MasukDante bukan orang yang terbiasa bersabar.
Namun pagi itu dia sudah cukup sabar duduk di berhadapan dengan Nicolle selama sepuluh menit, pura-pura membaca dokumen di tangannya, sambil memperhatikan dari sudut mata bagaimana wanita itu memeriksa layar ponselnya untuk ketiga kalinya dalam lima menit.Jari-jari Nicolle memainkan liontin kalung di lehernya. Sesuatu yang berkilau tipis sebelum cepat-cepat disembunyikan kembali.“Kalung baru?” Dante membukaDante bukan orang yang terbiasa bersabar.Namun pagi itu dia sudah cukup sabar duduk di berhadapan dengan Nicolle selama sepuluh menit, pura-pura membaca dokumen di tangannya, sambil memperhatikan dari sudut mata bagaimana wanita itu memeriksa layar ponselnya untuk ketiga kalinya dalam lima menit.Jari-jari Nicolle memainkan liontin kalung di lehernya. Sesuatu yang berkilau tipis sebelum cepat-cepat disembunyikan kembali.“Kalung baru?” Dante membuka suara.Nicolle tersentak.“Bukan,” jawab Nicolle sambil melihat ke arah Dante.“Kamu terlihat seperti orang yang baru ketahuan menyembunyikan sesuatu.” Dante menyipitkan mata.“Kamu salah lihat,” sangkal Nicolle.“Hmm.”Dante meletakkan dokumennya di meja, lalu berdiri sebentar.Ketika Dante kembali duduk, sebuah kotak kecil berwarna hitam sudah ada di atas meja di antara mereka.Nicol
Raiden menurunkan pandangan sejenak pada liontin tersebut sebelum kembali menatap Nicolle lekat-lekat. “Garis depan membutuhkan saya,” jawab Raiden akhirnya dengan suara rendah. “Kali ini situasi di sana lebih serius.” Nicolle mengernyit samar. Raiden melanjutkan, “Jadi mungkin dalam waktu yang belum bisa ditentukan, saya tidak akan kembali ke markas.” Ruangan itu langsung terasa sunyi. Nicolle menatap wajah pria di depannya tanpa berkedip. Untuk sesaat, dada Nicolle terasa sesak. Lima tahun sudah berlalu. Nicolle selalu berusaha mengubur semua kenangan tentang pria ini. Namun dia masih mengingatnya dengan jelas. Tatapan dan raut penuh kekhawatiran seperti ini, juga pernah nampak di wajah Raiden. Dulu, sebelum Raiden pergi ke perang besar pertamanya, pria itu juga menunjukkan ekspresi yang sama.
Nicolle mengepalkan tangan kuat-kuat di balik cardigan tipisnya. Namun wajahnya tetap datar.Tidak ada satu pun emosi yang dia biarkan lolos di depan Lucy.Lucy tampak puas melihat reaksi kecil itu. Wanita itu segera mengeluarkan ponselnya sambil terkekeh pelan.“Jangan marah dulu, Dokter,” ucap Lucy santai sambil membaca sesuatu di layar. “Data yang saya dapatkan dari Ketua RT setempat, seperti itu adanya.”Lucy memutar layar ponselnya agar bisa dilihat Nicolle.“Lihat.” Lucy tersenyum tipis. “Tidak ada nama ayah di data keluarga. Anak Dokter juga memakai nama belakang dari pihak ibu.”Tatapan Lucy beralih ke arah garasi rumah. Mobil Nicolle yang mahal masih terparkir rapi di sana.“Pasti kehidupan Dokter sangat sulit,” lanjut Lucy lirih penuh sindiran. “Meski punya pekerjaan bagus dan harta yang melimpah.”Nicolle bahkan tidak berniat melihat layar itu. Sebaliknya, wanita itu justru melangkah mendekat dengan sorot mata dingin.“Apa tujuanmu datang ke sini?” tanya Nicolle, ingin meny
Pukul 10 tepat.Ketika pintu ruangan 112 terbuka, udara di dalam langsung terasa berbeda.Nicolle melangkah masuk dengan wajah dingin dan punggung tegak. Namun, begitu matanya bertemu Raiden, suasana mendadak menjadi canggung.Bayangan kemarin siang muncul begitu saja di kepalanya. Nicolle buru-buru membuang pandangan.Sementara itu, Raiden duduk santai di sofa dengan beberapa kancing atas seragam militernya terbuka.Lengan kemeja Raiden tergulung sampai siku, memperlihatkan urat-urat tegas di lengannya.Raiden menatapnya lekat sejak Nicolle masuk, tatapan gelap itu seolah menelusuri setiap inci tubuh wanita itu.Sebaliknya, Nicolle sengaja menjaga jarak. Dia berdiri dekat meja pemeriksaan sambil pura-pura memeriksa map medis.“Dokter benar-benar datang,” ujar Raiden membuka percakapan.“Mayor yang bilang kalau kita butuh bicara di ruangan yang lebih privat.”
Nicolle sesaat membeku. Udara malam yang dingin tiba-tiba terasa lebih menusuk, seolah seluruh darahnya berhenti mengalir.Lucy mengenalinya.Dari semua orang di masa lalu, justru wanita yang dulu selalu menempel di rumah mereka ini yang berhasil menembus samaran wajah barunya.Pikiran Nicolle berputar cepat. Potongan-potongan masa lalu bermunculan tanpa diminta.Dulu, Lucy selalu memuji pakaian Naomi, parfum yang dipakai, bahkan meminta izin untuk mencoba lipstik yang sama.Potongan rambut Lucy sekarang, persis seperti yang Naomi pakai dulu. Bedanya, rambut asli Nicolle sedikit bergelombang. Lucy pasti sangat memperhatikan Naomi untuk meniru apa pun yang bisa ditiru dari wanita itu.Kini, perhatian obsesif itulah yang membuat Lucy menjadi orang pertama yang benar-benar mengenali wajah Nicolle.“Dokter Nicolle?” Lucy menyeringai kecil, menikmati keheningan itu.Lucy mengangkat tangan, menelusuri garis
‘Permen favorit?’ Nicolle mengulang kata-kata itu dalam hati saat napasnya masih tersengal-sengal.Nicolle menyipitkan mata, campuran antara hasrat dan amarah yang mulai menyala.Dulu Raiden juga mengatakan hal serupa saat pertama kali mencium Naomi.Jantung Nicolle berdegup keras. Jadi begini caranya Raiden memperlakukan wanita yang dia cium?Memberi kalimat manis yang sama seolah itu sesuatu yang istimewa? Atau memang hanya itu yang pria ini tahu untuk diucapkan?Tatapan Nicolle sedikit berubah.Namun Raiden tidak memberinya waktu untuk berpikir terlalu jauh.Raiden menatap Nicolle lekat, bibirnya yang masih basah melengkung tipis. Tangannya yang besar meraba punggung Nicolle, menyusuri garis tulang belakang melalui kain baju yang tipis.Sentuhan itu membuat Nicolle menggigil.Nicolle menggigit bibir bawahnya sendiri. Sudah lama sekali Nicolle tidak merasak







