LOGIN"Cium! Cium!"Di pesta pernikahan, mempelai pria dan wanita saling menggenggam tangan, mengucapkan janji sehidup semati. Para keluarga dan teman-teman di bawah panggung bersorak riuh.Enzo memegang wajah Arsy, satu tangannya menutup pandangan orang-orang. Dengan penuh kehati-hatian, dia mencium bibir Arsy."Waaah!"Upacara pernikahan segera selesai. Para tamu sibuk makan dan mengobrol, hanya satu orang di sudut yang tampak tidak pada tempatnya.Pengantin mengenakan pakaian adat, para tamu sebagian besar memakai warna merah untuk melambangkan kebahagiaan.Hanya Niam yang mengenakan jas putih bersih. Di saku dadanya terpasang bunga kecil bertuliskan "pengantin pria: Niam".Setelah menyaksikan upacara, dia diam-diam pergi tanpa ada yang menyadari. Semua orang mengira itu adalah pengantin pria dari acara lain yang salah masuk tempat.Bagaimanapun, restoran itu sering dipakai untuk pernikahan. Kejadian salah lokasi bukan hal aneh."Arsy, aku pernah bilang ... kalau kamu mau, kamu bisa selal
Sore hari, setelah berpamitan dengan Enzo, Arsy naik ke lantai atas. Lampu di tangga entah kenapa tiba-tiba mati.Arsy sedikit takut, lalu menyalakan senter dari ponselnya. Cahayanya tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk melihat jalan.Dengan meraba-raba, Arsy akhirnya sampai di depan pintu rumahnya. Dia mengeluarkan kunci dari tas, memasukkannya ke lubang kunci, lalu memutarnya.Begitu terdengar suara, dia hendak membuka pintu dan segera masuk. Namun saat itu, sebuah tubuh tinggi menempel dari belakangnya, mendorongnya masuk ke rumah.Niam menangkap kedua tangan Arsy dan mengangkatnya ke atas kepalanya. Tubuhnya yang tinggi menutup seluruh ruang di sekitar Arsy.Arsy langsung panik. Sambil berusaha melepaskan diri, dia juga menekan tombol panggilan darurat di ponselnya."Lepaskan aku! Aku punya uang. Aku ambilkan untukmu ya? Jangan gegabah!" Dia tidak langsung mengenali bahwa itu adalah Niam. Dalam kegelapan, dia tidak bisa melihat, bahkan tidak tahu apakah panggilan daruratnya sud
Setelah makan malam, Enzo mengajak Arsy berjalan-jalan. Senyuman di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan."Sisy, kamu senang?""Enzo, jujur saja ... aku nggak tahu."Jawaban gugup Arsy justru membuat Enzo tertawa lepas. Suaranya menggema di sepanjang jalan."Nggak apa-apa, nikmati saja sekarang. Aku nggak ingin membuatmu menunggu terlalu lama!" seru Enzo dengan agak polos.Untungnya jalanan tidak terlalu ramai. Kalau tidak, Arsy pasti sudah ingin bersembunyi karena malu.Enzo dan Niam adalah dua orang yang benar-benar berbeda. Dulu, Niam tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Pertunangan, pernikahan, semuanya terasa seperti sesuatu yang jauh dan tak terjangkau.Rasa aman yang Arsy dapatkan dari Niam terlalu sedikit, sampai setiap hari dia khawatir, apakah besok adalah hari mereka berpisah. Setiap hari bersama Niam terasa seperti sesuatu yang dipinjam, yang bisa hilang kapan saja.Namun, sekarang berbeda. Perasaan Enzo jelas dan terang-terangan. Arsy bisa merasakannya deng
Sore hari berikutnya, Arsy datang. Namun, dia tidak datang sendiri. Dia datang bersama Enzo untuk menjenguk Niam. Di tangannya hanya ada buah-buahan biasa, terlihat tidak terlalu dipersiapkan dengan serius.Namun, pakaian mereka justru tampak serasi. Bernuansa cokelat, seperti pakaian pasangan. Keduanya jelas sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Riasan Arsy sederhana dan anggun seperti hendak bertemu orang tua.Begitu pikiran itu muncul, Niam sendiri sampai terkejut. Dia mencoba menyangkalnya. Bahkan kalau Enzo sengaja membawa Arsy untuk menunjukkan kepemilikan, itu masih seribu kali lebih masuk akal daripada pikiran barusan."Pak Niam, gimana kondisimu? Aku membawa Arsy menjengukmu." Enzo berkata sambil meletakkan buah yang dibawanya."Kalian ...." Kata-kata Niam tertahan di bibir, lalu dia telan kembali."Arsy, kamu datang saja sudah cukup." Untuk sesaat, dia menatap wajah Arsy, tetapi justru tidak tahu harus berkata apa.Haruskah dia mengatakan "bisakah kamu merawatku", "aku sangat
Dulu memang Eira pernah menukar obat yang seharusnya diminum Niam, tetapi obat untuk orang tua Niam juga adalah ulahnya.Karena usianya masih muda dan hubungannya dekat dengan Keluarga Charista, dia sering datang ke rumah Niam untuk bermain. Dia bisa melakukan hal-hal kecil secara diam-diam tanpa menarik perhatian.Saat itu, hampir tidak ada yang akan curiga pada seorang gadis kecil seperti dirinya. Setelahnya, demi melindungi Eira, Keluarga Halahi bahkan mengirimnya ke luar negeri."Selesaikan mereka." Niam melemparkan satu kalimat dingin, lalu seseorang segera menyeret pasangan suami istri itu pergi.Dia menyuruh anak buahnya memberi obat pada mereka, membuat mereka kehilangan kewarasan, selalu curiga, dan hidup dalam kebingungan. Dia hanya membalas dengan cara yang sama, itu bahkan sudah termasuk belas kasihan.Malam terasa dingin seperti air. Niam duduk sendirian di depan jendela besar, rasa kesepian menyelimuti dirinya.Di kakinya sudah ada beberapa botol anggur kosong. Namun, sem
Suasana ambigu menyelimuti keduanya. Niam benar-benar tidak bisa bersembunyi lagi.Dengan wajah dingin, dia langsung berdiri di antara Arsy dan Enzo, memisahkan mereka. Dia bahkan tidak berani membayangkan, kalau dia tidak muncul, apakah mereka akan benar-benar berciuman?Niam berdiri di tengah, tidak berkata apa-apa, hanya menatap Enzo dengan tajam. Akhirnya, Arsy yang lebih dulu memecah keheningan."Niam, kamu ngapain di sini? Grup Charista sudah mau bangkrut sampai kamu sesenggang ini?"Niam menoleh, lalu tersenyum lembut. "Arsy, ini kebun binatang. Semua orang boleh datang. Kamu juga nggak perlu khawatir, setidaknya beberapa tahun ke depan, Grup Charista nggak mungkin bangkrut."Senyuman lembut yang jarang muncul itu tidak membuat Arsy nyaman, malah terasa aneh. Bahkan sesaat, dia sempat curiga, apakah Niam kerasukan. Dia tidak pernah tersenyum seperti itu."Niam, jangan senyum begitu. Jelek." Arsy melewati Niam, lalu menarik tangan Enzo. "Ayo kita pergi. Memang semua orang boleh







