Compartir

Bab 4

Autor: Yusfa
Malam itu, Farrel tidak pulang.

Baru keesokan harinya menjelang siang dia kembali dengan tubuh yang membawa aroma samar parfum bernuansa kayu.

Itu parfum yang biasa dipakai Claudia.

Dia melempar kunci mobil ke rak di dekat pintu, lalu menatapku dengan wajah dingin.

"Sudah puas melampiaskan emosimu semalam?"

Aku sedang menutup sebuah kardus dengan lakban tanpa mengangkat kepala.

"Pura-pura tuli, ya?"

Dia menghampiri, lalu menendang kardus itu.

"Untuk apa beres-beres semua barang rongsokan ini?"

"Membereskan barang yang sudah tidak kupakai."

Dia mencibir, "Luna, trik jual mahalmu ini benar-benar murahan. Kamu pikir kalau mendiamkanku beberapa hari, aku akan datang membujukmu?"

Aku berdiri tegak sambil menepuk debu di tanganku.

"Aku memang tidak berharap kamu membujukku."

"Lalu apa-apaan sikapmu ini? Gara-gara ucapanmu semalam, Claudia menangis setengah jam lebih. Kamu berhutang maaf padanya.”

"Aku tidak akan minta maaf."

"Sikapmu benar-benar tidak masuk akal!"

Dengan kesal dia mengacak rambutnya, lalu duduk di sofa.

"Aku tidak punya waktu terus melayanimu. Rabu depan aku akan menerbangkan rute Aurora ke Reykjavik. Kalau kamu mau mengakui kesalahanmu, tiket gratis untuk keluarga yang awalnya kusiapkan untuk Claudia akan kuberikan kepadamu. Aku akan mengajakmu melihat aurora."

Aku terdiam sesaat.

Aurora.

6 tahun lalu aku didiagnosis memiliki nodul tiroid. Meski jinak, tapi saat itu aku benar-benar ketakutan.

Di samping ranjang rumah sakit, dia menggenggam tanganku sambil berkata, "Nanti kalau sudah sembuh, aku akan mengajakmu melihat aurora. Kita naik pesawat yang kuterbangkan dan melihat langit malam paling indah bersama."

Janji itu dia tunda selama 6 tahun.

Dan sekarang, janji yang sudah 6 tahun tidak pernah ditepatinya itu dijadikan hadiah belas kasihan agar aku mau mengalah.

Lebih ironisnya lagi, tiket itu sebenarnya memang dipersiapkan untuk Claudia.

"Masih tidak tertarik?" Melihatku diam, dia mengernyit.

"Kamu tahu betapa sulitnya mendapatkan tiket gratis untuk rute ini? Claudia memintanya berkali-kali baru akhirnya kusetujui. Kalau bukan karena perayaan hubungan kita yang ke-8 tahun, aku juga tidak akan mengubah keputusan untuk memberikannya kepadamu."

"Berikan saja tiket itu pada Claudia." Aku menatapnya. Suaraku begitu lirih hingga nyaris tak terdengar.

"Apa?"

"Aku bilang, berikan padanya. Aku tidak butuh."

Farrel langsung berdiri. Wajahnya menjadi gelap.

"Luna, jangan tidak tahu diri! Aku sudah memberimu kesempatan. Kalau kamu terus keras kepala begini, jangan sampai nanti menangis sambil memohon kepadaku."

"Aku tidak akan memohon."

Dengan marah dia membanting gelas kaca di atas meja.

Pecahannya terpencar ke mana-mana dan menggores betisku hingga mengeluarkan darah.

Dia bahkan tidak melirik luka itu dan langsung pergi sambil membanting pintu.

Aku menunduk memandangi darah yang mengalir dari betisku, lalu mengambil tisu dan mengusapnya perlahan.

Tidak sakit. Benar-benar sudah tidak sakit lagi.

Waktu berlalu begitu cepat hingga Rabu minggu depan itu tiba.

Hari jadi hubungan kami yang ke-8.

Sekaligus hari efektif pengunduran diriku dan hari aku meninggalkan kota ini.

Aku menarik satu-satunya koper milikku dan naik taksi menuju bandara.

Penerbanganku menuju Baili berangkat pukul 3 sore.

Setelah mengambil boarding pass, aku duduk di ruang tunggu sambil memandangi pesawat yang lepas landas dan mendarat di luar jendela.

Sementara itu, penerbangan menuju Reykjavik berangkat pukul 2 siang.

Saat ini Farrel seharusnya sudah duduk di kursi kapten sebelah kiri, bersiap melakukan prosedur keberangkatan.

Aku membuka ponselku hanya ingin melihat status penerbangannya untuk terakhir kalinya.

Sebagai penutup 8 tahun yang telah kulewati bersamanya.

Informasi kru penerbangan pun muncul.

Namun, nama kaptennya justru bukan Farrel Grattino.

Melainkan nama asing yang tidak kukenal.

Aku tertegun.

Apa dia sakit sampai harus diganti sementara?

Tepat saat itu, dari sudut mataku kulihat pintu ruang tunggu kelas satu.

Seorang pria berbalut mantel kasual sedang mendorong koper berwarna merah muda.

Di sampingnya berjalan seorang wanita dengan mantel berwarna senada.

Wanita itu menggandeng mesra lengan pria tersebut dengan kepala yang bersandar di bahunya.

Itu Farrel dan Claudia.

Aku berdiri mematung, menyaksikan mereka masuk ke ruang tunggu kelas satu.

Di saat yang sama, terdengar obrolan dua petugas di dekatku.

“Bukankah yang barusan masuk itu Kapten Farrel? Seharusnya hari ini dia bertugas terbang ke Reykjavik, kan?”

"Dia mendadak mengambil cuti tahunan. Katanya mau menemani Claudia yang Kepala Pramugari itu liburan ke Finlandia."

"Iya. Kemarin Claudia sampai pamer di grup. Katanya Kapten Farrel rela melepas jadwal menerbangkan rute Aurora demi membeli tiket penumpang dan menemaninya berlibur panjang."

"Romantis sekali. Kapten Farrel benar-benar memperlakukan Claudia dengan spesial."

Aku tiba-tiba merasa konyol.

Jadi, bukan karena dia menyerahkan tiket keluarga yang semula untuk Claudia kepadaku.

Melainkan dia sendiri menyerahkan tugas menerbangkan pesawat demi Claudia.

Lalu secara khusus merencanakan perjalanan melihat aurora untuk mereka berdua saja.

Sementara kepadaku, dia memakai kebohongan itu agar aku merasa berutang budi.

Pengumuman boarding penerbanganku terdengar dari pengeras suara.

Aku menoleh sekali lagi ke arah ruang tunggu kelas satu.

Lalu berbalik dan menyerahkan boarding pass kepada petugas.

Pintu pesawat ditutup.

Pesawat mulai bergerak, berakselerasi, lalu mengudara.

Di langit setinggi sepuluh ribu meter, pesawat milik maskapainya membawaku menembus lautan awan.

Sementara Farrel, mengambil cuti dan duduk di kabin kelas satu pesawat lain demi “Beruang kecil”-nya.

Aku memandang lautan awan di luar jendela.

8 tahun, akhirnya aku benar-benar bebas.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 10

    Hujan di Baili akhirnya reda.Aku mengenakan jaket olahraga yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci, mengikat rambutku seadanya menjadi ekor kuda, lalu mendorong pintu halaman.Ponsel di saku bergetar pelan.Sambil membungkuk membuka kunci sepeda, aku mengeluarkan ponsel.Di layar muncul pesan dari Alana, disertai tiga tanda seru.[Proses balik nama rumahnya sudah selesai!!! Kata agen properti, rumahnya bisa langsung dipasarkan. Mau dijual berapa?]Rumah itu adalah satu-satunya ikatan yang masih tersisa antara diriku dan kota itu.Aku menaiki sepeda, satu kaki masih menapak di tanah, lalu membalas pesannya dengan satu tangan.[Jual saja sesuai harga pasar. Bagaimana kalau uang hasil penjualannya kita pakai patungan untuk membuka penginapan di sini?]Belum sampai 10 detik, balasan Alana langsung masuk.Dia mengirim stiker panda yang sedang berlutut sambil bersujud, dengan tulisan besar di atas kepalanya, [Bos memang paling dermawan!]Tak lama kemudian dia mengirim pesan

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 9

    Sejak Farrel meninggalkan Baili, hidupku benar-benar kembali tenang.Alana memberi kabar lewat Whatsapp bahwa setelah kembali, Farrel jatuh sakit parah.Demamnya mencapai 40 derajat. Dia harus dirawat di rumah sakit dan menjalani infus selama 3 hari.Setelah keluar dari rumah sakit, dia mengajukan permohonan kepada perusahaan untuk dipindahkan ke divisi penerbangan kargo. Sejak saat itu, dia tidak lagi menerbangkan pesawat penumpang."Kudengar setiap kali masuk ke kabin penumpang dan melihat kursi observasi di sisi kanan yang kosong, dia langsung melamun. Hampir saja terjadi insiden penerbangan. Karena itu perusahaan akhirnya memindahkannya ke penerbangan kargo."Nada suara Alana terdengar sedikit iba, tetapi jauh lebih banyak mengandung rasa puas.Sedangkan Claudia, setelah kehilangan Farrel sebagai pelindungnya, seluruh "hak istimewa" yang dulu dimilikinya di maskapai telah dicabut.Rekan-rekan kerja yang sebelumnya pernah disakitinya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk membalasnya

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 8

    Kemunculan Farrel sama sekali tidak membuat mangkuk di tanganku berguncang.Aku menelan suapan terakhir es jeli, lalu mengambil tisu untuk menyeka sudut bibirku."Kamu salah alamat. Ini rumah tinggal pribadi."Dia melangkah masuk dengan langkah lebar, lalu menutup pintu halaman dari belakang.Tubuhnya jauh lebih kurus. Janggut tipis mulai tumbuh di dagunya. Kemeja yang biasanya selalu licin dan rapi kini kusut menempel di tubuhnya.Penampilannya yang berantakan itu benar-benar bertolak belakang dengan sosok kapten pilot yang selama ini selalu tampak sempurna."Luna, aku salah."Dia berhenti di hadapanku. Suaranya serak, dan gurat-gurat merah di matanya terlihat jelas."Aku sudah mengusir Claudia. Semua barangnya juga sudah kubuang. Mulai sekarang kursi observasi kopilotku hanya untukmu. Kata sandi ponselku juga sudah kuganti menjadi tanggal lahirmu. Pulanglah bersamaku, ya?"Seperti anak kecil yang melakukan kesalahan, dia buru-buru memamerkan semua "hasil perbaikannya".Aku menatapnya

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 7

    Claudia tanpa sadar mundur dua langkah karena terkejut.Selama ini dia belum pernah melihat Farrel seperti itu. Di hadapannya, Farrel selalu menjadi kapten senior yang lembut, tenang, dan selalu mampu mengatasi segala situasi."Mas Farrel, kenapa malah marah kepadaku?"Matanya langsung memerah. Air mata menggenang di pelupuknya."Apa karena Kak Luna marah lagi soal aurora? Aku sudah bilang tiketnya dikembalikan saja kepadanya. Kamu sendiri yang memaksaku ikut. Sekarang dia kabur dari rumah, kenapa malah aku yang dimarahi?"Farrel menatapnya tanpa berkedip.Melihat wajah penuh kepura-puraan itu, perutnya tiba-tiba terasa mual.Inikah wanita yang selama 4 tahun terakhir selalu dia “lindungi” sepenuh hati?Setelah Luna pergi, reaksi pertama Claudia bukan rasa bersalah, melainkan buru-buru melepaskan tanggung jawab. Bahkan berusaha membalikkan kesalahan kepadaku."Kamu sudah tahu dia pergi, kan?" Farrel berdiri. Selangkah demi selangkah mendekatinya."Di ruang tunggu bandara hari itu, kam

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 6

    Farrel kalang kabut.Dia menelepon semua orang yang mengenalku.Orang pertama yang dihubunginya adalah Alana."Alana, di mana Luna? Dia pergi ke mana?" tanyanya terburu-buru begitu telepon tersambung.Dari seberang, Alana mencibir dingin."Kapten Farrel, akhirnya rela pulang juga setelah liburan? Bagaimana? Aurora-nya indah?""Jangan bahas itu! Luna sebenarnya ada di mana? Mau ngambek juga ada batasnya!""Ngambek?" Suara Alana langsung meninggi."Farrel, apa isi kepalamu itu cuma avtur? Memangnya ada orang yang cuma ngambek, tapi sampai menonaktifkan kartu sim nya?""Dia cuma mau memaksaku mengalah!" Farrel mengatupkan rahangnya. "Bukankah cuma karena aku tidak mengajaknya melihat aurora? Bukankah cuma karena tiketnya kuberikan kepada Claudia? Nanti juga akan kuberi gantinya!""Farrel Grattino . . . ."Suara Alana berubah dingin."Sampai sekarang kamu masih tidak tahu alasan kenapa dia pergi, ya?"Alana mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan."6 tahun lalu, s

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 5

    Matahari di Baili bersinar terik, menghangatkan seluruh tubuh.Aku menyewa sebuah rumah tradisional suku Baili yang memiliki halaman kecil di dekat Danau Guta.Aku langsung membayar uang sewa untuk enam bulan.Pemilik rumah adalah seorang ibu yang ramah.Melihatku datang sendirian membawa koper, dia dengan sukarela membantu mengangkat barang-barangku masuk."Nak, ke Baili sendirian mau liburan?""Bukan liburan, tapi menetap di sini." Ujarku seraya menyusun buku-buku yang kubawa satu per satu di rak kayu dekat jendela."Baguslah. Tinggal di sini membuat badan dan hati jadi sehat."Ibu itu tersenyum lalu pergi.Aku merebahkan diri di ranjang kayu yang telah dipasangi seprai bersih. Lalu menatap balok-balok kayu berukir di langit-langit.Tak ada lagi deru mesin pesawat. Tak ada lagi radar penerbangan. Tak ada lagi penantian.Selama 8 tahun terakhir, inilah tidur paling nyenyak yang pernah kurasakan.Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di Reykjavik.Apa yang dilakukan Farrel, aku sama

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status