Short
Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian

Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian

Por:  MachikaCompleto
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Capítulos
1visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Sejak istriku memesan sofa baru yang lebih panjang dan lebih lebar itu, dia setiap malam selalu tidur di ruang tamu. Setiap kali aku ingin mengajaknya ke kamar untuk berhubungan suami istri, dia selalu memakai alasan lelah untuk mengusirku pergi. Kadang-kadang dia bahkan mengunci pintu kamar, sementara dari ruang tamu selalu terdengar suara-suara tertahan. Sampai keesokan paginya, baru dia membukakan pintu untukku. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Pada hari dia melahirkan, ketika dia baru keluar dari ruang bersalin dan bahkan belum turun dari ranjang rumah sakit, aku bukan hanya menolak menggendong anak itu, tetapi juga langsung mengajukan cerai padanya. Dengan mata memerah, dia bertanya kepadaku, "Cuma karena aku tidur di sofa setiap malam, kamu sampai mau menceraikan istrimu yang baru saja melahirkan anak untukmu?" Tanpa ragu sedikit pun, aku menjawab, "Ya!"

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1

Mendengar jawabanku yang tegas, Emma menangis tersedu-sedu di ranjang ruang bersalin.

Kedua orang tua kami juga seketika menarik diri dari kebahagiaan menyambut cucu.

Asisten istriku, Frandy, tiba-tiba maju dan berteriak keras, "Jacob! Kamu ini masih punya hati atau nggak?! Demi kamu dan keluarga ini, Kak Emma sudah berkorban sebanyak apa? Kamu buta ya?!"

"Cuma karena Kak Emma beli sofa, lalu tidur di ruang tamu dan nggak tidur denganmu, kamu jadi sengaja cari gara-gara?"

Ayah Emma, Haris, yang mendengar alasan tak masuk akal itu pun semakin murka. "Oh, jadi gara-gara ini? Emma hamil, dia nggak punya mood melakukan hal-hal begitu denganmu, terus kamu mau cerai? Kamu masih pantas disebut laki-laki?!"

Semua orang menatapku dengan marah. Kobaran amarah di mata mereka seolah-olah ingin membakarku hidup-hidup.

Melihat situasi itu, ayahku buru-buru maju untuk menenangkan suasana. "Jangan marah dulu. Anak ini mungkin terlalu lama nunggu di luar ruang bersalin sampai otaknya kacau dan bicara ngawur! Kita baru saja dikaruniai cucu laki-laki yang sehat, ini kebahagiaan besar. Mana bisa bicara soal cerai di saat seperti ini."

Ibuku juga segera mendekat, mengeluarkan tisu untuk menghapus air mata Emma. "Emma, jangan dimasukkan ke hati. Jacob cuma khilaf."

"Kamu baru melahirkan dan tubuhmu masih lemah. Jangan sampai menangis berlebihan dan merusak kesehatan sendiri. Yang paling penting sekarang adalah menjalani masa nifas dengan baik."

Perawat dan para pasien di ranjang sebelah pun tercengang melihat kejadian itu.

Namun, nada bicaraku tidak melunak sedikit pun. "Ayah, pikiranku sangat jernih. Aku serius dengan ucapanku, pernikahan ini harus berakhir."

Sambil berkata begitu, aku mengeluarkan surat perjanjian cerai dan menyerahkannya kepada Emma. "Tanda tangani."

Melihat aku bersikeras seperti ini, ayah mertuaku akhirnya tak bisa menahan diri lagi dan membentakku dengan murka, "Jacob, dasar bajingan nggak tahu balas budi! Emma susah payah mengandung selama sembilan bulan demi kamu. Hari ini dia bahkan kesakitan setengah mati di ruang bersalin demi melahirkan anakmu dan kamu malah langsung minta cerai?"

"Apa kamu masih punya hati nurani terhadap dia? Terhadap kami para orang tua?"

Ayahku sampai pucat karena sikap keras kepalaku. Dia mengangkat tangan hendak memukulku, tetapi ditahan mati-matian oleh ibuku.

Sambil terengah-engah, dia menatapku dengan tajam. "Kamu harus menghancurkan keluarga ini dulu baru puas? Kalau ada masalah kenapa nggak dibicarakan baik-baik? Kenapa harus bicara cerai di saat seperti ini?"

"Nggak ada yang perlu dibicarakan." Aku menatap Emma di ranjang rumah sakit. Tangisannya perlahan berhenti, tetapi bahunya masih bergetar pelan.

Emma membuka mulut dengan suara serak dan sengau karena menangis. "Jacob, katakan padaku, kenapa?"

"Nggak ada alasan," jawabku dengan dingin. "Hubungan kita sudah selesai."

Setelah mengatakan itu, aku malas tinggal lebih lama lagi dan langsung berbalik hendak pergi.

Frandy tiba-tiba menarik tanganku dan membentakku dengan marah, "Jangan pergi! Kak Emma masih lemah, masa kamu pergi begitu saja?"

Aku melepaskan tangan Frandy. "Kamu cuma asisten, apa urusannya denganmu?"

Dia tetap tidak mau menyerah, mencengkeram kerah bajuku sambil berkata dengan sok benar, "Ya, aku cuma asisten Kak Emma, tapi kelakuanmu ini benar-benar nggak bisa ditoleransi oleh siapa pun yang masih punya hati nurani!"

"Laki-laki mana yang setega kamu, mengajukan cerai tepat setelah istrinya melahirkan anak untuknya? Jangankan disebut laki-laki, bahkan disebut manusia pun kamu nggak pantas!"

Aku langsung menghempaskan tangannya dan tinjuku menghantam wajahnya.

Terdengar bunyi gedebuk pelan. Frandy terhuyung mundur dua langkah, lalu jatuh ke lantai sambil menutupi pipinya dengan wajah penuh keterkejutan.

Emma berusaha keras bangkit dari ranjang rumah sakit. Selang infusnya sampai ikut tertarik dan bergoyang.

"Kalau ada masalah, lampiaskan padaku! Kenapa malah menyeret orang yang nggak bersalah?"
Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
9 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status