LOGIN"Keluarga Ferdian sudah melapor polisi di satu jam lalu, polisi juga sedang memeriksa CCTV. Keluarga Ferdian belum mengabarimu, 'kan?""Aku bukan ibu Jojo lagi, jadi mereka nggak akan mengabariku. Di mata mereka, mengabariku juga nggak ada gunanya," kata Wanda dengan sinis, lalu merasa kesal."Aku melihat Harvey bareng Jojo keluar dari kelas! Kenapa Jojo bisa tiba-tiba hilang?"Suara Wanda tiba-tiba mengeras sehingga terdengar jelas di malam sunyi ini.Fabian menjawab, "Kudengar, Harvey nggak barengan keluar dengan anaknya. Setelah Harvey pergi, dia meninggalkan Jojo pada sopir, lalu Harvey ke perusahaan.""Dari kabar yang aku dapat, sopir yang mengantar Jojo bilang Jojo ribut mau ke taman bermain, sedangkan dia tidak bisa melawan Jojo yang keras kepala, jadi menelepon Harvey dan meminta persetujuan. Harvey pun setuju, baru sopir membawanya ke taman bermain.""Setelah itu, sopir menyadari Jojo hilang, dia juga sudah mencari Jojo di taman bermain selama 40 menit, baru melapor polisi."W
"Wanita duluan naik ke mobil."Andre membukakan pintu mobil untuk Wanda dan Sasha.Sasha duluan masuk seperti orang dewasa saja, lalu bersikap anggun dan berkata pada Andre, "Terima kasih."Dia suka dengan sikap Andre yang begini, ada banyak saat Andre tidak menganggapnya sebagai anak kecil, melainkan sebagai orang dewasa. Hal ini membuatnya merasa dirinya itu adalah orang dewasa yang sempurna dan dihormati.Wanda tersenyum, dia tahu kalau Sasha suka dengan sikap Andre yang begini.…Sebuah mobil balap berwarna perak menebus kegelapan malam hari dan tujuannya itu ke apartemen Wanda.Di dalam mobil ada musik yang tenang, Sasha yang sudah bermain seharian ditambah terjadi banyak hal di sekolah, saat ini dia yang duduk di kursi anak-anak sudah ada rasa ngantuk.Wanda melihat pemandangan yang cepat dilalui itu, dalam otaknya terus melintas sepasang mata Jojo yang berkaca-kaca. Tatapan itu penuh rasa kecewa dan harapan, serta bayangan dia berlari keluar dengan penuh tekad.Wanda hanya bisa
Andre hanya tertawa, suara tawa itu terdengar sangat santai di suasana yang menjelang malam itu.Tatapan dia melihat ke arah Wanda dengan natural, bahkan senyumnya makin dalam. "Aku datang untuk menjemput Wanda."Petir yang tak terlihat di langit itu seperti melintas dengan kuat.Anne melihat Andre begitu melindungi dan dekat pada Wanda, lalu dibandingkan dengan ketidaksukaan Ziko pada dirinya, akal sehat dalam hati Anne langsung lenyap karena emosi.Anne tetap mempertahankan senyumnya, tapi suaranya agak nyaring, "Hubungan Pak Andre dan Bu Wanda memang baik."Wanda terjepit di antara suasana yang sangat tegang karena dia bisa merasa hawa hangat yang mendekat karena Andre mendekat, lalu tatapan tenang dan keberadaan kuat dari Leonard.Anne berbicara lagi, "Entah Bu Wanda pakai cara apa buat Ziko begitu dekat padamu. Leonard, jagalah Ziko dengan baik, jangan sampai Ziko belajar hal buruk dari orang yang nggak jelas ….""Anne." Tiba-tiba terdengar suara Leonard, tidak keras, tapi suara i
Cahaya matahari terbenam itu menyinari tembok putih sekolah sehingga tembok itu ada warna emas.Anak-anak yang sudah selesai mengikuti acara itu berjalan keluar bersama orang tuanya dengan senang, bahkan berpisah dalam kesenangan.Wanda mendorong kursi roda Leonard sambil mendengar Sasha dengan antusia mengatakan adegan pemilihan kue terbaik.Sasha dan Ziko saling bergandengan tangan. Saat Sasha mengatakan hal yang menarik, Ziko akan menengadahkan kepala melihat Sasha, lalu melihat respons Wanda.Tatapan dingin Leonard melihat ke arah dua anak.Saat mereka baru sampai depan gerbang sekolah dan bersiap mengatakan sampai jumpa. Saat ini, sosok berpakaian hitam dari kejauhan berteriak dengan lembut dan itu adalah suara seorang wanita yang disengajakan, "Ziko, aku datang menjemputmu!"Wanda melihat ke sana, lalu melihat Anne berpakaian baju Channel dengan riasan yang cantik dan buru-buru berjalan ke sini, bahkan ada keringat di dahinya seperti sangat buru-buru.Dia melihat Wanda dengan tat
Dalam ruangan itu, Ziko berjalan ke panggung, biasanya dia selalu bersembunyi di belakang orang dan berusaha membuat dirinya tidak jadi pusat perhatian orang.Saat dia berdiri di bawah sinar, setiap bulu matanya yang panjang disinari cahaya, bahkan kulitnya yang putih dan mulus juga terlihat jelas.Mau orang tua murid atau anak-anak, semua menarik napas dalam.Saat Ziko berdiri di depan orang dengan percaya diri, mereka baru melihat wajah Ziko dengan jelas dan merasa Ziko sangatlah lucu."Ziko seperti malaikat!" Ada anak kecil yang mulai membahas.Namun, cahaya yang terang itu, serta tatapan mereka membuat Ziko merasa tidak nyaman.Jantungnya berdebar cepat sampai tangan berkeringat, dia ingin bersembunyi lagi, tapi di tahannya.Dia menengadahkan kepala dan melihat ke arah Sasha dan Wanda, tiba-tiba ada tenaga yang masuk ke dalam tubuhnya.Guru memberikan piala pada Ziko. Setelah Ziko ambil dia memberi hormat pada guru.Wali kelas itu jongkok dan bertanya, "Ziko, kamu juara satu, apa k
Ziko menolak sambil menggelengkan kepala, lalu dia memegang erat kursi roda Leonard sampai tangannya memucat.Dia sedang meminta bantuan Leonard.Leonard tidak berbicara, hanya menatapnya dengan tenang tanpa mendesaknya, seolah-olah itu sebuah dukungan yang tenang.Anak-anak di sekitar hanya menutup mulut sambil tertawa."Ziko nggak berani naik ke panggung untuk menerima penghargaan.""Ziko itu orang aneh!"Dikarenakan ada orang tua mereka, jadi mereka tahu status Ziko, oleh karena itu segera menutup mulut anaknya yang asal bicara."Ziko, cepat ambil penghargaan," teriak Sasha pada Ziko.Wanda jongkok untuk menatap Ziko, lalu dia menyemangatinya dengan lembut, "Ziko, lihatlah ada banyak orang yang suka kue buatanmu, itu adalah kepastian mereka padamu. Kamu sangat hebat, bisa naik panggung sendiri, 'kan? Caranya setahap setahap seperti kamu membuat kue, pasti bisa."Sasha menganggukkan kepala dari samping. "Benar, Ziko, kamu paling berani."Tatapan Wanda sangat lembut, lalu dia mengulur







