LOGINLola menaiki tangga kayu dengan langkah-langkah kecil yang penuh tekad, setiap pijakannya menimbulkan bunyi krek-krek yang lembut, seiringan dengan suara burung pelatuk yang sedang bekerja. Di belakangnya, Lala mengikuti dengan setia, tangan kanannya mencengkeram pagar tangga, sementara tangan kirinya masih erat memeluk boneka kelinci merah mudanya.
Sesampainya di teras, Lola berhenti tepat di depan Lulu. Dia mendengus kecil, hidung mungilnya berkerut. "Hah, kemenanganmu tadi cuma kebetulan saja," dia mencoba menutupi kekalahan dengan keberanian. Matanya yang berwarna musim semi itu berbinar dengan tekad baru. Dia menunjuk ke dadanya sendiri dengan jempol. "Tunggu saja saat permainan berburu harta karun nanti. Aku yang akan jadi pemenang sejati!" Pandangannya kemudian beralih ke Ibu, yang sejak tadi hanya berdiri di samping, menyaksikan perlombaan spontan mereka dengan senyum hangat yang tak pernah pudar. Rasanya, bagi Ibu, tontonan kecil seperti ini adalah hiburan terindah yang tak akan pernah membosankan---sebuah drama kehidupan murni yang diperankan oleh hati-hati kecil yang polos. "Baiklah, anak-anakku," Ibu melangkah mendekat. Dengan penuh kasih, dia berjongkok sehingga pandangannya sejajar dengan ketiga pasang mata yang penuh cerita itu. Tangannya yang hangat lalu mengelus kepala mereka satu per satu, dimulai dari Lola yang masih bersemangat, lalu Lulu yang tenang, dan terakhir Lala yang masih sedikit ragu. Sentuhannya lembut bagai kepakan sayap kupu-kupu. "Sudah cukup ya perlombaannya untuk sekarang," dia mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah-olah memohon agar ketiga malaikat berbeda sifat itu menghentikan perlombaan mereka. Suaranya terdengar seperti gemerisik bambu yang ditiup angin---lembut dan menenangkan. "Sekarang, kita isi perut kita yang sudah keroncongan. Setelah itu, kita akan berjalan-jalan menjelajahi hutan ini sambil ziarah ke makam Kakek. Janji Ibu, setelah semua urusan selesai, kalian boleh bermain di halaman sepuasnya sampai matahari pulang!" Ibu memandangi mereka satu per satu, dan akhirnya berhenti pada Lulu. "Bagaimana, Lulu? Setuju dengan rencana Bibi?" Lulu hanya mengangguk pelan. Baginya, rencana itu masuk akal. Perutnya sendiri sebenarnya sudah merasakan lapar yang samar. Tadi siang di kolam renang, mereka hanya sempat menyantap satu bungkus pop mie instan. Memang rasanya gurih dan hangat di perut setelah bermain air, tetapi Lulu ingat betul penjelasan dari sebuah acara dokumenter di TV: makanan seperti itu tidak cukup baik untuk kesehatan. Karbohidratnya sederhana, hanya mengenyangkan sebentar, dan nutrisinya tidak selengkap nasi dengan lauk-pauk. Kepala kecilnya yang analitis sudah menyetujui bahwa sekaranglah waktunya untuk makan yang benar. "Baiklah, kalau begitu, mari kita masuk," Ibu berdiri saat dia mengulurkan tangannya, dan ketiga malaikat kecil itu pun menempel di sisinya, diantar masuk ke dalam rumah kayu Kakek. Begitu melewati ambang pintu kayu yang kokoh, mereka memasuki sebuah ruang tamu yang terasa seperti melangkah ke dalam sebuah kenangan. Udara di dalamnya terasa sejuk dan beraroma kayu pinus tua yang harum. Beberapa kursi anyaman dari rotan terhampar di sana, masih terlihat empuk dan terawat bersih, seolah-olah baru kemarin diduduki. Kursi-kursi itu mengelilingi sebuah meja kayu panjang yang sederhana, permukaannya telah diukir oleh sedikit debu karena rumah yang lama tak dihuni. Ayah sudah lebih dulu ada di dalam. Dia duduk di salah satu kursi anyaman, dan dari dalam tas ranselnya, dia mengeluarkan selembar kain lap berwarna biru. Dengan gerakan terampil dan penuh perhatian, seperti seorang ahli yang merawat benda berharga, Ayah mulai mengelus permukaan meja kayu itu. Debu-debu halus beterbangan dalam sorotan cahaya yang masuk dari jendela, sebelum akhirnya menetap di lantai, meninggalkan meja yang bersih dan siap untuk menjadi alas bagi kebersamaan keluarga yang sebentar lagi akan terwujud. Ibu pun duduk dengan tenang di salah satu kursi anyaman yang kokoh, memilih tempat yang bersebelahan dengan Ayah, sehingga mereka membentuk sebuah sudut kehangatan di ruangan itu. Lulu dan Lala, layaknya dua anak bebek yang setia, mengikuti dari belakang. Mata mereka mencari-cari, dan akhirnya tertuju pada sebuah kursi anyaman yang lebih lebar, cukup untuk menampung ketiganya---Lola, Lulu, dan Lala---dengan nyaman. Namun, kursi itu baru diduduki oleh dua malaikat kecil. Di mana malaikat kecil yang ketiga? Lulu dan Lala serentak menoleh ke arah ambang pintu. Di sana, Lola masih berdiri tegak, bagai patung kecil yang terpaku. Dalam pengamatan Lulu yang tajam, mata Lola bergerak-gerak tak henti, memindai setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh bayangan dan kenangan ini. Lola sedang melakukan lebih dari sekadar melihat, dia... sedang merasakan. Entah mengapa, rumah ini terasa sangat familiar, meski kabur, seperti melodi lama yang pernah didengar namun lupa liriknya. Seolah-olah jiwa kecilnya mengenali setiap serat kayu ini, meski akalnya tahu bahwa kunjungan terakhirnya ke sini adalah saat dia berusia tiga atau empat tahun---masa yang samar-samar. Saat itu, Kakek masih hidup, sehat, dan bersemangat seperti pria muda, meski rambutnya telah memutih. Kakek tercinta telah berpulang setahun yang lalu, meninggalkan rumah ini dalam kesunyian... hingga hari ini. Dan mungkin itu adalah kerinduan hatinya, atau mungkin tubuhnya yang mengingat, sebuah fragmen ingatan tiba-tiba terputar di kepalanya, jernih dan hidup, seolah-olah itu terjaga dengan baik. ..... Waktu itu, di teras yang sama, diterangi sinar matahari yang lebih muda, Lola yang baru berusia---mungkin empat tahun?---sedang duduk diam. Seekor kupu-kupu berwarna keemasan, seolah-olah dirajut dari cahaya sore, dengan santai hinggap di buku jarinya yang mungil. Kupu-kupu itu adalah perwujudan kebahagiaan yang bersayap. Lola menatapnya dengan kagum, napasnya tertahan, selama beberapa puluh detik yang terasa abadi. Kemudian, sang kupu-kupu mengepakkan sayapnya dan terbang, menghilang ke dalam cahaya. Lola menghela napas kecil, rasa bosan yang polos kembali menyapanya. Dia menoleh ke belakang. Di sana, di atas kursi goyang kayu yang sama yang sekarang kosong, duduklah Kakek. Kakek sedang bersenandung lembut, matanya terpejam, menikmati kedamaian. "Kakek, Lola bosan." Mendengar suara malaikat kecilnya, Kakek membuka matanya perlahan. Meski usia telah menorehkan peta keriput di wajahnya, pandangan matanya tetap jernih, cerah, dan penuh semangat---seperti mata seorang pemuda di awal dua puluhan yang penuh mimpi. Dia menatap cucu perempuannya yang sedang memandangnya dengan harapan, dan sebuah tawa kecil yang hangat menggelegak di dadanya. Dia lalu menepuk-nepuk pahanya yang kuat. Lola, yang memahami isyarat itu dengan sempurna, mengangguk pelan. Dengan langkah kecil yang pasti, dia mendekat. Karena tubuhnya masih terlalu kecil, Kakek dengan mudah mengangkatnya---seolah-olah mengangkat awan---dan mendudukkannya dengan lembut di pangkuannya yang hangat. Kursi goyang itu pun kembali bergoyang, menciptakan irama naik-turun yang menenangkan, selaras dengan detak jantung mereka. "Lalu," bisik Kakek, suaranya serak namun lembut seperti desir angin melalui daun pinus, "Apa yang bisa membuat Lola kita senang, hm?" "Lola pelnah liat sebuah kaltun di TV," Lola mengangkat kepalanya, menatap atap. Jari telunjuk mungilnya menempel di bibirnya, tanda dia sedang berkonsentrasi. "Yang celitain tentang sebuah negeli ajaib. Apa Kakek bisa celitain tentang dunia ajaib juga?" Kakek tertawa pelan, getaran tawanya bergema di dada tempat Lola bersandar. "Huhu... baiklah, kalau itu yang Lola mau! Kakek punya banyak sekali cerita tentang negeri ajaib. Ada yang dekat, ada yang jauh. Ada yang terbuat dari cahaya, ada yang terbuat dari mimpi..." ..... Kenangan itu secara perlahan memudar, meninggalkan rasa hangat dan sedih yang samar di dada Lola. Dia mengedipkan mata beberapa kali, seolah-olah baru saja kembali dari perjalanan jauh. Kemudian, dengan senyum kecil, dia akhirnya berjalan menghampiri kursi yang telah menunggunya. Dia mendekati Lulu dan Lala, dan tanpa kata-kata, dia duduk di antara mereka, melengkapi lingkaran persahabatan itu. "Lola, tadi kenapa kamu diam seperti patung begitu?" Lala bertanya saat matanya tak lepas dari boneka kelinci merah muda di pangkuannya. Jari-jarinya yang mungil memainkan boneka itu dengan lincah, mengangkatnya tinggi-tinggi seolah terbang, menurunkannya perlahan seperti mendarat, lalu mengayunkannya ke kiri dan kanan, seakan boneka itu sedang menari di panggung imajinasinya. "Tadi... Lola ingat sesuatu yang aneh," dia menggigit bibirnya sendiri saat suaranya terdengar seperti dari jauh. Kakinya yang menggantung di kursi mulai bergerak maju-mundur tak karuan, sesekali bertemu dan "bertarung" ringan dengan kaki Lulu di sebelahnya. Jari telunjuknya naik dan menempel di bibirnya, sebuah kebiasaan saat dia berpikir dalam. "Lola ingat, dulu pernah ke sini. Waktu itu..." dia berhenti sejenak, mencoba merangkai memori yang baru saja terbuka, "... Lola sedang memperhatikan seekor kupu-kupu berwarna emas. Lalu karena bosan, Lola minta Kakek menceritakan dongeng." "Itu pasti karena Lola rindu Kakek," Ibu mencondongkan tubuhnya ke arah lingkaran kecil mereka seolah ingin menangkap setiap getar percakapan. Menyela percakapan mereka. Senyum penuh pengertian menghias bibirnya. "Sudah lama sekali Lola tidak ke sini. Kadang, kenangan yang paling manis memang muncul tiba-tiba, seperti kejutan dari hati kita sendiri." "Iya! Benar!" Tubuh Lola yang kecil langsung tegak, matanya berbinar seperti dua permata yang disinari mentari. Dia mengangguk-angguk penuh semangat, setuju dengan perkataan Ibu. Tanpa disuruh, rasa kangen dan kegembiraan itu memancar keluar. Dengan lincah, dia melompat turun dari kursi dan berdiri di tengah ruangan, tepat di hadapan Ayah, Ibu, Lulu, dan Lala. Dia kemudian mengambil sebuah pose---pose yang agak kaku dan sedikit aneh, namun dipenuhi dengan keyakinan total. Tangannya ditekuk di pinggang, satu kaki agak di depan, dan ekspresi wajahnya sangat serius. Ah, tapi lupakanlah kesempurnaan pose. Dia masih anak kecil, dan pesona terbesarnya justru terletak pada keaslian yang polos ini. Lagipula, tak seorang pun di ruangan itu peduli apakah posenya pas atau tidak. Yang mereka lihat adalah cahaya murni yang memancar darinya. Bahkan, Ayah dengan cepat sudah meraih kamera yang selalu siap sedia. Klik! Suara kamera terdengar nyaring di ruangan, memotret momen spontan yang tak ternilai ini. Lola kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas, seolah-olah menggenggam sebuah tongkat sihir cahaya yang hanya bisa dilihat olehnya. Suaranya lantang, penuh dengan heroisme seorang pahlawan dongeng: "Aku adalah... Gadis Ajaib yang dipilih oleh... oleh..." Tiba-tiba, alirannya terhenti. Kepalanya miring, alisnya berkerut. Kata-kata selanjutnya menguap begitu saja dari ingatannya. Ruangan pun terdiam sejenak, menunggu. Lalu, setelah beberapa detik mencari-cari di perbendaharaan memorinya, dia menegakkan kepala. Matanya yang berwarna musim semi itu menatap langit-langit kayu rumah, seolah-olah membaca naskah yang tertulis di sana. Dan dengan suara yang lebih mantap, dia melanjutkan: "Gadis Ajaib yang dipilih oleh Takdir! Gadis Ajaib yang dipilih oleh Seluruh Semesta! Gadis Ajaib yang dipilih oleh... Dewa Matahari Tak Terpadamkan!" Setiap gelarnya diucapkan dengan tekanan dan kebanggaan, seolah-olah dia benar-benar sedang menerima titah suci. "Wahhh!!! Luar biasa!!!" Ibu bertepuk tangan dengan penuh kegembiraan, riuh seolah-olah Lola baru saja memenangkan piala emas di atas panggung dunia. Suara tepuk tangan itu awalnya hanya dari Ibu dan Ayah, sebelum kemudian dengan malu-malu namun penuh dukungan, diikuti oleh tepuk tangan kecil dari Lulu dan Lala. Namun, tak ada yang bisa menandingi semangat dan volume tepuk tangan Ibu, suaranya yang hangat dan bergema segera memenuhi ruangan. "Hehehe!" Lola menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, wajahnya bersemu merah bahagia. Matanya menyipit hingga hampir tertutup, membentuk dua bulan sabit yang cerah, sementara senyum lebar tak terbendung menghiasi wajahnya. "Terima kasih! Terima kasih banyak!" Lola, dengan gerakan dramatis layaknya pesulap yang baru saja menyelesaikan trik paling spektakuler, menunduk dalam-dalam, memberikan hormat kepada "penonton" bayangannya. Setelah pertunjukan singkat itu usai, dia kembali melompat ke kursinya. Tubuhnya masih bergetar oleh sisa-sisa adrenalin, kakinya mengayun-ayun tak karuan, seolah-olah dia baru saja menghadapi ratusan penonton yang bersorak, bukan hanya empat orang di ruang tamu sederhana ini. "Lola," Lulu melirik ke arah Lola, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Lola, suaranya berbisik penuh rasa penasaran sekaligus takjub. "Apa kamu benar-benar tidak merasa malu sama sekali?" Di benak Lulu, Lola adalah makhluk unik yang seolah-olah kebal terhadap rasa malu. Dia bisa melakukan apa saja dengan keyakinan penuh, tanpa pernah dihantui oleh bayangan canggung atau ejekan. Lulu sempat membayangkan dirinya sendiri melakukan hal serupa---berdiri di tengah ruangan, berteriak tentang menjadi Gadis Ajaib. Namun, dadanya langsung merasa sesak hanya dengan membayangkannya. Orang-orang pasti akan menganggapnya aneh, dan yang paling parah, Lola pasti akan menatapnya dengan tatapan heran yang membuatnya ingin menghilang. Jujur saja, Lulu tidak pernah---dan merasa tidak akan pernah---berani melakukan hal "memalukan" seperti itu. Kecuali, mungkin, di dalam kamarnya sendiri, dengan pintu terkunci rapat. "Tidak sama sekali!" Lola menggelengkan kepalanya dengan energik. Tubuhnya bergoyang ke kiri dan kanan mengikuti irama musik khayalannya sendiri, dan senyum lebar itu tetap tak lepas dari wajahnya. Baginya, ekspresi diri adalah sebuah kebahagiaan, bukan sesuatu yang perlu dipermalukan. Tiba-tiba, di tengah kegembiraan itu, sebuah suara yang dalam dan panjang bergema di antara mereka. Grrrrrrrr... suara itu begitu jelas, begitu akrab, dan langsung diketahui asalnya oleh semua orang. Keempat pasang mata itu serentak beralih ke satu arah... ke arah Ayah. Ayah, yang menjadi pusat perhatian, hanya mengusap-usap tengkuknya dengan sikap santai. Sebuah senyum kecut dan tawa kecil meluncur dari bibirnya, seolah-olah berusaha berpura-pura tidak tahu mengapa semua orang menatapnya. "Hahahaha!" Ledakan tawa pecah dari ketiga malaikat kecil. Suara tawa mereka yang jernih dan polos bergema di ruangan kayu, seakan-akan mereka baru saja menyaksikan pertunjukan komedi terbaik. Ibu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala penuh kasih, sementara Ayah dengan cepat mengangkat kamera dan menutupi separuh wajahnya yang memerah, berusaha bersembunyi di balik lensa. "Nah, kalau begitu, karena Tuan Besar kita perutnya sudah mulai 'berteriak' minta dikasihani," Ibu menepuk tangannya sambil berdiri, suaranya penuh keakraban. "Ibu akan segera menyiapkan makan siang kita. Kalian tunggu di sini dengan baik, ya!" Dia menyatukan kedua telapak tangannya, matanya yang lembut menatap mereka satu per satu, memastikan pesannya tersampaikan. Kemudian, dia mengambil tas besar berisi perbekalan dan berbalik, melangkah menuju dapur yang tersembunyi di balik sebuah tirai kain. Rumah Kakek dibangun dengan sederhana namun fungsional. Setelah melewati ambang pintu utama, mereka langsung berada di ruang utama yang berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus ruang keluarga---tempat mereka sekarang berkumpul. Dari sini, jika berjalan lurus kira-kira tujuh meter, akan terlihat sebuah tirai panjang dari kain katun berwarna biru langit yang warnanya sudah memudar, menggantung sebagai pembatas. Di balik tirai itulah dapur kecil Kakek berada. Sementara jika dari ruang tamu kita belok ke kiri, ada sebuah pintu kayu sederhana yang tertutup yang dilindungi oleh tirai kain. Melaluinya, mereka akan memasuki sebuah kamar yang cukup luas. Di dalamnya tersimpan perabotan hidup seorang diri: sebuah kasur kayu bertipe besar sederhana dengan bantal dan selimut rapi, sebuah kursi goyang di dekat jendela, sebuah meja tulis kecil, dan sebuah lemari kayu tua. Itulah kamar Kakek. Dulu, kamar ini ditempati berdua oleh Kakek dan Nenek. Namun, Nenek telah lebih dulu pergi, menyatu dengan kedamaian alam, meninggalkan Kakek untuk menghabiskan hari-harinya sendirian di rumah kayu ini, dikelilingi oleh kenangan dan kesunyian hutan, hingga akhirnya dia pun menyusulnya setahun yang lalu.Ketiga pasang mata mungil itu refleks menutup rapat, disilangi oleh tangan-tangan kecil yang berusaha meredam silau luar biasa dari cahaya warna-warni yang menerpa mereka. Meski kelopak mata telah tertutup, mereka masih bisa merasakan kehadiran cahaya itu-sebuah sensasi hangat dan berdenyut yang meresap ke dalam. Bagaikan berdiri tepat di tengah-tengah pelangi cair yang bergelombang dan berputar, setiap warna-merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu-seolah menyentuh kulit mereka dengan lembut namun penuh kekuatan magis. Kemudian, seiring dengan alunan melodi alam yang semakin jelas terdengar, cahaya pelangi yang menyilaukan itu pun berangsur-angsur mereda, seperti tirai cahaya yang perlahan-lahan dibuka. Dengan hati-hati, Lola, Lulu, dan Lala mulai membuka mata mereka. Mereka mengerjapkan mata beberapa kali, bulu mata mereka yang basah oleh kelembapan ajaib lorong tadi berkedip-kedip. Tangan mungil mereka mengusap-usap mata, berusaha menghapus sisa-sisa kilau warna yang masi
Lola terdiam sejenak, sebuah keheningan mendadak yang membuat dua penghuni pondok---Lulu, dan Lala---merasa sedikit keheranan. Namun, keheningan itu hanya berlangsung selama dua detik sebelum badai kegembiraan meledak."YEEEEEEY!!!" Lola berteriak dengan suara yang begitu lantang dan penuh sukacita, hingga seolah-olah bisa menggetarkan debu-debu yang baru saja mereka bersihkan. Dia melompat-lompat tinggi di tempat, seperti pegas kecil yang dilepaskan, tangannya mengepal ke atas. "KITA AKAN PERGI KE DUNIA DONGENG! KITA AKAN PERGI KE TANAH KEBAHAGIAAN!"Gelombang suara yang tiba-tiba dan penuh energi itu langsung membuat Lulu dan Lala refleks menutup telinga mereka dengan kedua tangan, menyipitkan mata, dan meringis. Mereka tidak akan pernah bisa terbiasa dengan teriakan Lola saat sedang sangat bersemangat. Rasanya seperti ada lonceng kecil yang berdenting keras tepat di sebelah gendang telinga mereka. "Lola, pelan-pelan!" Lala ingin protes, tapi suaranya tertahan.Adapun Pengawal Priba
Apel itu, yang hanya sedetik lalu masih terjebak dalam dimensi dua dimensi layar kaca, tiba-tiba bergerak dengan lincah, seolah-olah melepaskan diri dari ikatan layar, dan dengan lembut melayang keluar dari bingkai TV, menggantung di udara tepat di hadapan mereka.Lola, Lulu, dan Lala hanya bisa berdiri membeku. Mata mereka membelalak lebar hingga hampir bulat sempurna, mulut mereka terbuka terkagum-kagum. Jika ada nyamuk atau lalat yang kebetulan lewat, pasti akan dengan mudahnya menjadikan mulut mereka yang terbuka lebar itu sebagai rumah baru. Mata mereka bergetar, mengikuti setiap gerakan apel yang melayang itu, seolah-olah mereka sedang menyaksikan bukan sebuah buah, melainkan kupu-kupu langka atau burung surga yang paling aneh.Kaki Lala mulai bergetar tak terkendali. Dengan gerakan pelan dan penuh ketakutan, dia melangkah mundur satu langkah, dua langkah. Lulu, yang biasanya lebih tenang, menyusul dua detik kemudian, langkahnya juga mundur dengan hati-hati. Sementara itu, Lola
"Entah-lah..." Lola menggelengkan kepalanya yang kecil. Matanya yang berwarna musim semi itu tak lepas dari sosok pondok kayu di tengah lapangan, yang seolah-olah bukan hanya sebuah bangunan, melainkan sebuah lentera ajaib yang memancarkan cahaya dan kehangatan sendiri, menerangi pulau hijau yang terisolasi ini.Lulu memandang Lola dengan ekspresi heran yang mendalam. Dia menyipitkan matanya yang berwarna kabut musim dingin, mencoba membaca ketidaktahuan temannya. "Bukankah ini hutan milik Kakekmu?" logikanya bekerja dengan cepat. "Seharusnya, kamu yang paling tahu tentang tempat ini, kan? Kamu pernah ke sini waktu kecil."Lala juga memandang Lola, menunggu jawaban yang bisa memberikan penjelasan atau setidaknya kepastian.Tanpa mengalihkan pandangan dari pondok misterius itu, Lola hanya mengangkat bahunya dengan gerakan kecil. Suaranya terdengar benar-benar bingung. "Lola juga nggak tahu. Waktu kecil dulu ke sini, Lola nggak ingat ada tempat kayak gini..." dia akhirnya menoleh sebent
Untuk membuktikan klaimnya yang luar biasa, Lola pun mengajukan sebuah solusi petualangan yang jauh lebih menggoda. "Untuk membuktikan bahwa Lola tidak bohong," matanya berbinar dengan ide yang berbahaya, "Bagaimana kalau kita kejar aja kupu-kupunya? Lola masih ingat persis di mana terakhir lihat dia menghilang!" Meski makhluk itu telah sirna di balik pohon, di benak Lola yang penuh keyakinan, tidak ada yang mustahil. Baginya, dunia adalah taman bermain yang penuh keajaiban yang menunggu untuk ditemukan, dan dadanya akan selalu berapi-api jika ada petualangan yang mengintip.Melihat Lola yang bersemangat membara seperti ini, Lulu teringat pada suatu insiden di masa lalu. Saat itu hujan turun deras, dan orang tuanya telah melarangnya bermain air hujan. Namun, bujukan Lola yang tak tertahankan membuatnya melanggar aturan. Hukumannya? Berdiri di teras rumah dengan satu kaki terangkat selama tiga puluh detik yang terasa seperti tiga puluh tahun. Kenangan itu membuat Lulu lebih berhati-hat
Sepuluh menit berlalu dalam perjalanan pulang. Akhirnya, mereka kembali tiba di pelataran depan rumah kayu Kakek yang akrab. Ayah dan Ibu, dengan langkah yang kini terasa lebih berat, menaiki tangga kayu yang berderit dan langsung duduk di kursi di teras.Tubuh mereka mengeluarkan keringat halus, entah karena perjalanan pulang-pergi ke makam yang memang membutuhkan tenaga, atau mungkin karena beban emosional dari ziarah tadi. Padahal, udara sore di hutan ini sungguh sejuk dan suhunya nyaris sempurna, namun kelelahan seringkali datang dari tempat yang lebih dalam dari otot. Ayah mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya, lalu membuka kancing kemeja flanelnya yang paling atas satu per satu, membiarkan angin sejuk yang berhembus menyentuh kulitnya, mencari kesejukan.Sementara sang orang tua mencari ketenangan dan istirahat, ketiga malaikat kecil---yang justru tampak seperti telah diisi ulang energinya oleh perjalanan tadi---telah berkumpul di tengah halaman depan rumah. Mereka







