MasukWan Liyi menjelaskan kepada Ling Yan dengan sangat detail dan hati-hati. Ling Yan juga mendengarkan dengan ekspresi serius sambil terus mencerna penjelasan Wan Liyi.
"Dengan kata lain, aku terlalu kuat yang membuat mereka sangat terkejut karena aku berkata ingin bergabung dengan sekte ini?" gumam Ling Yan dengan nada serius. "Benar, Tuan," jawab Wan Liyi dengan nada sopan. "..." Ling Yan menatap Wan Liyi dengan ekspresi aneh. Hal ini membuat Wan Liyi sangat gugup. Ia menundukkan wajahnya, tidak berani menatap langsung ke arah Ling Yan. "Ada satu hal yang sangat menggangguku, bisakah kamu tidak begitu sopan kepadaku? Aku lebih suka saat kamu menganggap aku setara seperti sebelumnya," kata Ling Yan dengan nada datar. "Apa Tuan yakin?" Wan Liyi berucap dengan ekspresi tidak percaya. "Ya, aku tidak suka mengobrol dengan orang yang terlalu kaku," kata Ling Yan dengan nada serius. "Kalau begitu baiklah. Saudara Ling Yan, apa masih ada sesuatu yang tidak kamu mengerti?" tanya Wan Liyi dengan ekspresi aneh. Ling Yan menggelengkan kepalanya dengan lembut. Ia menengok ke arah master sekte He Huan dan berkata. "Master sekte, tenang saja. Aku tulus ingin bergabung dengan sekte He Huan," kata Ling Yan dengan nada santai. "..." Master sekte He Huan terdiam cukup lama. Ia melirik ke arah para tetua dan langsung mendapatkan anggukan lembut dari mereka. "Baiklah, Tuan. Karena kekuatan Tuan yang terlalu tinggi, jadi Anda akan menjadi Tetua Penjaga," jelas Mu Yingxin dengan nada sopan. "Tetua Penjaga ya, tidak buruk. Aku suka dengan posisi ini. Lalu, master sekte, tolong jangan terlalu formal kepadaku. Hal ini juga berlaku untuk kalian para tetua sekte He Huan. Jujur, aku paling tidak suka dengan sesuatu yang terlalu formal. Rasanya tetap akan ada jarak jika kalian masih bersikap formal kepadaku. Panggil saja aku Ling Yan seperti yang dilakukan Liyi," jelas Ling Yan dengan nada serius. Mu Yingxin tertegun sejenak sebelum kemudian mengangguk dengan ekspresi lembut. "Baiklah, Tetua Ling. Mohon bantuannya demi kebaikan sekte He Huan di masa depan..." kata Mu Yingxin sambil mengulurkan tangannya ke depan. Ling Yan balas tersenyum lembut sambil mengulurkan tangan, menggenggam telapak tangan lembut Mu Yingxin. Zzttn! Perasaan seperti tersengat listrik tiba-tiba muncul yang membuat Ling Yan sangat terkejut. Ia secara refleks menarik tangannya sambil menatap tidak percaya ke arah Mu Yingxin. 'Perasaan ini, sebenarnya apa yang terjadi?' gumam Ling Yan ragu di dalam hati. "Tetua Ling, apa ada sesuatu yang salah?" Mu Yingxin yang terkejut segera bertanya dengan nada ragu. "Tidak ada, maaf telah membuat master sekte terkejut," kata Ling Yan dengan nada menyesal. "Tidak apa, yang penting Tetua Ling baik-baik saja," balas Mu Yingxin dengan ekspresi aneh. 'Ling Yan ya, entah apa alasannya, tetapi aku merasa memiliki kedekatan dengannya,' gumam Mu Yingxin di dalam hati. .... Tiga hari berlalu sejak Ling Yan bergabung dengan sekte He Huan sebagai seorang Tetua Penjaga. Dalam waktu tiga hari, Ling Yan telah mengamati keadaan sekte He Huan dengan cermat. "Hah, pantas saja disebut sebagai sekte terendah. Ternyata keadaan sekte He Huan memang seburuk itu," gumam Ling Yan dengan nada tanpa daya. "Kakak, kenapa Kakak sedih? Apa Kakak memiliki suatu masalah?" Xun Er yang sedang duduk di pangkuan Ling Yan bertanya dengan nada khawatir. Ling Yan kaget dan segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kakak tidak apa-apa kok," jawab Ling Yan sambil menggosok kepala Xun Er dengan lembut. "Benarkah?" "Tentu saja benar. Kakak tidak mungkin berbohong kepada Xun Er," tegas Ling Yan dengan nada serius. "Um, Xun Er percaya kepada Kakak!" jawab Xun Er dengan ekspresi bahagia. Ia menunduk dan lanjut memakan camilan yang tersaji di depannya dengan sangat lahap. Melihat gadis kecil yang sedang sibuk memakan camilan, Ling Yan merasa sedih untuknya. Ling Yan tiba-tiba teringat saat di mana Xun Er merasa sangat sedih usai gadis itu terbangun dari tidurnya. 'Gadis yang malang. Kakak janji akan selalu menjagamu sampai suatu saat nanti kamu mendapatkan penjaga pribadi yang akan menemanimu selama hidupmu...' pikir Ling Yan di dalam hati sambil mengelus kepala Xun Er dengan sangat lembut. "Kakak?" Xun Er menengok ke arah Ling Yan dengan mulut yang dipenuhi camilan. "Tidak ada. Xun Er bisa terus makan. Kakak hanya ingin mengelus kepala Xun Er," kata Ling Yan dengan nada santai. "Baiklah..." Xun Er menatap Ling Yan dengan ekspresi imut selama beberapa saat sebelum kemudian menengok kembali ke depan. Ling Yan terus mengelus kepala Xun Er dari waktu ke waktu. 'Bakat Xun Er cukup bagus jika dibandingkan mayoritas murid sekte He Huan. Aku yakin bisa membuatnya menjadi orang besar di masa depan asalkan ia dibimbing dengan cara yang tepat,' pikir Ling Yan dengan senyum percaya diri. Saat ini Wan Liyi berjalan masuk ke ruangan sambil membawakan satu teko teh dan dua cangkir kecil di atas nampan. "Master Ling Yan, aku membawakan minum untukmu dan Xun Er," kata Wan Liyi dengan nada lembut. "Oh, terima kasih, Liyi. Kamu tahu saja kalau aku memang sedang kehausan saat ini," jawab Ling Yan dengan ekspresi bahagia. Wajah Wan Liyi memerah saat ia kemudian mengangguk dengan ekspresi lembut. Ia menaruh cangkir di atas meja dan menuangkan teh hangat ke dalamnya. Ling Yan menyeruput teh itu dan melirik ke arah Wan Liyi dengan ekspresi ragu. "Liyi, apa kamu yakin mau menjadi muridku?" tanya Ling Yan dengan nada serius. Wan Liyi terkejut sesaat sebelum kemudian mengangguk dengan ekspresi serius. "Aku sudah memutuskan. Tolong terima aku sebagai murid, Master Ling Yan," jawab Wan Liyi dengan ekspresi tegas. "..." Ling Yan terdiam. "Hah, karena kamu sudah memutuskan maka aku tidak akan membicarakan hal ini lagi. Tapi jujur saja, aku belum berpengalaman menjadi seorang pengajar. Jika nanti ada masalah, kita bisa bicarakan bersama," jelas Ling Yan dengan nada tanpa daya. "Baik, Master!" jawab Wan Liyi dengan ekspresi bahagia. Ling Yan kembali menyeruput minuman yang tersisa dan tiba-tiba terpikirkan sesuatu di benaknya. Ling Yan melambaikan tangan kepada Wan Liyi yang membuat Wan Liyi terlihat kebingungan. "Kemarilah, aku ada hadiah untukmu," kata Ling Yan dengan nada santai. "Hadiah?" Wan Liyi berucap dengan ekspresi kebingungan. Ia mendekati Ling Yan sebelum kemudian tangannya tiba-tiba ditarik oleh Ling Yan. "Eh?! Apa?! Apa yang mau Master lakukan?!" teriak panik Wan Liyi. Ling Yan tidak menjelaskan, namun malah langsung menyentuh dahi Wan Liyi dengan jari telunjuknya. Belum sempat Wan Liyi bertanya, jari telunjuk Ling Yan tiba-tiba bersinar dan pengetahuan baru mulai mengalir di benak Wan Liyi. Jari Ling Yan bersinar selama beberapa saat sebelum kemudian meredup dan padam kembali seperti semula. Wan Liyi segera duduk di samping Ling Yan dan mulai melantunkan teknik kultivasi yang baru saja diberikan Ling Yan kepadanya. Aura dunia mulai tertarik memasuki tubuh Wan Liyi, aura yang tertarik menjadi lebih besar dan lebih besar sampai membuat Xun Er mulai merasa sedikit tidak nyaman. Ling Yan segera melambaikan tangannya dan penghalang tipis muncul menyelimuti Xun Er. Xun Er yang awalnya merasa tidak nyaman segera mendapatkan kembali kenyamanannya dan lanjut memakan camilan sambil menonton Wan Liyi berkultivasi. "Bagus, teknik itu tampaknya cocok untuk Liyi. Semoga saja kekuatannya bisa meningkat dengan lebih cepat dengan teknik ini," gumam Ling Yan dengan nada penuh harap. Mata Ling Yan tiba-tiba melebar. Ia memindahkan Xun Er dari pangkuannya dan segera berdiri bersiap pergi. "Kakak Ling? Kakak mau pergi ke mana?" tanya Xun Er dengan ekspresi penasaran. Ling Yan menengok ke arah Xun Er dengan senyum tipis. "Kakak akan pergi keluar sebentar. Xun Er jadi anak baik dan tunggu di sini sampai Kakak kembali," jawab Ling Yan dengan senyum lembut. Ling Yan langsung pergi setelah ia menjawab pertanyaan Xun Er. Baru saja ia keluar dari pintu, ia segera merasakan niat membunuh luar biasa yang diarahkan kepadanya. "Puncak Pembangunan Fondasi, kenapa kamu masih bersembunyi di sana? Kau pasti sudah tahu kalau kau tidak mungkin bisa bersembunyi dariku yang merupakan seorang kultivator di tahap Inti Emas," kata Ling Yan dengan nada santai. Beberapa saat kemudian... "..." tidak ada jawaban yang datang atas ucapan Ling Yan sebelumnya. Hal ini membuat ekspresi Ling Yan berubah menjadi gelap. "Nampaknya aku harus memaksamu untuk keluar..." ucap Ling Yan sambil mengulurkan tangannya secara perlahan. --- Bersambung...Zhen Tian duduk di atas singgasana kaisar, menatap lurus ke arah Ling Yan."Kamu tidak punya sesuatu untuk dikatakan?" ucap Zhen Tian, matanya terlihat berbahaya."Maaf, seharusnya aku segera datang mengambil hadiah yang kamu janjikan begitu masalah di sana selesai."Zhen Tian tersipu, wajahnya memerah lalu ia menunduk dengan ekspresi malu-malu.Orang-orang yang ada di aula tersenyum pahit, menggelengkan kepala mereka dengan ekspresi tanpa daya.Siapa sangka kaisar wanita yang mereka segani bisa bersikap seperti gadis muda yang pertama kali merasakan cinta, bahkan dewa pasti terkejut jika melihatnya."Ehem!" Merasakan tatapan tidak wajar dari bawahannya, Zhen Tian batuk ringan lalu menatap serius ke arah Ling Yan. "Ini soal gerakan kultivator iblis, aku curiga mereka akan menyerang dalam waktu dekat.""Hmm? Apa ini informasi terbaru?"Zhen Tian menganggukkan kepalanya dengan ekspresi serius."Telah dikonfirmasi mereka sedang menyiapkan persediaan dalam jumlah yang tidak masuk akal, ti
"Aku mengerti," balas Hua Yun, matanya sedikit redup karena kelelahan."Huahua, istirahatmu cukup?""Menurutmu?" Mata Hua Yun sinis, melotot ke arah Ling Yan."Ugh, tidak, aku yakin jauh dari kata cukup." Ling Yan tersipu, berkata dengan nada malu-malu."Hah...""Bukannya kamu sudah merekrut orang baru?"Hua Yun mengangguk lembut."Memang, tapi pekerjaanku semakin sibuk setelah tersiar kabar soal ancaman kultivator iblis.""... Bagaimana bilangnya, maaf?"Hua Yun tersenyum penuh pengertian, berkata dengan nada lembut, "Bukan salahmu, tidak perlu minta maaf.""Setidaknya biarkan aku mengerjakan tugasmu sebelum pergi. Kamu bisa istirahat selama aku melakukannya.""Terima kasih."Bruk!Hua Yun tiba-tiba jatuh ke dalam pelukan Ling Yan.Ling Yan menangkapnya, memastikan kondisinya sebelum menghela napas lega."Hanya kelelahan, dia akan baik-baik saja setelah cukup istirahat."Ling Yan membawa Hua Yun pulang ke rumahnya lalu kembali ke sini untuk menggantikan tugas Hua Yun.Dengan kemampua
Ketika Ling Yan sedang memberi arahan kepada Wan Liyi, dia merasakan aura seseorang memasuki wilayah Sekte He Huan."Bi Xia? Kenapa dia ke sini?" gumam Ling Yan pelan."Master?" Wan Liyi memanggil dengan nada lembut."Maaf, kita lanjutkan lain kali.""Kenapa?""Ada tamu yang datang dari jauh.""Oh." Wan Liyi mengangguk meski tidak tahu siapa tamu yang dimaksud Ling Yan.Kilatan cahaya melesat dari kejauhan, berhenti tepat di depan kediaman Ling Yan."Tuan Ling Yan, aku punya pesan dari Yang Mulia Zhen Tian.""Apa itu?""Ehem! 'Kenapa kamu tidak datang, apa kamu lupa padaku? Kalau kamu tidak ke sini dalam waktu satu bulan, aku akan menikah dengan orang lain'." Bi Xia sangat lihai meniru suara Zhen Tian.Sekilas Ling Yan merasa sedang bicara langsung dengan Zhen Tian."Bi Xia, apa ini benar?"Bi Xia memasang wajah datar, menatap lurus ke arah Ling Yan.Glek...Ling Yan menelan ludah, mulai merasa gugup.Tiba-tiba Bi Xia tersenyum cerah dan menggelengkan kepalanya."Tidak, kaisar wanita
Ujian terakhir sebenarnya cukup simpel, peserta perlu memilih salah satu teknik bela diri, diberi waktu satu jam untuk melatihnya dan harus mencapai batasan minimum untuk lulus.Normalnya tidak mungkin kultivator biasa melakukannya, jadi ini merupakan cara terbaik untuk menguji kemampuan pemahaman murid baru.Pada saat praktik, Ling Yan dibuat kagum dengan pencapaian Yuan Ling, Tian Xu dan Yunyun.Mereka tidak hanya menguasai teknik bela diri yang dipilih, tapi juga menunjukkan potensi besar sebagai kultivator terkuat di masa depan."Selamat! Kalian lulus dengan nilai sempurna."Yuan Ling menyeringai bangga, "Terima kasih Tetua Ling."Tian Xu tidak bisa menahan senyum, menundukkan kepala di depan Ling Yan.Yunyun tersenyum cerah, terlihat lebih cantik dari sebelumnya.Tidak lama setelah mengumumkan kelulusan mereka, Ling Yan menerima kabar kalau acara perekrutan murid baru resmi berakhir."Kalian, ikut aku."Ling Yan membawa mereka kembali ke Sekte He Huan, bertemu dengan Mu Yingxin.
Setelah menunggu lama, akhirnya ada peserta yang sampai babak akhir.Ada tiga orang yang terdiri dari dua pria dan satu wanita."Selamat datang di ujian terakhir," sambut Ling Yan dengan nada hangat.Ketiga peserta membungkuk, dengan sopan menyapa Ling Yan."Saya merasa terhormat bisa bertemu Tetua Ling yang terkenal," ucap pria muda berpakaian hitam dengan aksesoris mewah layaknya bangsawan."Kau tahu siapa aku?""Ya, Master Sekte Mu Yingxin mengenalkan Anda kepada kami.""Hmm, hanya kalian yang sampai di sini?""Kelihatannya begitu, yang lain mungkin tidak bisa melewati ujian sebelumnya."Ling Yan mengangguk mengerti, mengubah ekspresinya menjadi serius lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Perkenalkan diri kalian.""Nama saya Yuan Ling, keturunan utama Keluarga Yuan dari Kekaisaran Zhou Agung," jelas pria muda berpakaian hitam."Nama saya Tian Xu," jelas pria muda berpakaian putih yang sangat sederhana."Hmm..." Ling Yan menoleh, melihat ke arah satu-satunya wanita yang terlihat as
Ling Yan duduk di kursi kayu, menunggu dengan sabar kedatangan calon murid baru Sekte He Huan."Hoaam... Bosan sekali, aku rasa mustahil ada yang bisa sampai sini."Ling Yan bergumam pelan, matanya terlihat mengantuk seperti orang belum tidur selama berhari-hari."Master, aku bawakan kopi untukmu.""Woah! Liyi, kamu memang yang terbaik!" Ling Yan dengan gembira menerima kopi yang dibawakan Wan Liyi, meminumnya hingga habis dalam beberapa tegukan. "Rasanya segar, sekarang aku bisa membuka mata lebih lama.""Mau tambah?""Mau, tapi kali ini tambahkan susu.""Baik. Sekalian aku bawakan susu untuk Xun'er."Wan Liyi pergi meninggalkan Ling Yan.Setelah ditinggal pergi, Ling Yan mulai merenung tentang Wan Liyi.'Hubungan kami saat ini guru dan murid, Liyi jelas memiliki perasaan kepadaku, begitu pula aku memiliki perasaan kepadanya. Haruskah kami jadian?'Ling Yan tahu hubungan romantis antara guru dan murid adalah tabu, tapi dia sulit menahan diri untuk tidak memiliki rasa terhadap Wan Liy







