เข้าสู่ระบบ...Malam di Dubai memancarkan kemewahan yang tenang. Lampu kota berkilau bagaikan bintang-bintang yang tumpah dari langit. Malam ini, Justin sudah mengatur makan malam romantis untuk mereka berdua. Sebuah restaurant bintang tujuh yang menjadi tujuan mereka. Anne berdiri di depan cermin besar, mematut dirinya yang tampak mempesona dalam balutan gaun panjang berwarna abu yang membingkai tubuh rampingnya dengan sempurna. Belahan punggung yang terbuka hingga ke pinggang membuatnya terlihat berani malam ini. Tidak lupa, sanggul rendah yang memperlihatkan tengkuk jenjangnya. Setiap gerakannya tampak lembut dan penuh percaya diri. Sementara di balik punggungnya, Justin berdiri mematung namun memerhatikan sepenuhnya ujung kepala hingga ujung kaki dari istrinya, terpaku melihat pemandangan indah di depannya. Jika seperti ini, Justin rasanya enggan pergi ke mana pun, selain mengurung Anne di kamar, lalu menghabiskan waktu berdua dengan penuh keromantisan. Dengan gerakam tenang, Justin merang
...Setelah beberapa hari tinggal di Italia, hari ini keberangkatan Justin dan Anne untuk melakukan bulan madu. Rencana bulan madu ini sebenarnya telah direncanakan jauh-jauh hari, bahkan setelah hari pernikahan mereka. Namun karena kondisi Anne yang sempat terluka dan belum sepenuhnya pulih sebab insiden beberapa waktu lalu, Justin memutuskan untuk menunda keberangkatan bulan madu mereka sementara. Bianca mengantar Justin dan Anne sampai teras depan. Sebenarnya Bianca merasa sedih, tapi ia tidak bisa mencegah mereka begitu saja, terlebih kepergian Justin dan Anne untuk melakukan bulan madu. Sejak kedatangan Anne, mansion yang sunyi seakan kembali bernyawa. Kini, Bianca harus kembali merelakan kepergian keduanya. "Berjanjilah untuk selalu berkunjung ke sini," ujar Bianca seraya menggenggam tangan Anne di atas pangkuannya. Anne tersenyum lembut. Ia mengangguk mantap, menggenggam balik tangan Bianca. "Iya, kami berjanji. Mam tidak perlu khawatir, kami akan sering berkunjung ke sini,
...Alisha berdehem canggung ketika menyadari kesalahannya yang telah tertidur di bahu Veer. Dalam hati Alisha menggerutu, seharusnya dia bisa menahan kantuknya. Dengan gerakan halus, Alisha melirik diam-diam pada Veer yang masih duduk tenang di kursinya. Namun gerakan Alisha tampaknya diketahui oleh Veer, sebab pria itu turut menoleh dan memerhatikan Alisha dalam beberapa detik. Ada sedikit keterkejutan di sana saat tatapan Alisha tertangkap basah oleh Veer. Segera gadis itu mengulum bibirnya hendak membuka suara. "Aku tidak bermaksud tidur di—" "Para penumpang yang terhormat, kita sedang dalam proses menuruni ketinggian dan akan segera mendarat di Bandara Internasional Los Angeles. Mohon pastikan sabuk pengaman Anda terpasang, sandaran kursi dan meja dalam posisi tegak, serta barang bawaan tersimpan dengan aman. Semua perangkat elektronik harap dimatikan atau diatur ke mode pesawat. Terima kasih."Suara pengumuman itu menghentikan ucapan Alisha sehingga membuat gadis itu menelan
...Rencana jalan-jalan mengelilingi Italia dibatalkan sebab kaki Anne yang terkilir. Insiden kemarin membuat pergelangan kaki wanita itu terkilir dan sedikit bengkak. Anne tentu saja kecewa juga kesal karena keinginannya harus pupus begitu saja. Dan orang pertama yang harus disalahkan tentu saja Justin. Jika saja Justin tidak mendorong Anne, mungkin dia tidak akan terkilir seperti ini. Sudah sejak semalam juga Anne mendiami Justin karena rasa kesalnya yang masih ada. Suara langkah kaki mendekat menarik perhatian Anne. Saat itu juga raut wajahnya berubah. Anne merengut kesal lalu memalingkan wajahnya saat melihat Justin memasuki kamar. Bahkan ketika pria itu duduk di tepi ranjang pun, Anne sama sekali tidak meliriknya. Wanita itu seakan bersikap tidak peduli. Justin yang menyadari itu hanya bisa terkekeh kecil. Justin menyadari kemarahan istrinya akibat insiden kemarin. Tapi Justin tidak mempermasalahkan itu, dan memilih menarik tangan Anne untuk ia kecup lembut. "Kakimu masih saki
...Anne keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar. Wanita itu berjalan menuju meja rias lalu mengulas senyum menatap bayangannya di cermin. Anne Membuka lilitan handuk di kepalanya sehingga rambut panjang basah miliknya tergerai begitu saja. Tangannya meraih hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Sampai suara pintu yang dibuka menyadarkan Anne dari kegiatannya. Melalui cermin, Anne dapat melihat bayangan Justin di sana, tengah berdiri tidak jauh sembari memerhatikannya. Pria itu memang sejak Anne terbangun sudah tidak ada di sampingnya. Entah sepagi apa Justin bangun, yang jelas Anne terlihat tidak peduli. Apalagi setelah kejadian malam tadi yang membuat Anne kesal bukan main. Justin menutup pintu kamar, lalu berjalan menghampiri istrinya. Tanpa permisi, pria itu memeluk Anne dari belakang. Napasnya berembus hangat dengan sesekali menghirup aroma wangi dari tubuh Anne. Aroma strawberry kesukaan Justin. "Bisakah kau menjauh, Sir? Aku kesulitan bergerak," seru Anne be
...Usai pesta pernikahan yang dilaksanakan kemarin, malam ini Justin dan Anne melakukan makan malam bersama keluarga dari pihak Justin. Meja makan di rumah Bianca kini dipenuhi oleh berbagai hidangan Italia yang sama sekali tidak Anne ketahui. Beberapa kali Anne mencengkram sisi gaunnya, atau menggenggam jemarinya di atas paha sebab rasa gugup yang ia rasakan. Jujur saja, suasana ini sangat mendebarkan. Terlebih Anne hanya mengenal Justin, Bianca, dan ..., Veer. Ya, pria menyebalkan itu tentunya ada di sini. Rasanya masih tidak percaya jika pria yang pernah menculiknya menjadi bagian dari keluarga. "Kau harus mencoba ini, Anne. Salah satu makanan kesukaan Justin." Bianca mengisi piring Anne dengan sebuah hidangan yang tampak lezat. Pollo alla cacciatora. Hidangan ayam yang dimasak dengan saus tomat dan anggur merah. Anne mengulas senyum, lalu mulai menyuap makanan itu ke dalam mulutnya. Mengecapnya sebentar seraya mengangguk pelan. "Ini enak! Sepertinya aku juga menyukainya," ser
Saat malam tiba, Rheanne sudah menyiapkan dirinya. Menatap wajahnya di cermin dengan malas. Wajahnya sudah terlihat cantik dengan riasan tipis, dan gaun pesta yang sudah serasi dengan ukuran tubuhnya. Sebenarnya, ini bukan kemauan Rheanne mamakai gaun seperti ini. Lihat saja, bagaiman model gaun i
Di dalam ruangannya, Rheanne menatap kartu undangan itu dengan tatapan yang lesu. Malam ini tepatnya, rekan kerja Justin mengadakan sebuah pesta dan semua orang kantor mendapatkan undangannya termasuk Rheanne sendiri.Namun, sejak tadi Rheanne terus menatap kartu undangan miliknya dengan tidak sema
Jam makan siang sudah tiba. Suasana kantin pun sangat ramai. Bersama dengan Alissa, Rheanne duduk dan menyantap makan siangnya. Kantin perusahaan berada di lantai tiga, sementara ruangan Rheanne berada di lantai tujuh. Itu artinya dia harus turun melewati empat lantai. Jika bukan paksaan dari gadis
Pengkhianat seperti Alex mencoba kabur dari Justin itu adalah kesalahan besar. Bahkan tanpa menunggu waktu lama Justin sudah mampu untuk menemukan keberadaan pria itu. Bagi Justin pria seperti Alex hanya tikus kecil tidak berguna.“Get f*cking me out!” Teriakan berupa makian itu terdengar dari lua







