Short
Meine Rache: Der Verrat des Alphas

Meine Rache: Der Verrat des Alphas

By:  AuroraCompleted
Language: Deutsch
goodnovel4goodnovel
9Chapters
3.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Mein dreijähriger Sohn Ethan verirrte sich in das Gebiet der Rogues und wurde dort auf grausame Weise ermordet. Als mich die Nachricht erreichte, wurde mir schwarz vor Augen. Als ich wieder zu mir kam, hielt mein Alpha-Gefährte Alexander meine Hand fest umklammert. Seine Stimme war heiser vor Schmerz. „Ivy, ich schwöre dir, ich werde Ethan rächen. Ich werde diese verfluchten Rogues mit meinen eigenen Klauen zerreißen.“ Doch drei Tage später, bei der Beerdigung, hörte ich zufällig ein Gespräch zwischen Alexander und seinem Beta Marcus. „Alpha, ich verstehe das nicht“, sagte Marcus verwirrt. „Warum haben Sie den Rudelarzt Ethan nicht retten lassen? Er war nur lebensgefährlich verletzt. Wenn wir rechtzeitig gehandelt hätten...“ „Es war Lucas“, Alexanders Stimme war von Schmerz durchzogen. „Er hat Ethan aus Versehen in Richtung des Rogue-Gebiets gestoßen. Lucas ist nur ein Kind. Er kannte die Grenzen der Rogues nicht. Er hat es nicht absichtlich getan.“ „Hätte ich den Arzt Ethan retten lassen, hätte der Junge allen die Wahrheit erzählt. Sophia wäre ins Gefängnis gekommen, und der Rat hätte Lucas zum Tode verurteilt. Das konnte ich nicht zulassen“, fuhr Alexander fort. „Und was ist mit dem Erben des Rudels?“, fragte Marcus besorgt. „Das spielt keine Rolle“, Alexanders Tonfall wurde wieder unheimlich ruhig. „Sobald Ivy sich beruhigt hat, hole ich Lucas zurück. Wir sagen, er sei ein adoptiertes Waisenkind, und der nächste Alpha wird von Ivy selbst großgezogen.“ Also war derjenige, der meinen Sohn getötet hatte, sein unehelicher Sohn mit seiner Geliebten. Mein Sohn hätte gerettet werden können, doch Alexander opferte meinen Ethan für seinen Bastard. Ich wählte eine Nummer, die ich seit fünf Jahren nicht mehr angerufen hatte. „Papa, ich bin es. Ivy.“ „Ich habe meine Meinung geändert“, sagte ich kalt und gefasst. „Ich komme zurück, um das Königliche Rudel zu erben.“ „Und was ist mit dem Mondstein-Rudel?“ „Ich will, dass das Mondstein-Rudel vollständig von der Welt ausgelöscht wird.“

View More

Chapter 1

Kapitel 1

"Situasinya sudah kami pahami. Kamu menghilang selama lima tahun, tapi dua tahun lalu suamimu sudah mengajukan surat keterangan kematianmu sekaligus membatalkan identitas kependudukanmu. Kami sudah berhasil menghubunginya, hanya saja… kamu harus siap secara mental, dia sudah menikah lagi."

Kantor polisi.

Elara Khansa duduk kaku di kursi, mendengarkan perkataan polisi yang terdengar begitu asing.

Lima tahun lalu, dia ikut bersama tim medis yang ditugaskan ke Timur Tengah. Dalam sebuah insiden, dia diculik oleh kelompok teroris. Baru beberapa waktu lalu, dia bersama tim berhasil diselamatkan oleh pasukan penjaga perdamaian, lalu dipulangkan kembali ke tanah air.

Lima tahun. Selama lima tahun itu, yang membuatnya tetap bertahan hanyalah cinta dan rindunya pada sang suami, Darren Athaya. Mereka sudah menjalin hubungan lima tahun, sejak awal kuliah hingga akhirnya menikah setelah lulus. Mereka pernah menjadi segalanya bagi satu sama lain, melukis masa muda bersama.

Elara sering membayangkan pertemuannya kembali dengan Darren, tangisan bahagia, perasaan menemukan kembali yang hilang. Namun, satu hal yang tak pernah dia sangka adalah mendengar kabar bahwa Darren telah menikah lagi.

Kota Hadata sedang berada di musim kemarau. Daun-daun berdesir pelan, cahaya matahari terasa lembut dan menenangkan.

Elara duduk kaku di dekat jendela, tangannya terulur, seolah ingin menyentuh kehangatan itu.

Lima tahun hidup di gurun membuatnya nyaris terputus dari dunia luar. Trauma perang dan pengalaman mengerikan itu membuatnya menderita afasia, kehilangan kemampuan bicara.

Hari ketika dia diselamatkan, dia menangis. Itu adalah tangisan paling lepas selama lima tahun terakhir. Dia percaya, begitu bertemu Darren, jiwanya yang hancur pasti akan menemukan kedamaian.

Namun, kenyataan menamparnya begitu keras.

Darren sudah mengajukan pembatalan identitasnya di tahun ketiga setelah dia menghilang, dan tak lama kemudian menikah lagi.

Cklek. Pintu kantor polisi terbuka. Seorang pria bergegas masuk. Wajahnya nyaris tak berubah dibanding lima tahun lalu, hanya saja kini lebih matang dan tenang.

Setelan jas yang dikenakannya tampak mahal, dan jam tangan di pergelangan tangannya saja bernilai fantastis.

Sepertinya, selama lima tahun Elara tak ada, kehidupan Darren berjalan dengan sangat baik.

"Elara…" Matanya langsung memerah begitu melihat Elara di sudut ruangan.

Elara membuka mulut, tetapi tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

Jika saja polisi tidak mengatakan bahwa Darren sudah menikah dan bahkan punya anak, Elara benar-benar akan percaya bahwa Darren masih mencintainya.

"Selama ini… kamu pasti sangat menderita." Darren melangkah ke hadapannya, berusaha keras menahan diri untuk tidak langsung memeluknya. "Ikut aku pulang dulu."

Elara terdiam, tetap duduk tanpa bergerak.

Pulang?

Masihkah ada rumah untuknya?

"Elara, jangan takut. Semuanya sudah berakhir, kamu sudah kembali." Darren berjongkok di depannya, suara lembutnya berusaha menenangkan.

Sudut mata Elara memerah. Dia ingin percaya bahwa polisi salah. Darren yang pernah begitu mencintainya, bagaimana mungkin bisa menikah lagi?

Bukankah dia adalah Darren yang dulu rela mendaki gunung sejak dini hari hanya untuk menggantungkan gembok cinta di puncak, demi membuktikan cintanya?

Apakah semua itu hanya pura-pura?

"Keadaannya sudah aku jelaskan, Tuan Darren. Karena trauma, dia mengalami afasia…" Polisi yang menangani kasus Elara mendekat dan berbicara pelan.

Tatapan Darren dipenuhi rasa iba. Dia menggenggam tangan Elara.

Elara menurut, melangkah keluar dari kantor polisi bersamanya.

Dia kira setelah lepas dari neraka, yang menantinya pasti surga.

Namun, kenyataan justru membuat tubuhnya gemetar hebat.

"Elara… aku antar kamu ke hotel dulu. Selama ini… ada beberapa hal yang berubah, rumah sekarang…" Darren tidak berencana membawanya pulang, takut membuatnya makin tertekan.

Elara meraih pena dan kertas, menulis cepat. "Aku mau pulang!"

Itulah rumahnya.

Rumah yang mereka tempati setelah menikah, saksi cinta lima tahun mereka, tempat semua kenangan indah bermula.

Darren terdiam lama, lalu akhirnya berkata, "Elara, maafkan aku…"

Tubuh Elara bergetar hebat, kedua tangannya saling menggenggam karena takut.

Bahkan ketika peluru berdesing di medan perang, dia tidak pernah setakut ini.

Namun akhirnya, Darren tetap mengucapkan kalimat itu. "Elara, kamu menghilang selama lima tahun. Semua orang mengira kamu sudah meninggal… Jadi aku menikah lagi. Istriku dan anak perempuanku tinggal di sana… Maafkan aku, aku tidak bisa membiarkan mereka terluka."

Dum, dum… Detak jantungnya yang sempat berdebar keras, akhirnya mati dalam keputusasaan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status