Share

Bab 3

Author: Sulki
Melihat Arsy, Eira sama sekali tidak terkejut. Dia hanya tersenyum dingin sambil mengangkat alis ke arahnya.

Teman-teman dari lingkarannya yang ikut di belakangnya langsung membuka suara dengan nada penuh provokasi.

"Wah, hari ini keluar rumah nggak lihat kalender ya, kok bisa ketemu pembawa sial begini?"

"Eira, bukannya kamu bilang kamu suka rumah ini? Kok dia ada di sini?"

Asisten itu melihat situasi sudah mulai tidak baik dan segera menjelaskan kepada Eira, "Bu Eira, rumah ini sudah dibeli oleh Pak Niam untuk Bu Arsy."

Mendengar itu, ekspresi Eira langsung berubah. Sorot matanya menjadi dingin dan menakutkan. Dia segera mengeluarkan ponselnya dari tas, lalu menelepon Niam di depan semua orang.

Tak lama setelah panggilan tersambung, ekspresinya langsung berubah cerah. Dia kemudian menyalakan pengeras suara dan menyerahkan ponsel itu ke depan Arsy sambil tersenyum.

"Biar Niam sendiri yang bilang ke kamu."

Arsy tetap diam. Di seberang telepon, Niam terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara datar, "Rumah itu kasih ke Eira saja. Aku akan beliin kamu yang lain."

Dia sebenarnya tidak pernah berniat menginginkan rumah ini. Namun entah kenapa, dia tetap ingin tahu sebenarnya waktu tujuh tahun ini berarti apa bagi Niam.

Dia pun bertanya pelan, "Kalau aku bilang aku cuma suka yang ini?"

Suara Niam dari seberang terdengar begitu dingin. "Arsy, aku nggak ingin mengulang kata-kata yang sama untuk kedua kalinya."

Telepon langsung terputus. Orang-orang di ruang tamu hampir serentak tertawa terbahak-bahak.

"Lucu banget, memalukan sekali. Kalau aku sih sudah cari lubang buat sembunyi."

"Kenapa masih belum sadar juga sih? Masih berani tawar-menawar sama Kak Niam? Semua orang tahu, sejak kecil sampai sekarang, selama Eira menginginkan sesuatu, entah itu bintang atau bulan sekalipun, Niam pasti akan berusaha memberikannya."

"Arsy, Arsy, kamu nggak bisa dibandingkan dengan Eira! Bebek buruk rupa tetap saja bebek buruk rupa, mana bisa jadi angsa putih!"

Wajah Arsy memerah seperti terbakar, seolah-olah bisa meneteskan darah. Dia tidak berkata apa-apa, hanya mendorong orang-orang itu dan hendak pergi.

Namun, mereka tampaknya tidak berniat membiarkannya pergi begitu saja. Seseorang menarik lengan bajunya dengan kasar.

"Eh, kamu sudah mengotori lantai ruang tamu, mau kabur begitu saja?"

"Eira, menurutmu dia harus berlutut dan mengepel lantai sampai bersih baru boleh pergi, 'kan? Kalau nggak, kita laporkan saja dia masuk tanpa izin!"

Di wajah Eira tersungging senyuman dingin penuh niat buruk. Melihat Arsy dipermalukan, dia benar-benar menikmatinya.

"Arsy, dengar itu? Lagi pula, dulu kamu juga sering ambil pekerjaan bersih-bersih. Sekarang suruh kamu bersihkan tempat ini, itu nggak berlebihan, 'kan?"

Arsy mengernyit. Dia melihat orang-orang yang mengepungnya dan tahu hari ini tidak akan mudah baginya untuk pergi dari sini.

Dia tidak berharap asisten Niam akan membantunya. Asisten itu hanya pekerja biasa, tidak ada alasan baginya menyinggung Eira demi dirinya.

Selama ini, pekerjaan berat apa pun sudah pernah dia lakukan. Dulu demi membantu Niam melunasi utang, dia pernah tiga hari tiga malam tidak tidur, menjadi pemungut bola. Dibandingkan itu, penghinaan seperti ini bukan apa-apa.

Arsy pun berjalan ke samping, mengambil lap, lalu setengah berjongkok di lantai dan menghapus satu per satu jejak kakinya.

Tawa orang-orang kembali pecah.

"Memang cocoknya jadi pembantu."

"Dengan status sepertimu, jangan-jangan masih bermimpi bisa jadi Nyonya Charista?"

Seseorang mengambil botol minuman soda yang belum habis, membuka tutupnya, lalu langsung menyiramkannya ke atas kepalanya sambil merekam dengan ponsel.

"Wah, jadi basah kuyup!"

"Kita memang harus kasih tahu orang-orang yang nggak tahu diri, yang mau numpang naik kelas, kalau mereka itu nggak pantas!"

Di tengah gelak tawa, Eira berjalan selangkah demi selangkah mendekatinya, lalu berjongkok di depannya. Dia mengangkat alis dengan penuh provokasi. "Ini baru permulaan, Arsy. Kita lihat saja nanti."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 28

    "Cium! Cium!"Di pesta pernikahan, mempelai pria dan wanita saling menggenggam tangan, mengucapkan janji sehidup semati. Para keluarga dan teman-teman di bawah panggung bersorak riuh.Enzo memegang wajah Arsy, satu tangannya menutup pandangan orang-orang. Dengan penuh kehati-hatian, dia mencium bibir Arsy."Waaah!"Upacara pernikahan segera selesai. Para tamu sibuk makan dan mengobrol, hanya satu orang di sudut yang tampak tidak pada tempatnya.Pengantin mengenakan pakaian adat, para tamu sebagian besar memakai warna merah untuk melambangkan kebahagiaan.Hanya Niam yang mengenakan jas putih bersih. Di saku dadanya terpasang bunga kecil bertuliskan "pengantin pria: Niam".Setelah menyaksikan upacara, dia diam-diam pergi tanpa ada yang menyadari. Semua orang mengira itu adalah pengantin pria dari acara lain yang salah masuk tempat.Bagaimanapun, restoran itu sering dipakai untuk pernikahan. Kejadian salah lokasi bukan hal aneh."Arsy, aku pernah bilang ... kalau kamu mau, kamu bisa selal

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 27

    Sore hari, setelah berpamitan dengan Enzo, Arsy naik ke lantai atas. Lampu di tangga entah kenapa tiba-tiba mati.Arsy sedikit takut, lalu menyalakan senter dari ponselnya. Cahayanya tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk melihat jalan.Dengan meraba-raba, Arsy akhirnya sampai di depan pintu rumahnya. Dia mengeluarkan kunci dari tas, memasukkannya ke lubang kunci, lalu memutarnya.Begitu terdengar suara, dia hendak membuka pintu dan segera masuk. Namun saat itu, sebuah tubuh tinggi menempel dari belakangnya, mendorongnya masuk ke rumah.Niam menangkap kedua tangan Arsy dan mengangkatnya ke atas kepalanya. Tubuhnya yang tinggi menutup seluruh ruang di sekitar Arsy.Arsy langsung panik. Sambil berusaha melepaskan diri, dia juga menekan tombol panggilan darurat di ponselnya."Lepaskan aku! Aku punya uang. Aku ambilkan untukmu ya? Jangan gegabah!" Dia tidak langsung mengenali bahwa itu adalah Niam. Dalam kegelapan, dia tidak bisa melihat, bahkan tidak tahu apakah panggilan daruratnya sud

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 26

    Setelah makan malam, Enzo mengajak Arsy berjalan-jalan. Senyuman di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan."Sisy, kamu senang?""Enzo, jujur saja ... aku nggak tahu."Jawaban gugup Arsy justru membuat Enzo tertawa lepas. Suaranya menggema di sepanjang jalan."Nggak apa-apa, nikmati saja sekarang. Aku nggak ingin membuatmu menunggu terlalu lama!" seru Enzo dengan agak polos.Untungnya jalanan tidak terlalu ramai. Kalau tidak, Arsy pasti sudah ingin bersembunyi karena malu.Enzo dan Niam adalah dua orang yang benar-benar berbeda. Dulu, Niam tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Pertunangan, pernikahan, semuanya terasa seperti sesuatu yang jauh dan tak terjangkau.Rasa aman yang Arsy dapatkan dari Niam terlalu sedikit, sampai setiap hari dia khawatir, apakah besok adalah hari mereka berpisah. Setiap hari bersama Niam terasa seperti sesuatu yang dipinjam, yang bisa hilang kapan saja.Namun, sekarang berbeda. Perasaan Enzo jelas dan terang-terangan. Arsy bisa merasakannya deng

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 25

    Sore hari berikutnya, Arsy datang. Namun, dia tidak datang sendiri. Dia datang bersama Enzo untuk menjenguk Niam. Di tangannya hanya ada buah-buahan biasa, terlihat tidak terlalu dipersiapkan dengan serius.Namun, pakaian mereka justru tampak serasi. Bernuansa cokelat, seperti pakaian pasangan. Keduanya jelas sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Riasan Arsy sederhana dan anggun seperti hendak bertemu orang tua.Begitu pikiran itu muncul, Niam sendiri sampai terkejut. Dia mencoba menyangkalnya. Bahkan kalau Enzo sengaja membawa Arsy untuk menunjukkan kepemilikan, itu masih seribu kali lebih masuk akal daripada pikiran barusan."Pak Niam, gimana kondisimu? Aku membawa Arsy menjengukmu." Enzo berkata sambil meletakkan buah yang dibawanya."Kalian ...." Kata-kata Niam tertahan di bibir, lalu dia telan kembali."Arsy, kamu datang saja sudah cukup." Untuk sesaat, dia menatap wajah Arsy, tetapi justru tidak tahu harus berkata apa.Haruskah dia mengatakan "bisakah kamu merawatku", "aku sangat

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 24

    Dulu memang Eira pernah menukar obat yang seharusnya diminum Niam, tetapi obat untuk orang tua Niam juga adalah ulahnya.Karena usianya masih muda dan hubungannya dekat dengan Keluarga Charista, dia sering datang ke rumah Niam untuk bermain. Dia bisa melakukan hal-hal kecil secara diam-diam tanpa menarik perhatian.Saat itu, hampir tidak ada yang akan curiga pada seorang gadis kecil seperti dirinya. Setelahnya, demi melindungi Eira, Keluarga Halahi bahkan mengirimnya ke luar negeri."Selesaikan mereka." Niam melemparkan satu kalimat dingin, lalu seseorang segera menyeret pasangan suami istri itu pergi.Dia menyuruh anak buahnya memberi obat pada mereka, membuat mereka kehilangan kewarasan, selalu curiga, dan hidup dalam kebingungan. Dia hanya membalas dengan cara yang sama, itu bahkan sudah termasuk belas kasihan.Malam terasa dingin seperti air. Niam duduk sendirian di depan jendela besar, rasa kesepian menyelimuti dirinya.Di kakinya sudah ada beberapa botol anggur kosong. Namun, sem

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 23

    Suasana ambigu menyelimuti keduanya. Niam benar-benar tidak bisa bersembunyi lagi.Dengan wajah dingin, dia langsung berdiri di antara Arsy dan Enzo, memisahkan mereka. Dia bahkan tidak berani membayangkan, kalau dia tidak muncul, apakah mereka akan benar-benar berciuman?Niam berdiri di tengah, tidak berkata apa-apa, hanya menatap Enzo dengan tajam. Akhirnya, Arsy yang lebih dulu memecah keheningan."Niam, kamu ngapain di sini? Grup Charista sudah mau bangkrut sampai kamu sesenggang ini?"Niam menoleh, lalu tersenyum lembut. "Arsy, ini kebun binatang. Semua orang boleh datang. Kamu juga nggak perlu khawatir, setidaknya beberapa tahun ke depan, Grup Charista nggak mungkin bangkrut."Senyuman lembut yang jarang muncul itu tidak membuat Arsy nyaman, malah terasa aneh. Bahkan sesaat, dia sempat curiga, apakah Niam kerasukan. Dia tidak pernah tersenyum seperti itu."Niam, jangan senyum begitu. Jelek." Arsy melewati Niam, lalu menarik tangan Enzo. "Ayo kita pergi. Memang semua orang boleh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status