LOGINJam makan siang sudah tiba. Suasana kantin pun sangat ramai. Bersama dengan Alissa, Rheanne duduk dan menyantap makan siangnya. Kantin perusahaan berada di lantai tiga, sementara ruangan Rheanne berada di lantai tujuh. Itu artinya dia harus turun melewati empat lantai. Jika bukan paksaan dari gadis di depannya ini sudah pasti Rheanne memilih untuk tinggal di ruangannya dan makan siang di sana.
Di sela itu, Rheanne kembali mengingat kejadian tempo hari. Rheanne mendengus saat melirik Alissa yang justru sibuk dengan memotret makanan di depannya. Ck, dasar. Selalu saja begini jika dirinya pergi makan bersama dengan Alissa, pasti gadis itu akan selalu memotret apapun hal yang menurutnya menarik. Berdehem sejenak, Rheanne pun mulai berucap, “Em, Ally, apa menurutmu Mr. Melvi adalah pria yang normal? Maksudku dia bukan seorang kriminal, kan?” Dengan sedikit ragu Rheanne bertanya. Rheanne terlalu curiga dan penasaran dengan latar belakang dari Bossnya itu. Rheanne bertanya pada Alissa karena gadis itu pasti mengenal Justin lebih lama sebab Alissa sudah sangat lama bekerja di perusahaan ini. Alissa menghentikan kegiatannya. Dia lalu menoleh pada Rheanne dengan kerutan samar di dahinya. “Hah? Apa maksudmu?” Rheanne menggaruk hidungnya sejenak lalu mengangguk samar. “Iya itu, Mr. Melvi. Dia bukan seorang kriminal kan?” tanya Rheanne lagi. Plak! “Awh, Alissa!” pekik Rheanne. Alissa melotot lebar lalu tanpa beban gadis itu langsung memukul bibir Rheanne hingga membuat Rheanne memekik kesal sekaligus kaget. “Mulutmu itu! Bagaimana jika ada yang dengar?! Bisa mati kita!” sahut Alissa berdecak keras. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan berharap tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua. Bisa gawat jika ada yang mengadu pada Boss mereka itu. Rheanne mendengus pelan. “Aku hanya bertanya. Tidak perlu memukulku!” Alissa hanya mendelik malas. “Itu pertanyaan bodoh!” ejek Alissa. “Lagipula kenapa kau bertanya begitu?” tanyanya. Rheanne terdiam. Jika dia memberitahu semuanya apa Alissa akan percaya. Tentang dia yang mendapati senjata di balik jas milik Justin, lalu saat dia melihat noda darah di jas milik Justin. Apa Alissa akan percaya padanya? Tapi Rheanne tidak yakin jika gadis di depannya ini akan percaya. “Tidak, hanya iseng bertanya,” kilah Rheanne menggeleng pelan. “Aneh. Tidak ada kriminal yang setampan dan keren seperti Mr. Melvi,” cibir Alissa. “Iya-iya aku percaya.” “Walaupun Mr. Melvi sedikit kejam, dia tidak mungkin menjadi seorang kriminal,” imbuh Alissa seraya meneguk minuman sodanya. Seketika Rheanne berhenti mengunyah. Dia menoleh pada Alissa. “Kejam? Maksudmu?” tanya Rheanne. Mendengar kata ‘kejam’ membuatnya sedikit resah. Alissa mengangguk singkat. “Iya, sedikit.” Rheanne diam seraya mendengarkan Alissa yang akan kembali berucap. Rheanne penasaran, kejam dalam hal apa. Membunuh, menghajar atau apa?! Alissa menghela napas lalu mengembuskannya. “Saat itu ada orang yang korupsi uang perusahaan. Dan berita itu terdengar sampai telinga Mr. Melvi. Karena Mr. Melvi membenci seorang yang berkhianat padanya, jadi dia murka dan marah.” Alissa menjeda sejenak ucapannya. “Walaupun Mr. Melvi tahu alasan Tuan Cedric melakukan korupsi, tapi itu tetap tidak bisa ditolerir. Mr. Melvi marah dan memecat Tuan Cedric. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, tapi beberapa bulan kemudian kami mendapat kabar jika Tuan Cedric telah tewas. Diduga dia bunuh diri karena gila,” terang Alissa menjelaskan. Kejadian itu memang sudah cukup lama, tapi masih berbekas. Rheanne terhenyak di tempatnya. “Kau … Serius?” Alissa mengangguk. “Iya.” “Kau yakin dia bunuh diri? Bagaimana jika itu ulah dari Mr. Melvi?” ucap Rheanne menduga. Apalagi ketika dirinya mengingat kembali kejadian tempo hari. Itu masuk akal kan? Bisa saja senjata yang Justin miliki untuk membunuh orang. “Ck, berhenti berpikiran buruk, Rheanne. Lagipula mana mungkin Mr. Melvi melakukan hal itu?” sahut Alissa berdecak. “Itu mungkin saja,” gumam Rheanne lirih. Alissa mendengus pelan. Pada akhirnya mereka pun kembali terdiam. Alissa maupun Rheanne saling fokus pada makan siang mereka. Namun, kemudian Rheanne tersadar dan tersentak saat tanpa sengaja melirik jam tangan miliknya. “What?! Sh*t!” umpat Rheanne pelan. Dengan buru-buru dia meraih gelas minuman miliknya dan langsung meneguknya hingga tandas. Alissa yang melihat itu menatap heran pada teman barunya itu. “Hey, hey. Calm down. Kenapa buru-buru begitu?” “Look this! Sial, aku terlambat Alissa! Mati aku!” gerutu Rheanne merutuki dirinya sendiri. Karena terlalu larut mengobrol dan bergosip dengan Alissa, Rheanne jadi melupakan jika jam masuk kantor sudah lewat. Ini bahkan sudah hampir satu jam dia terlambat. Rheanne benar-benar merutuki dirinya sendiri. Dasar ceroboh kau Rheanne! Aliss tertawa. “Ups, maaf." Gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Rheanne hanya melirik sinis. Dia masih harus menyelesaikan makan siangnya yang tinggal sedikit lagi. “Santai saja, paling kau hanya mendapat omelan Mr. Melvi.” “Alissa!” Alissa terkekeh. “Maaf, tapi aku serius. Mr. Melvi tidak akan memecatmu. Tidak perlu terburu-buru seperti ini." Rheanne menggeleng keras. Setelah itu beranjak pergi meninggalkan Alissa. Bahkan Rheanne berlari kecil untuk segera sampai di ruangannya. Melihat itu hanya membuat Alissa geleng-geleng. *** Rheanne berjalan cepat menuju ruangan miliknya. Kembali memaki, Rheanne lupa jika hari ini ada pertemuan dengan klien. Sial sekali, dengan segera Rheanne mengambil berkas di atas meja kerjanya lalu melangkah pergi dari sana. Kini gadis dengan kemeja putih dan rok hitam itu-berdiri di depan pintu ruang rapat. Sejenak Rheanne menarik napasnya lalu membuangnya. Setelah dirasa cukup, Rheanne pun mengetuk tiga kali pintu itu lalu berjalan masuk dengan langkah cepat. “Maaf Sir, aku-akh!” Belum sempat Rheanne berucap, dia sudah berteriak kaget. Karena terburu-buru, Rheanne jadi tidak memperhatikan langkah kakinya. Alhasil dia jadi limbung dan terjatuh, tapi bukan itu masalahnya, Rheanne terjatuh bukan pada tempatnya. Kedua tangan Rheanne tanpa sengaja menarik kerah jas milik Justin. Gadis itu terduduk tepat di atas pangkuan Justin. Manik mata milik Rheanne bersibobrok dengan mata tajam milik Justin. Untuk sesaat mereka saling beradu pandang, hingga kemudian Rheanne tersadar dan melotot lebar. Sedangkan dua rekan kerja Justin hanya saling pandang dalam diam. Dengan cepat Rheanne berdiri dan menunduk. “M-maaf Sir, maafkan aku. A-aku tidak sengaja,” ujar Rheanne tanpa berani menatap Justin yang melirik padanya. Justin hanya berdehem lalu mengalihkan pandangannya pada dua orang di depannya. Sementara Rheanne mati-matian menahan malu dan terus merutuki dirinya sendiri. “Ekhm, kalau begitu kami pamit undur diri,” intruksi pria itu. Kedua pria itu pun bangkit berdiri. Diikuti dengan Justin. Mendengar itu sontak Rheanne melongo tidak percaya. Apa? Rapatnya sudah selesai? Rheanne menggerutu dalam hatinya. Setelah ini dia pasti dalam masalah. “Senang bisa bekerja sama denganmu.” Pria itu menjabat tangan Justin. “Jangan lupa untuk menghadiri pesta kali ini. Karena kehadiranmu adalah kehormatan untuk kami,” ucapnya. “Aku usahakan,” balas Justin singkat. Setelah kepergian dua pria itu, keadaan ruangan pun hening. Hanya ada Justin dan Rheanne yang sejak tadi terus terdiam di tempatnya. Justin melirik pada sekretarisnya sejenak, lalu setelah itu melenggang pergi tanpa kata. Tersadar, sontak Rheanne bergegas menyusul Justin dengan langkah cepat. “Sir, maafkan aku,” seru Rheanne. Dia berjalan di belakang Justin dan menatap punggung tegap itu yang berjalan di depannya. Rheanne terus mengikuti langkah Justin. Rheanne mendesah pelan. “Aku benar-benar tidak sengaja. Aku lupa jika hari ini ada rapat dengan klien. Tolong jangan pecat aku Sir,” ujar Rheanne dengan pelan. Rheanne takut jika kecerobohannya membuat Justin malah memecat dirinya. Justin menghentikan langkah kakinya lalu berbalik badan, menghadap pada Rheanne. Spontan Rheanne memundurkan langkahnya agar sedikit menjaga jarak dari pria itu. Justin hanya menatap Rheanne dengan pandangan lurus. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Entah itu marah atau kesal, tidak ada yang bisa menebak. “Kembali ke ruanganmu sekarang,” titah Justin tegas. Dengan patuh Rheanne hanya mengangguk. Dia melangkah lesu ke dalam ruangannya. Duduk dengan lesu di kursi kerja miliknya. Kepalanya ia taruh miring di atas meja, kedua matanya menatap pada ruangan Justin di sampingnya. “Stupid!” Rheanne menelungkupkan kepalanya pada lipatan tangan. Menghentak kasar kedua kakinya. Rasanya dia ingin menangis sekarang juga. “AH! Aku maluu!” pekik Rheanne tertahan. Sementara Justin hanya menggeleng pelan. Suara Rheanne cukup terdengar ke dalam ruangannya, bahkan hentakan kaki dari gadis itu pun terasa hingga ke ruangan Justin. ...Setelah menghabiskan satu minggu di Dubai, Justin dan Anne akhirnya memutuskan untuk pulang. Namun, sebelum kembali ke Amerika, mereka menyempatkan singgah ke Italia untuk bertemu dengan Bianca. Meski merasa berat karena harus berpisah lagi, Bianca tetap berusaha memahami keputusan mereka. Bianca tahu, Justin pasti sibuk dengan urusan pekerjaannya. Di dalam pesawat, Justin melirik ke arah Anne yang tertidur di sampingnya. Perjalanan masih jauh, jadi ia membiarkan istrinya beristirahat. Pandangan Justin kemudian beralih ke tangannya yang masih terbalut perban. Ingatannya kembali berputar pada kejadian beberapa hari lalu—insiden penyerangan di penginapan. Amarahnya perlahan bangkit lagi. Justin mengepalkan tangan meski kepalan tangannya melukai lukanya. Tidak peduli jika apa yang ia lakukan membuat luka itu kembali mengeluarkan darah dari sela-sela perban. Di sisi lain, Anne mulai terbangun. Wanita itu mengerjapkan mata perlahan, lalu mengerutkan kening saat mencium aroma amis yang
Setelah insiden penyerangan yang baru daja terjadi, Anne langsung meminta Reymond untuk memanggil dokter ke penginapan mereka. Meskipun Justin sempat menolak, dan ingin mengobati lukanya sendiri, Anne bersikeras memaksanya. Terlebih luka itu tampak menghkawatirkan dan memerlukan bantuan medis. Tidak lama, seorang dokter pria datang untuk mengobati Justin. Anne mengigit bibir bawahnya menahan rasa ngilu saat melihat luka sobek di telapak tangan suaminya. Anne menyaksikan sendiri bagaimana peluru itu dikeluarkan, lalu dibersihkan dan diperban dengan hati-hati. Matanya melirik Justin yang kini tampak pucat. Namun pria itu tetap tenang, memasang ekspresi datar seolah rasa sakit itu bukan apa-apa. Andai Anne yang berada di posisi itu, mungkin ia sudah meraung kesakitan. Berbeda dengan Justin yang bersikap tenang, nyaris tidak menunjukkan reaksi apa pun. "Sir, lukanya sudah saya tangani. Tapi perlu waktu beberapa minggu untuk sembuh total," ujar sang dokter, mengemasi peralatannya.Justi
...Ketegangan belum mereda ketika api terus membesar dan melahap seluruh bangunan serta isinya. Sirine meraung keras saat mobil pemadam kebakaran akhirnya tiba. Para petugas segera menyemprotkan air, berusaha untuk memadamkan api. Anne yang melihat itu langsung berlari ke arah petugas pemadam, mengabaikan teriakan Reymond yang memanggil namanya. "Nyonya!" Reymond mempercepat langkahnya menyusul Anne yang tampak panik. "Sir, please. My husband is still inside!" teriak Anne dengan kalut. Seorang petugas menoleh cepat pada Anne. "Tenangkan diri Anda, Nyonya. Kami akan menyelamatkan semuanya." Namun Anne menggeleng kuat. Ia tidak bisa tenang sampai Justin keluar dari sana. Pandangannya menatap ke arah gedung yang semakin hitam karena dilahap api. Tanpa sadar, air matanya membasahi wajahnya. Anne tidak menahan dirinya lagi yang kian dilanda kecemasan. Waktu sudah terlalu lama berlaru, tapi Justin masih belum keluar. Apakah suaminya baik-baik saja di dalam sana? Bagaimana jika Justin
...Malam di Dubai memancarkan kemewahan yang tenang. Lampu kota berkilau bagaikan bintang-bintang yang tumpah dari langit. Malam ini, Justin sudah mengatur makan malam romantis untuk mereka berdua. Sebuah restaurant bintang tujuh yang menjadi tujuan mereka. Anne berdiri di depan cermin besar, mematut dirinya yang tampak mempesona dalam balutan gaun panjang berwarna abu yang membingkai tubuh rampingnya dengan sempurna. Belahan punggung yang terbuka hingga ke pinggang membuatnya terlihat berani malam ini. Tidak lupa, sanggul rendah yang memperlihatkan tengkuk jenjangnya. Setiap gerakannya tampak lembut dan penuh percaya diri. Sementara di balik punggungnya, Justin berdiri mematung namun memerhatikan sepenuhnya ujung kepala hingga ujung kaki dari istrinya, terpaku melihat pemandangan indah di depannya. Jika seperti ini, Justin rasanya enggan pergi ke mana pun, selain mengurung Anne di kamar, lalu menghabiskan waktu berdua dengan penuh keromantisan. Dengan gerakam tenang, Justin merang
...Setelah beberapa hari tinggal di Italia, hari ini keberangkatan Justin dan Anne untuk melakukan bulan madu. Rencana bulan madu ini sebenarnya telah direncanakan jauh-jauh hari, bahkan setelah hari pernikahan mereka. Namun karena kondisi Anne yang sempat terluka dan belum sepenuhnya pulih sebab insiden beberapa waktu lalu, Justin memutuskan untuk menunda keberangkatan bulan madu mereka sementara. Bianca mengantar Justin dan Anne sampai teras depan. Sebenarnya Bianca merasa sedih, tapi ia tidak bisa mencegah mereka begitu saja, terlebih kepergian Justin dan Anne untuk melakukan bulan madu. Sejak kedatangan Anne, mansion yang sunyi seakan kembali bernyawa. Kini, Bianca harus kembali merelakan kepergian keduanya. "Berjanjilah untuk selalu berkunjung ke sini," ujar Bianca seraya menggenggam tangan Anne di atas pangkuannya. Anne tersenyum lembut. Ia mengangguk mantap, menggenggam balik tangan Bianca. "Iya, kami berjanji. Mam tidak perlu khawatir, kami akan sering berkunjung ke sini,
... Alissa berdehem canggung ketika menyadari kesalahannya yang telah tertidur di bahu Veer. Dalam hati Alissa menggerutu, seharusnya dia bisa menahan kantuknya. Dengan gerakan halus, Alissa melirik diam-diam pada Veer yang masih duduk tenang di kursinya. Namun gerakan Alissa tampaknya diketahui oleh Veer, sebab pria itu turut menoleh dan memerhatikan Alissa dalam beberapa detik. Ada sedikit keterkejutan di sana saat tatapan Alissa tertangkap basah oleh Veer. Segera gadis itu mengulum bibirnya hendak membuka suara. "Aku tidak bermaksud tidur di—" "Para penumpang yang terhormat, kita sedang dalam proses menuruni ketinggian dan akan segera mendarat di Bandara Internasional Los Angeles. Mohon pastikan sabuk pengaman Anda terpasang, sandaran kursi dan meja dalam posisi tegak, serta barang bawaan tersimpan dengan aman. Semua perangkat elektronik harap dimatikan atau diatur ke mode pesawat. Terima kasih." Suara pengumuman itu menghentikan ucapan Alissa sehingga membuat gadis itu
Sejak awal pesta bahkan di penghujung pesta sekalipun, Rheanne masih bersikap ketus pada Justin. Selama di mobil pun setiap Justin mengajak bicara hanya dibalas kebungkaman oleh Rheanne.Astaga! Wanita dengan segala sifat rumitnya."Rheanne ..." panggil Justin seraya menggapai tangan Rheanne dan henda
Menyebalkan! Kata yang sangat tepat untuk mendeskripsikan seorang Justin. Ya, Rheanne sangat akui jika Bosnya itu sangat menyebalkan. Bagaimana tidak? Belum lima detik Rheanne duduk tenang di kursinya, tapi pria itu sudah menerornya dengan berbagai perintah yang ditujukan untuknya. Rheanne benar-
Suasana rasanya tegang sekali. Terlebih di dalam lift ini hanya ada mereka berdua. Rheanne sesekali melirik Justin yang berdiam dengan pandangan lurus ke depan. Satu tangannya ia masukkan ke dalam saku, dan wajahnya masih setia dengan raut yang dingin. Rheanne tidak tahu jika di lift ini akan ada
"Stop!" pekiknya kencang. "Okey, thank you." Setelah memberikan lembaran kertas nominal pada supir taksi, gadis itu segera melangkah pergi. Dengan langkah yang gontai, gadis berambut panjang itu terus melirik pada jam yang melingkar di tangannya. "Oh My God! Aku harap aku tidak terlambat." Dia







