Share

Bab 20

Penulis: Kak Han
last update Tanggal publikasi: 2026-03-01 22:41:47
Lyra terbelalak mendengar ucapan Maudy yang begitu yakin. Sedikit ada rasa cemas jikalau Maudy benar benar bisa membuktikan dirinya hamil.

“Buktikan saja. Kami tunggu kabar baiknya sebelum keputusan kami benar benar terealisasi,” sahut Devi sambil berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan Maudy, diiringi suaminya.

“Ya sudah, kalau gitu aku juga permisi," Lyra pun menyusul pergi. Dia merasa tidak nyaman dengan percakapan yang baru dia dengar.

Kini tinggal ada Maudy dan Rio di ruangan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Uan
iklannya menggangu s x
goodnovel comment avatar
Muhammad Nuh
aku jalan cerita nya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 377

    Keesokan harinya, sinar matahari menembus jendela ruang makan yang tenang. Aroma nasi goreng dan kopi mint kesukaan Bayu sudah menguar di udara. Namun, suasana hangat itu mendadak pecah oleh suara sendok yang berdenting keras di atas piring kaca.​Maudy yang baru saja menyuap sesendok kecil sarapannya tiba-tiba meletakkan sendoknya kembali. Wajah cantiknya seketika kehilangan warna, berubah menjadi pucat pasi. Sebelah tangannya refleks mencengkeram pinggiran meja, sementara tangan lainnya memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat.​"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Bayu, langsung meletakkan cangkir kopinya. Guratan cemas seketika tercetak jelas di wajah tampannya.​"Pusing, Mas... kepala aku mendadak berputar," bisik Maudy lirih. belum sempat Bayu menjawab, Maudy membekap mulutnya sendiri. Rasa mual yang teramat sangat menyodok dadanya. Tubuhnya gemetar dan lemas, kehilangan seluruh tenaga hingga ia nyaris terkulai dari kursi jika Bayu tidak dengan cekatan menangkap tubuhnya.​

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 376

    Maudy yang masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bayu bisa merasakan dada suaminya naik-turun karena sisa kekehan pelan. Aroma maskulin khas tubuh Bayu yang bercampur dengan sabun mandi malam benar-benar menjadi candu yang menenangkan bagi Maudy. Rasa cemas akibat ulah Tasya tadi siang seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa aman yang teramat dalam.​"Tapi, Mas… Memangnya tadi di koridor tidak ada staf lain yang melihat? Maksudku, kalau Tasya sampai hampir jatuh begitu, apa sekretarismu tidak menolongnya?" Maudy mendongak lagi, menatap wajah tampan suaminya dengan mata bulatnya yang jernih.​Bayu menaikkan sebelah alisnya, jemarinya beralih memainkan ujung rambut Maudy yang bergelombang. "Sekretarisku? Dia justru berdiri kaku di belakangku sambil menahan napas. Begitu kami masuk lift, dia langsung batuk-batuk kecil menahan tawa. Aku rasa, kalau tidak ada aku di sana, dia sudah terpingkal-pingkal di depan wajah Tasya."​Maudy tidak bisa menahan senyumnya lagi. "Kamu

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 375

    Malam kembali menjemput kota, dan di dalam kamar utama yang hangat, suasana tenang itu kembali tercipta. Setelah makan malam bersama yang santai, Bayu dan Maudy kini sudah berada di atas tempat tidur. Bayu bersandar santai di kepala ranjang dengan kaos santai berwarna abu-abu, sementara Maudy merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya, menikmati irama detak jantung Bayu yang konstan. Sebelah tangan Bayu bergerak lambat, mengusap bahu Maudy dengan penuh kasih sayang.​"Sayang, kamu tahu tidak? Hari ini aku menonton sebuah pertunjukan komedi gratis di koridor kantor," celetuk Bayu tiba-tiba, memecah keheningan malam dengan nada suara yang terdengar sangat geli.​Maudy mendongak, menatap dagu kokoh suaminya dari bawah. "Komedi? Memangnya siapa yang melucu di kantor, Mas? Jangan bilang anak-anak direksi membuat masalah lagi."​Bayu terkekeh rendah, suara tawa baritonnya bergetar di dada, membuat Maudy bisa merasakannya langsung. "Bukan mereka. Tapi sepupumu yang luar biasa itu, Tasy

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 374

    ​Tasya berlutut di atas lantai marmer yang dingin, jemarinya memungut kertas-kertas laporan dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Ia mengatur napasnya agar terdengar sedikit terengah, sementara matanya melirik dari balik helaian rambutnya yang sengaja dibiarkan jatuh berantakan membingkai wajah pucat buatannya.Langkah kaki tegap itu berhenti. Sepasang sepatu pantofel hitam mengilat milik Bayu kini berada tepat dua jengkal di depan dokumen yang berserakan. Tasya mendongak perlahan, memasang sorot mata yang sayu dan penuh kilat kepasrahan.​"P-Pak Komisaris...Maafkan saya. Saya benar-benar ceroboh. Kepala saya sedikit pusing karena meninjau ulang laporan divisi semalaman, jadi fokus saya agak terganggu,” irih Tasya, suaranya dibuat bergetar seolah ia sangat terkejut sekaligus ketakutan setengah mati melihat kehadiran sang Owner. ​Tasya mencoba bangkit berdiri, namun ia sengaja membuat gerakannya limbung. Tubuhnya condong ke depan, berpura-pura kehilangan keseimbangan agar refleks

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 373

    Setelah kembali ke ruang kerjanya, Tasya mengunci pintu dengan rapat. Wajahnya yang semula pucat pasi karena ketakutan kini perlahan berubah menjadi merah padam oleh rasa geram yang membakar dada. Ia melempar tas sepatunya ke sudut ruangan dengan kasar.​"Kurang ajar!" geram Tasya, giginya mengatup rapat sembari mondar-mandir di balik meja manajernya.​Rasa malu didepan Silvy dan ancaman pemecatan dari Bayu bukannya membuat Tasya sadar, melainkan memicu sisi gelap dari keangkuhannya yang terluka. Dari dulu, keluarganya tidak pernah mau kalah dari keluarga Maudy. Baginya, Maudy tidak layak mendapatkan segalanya. Suami tampan yang kaya raya, kekuasaan mutlak, dan pengakuan sebagai mantan CEO perusahaan itu.​Tasya berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap ke arah luar. Sebuah pemikiran licik mendadak melintas di otaknya yang buntu. Sumbu egonya yang sakit mulai merajut sebuah rencana baru.​"Kalau Maudy yang biasa-biasa saja bisa mendapatkan pria sekelas Bayu, kenapa aku tidak?" g

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 372

    Di dalam ruangan yang mendadak terasa sekecil kotak korek api itu, keheningan bergulir begitu menyiksa. Tasya masih berdiri mematung dengan bibir yang sedikit terbuka, namun tak ada satu pun patah kata yang mampu lolos dari tenggorokannya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, merusak kenyamanan setelan kerja mahal yang ia kenakan.​Bayu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Tasya. Pria itu menarik sebelah tangannya dari saku celana, lalu mengetukkan ujung jemarinya di atas tas belanja berisi sepatu hak tinggi milik Tasya. Bunyi ketukan itu terdengar ritmis, seolah sedang menghitung sisa waktu harga diri Tasya yang berada di ambang kehancuran.​"Jika pendengaran saya tidak salah. Anda baru saja mengancam akan memberikan nilai merah pada evaluasi kerja Sekretaris Silvy jika dia menolak menjadi pelayan pribadi Anda?" Bayu kembali bersuara dengan nada yang tenang dan mengerikan.​Tasya refleks menggelengkan kepala dengan cepat, matanya berkaca-kaca karena panik. "B-bukan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 279

    Pada saat yang bersamaan, Sedan hitam milik Bayu melaju dengan kecepatan sedang, membelah aspal jalanan ibu kota yang mulai merayap padat menjelang siang. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasana mencekam yang tadinya menyelimuti perjalanan menuju rumah sakit kini telah sepenuhnya mencair. Ha

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 270

    Malam kian larut, meninggalkan keheningan di rumah milik Maudy. Di dalam keheningan itu, ketegangan yang sempat memuncak perlahan-lahan mencair. Di bawah sentuhan dan dekapan hangat pria yang telah menjadi pelindungnya, seluruh benteng pertahanan Maudy runtuh tak bersisa. Di tangan sang pawang hati

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 259

    Bagi Bayu, tawaran miliaran rupiah atau nama besar Pradipta Group sama sekali tidak memiliki bobot jika harus ditimbang dengan ketenangan hidup Maudy. Ia telah menyaksikan bagaimana Maudy hancur di tangan Rio, dan ia telah berjanji di dalam hatinya untuk menjadi pelindung, bukan sumber luka baru. J

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 241

    Malam merayap begitu lambat di kediaman Maudy. Suasana di dalam kamarnya terasa sunyi, namun pikiran Maudy jauh dari kata tenang. Ia berbaring miring, menatap cahaya bulan yang menembus celah gorden, sementara jemarinya tak henti-hentinya mengetuk layar ponsel yang bercahaya terang di kegelapan.​S

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status