LOGINDurante cinco años, Marco Falcone fue el hombre perfecto. O al menos eso creía. La ilusión se rompió en la noche de nuestra fiesta de compromiso, cuando su amante irrumpió, acompañada de un niño de cinco años. El niño corrió directamente hacia Marco, llorando: —¡Papá! ¡Papá, finalmente te encontré! Tenía que ser algún tipo de cruel broma. Pero entonces Marco se volvió hacia mí, con la voz despojada de toda calidez: —Este es mi hijo, Leo. Un… error que Sofia y yo cometimos hace cinco años. —Leo es el heredero de los Falcone. Tengo que legitimarlo. Eso significa que primero me comprometeré con Sofia. —Pero Lydia, créeme, todavía te amo. Podemos celebrar nuestra fiesta de compromiso en seis meses. Vas a ser la Donna de la familia Falcone. Espero que seas generosa y comprensiva. Esto no es negociable. Reí, un sonido frío y cortante, y deslicé el anillo de compromiso de mi dedo. Mis ojos recorrieron la sala y se fijaron en el hombre en la esquina: Lorenzo Moretti, el Don más poderoso de Nueva York. Tenía otro título, uno que solo yo conocía: el hombre que había estado tratando de hacerme suya. —Don Moretti, —llamé, con la voz clara y firme—. Me encuentro en necesidad de un nuevo prometido. ¿Está interesado?
View More"Ibu... sakit..." rintihan itu menyayat hati Alya.
Tsaqif, putra bungsunya, merintih dalam tidurnya. Tubuh bocah itu panas tinggi, menggigil hebat di balik selimut tipis yang sudah apek.
Alya ingat betul, ia menyimpan uang lima ratus ribu rupiah di bawah tumpukan baju dalam lemari. Uang hasil memeras keringat mencuci baju tetangga dan berjualan kue keliling.
Itu satu-satunya harapan untuk membawa Tsaqif ke klinik malam ini.
Dengan langkah tergesa, Alya menuju lemari.
Namun, saat tangannya meraba bagian bawah tumpukan baju, jantungnya hampir copot ketika tahu kalau amplop itu sudah lenyap..
Alya menyibak tirai kamar, melangkah lebar menuju ruang tengah.
Aldi, suaminya, sedang duduk bersila di depan laptop dengan mata merah menatap layar judi slot yang berputar. Di sebelahnya, seorang wanita dengan pakaian kurang bahan sedang menggelayut manja sambil memegang gelas kopi.
"Ayo Mas, pasang lagi, kali ini pasti jackpot!"
"Tenang, Sayang. Uang dari si Babu itu lumayan juga buat modal," sahut Aldi sambil terkekeh, jarinya menekan tombol spin dengan.
"Aldi!" teriakan Alya memecah tawa mereka.
Aldi menoleh, wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. "Apa? Berisik banget malam-malam. Ganggu hoki orang aja!"
"Mana uang pengobatan Tsaqif? Itu uang untuk anakmu yang lagi demam tinggi, Mas!"
Aldi mendengus kasar, lalu kembali menatap layar laptopnya. "Udah habis. Kamu, sih, datang-datang marah, jadi kalah taruhanku. Lagian anak sakit itu biasa, dikerokin juga sembuh. Nggak usah lebay minta ke dokter segala."
"Habis?" Alya merasa kakinya lemas, tapi amarah menopangnya untuk tetap berdiri. "Kamu pakai uang nyawa anakmu buat judi? Dan kamu bawa perempuan lonte ini ke rumah kita saat anak-anakmu sedang sekarat kelaparan?!"
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Alya hingga sudut bibirnya robek.
Aldi yang kalap mendorong tubuh ringkih Alya sekuat tenaga.
Alya terpental, punggungnya menghantam sudut meja kayu dengan keras sebelum jatuh tersungkur ke lantai dingin.
Aldi tidak menolongnya. Ia justru kembali duduk, merangkul wanita simpanannya yang tertawa mengejek.
"Udah, Mas. Biarin aja dia. Mending kita lanjut main di kamar," bisik wanita itu.
"Iya, bentar lagi. Ngungsi dulu sana kamu, Alya, dari pada di rumah, bkin sumpek aja!"
Saat itulah, sesuatu dalam diri Alya patah. Ia menyeka darah di sudut bibir dengan punggung tangan. Tatapannya berubah dingin, kosong, namun tajam.
Tidak ada lagi air mata untuk pria iblis ini!
Alya bangkit tertatih, membangunkan Aisya dan Zayyan yang tertidur pulas dengan guncangan pelan namun tegas. "Bangun, Nak. Kita pergi sekarang!"
"Ibu? Mau ke mana? Hujan, Bu..." Aisya mengucek matanya.
"Ke mana aja, asal kita cepat pergi dari rumah neraka ini," bisik Alya.
Tanpa membawa baju ganti, hanya bermodal tas berisi dokumen penting dan dompet kosong,
Alya menggendong Tsaqif yang tubuhnya semakin membara. Ia menggandeng Aisya dan Zayyan, menyeret mereka keluar menembus pintu depan.
"Heh! Mau ke mana lo bawa anak-anak?" teriak Aldi dari ruang tengah.
Alya tidak menoleh dan berlari menembus hujan.
Dia terus berjalan, memeluk Tsaqif erat di dadanya, berharap panas tubuh Tsaqif tidak tersentuh air hujan karena terlindung tubuhnya
"Ibu... Tsaqif kejang, Bu!" jerit Aisya histeris saat melihat adiknya mengejang dalam gendongan Alya.
"Tsaqif! Bertahan, Nak! Ya Allah, tolong!"
Tidak ada kendaraan yang lewat.
Alya berlari tak tentu arah, kakinya telanjang karena sandalnya putus beberapa meter di belakang.
"Tolong, siapapun tolong aku!" Alya berteriak di tengah deru hujan, suaranya parau tertelan petir.
Sebuah sorot lampu tajam dari mobil sedan hitam mewah melaju kencang.
Tanpa pikir panjang, Alya melepaskan tangan Zayyan dan Aisya, menyuruh mereka minggir ke trotoar. "Tunggu di situ!"
Alya nekat berlari ke tengah jalan. Dia merentangkan tangannya, menghadang mobil yang melaju cepat itu. Ia tidak peduli jika harus tertabrak.
Jika dirinya mati, setidaknya pengemudi itu bisa berhenti untuk menolong anaknya.
CIIIITTT!
Mobil itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari lutut Alya yang gemetar.
Alya jatuh berlutut, memeluk Tsaqif yang kini diam tak bergerak.
Pintu mobil terbuka.
Di dalam sana, duduk seorang pria dengan setelan jas mahal yang tak tersentuh setitik pun noda. Wajahnya terpahat sempurna, namun tatapannya sangat dingin kepada Alya.
Pria itu menatap Alya yang basah kuyup, rambutnya lepek menempel di wajah, darah mengalir dari sudut bibir, dan lumpur mengotori kakinya.
"Apa kau bosan hidup?" suara Araska rendah, namun tajam menghunus.
Alya tidak peduli pada ancaman itu. Ia merangkak mendekat ke arah jendela mobil, mengabaikan harga dirinya yang sudah hancur lebur malam ini. Ia mengangkat tubuh Tsaqif tinggi-tinggi, memperlihatkan wajah pucat anaknya pada pria asing itu.
"Tuan, tolong anak saya, Tuan, saya mohon…" suara Alya serak, bercampur isak tangis yang akhirnya pecah. "Anak saya ini kejang, dia harus dibawa ke rumah sakit sekarang…"
Alya mencengkeram spion mobil mewah itu dengan tangan gemetar. "Saya tidak minta uang… Saya cuma minta tumpangan ke rumah sakit. Anak saya bisa mati kalau tidak ditolong sekarang!"
Araska menatap mata wanita itu.
Ada keputusasaan yang begitu dalam di sana, sebuah lubang hitam penderitaan yang entah kenapa menarik perhatiannya.
Namun, di balik keputusasaan itu, Araska melihat kalau wanita itu keras kepala.
Wanita ini tidak takut padanya.
Wanita ini lebih takut kehilangan anaknya.
"Kenapa saya harus menolongmu?" tanya Araska datar, menguji.
Alya menelan ludah, air hujan dan darah bercampur di lidahnya. Ia menatap Araska, tatapan seorang ibu yang siap menyerahkan nyawanya pada iblis sekalipun demi anaknya.
"Tolong anak saya, Tuan. Jika Tuan menyelamatkan nyawanya malam ini, saya rela, saya akan melakukan apapun yang Tuan minta. Tuan bisa ambil tenaga saya, kehormatan saya, bahkan nyawa saya… ambil saja kalau Tuan mau. Saya juga siap menjadi budak Tuan seumur hidup saya, asal anak saya selamat."
Hening sesaat.
Araska yang selama ini hatinya beku, yang tak pernah tersentuh oleh drama murahan wanita manapun, tiba-tiba merasakan retakan kecil.
Laki-laki itu melihat ketulusan yang mengerikan dari wanita basah kuyup ini.
"Apapun?" ulang Araska.
"Apapun, demi anak saya!" tegas Alya tanpa keraguan.
Araska menatap wajah Tsaqif yang membiru, lalu beralih ke dua anak kecil lain yang menggigil di trotoar sambil menangis memanggil ibunya.
Klik.
Pintu belakang terbuka.
"Masuk, sebelum aku berubah pikiran!" perintahnya dingin.
Tres meses después, regresamos de una luna de miel que había cruzado continentes.Estaba sentada en el despacho revestido de cuero de la mansión de Lorenzo, con un informe detallado sobre el escritorio. Era el último y sombrío capítulo de la familia Falcone.—¿Por qué sigues pensando en ellos? —los brazos de Lorenzo me rodearon desde atrás, su barbilla apoyada en mi hombro; su posesividad era un consuelo ya familiar—. Tus pensamientos deberían ser solo para mí.Sonreí y me giré entre sus brazos para acariciarle la mandíbula.—Lo juro, eres el único hombre en mi corazón. Solo estaba… cerrando el libro.Lorenzo aprovechó para robarme un beso profundo que me dejó sin aliento y con las mejillas encendidas.Abrí la primera página del informe.Tras ser abandonado en territorio de los Rivera, Marco fue capturado y torturado de forma sistemática. Sus enemigos mostraron un interés especial —y creativo— en sus piernas ya destrozadas, asegurándose de que jamás volviera a caminar.Lo que quedaba d
Una semana después, Lorenzo y yo nos casamos en una ceremonia que solo podía describirse como regia. Tuvo lugar en la finca más exclusiva de Nueva York, cuyos jardines estaban cubiertos por un mar de rosas y lirios blancos. La lista de invitados reunía a las familias más poderosas de la ciudad, políticos y magnates empresariales. Yo llevaba un vestido Valentino hecho a medida, valorado en dos millones de dólares, y Lorenzo, con un esmoquin italiano a medida, lucía como el rey oscuro perfecto para su reina.—Estás tan hermosa que me robas el aire de los pulmones —susurró Lorenzo mientras estábamos frente al sacerdote.El sacerdote llegaba a los votos finales.—Si alguien aquí presente tiene alguna razón por la cual estas dos personas no deban unirse legalmente en matrimonio, que hable ahora o calle para siempre.Como si fuera una señal, las pesadas puertas de la capilla se abrieron de golpe con un estruendo dramático.Marco irrumpió tambaleándose. Tenía un brazo en cabestrillo, el rostr
El mundo de Sofia acababa de implosionar. Se volvió contra Marco, con los ojos ardiendo en el fuego de la traición absoluta.—¡Me mentiste! —chilló. Agarrando un cuchillo para frutas de una mesa cercana, se lanzó hacia él y se lo clavó en el hombro—. ¡Dijiste que eras un príncipe de la mafia! ¡Dijiste que yo sería una Donna!Marco aulló de dolor mientras la sangre florecía sobre su camisa blanca.—Sofia, cálmate——¿Calmarme? —rió, con una risa aguda y desquiciada—. ¡Te di cinco años! ¡Te di un hijo! ¿Y para qué? ¿Para quedar atada a un mentiroso patético y arruinado?Luego giró hacia mí, con el rostro desfigurado por la envidia.—¡Y tú! ¡Tú te casas con un Don de verdad con solo chasquear los dedos! ¿Por qué? ¿Qué te hace tan malditamente especial?Lorenzo hizo un gesto despectivo con la mano. Sus hombres avanzaron de inmediato, inmovilizando con eficacia a la histérica Sofia y al sangrante Marco.—Sáquenlos de aquí —ordenó Lorenzo, rodeándome la cintura con un brazo protector—. Mi esp
La voz de Lorenzo quedó suspendida en el aire como una sentencia de muerte. El pasillo se volvió tan silencioso que se podían oír los latidos frenéticos de los corazones.Los matones que segundos antes me habían estado manoseando me soltaron como si estuviera en llamas; sus rostros se volvieron de un blanco enfermizo. Todo criminal en Nueva York sabía lo que significaba ganarse la ira de Lorenzo Moretti.Lorenzo avanzó hacia mí, se quitó la costosa chaqueta del traje y la colocó sobre mis hombros, cubriendo mi vestido empapado y desgarrado. Su contacto fue suave, pero en sus ojos había una promesa de muerte.—¿Te hicieron daño? —preguntó, con el pulgar rozando la marca roja de mi mejilla donde me habían agarrado.—Estoy bien —mi voz tembló apenas.Lorenzo se volvió hacia la fila de matones aterrados; su voz era peligrosamente suave.—Lo preguntaré una vez más. ¿Quién. La. Tocó?Nadie se atrevió a hablar. El miedo era casi una presencia física en la habitación.Marco, recuperando algo d












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.