rio keluar dari mobil dengan wajah yang tidak bersahabat, langkahnya mantap menuju Bayu yang masih mem
Siang itu, saat Lyra keluar dari ruangan Rio, langkahnya terhenti di depan pintu ruangan Maudy yang sedikit terbuka. Di dalam sana, dia mendengar suara tawa kecil Maudy yang bersahutan dengan ocehan berisik seorang pria. "Bu Bos, ini togenya harus habis ya! Kalau tidak, saya mogok kerja minggu de
Bayu melipat kedua tangannya di dada, matanya menatap Maudy dengan saksama. Senyum jenakanya perlahan memudar, digantikan oleh rasa penasaran yang serius. "Tapi tunggu dulu, Bu Bos," sela Bayu, suaranya merendah. "Kemarin Ibu ketakutan setengah mati pas saya mau antar sampai kamar. Sekarang, Ib
Lyra terbelalak mendengar ucapan Maudy yang begitu yakin. Sedikit ada rasa cemas jikalau Maudy benar benar bisa membuktikan dirinya hamil. “Buktikan saja. Kami tunggu kabar baiknya sebelum keputusan kami benar benar terealisasi,” sahut Devi sambil berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan M







