共有

Bab 3

作者: Yusfa
Dua hari kemudian, aku menjalani rutinitasku sambil perlahan membersihkan jejak keberadaanku dari rumah itu.

Tanaman monstera di ruang tamu adalah milikku. Aku berikan ke tetangga.

Kursi goyang di balkon juga kupilih sendiri. Aku menghubungi jasa barang bekas untuk membawanya pergi.

Farrel sama sekali tidak menyadari ada banyak barang yang menghilang dari rumah.

Yang dia rasakan hanya satu hal.

Aku menjadi jauh lebih pendiam.

Dan itu justru membuatnya puas.

"Kalau dari dulu begini, kan lebih baik."

Jumat pagi, dia duduk di meja makan sambil menyantap pangsit beku yang kumasak seadanya.

"Hari ini ulang tahun Claudia. Malam nanti beberapa kru pesawat akan mengadakan makan bersama. Ikut denganku."

Tanganku yang sedang mengelap meja terhenti.

"Untuk apa aku ikut?"

"Bukannya selama ini kamu selalu mengeluh karena aku tidak pernah mengenalkanmu kepada rekan-rekanku? Kebetulan hari ini semuanya hadir. Sekalian saja berkenalan."

Nada bicaranya terdengar seolah sedang memberiku sebuah kemurahan hati.

Dulu, aku berkali-kali memohon agar dia membawaku masuk ke lingkaran pergaulannya.

Namun saat itu dia hanya berkata, "Mereka semua pilot. Kamu pasti bosan karena tidak mengerti obrolannya."

Kini dia justru mengajakku. Hanya karena hari ini adalah ulang tahun Claudia.

"Baik." Aku mengangguk.

Aku ingin melihat dengan mataku sendiri, seperti apa posisi Claudia di mata rekan-rekan kerjanya.

Kami tiba di restoran jepang yang sudah dipesan pukul 8 malam.

Saat pintu ruang privat dibuka, enam atau tujuh orang sudah duduk di dalam.

Claudia duduk di kursi utama.

Dia mengenakan gaun putih bergaya Prancis. Di lehernya tergantung sebuah kalung yang sangat familiar.

Kalung itu adalah isi kotak hadiah yang kulihat di atas meja beberapa hari lalu.

"Mas Farrel dan Kak Luna sudah datang!"

Claudia segera berdiri menyambut kami dengan senyum cerah.

"Halo, Kak. Mas Farrel sering membicarakan Kakak. Akhirnya hari ini kita bisa bertemu."

Dia mengulurkan tangan, berniat menggandengku dengan akrab.

Aku menghindar.

"Selamat ulang tahun." Ucapku datar.

Suasana di ruangan langsung menjadi canggung.

Farrel menarikku untuk duduk di sampingnya, lalu berbisik pelan, "Hari ini jangan membuat masalah."

Sepanjang makan malam, topik pembicaraan mereka tak jauh dari dunia penerbangan.

Rute mana yang turbulensinya paling parah, menara pengawas bandara mana yang paling galak.

Aku memang tidak mengerti.

Dan juga tidak tertarik mendengarkannya.

"Ngomong-ngomong, pendaratan Kapten Farrel memang selalu mulus."

Seorang kopilot mengangkat gelas sambil tertawa.

"Kak Claudia pasti paling tahu. Selama Kapten Farrel yang menerbangkan pesawat, kopi di kabin belakang pun tidak pernah tumpah."

Claudia tersenyum malu.

“Benar. Kemampuan Mas Farrel memang terkenal di seluruh perusahaan. Waktu kami terbang ke Narita dan terkena badai petir, aku ketakutan sampai kakiku lemas. Tapi Mas Farrel mengirim pesan dari kokpit, 'Aku di sini. Jangan takut.' Saat itu juga aku langsung tenang.”

Semua orang langsung bersorak menggoda.

“Whooo, aku di sini. Jangan takut!”

Farrel ikut tertawa dan tidak menyangkal. Tatapannya bahkan dipenuhi kelembutan yang memanjakan.

Aku menunduk, menyeruput teh yang ternyata sudah dingin. Rasanya pahit.

Penerbangan ke Narita hari itu, aku masih mengingatnya dengan jelas.

Karena cuaca buruk, penerbangannya tertunda 5 jam.

Di rumah aku begitu cemas hingga tidak bisa tidur.

Aku meneleponnya belasan kali, tetapi tak satu pun diangkat.

Kemudian akhirnya dia hanya membalas satu pesan.

[Lagi sibuk bekerja. Jangan bikin repot.]

Ternyata saat itu dia sedang sibuk menenangkan Claudia di kabin penumpang.

"Kak Luna, memang biasanya Kakak tidak mengurus Kapten Farrel?"

Tiba-tiba Claudia mengalihkan pembicaraan kepadaku.

"Pencernaan Mas Farrel kurang baik. Kemarin aku lihat dia bahkan tidak sempat sarapan sebelum latihan simulator. Kami semua sampai merasa kasihan."

Nada suaranya terdengar seperti sedang menyalahkanku.

Meja makan mendadak sunyi. Semua mata tertuju kepadaku.

"Dia sudah dewasa. Kalau lapar, dia tahu cara memesan makanan sendiri." Jawabku sambil meletakkan cangkir teh.

Claudia membeku.

Matanya langsung memerah.

"Kak, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya mengkhawatirkan Mas Farrel . . . ."

"Luna, sudah cukup!"

Farrel membanting sumpit ke meja. Wajahnya muram.

"Semua orang sedang makan dengan senang. Kenapa harus menyindir dan mempermalukannya?"

"Apa aku mengatakan sesuatu yang mempermalukan?" Aku menatapnya dengan tenang.

"Claudia cuma mengingatkanmu supaya lebih memperhatikanku. Apa-apaan sikapmu ini!"

"Kapten Farrel."

Aku berdiri sambil mengambil tasku.

"Kalau memang sudah ada orang yang begitu perhatian pada kesehatanmu, berarti mulai sekarang aku tidak perlu repot-repot mengurusmu lagi."

"Luna! Coba saja kalau kau berani keluar!"

Dia berteriak dari belakang.

Aku membuka pintu ruang privat itu tanpa berhenti sedikit pun.

Udara dingin di lorong restoran menerpa wajahku.

Aku menarik napas panjang.

8 tahun. Akhirnya aku tidak perlu lagi menginjak harga diriku sendiri demi menjaga martabatnya di depan orang lain.

Sesampainya di rumah, aku memasukkan sisa buku-bukuku ke dalam kardus.

Hanya tinggal menunggu sampai hari Rabu minggu depan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 10

    Hujan di Baili akhirnya reda.Aku mengenakan jaket olahraga yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci, mengikat rambutku seadanya menjadi ekor kuda, lalu mendorong pintu halaman.Ponsel di saku bergetar pelan.Sambil membungkuk membuka kunci sepeda, aku mengeluarkan ponsel.Di layar muncul pesan dari Alana, disertai tiga tanda seru.[Proses balik nama rumahnya sudah selesai!!! Kata agen properti, rumahnya bisa langsung dipasarkan. Mau dijual berapa?]Rumah itu adalah satu-satunya ikatan yang masih tersisa antara diriku dan kota itu.Aku menaiki sepeda, satu kaki masih menapak di tanah, lalu membalas pesannya dengan satu tangan.[Jual saja sesuai harga pasar. Bagaimana kalau uang hasil penjualannya kita pakai patungan untuk membuka penginapan di sini?]Belum sampai 10 detik, balasan Alana langsung masuk.Dia mengirim stiker panda yang sedang berlutut sambil bersujud, dengan tulisan besar di atas kepalanya, [Bos memang paling dermawan!]Tak lama kemudian dia mengirim pesan

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 9

    Sejak Farrel meninggalkan Baili, hidupku benar-benar kembali tenang.Alana memberi kabar lewat Whatsapp bahwa setelah kembali, Farrel jatuh sakit parah.Demamnya mencapai 40 derajat. Dia harus dirawat di rumah sakit dan menjalani infus selama 3 hari.Setelah keluar dari rumah sakit, dia mengajukan permohonan kepada perusahaan untuk dipindahkan ke divisi penerbangan kargo. Sejak saat itu, dia tidak lagi menerbangkan pesawat penumpang."Kudengar setiap kali masuk ke kabin penumpang dan melihat kursi observasi di sisi kanan yang kosong, dia langsung melamun. Hampir saja terjadi insiden penerbangan. Karena itu perusahaan akhirnya memindahkannya ke penerbangan kargo."Nada suara Alana terdengar sedikit iba, tetapi jauh lebih banyak mengandung rasa puas.Sedangkan Claudia, setelah kehilangan Farrel sebagai pelindungnya, seluruh "hak istimewa" yang dulu dimilikinya di maskapai telah dicabut.Rekan-rekan kerja yang sebelumnya pernah disakitinya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk membalasnya

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 8

    Kemunculan Farrel sama sekali tidak membuat mangkuk di tanganku berguncang.Aku menelan suapan terakhir es jeli, lalu mengambil tisu untuk menyeka sudut bibirku."Kamu salah alamat. Ini rumah tinggal pribadi."Dia melangkah masuk dengan langkah lebar, lalu menutup pintu halaman dari belakang.Tubuhnya jauh lebih kurus. Janggut tipis mulai tumbuh di dagunya. Kemeja yang biasanya selalu licin dan rapi kini kusut menempel di tubuhnya.Penampilannya yang berantakan itu benar-benar bertolak belakang dengan sosok kapten pilot yang selama ini selalu tampak sempurna."Luna, aku salah."Dia berhenti di hadapanku. Suaranya serak, dan gurat-gurat merah di matanya terlihat jelas."Aku sudah mengusir Claudia. Semua barangnya juga sudah kubuang. Mulai sekarang kursi observasi kopilotku hanya untukmu. Kata sandi ponselku juga sudah kuganti menjadi tanggal lahirmu. Pulanglah bersamaku, ya?"Seperti anak kecil yang melakukan kesalahan, dia buru-buru memamerkan semua "hasil perbaikannya".Aku menatapnya

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 7

    Claudia tanpa sadar mundur dua langkah karena terkejut.Selama ini dia belum pernah melihat Farrel seperti itu. Di hadapannya, Farrel selalu menjadi kapten senior yang lembut, tenang, dan selalu mampu mengatasi segala situasi."Mas Farrel, kenapa malah marah kepadaku?"Matanya langsung memerah. Air mata menggenang di pelupuknya."Apa karena Kak Luna marah lagi soal aurora? Aku sudah bilang tiketnya dikembalikan saja kepadanya. Kamu sendiri yang memaksaku ikut. Sekarang dia kabur dari rumah, kenapa malah aku yang dimarahi?"Farrel menatapnya tanpa berkedip.Melihat wajah penuh kepura-puraan itu, perutnya tiba-tiba terasa mual.Inikah wanita yang selama 4 tahun terakhir selalu dia “lindungi” sepenuh hati?Setelah Luna pergi, reaksi pertama Claudia bukan rasa bersalah, melainkan buru-buru melepaskan tanggung jawab. Bahkan berusaha membalikkan kesalahan kepadaku."Kamu sudah tahu dia pergi, kan?" Farrel berdiri. Selangkah demi selangkah mendekatinya."Di ruang tunggu bandara hari itu, kam

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 6

    Farrel kalang kabut.Dia menelepon semua orang yang mengenalku.Orang pertama yang dihubunginya adalah Alana."Alana, di mana Luna? Dia pergi ke mana?" tanyanya terburu-buru begitu telepon tersambung.Dari seberang, Alana mencibir dingin."Kapten Farrel, akhirnya rela pulang juga setelah liburan? Bagaimana? Aurora-nya indah?""Jangan bahas itu! Luna sebenarnya ada di mana? Mau ngambek juga ada batasnya!""Ngambek?" Suara Alana langsung meninggi."Farrel, apa isi kepalamu itu cuma avtur? Memangnya ada orang yang cuma ngambek, tapi sampai menonaktifkan kartu sim nya?""Dia cuma mau memaksaku mengalah!" Farrel mengatupkan rahangnya. "Bukankah cuma karena aku tidak mengajaknya melihat aurora? Bukankah cuma karena tiketnya kuberikan kepada Claudia? Nanti juga akan kuberi gantinya!""Farrel Grattino . . . ."Suara Alana berubah dingin."Sampai sekarang kamu masih tidak tahu alasan kenapa dia pergi, ya?"Alana mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan."6 tahun lalu, s

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 5

    Matahari di Baili bersinar terik, menghangatkan seluruh tubuh.Aku menyewa sebuah rumah tradisional suku Baili yang memiliki halaman kecil di dekat Danau Guta.Aku langsung membayar uang sewa untuk enam bulan.Pemilik rumah adalah seorang ibu yang ramah.Melihatku datang sendirian membawa koper, dia dengan sukarela membantu mengangkat barang-barangku masuk."Nak, ke Baili sendirian mau liburan?""Bukan liburan, tapi menetap di sini." Ujarku seraya menyusun buku-buku yang kubawa satu per satu di rak kayu dekat jendela."Baguslah. Tinggal di sini membuat badan dan hati jadi sehat."Ibu itu tersenyum lalu pergi.Aku merebahkan diri di ranjang kayu yang telah dipasangi seprai bersih. Lalu menatap balok-balok kayu berukir di langit-langit.Tak ada lagi deru mesin pesawat. Tak ada lagi radar penerbangan. Tak ada lagi penantian.Selama 8 tahun terakhir, inilah tidur paling nyenyak yang pernah kurasakan.Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di Reykjavik.Apa yang dilakukan Farrel, aku sama

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status