MasukSetelah sepuluh menit berjalan di bawah kanopi hutan yang teduh, mengikuti jalan setapak yang lurus sebelum akhirnya berubah menjadi berkelok seperti sungai kecil, mereka akhirnya tiba di tujuan utama perjalanan hati mereka-rumah kayu Kakek.
Rumah itu berdiri dengan megahnya di hadapan mereka, tua namun terawat dengan penuh kasih, kokoh seakan menyimpan kekuatan dari setiap kenangan yang pernah hidup di dalamnya. Rumah itu cukup besar, dibangun dengan model rumah panggung khas pedesaan, dengan tiang-tiang kayu solid menyangga lantainya yang berada setinggi orang dewasa. Jangan sekali-kali membayangkannya sebagai rumah angker yang menyeramkan, justru sebaliknya. Rumah ini memancarkan keindahan yang hangat dan bersahaja. Setiap papan kayunya, meski berwarna kelabu oleh terpaan angin dan matahari, masih terlihat kuat dan rapi, bebas dari lumut yang merusak. Letaknya sangat sempurna: di sebuah bidang tanah yang luas dan rata, seolah-olah hutan dengan sengaja membuka lengannya untuk memberikan ruang dan cahaya. Dalam radius sepuluh meter di sekeliling rumah, tidak ada satu pun pohon pinus yang tumbuh terlalu dekat, sehingga cahaya matahari sore dapat dengan bebas menyinari dan memeluk seluruh bangunan, membuatnya berkilau keemasan. Sebenarnya, hutan di sekitar rumah ini tidak hanya dihuni oleh pasukan pinus yang gagah. Ada keanekaragaman hayati yang hidup rukun. Di sela-sela pohon pinus, berdiri dengan anggun beberapa pohon mahoni dengan daun lebarnya yang memberikan bayangan berbeda, pohon akasia yang berbunga wangi, bahkan ada pohon jambu biji dan mangga yang ditanam Kakek dahulu, yang kini telah tumbuh besar dan berbuah, menambah palet warna hijau yang berbeda-beda dan janji manis di musimnya. Menyaksikan rumah itu, Ayah menghela napas lega. Dengan langkah yang sedikit lebih berat, dia menaiki tangga kayu yang berderit pelan, sebuah suara kenangan yang familiar. Dia lalu duduk di sebuah kursi kayu sederhana di teras rumah, tubuhnya seperti akhirnya melepas beban perjalanan panjang. Meski perjalanan dari mobil hanya sepuluh menit, perjalanan keseluruhan dari kota memakan waktu lebih dari setengah hari. Dan tentu saja, sebagai nahkoda yang setia memegang kemudi sepanjang jalan, dialah yang merasakan lelah yang paling dalam di balik bahunya yang tegap. Ibu duduk di sebelahnya, di kursi yang serupa. Dia meletakkan tas yang dibawanya dengan hati-hati, lalu meregangkan kedua lengannya ke atas dengan pelan, mengeluarkan sedikit dengusan. "Aduh... duduk terlalu lama juga pegal-pegal, ya," meski tidak bertugas mengemudi, menjadi penumpang yang waspada dan menjaga tiga malaikat kecil selama berjam-jam juga merupakan tugas yang menguras energi. Ayah memiringkan kepalanya, melirik istrinya dari sudut matanya. Satu alisnya terangkat, membentuk ekspresi setengah heran, setengah terhibur. "Lho? Kenapa kamu yang malah terlihat lebih capek? Aku kan yang menyetir dari tadi pagi. Eughh..." Ayah kemudian meregangkan lengannya dengan kuat ke depan. Dengan sengaja... maksudnya tanpa sengaja, tangan yang sedang meregang itu mengenai pipi Ibu dengan lembut. "Ish! Jangan main-main," Ibu mendesis ringan saat dia menepis tangan Ayah dengan gelengan kepala, namun senyum kecil mengembang di bibirnya. "Sini, balik badan." Perintahnya dengan lembut. "Biar Ibu yang pijitin bahu Ayah. Sebagai ganti rasa 'capek' penumpang tadi. Itu adil, kan?" Ayah tak menolak. Dengan patuh, dia membalikkan tubuhnya, memberikan punggungnya yang lebar pada sang istri. Ibu lalu mengangkat tangannya yang masih lentik dan kuat. Jari-jarinya yang terampil mulai menekan dan mengurut bahu Ayah yang terasa kaku bagai batu. Otot-otot yang tegang perlahan-lahan mulai menyerah di bawah sentuhan yang penuh perhatian itu. "Nah... iya, di situ," Ayah bergumam dengan suara rendah yang penuh rasa lega. Matanya terpejam menikmati hadiahnya. "Di bagian sana... yang paling pegal." Dia mengarahkan istrinya ke titik-titik yang paling membutuhkan perhatian. Sementara kelelahan orang dewasa menemukan pelipurannya di atas teras, ketiga malaikat kecil telah membentuk lingkaran persahabatan mereka sendiri di halaman depan rumah panggung Kakek. Jarak mereka dari Ayah dan Ibu tidaklah jauh, kira-kira hanya lima meter, sehingga tetap berada dalam zona pengawasan para orang tua. Dari atas teras, Ayah yang sedang menikmati pijatan sesekali membuka sebelah matanya, melirik ke arah tiga titik warna-warni di tengah hamparan hijau itu, memastikan mereka aman dan riang. "Jadi, sekarang... apa yang akan kita mainkan?" Lola memulai percakapan, tangannya diletakkan di pinggang. Suaranya penuh semangat, namun tampaknya ada sedikit kebijaksanaan yang baru tumbuh. Ide petak umpet di tengah hutan yang luas tadi perlahan memudar dari pikirannya, digantikan oleh bayangan dirinya tersesat sendirian di antara pohon-pohon yang serupa, sementara yang lain tertawa riang. Tidak, terima kasih. Petualangan harus tetap menyenangkan, bukan menakutkan. "B-bagaimana kalau..." suara kecil yang sedikit gemetar terdengar. Itu adalah Lala. Matanya, yang berwarna musim gugur, menatap ke bawah, sementara tangannya erat memeluk boneka kelinci pinknya. "K-kita main berburu harta karun, ya? A-aku pernah lihat di TV." Tubuh mungilnya memang sedikit bergetar. Imajinasinya tentang hutan, yang selama ini terbentuk dari kartun berwarna cerah dan lagu-lagu ceria, sedikit tercoreng oleh kenyataan: hutan ini hening, agak gelap, dan penuh dengan bayangan panjang. Dia merasa sedikit menyesal atas keinginannya yang dulu, namun kini dia sudah di sini, dan harus mencari cara untuk menikmatinya. "Ide yang bagus, Lala!" Lola berseru saat dia bertepuk tangan dengan antusias. Wajahnya berseri. "Tidak sia-sia aku mengajakmu liburan!" Pujian itu membuat pipi Lala memerah, campuran rasa malu dan bangga. Lola lalu mendongakkan kepalanya ke langit--- yang terlihat dengan jelas karena dari jarak sepuluh meter dari rumah Kakek tidak ada pohon yang menghalangi langit---seolah-olah inspirasi turun dari sana. Beberapa detik berlalu. Alisnya yang cerah berkerut menyatu, mulutnya terbuka lebar, namun tak satu pun kata yang keluar, hanya hembusan napas yang terdengar. "Ahhh..." akhirnya dia mengeluarkan suara, sambil menggaruk lengannya yang digigit nyamuk. "Tapi... harta karun apa yang harus kita cari?" Pemandangan ini disaksikan oleh Lulu, yang berdiri dengan tenang. Tanpa sadar, tangannya yang mungil menepuk dahinya sendiri, sebuah gerakan yang dia tiru dari para ilmuwan di acara dokumenter favoritnya. Dia mengira, dengan waktu berpikir selama lima belas detik yang tampak intens itu, Lola pasti sudah mendapatkan gagasan yang brilian. Ternyata, yang didapat hanyalah ruang kosong. Lulu menghela napas kecil, merasa tanggung jawab sebagai "otak operasional" tim kembali jatuh di pundaknya. "Bagaimana kalau," Lulu menaikkan pupil matanya ke atas, suaranya jernih dan tenang, memecah kebuntuan, "Kita berburu bukan untuk harta karun biasa, tapi untuk keajaiban alam? Kita bisa mencari daun dengan bentuk paling unik, batu dengan pola warna paling aneh, atau... bahkan jejak kaki hewan yang tersembunyi di tanah. Siapa yang bisa menemukan barang bukti alam paling menarik, dialah sang penjelajah ulung." "IYA!" Lola berteriak secara lambat, dengan suara yang begitu lantang hingga membuat Lulu melompat sedikit dan Lala nyaris menjatuhkan bonekanya. "ITU DIA! Itu ide yang sempurna!" Matanya berbinar seperti dua lentera kecil. "Kita akan berkompetisi mencari daun, batu, atau jejak kaki PALING UNIK di sekitar sini! Yang pertama menemukan dan membuktikan keunikannya, dialah pemenangnya! Hehehe..." Senyum liciknya mengembang, sudah membayangkan dirinya memegang daun berbentuk hati atau batu yang mirip wajah alien. Namun, sebelum petualangan berburu harta karun alam itu sempat dimulai, sebuah suara yang lembut namun penuh wibawa memanggil mereka dari arah teras. "Anak-anak sayang, tunggu dulu permainannya, ya!" suara itu berasal dari Ibu, dengan senyum yang memahami. "Perut kita sudah harus diisi. Setelah makan, kita baru akan ziarah ke makam Kakek. Setuju?" Kata-kata itu bagai mantra yang melunakkan semangat petualangan. Seketika, bahu ketiga malaikat kecil itu melorot serentak. Ekspresi bersemangat di wajah mereka berubah menjadi lesu, layaknya tiga bunga matahari yang tiba-tiba kehilangan matahari. Jangan dikira hanya Lola dan Lala yang kecewa. Lulu, yang dijuluki Lola sebagai "Putri Salju" yang dingin dan bijaksana, pun merasakan kekecewaan yang sama dalam hatinya. Meski pemikirannya paling "dewasa" di antara mereka, dia tetaplah seorang gadis berusia enam tahun yang hatinya bisa bergetar karena janji petualangan yang tertunda. Sebuah helaan napas kecil yang hampir tak terdengar keluar dari bibirnya yang tipis. Dengan gerakan seperti boneka kayu yang kehilangan tenaga, ketiganya berbalik menghadap ke teras. Suara mereka keluar serempak, kecil, dan terdengar pasrah: "Iya, Bu..." gumam Lola. "Iya, Bibi..." sahut Lala, sambil memeluk bonekanya lebih erat. "Iya, Bibi..." tambah Lulu dengan nada datar namun patuh. Mereka mulai melangkah pelan-pelan menuju rumah, seolah-olah energi yang tadi menggebu-gebu telah dihisap oleh angin sore. Suasana muram itu menggantung sebentar. Tapi, Lola adalah Lola. Keputusasaan tidak pernah bertahan lama di dirinya. Sebelum kesedihan sempat benar-benar mengakar, matanya yang cerdik berkedip. Tiba-tiba, tanpa peringatan, dia mempercepat langkahnya dari jalan santai menjadi langkah cepat penuh tujuan. Lala, yang sudah hafal dengan pola pikir sahabatnya, langsung memahami. Ada perlombaan baru! Tanpa ragu, dia pun mengikuti, langkah kecilnya menjadi cepat. Lalu, bagaimana dengan Lulu? Oh, tentu saja dia tidak akan tinggal diam. Meski awalnya terkejut, naluri kompetitifnya yang tersembunyi langsung terbangun. Dia tidak akan membiarkan dirinya hanya menjadi pengikut. "Siapa yang paling dulu sampai di atas tangga, dialah Raja atau Ratu Makan Siang!" suara Lola terdengar berapi-api, menyalakan kembali bara semangat di dada kedua temannya. Karena kejutan itu, Lola memimpin dengan tipis. Lala berada di posisi kedua dengan gigih, sementara Lulu, yang bereaksi sedikit terlambat, ada di posisi ketiga. Namun, Lulu tidak panik. Dia mengenal kemampuannya. Dalam lomba lari di sekolah, dia seringkali berada di peringkat teratas---kadang kedua, hanya jika Lola nekat berlari tanpa sepatu dan seperti anak kijang. Dengan tenaga yang terukur, dia mulai mempercepat langkahnya, berubah menjadi lari kecil yang efisien. Dengan mudah dia menyusul Lala yang mulai kelelahan, mengambil alih posisi kedua. Kemudian, langkahnya semakin kencang, mendekati Lola yang di depan. Saat mereka hampir sejajar di depan anak tangga pertama, Lulu menoleh ke Lola. Sebuah kedipan mata yang cepat dan penuh arti meluncur dari matanya yang berwarna musim dingin, seperti sebuah isyarat "selamat tinggal, sainganku". Dengan kelincahan yang mengejutkan, dia berbelok dengan lebih tajam, kaki-kakinya menapak dengan pasti pada papan kayu tangga yang berderit. Tap. Tap. Tap. Tap. Dengan ritme yang sempurna, Lulu menjadi yang pertama mencapai puncak tangga dan mendarat di teras kayu. Seperti seorang magician yang baru saja menyelesaikan trik paling hebat, dia berputar pelan dan mengangkat kedua tangannya. Senyum tipis, yang hanya bisa disebut sebagai senyum kemenangan, menghiasi bibirnya. Perlombaan dadakan itu telah dimenangkan oleh sang Putri Salju, dengan strategi dan kecepatan yang mengejutkan. Lola dan Lala, yang baru sampai di bawah tangga, hanya bisa mendongak dengan mulut sedikit terbuka, sebelum akhirnya tertawa riang.Ketiga pasang mata mungil itu refleks menutup rapat, disilangi oleh tangan-tangan kecil yang berusaha meredam silau luar biasa dari cahaya warna-warni yang menerpa mereka. Meski kelopak mata telah tertutup, mereka masih bisa merasakan kehadiran cahaya itu-sebuah sensasi hangat dan berdenyut yang meresap ke dalam. Bagaikan berdiri tepat di tengah-tengah pelangi cair yang bergelombang dan berputar, setiap warna-merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu-seolah menyentuh kulit mereka dengan lembut namun penuh kekuatan magis. Kemudian, seiring dengan alunan melodi alam yang semakin jelas terdengar, cahaya pelangi yang menyilaukan itu pun berangsur-angsur mereda, seperti tirai cahaya yang perlahan-lahan dibuka. Dengan hati-hati, Lola, Lulu, dan Lala mulai membuka mata mereka. Mereka mengerjapkan mata beberapa kali, bulu mata mereka yang basah oleh kelembapan ajaib lorong tadi berkedip-kedip. Tangan mungil mereka mengusap-usap mata, berusaha menghapus sisa-sisa kilau warna yang masi
Lola terdiam sejenak, sebuah keheningan mendadak yang membuat dua penghuni pondok---Lulu, dan Lala---merasa sedikit keheranan. Namun, keheningan itu hanya berlangsung selama dua detik sebelum badai kegembiraan meledak."YEEEEEEY!!!" Lola berteriak dengan suara yang begitu lantang dan penuh sukacita, hingga seolah-olah bisa menggetarkan debu-debu yang baru saja mereka bersihkan. Dia melompat-lompat tinggi di tempat, seperti pegas kecil yang dilepaskan, tangannya mengepal ke atas. "KITA AKAN PERGI KE DUNIA DONGENG! KITA AKAN PERGI KE TANAH KEBAHAGIAAN!"Gelombang suara yang tiba-tiba dan penuh energi itu langsung membuat Lulu dan Lala refleks menutup telinga mereka dengan kedua tangan, menyipitkan mata, dan meringis. Mereka tidak akan pernah bisa terbiasa dengan teriakan Lola saat sedang sangat bersemangat. Rasanya seperti ada lonceng kecil yang berdenting keras tepat di sebelah gendang telinga mereka. "Lola, pelan-pelan!" Lala ingin protes, tapi suaranya tertahan.Adapun Pengawal Priba
Apel itu, yang hanya sedetik lalu masih terjebak dalam dimensi dua dimensi layar kaca, tiba-tiba bergerak dengan lincah, seolah-olah melepaskan diri dari ikatan layar, dan dengan lembut melayang keluar dari bingkai TV, menggantung di udara tepat di hadapan mereka.Lola, Lulu, dan Lala hanya bisa berdiri membeku. Mata mereka membelalak lebar hingga hampir bulat sempurna, mulut mereka terbuka terkagum-kagum. Jika ada nyamuk atau lalat yang kebetulan lewat, pasti akan dengan mudahnya menjadikan mulut mereka yang terbuka lebar itu sebagai rumah baru. Mata mereka bergetar, mengikuti setiap gerakan apel yang melayang itu, seolah-olah mereka sedang menyaksikan bukan sebuah buah, melainkan kupu-kupu langka atau burung surga yang paling aneh.Kaki Lala mulai bergetar tak terkendali. Dengan gerakan pelan dan penuh ketakutan, dia melangkah mundur satu langkah, dua langkah. Lulu, yang biasanya lebih tenang, menyusul dua detik kemudian, langkahnya juga mundur dengan hati-hati. Sementara itu, Lola
"Entah-lah..." Lola menggelengkan kepalanya yang kecil. Matanya yang berwarna musim semi itu tak lepas dari sosok pondok kayu di tengah lapangan, yang seolah-olah bukan hanya sebuah bangunan, melainkan sebuah lentera ajaib yang memancarkan cahaya dan kehangatan sendiri, menerangi pulau hijau yang terisolasi ini.Lulu memandang Lola dengan ekspresi heran yang mendalam. Dia menyipitkan matanya yang berwarna kabut musim dingin, mencoba membaca ketidaktahuan temannya. "Bukankah ini hutan milik Kakekmu?" logikanya bekerja dengan cepat. "Seharusnya, kamu yang paling tahu tentang tempat ini, kan? Kamu pernah ke sini waktu kecil."Lala juga memandang Lola, menunggu jawaban yang bisa memberikan penjelasan atau setidaknya kepastian.Tanpa mengalihkan pandangan dari pondok misterius itu, Lola hanya mengangkat bahunya dengan gerakan kecil. Suaranya terdengar benar-benar bingung. "Lola juga nggak tahu. Waktu kecil dulu ke sini, Lola nggak ingat ada tempat kayak gini..." dia akhirnya menoleh sebent
Untuk membuktikan klaimnya yang luar biasa, Lola pun mengajukan sebuah solusi petualangan yang jauh lebih menggoda. "Untuk membuktikan bahwa Lola tidak bohong," matanya berbinar dengan ide yang berbahaya, "Bagaimana kalau kita kejar aja kupu-kupunya? Lola masih ingat persis di mana terakhir lihat dia menghilang!" Meski makhluk itu telah sirna di balik pohon, di benak Lola yang penuh keyakinan, tidak ada yang mustahil. Baginya, dunia adalah taman bermain yang penuh keajaiban yang menunggu untuk ditemukan, dan dadanya akan selalu berapi-api jika ada petualangan yang mengintip.Melihat Lola yang bersemangat membara seperti ini, Lulu teringat pada suatu insiden di masa lalu. Saat itu hujan turun deras, dan orang tuanya telah melarangnya bermain air hujan. Namun, bujukan Lola yang tak tertahankan membuatnya melanggar aturan. Hukumannya? Berdiri di teras rumah dengan satu kaki terangkat selama tiga puluh detik yang terasa seperti tiga puluh tahun. Kenangan itu membuat Lulu lebih berhati-hat
Sepuluh menit berlalu dalam perjalanan pulang. Akhirnya, mereka kembali tiba di pelataran depan rumah kayu Kakek yang akrab. Ayah dan Ibu, dengan langkah yang kini terasa lebih berat, menaiki tangga kayu yang berderit dan langsung duduk di kursi di teras.Tubuh mereka mengeluarkan keringat halus, entah karena perjalanan pulang-pergi ke makam yang memang membutuhkan tenaga, atau mungkin karena beban emosional dari ziarah tadi. Padahal, udara sore di hutan ini sungguh sejuk dan suhunya nyaris sempurna, namun kelelahan seringkali datang dari tempat yang lebih dalam dari otot. Ayah mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya, lalu membuka kancing kemeja flanelnya yang paling atas satu per satu, membiarkan angin sejuk yang berhembus menyentuh kulitnya, mencari kesejukan.Sementara sang orang tua mencari ketenangan dan istirahat, ketiga malaikat kecil---yang justru tampak seperti telah diisi ulang energinya oleh perjalanan tadi---telah berkumpul di tengah halaman depan rumah. Mereka







