Share

Bab 4

Author: Sulki
Saat keluar dari vila, seluruh tubuh Arsy basah kuyup, terlihat sangat menyedihkan.

Asisten Niam mengikuti di belakangnya, beberapa kali ingin berbicara, tetapi akhirnya mengurungkan niat.

Arsy menoleh dan memaksakan senyuman tipis. "Aku nggak apa-apa. Kamu kembali saja dulu, aku ingin jalan sendiri."

Setelah berkata demikian, tanpa menunggu jawabannya, dia langsung berjalan pergi sendirian tanpa ragu.

Jalan ini sudah berkali-kali dia lalui. Dulu, Niam selalu berjalan di sampingnya.

Vila itu berada di puncak gunung. Untuk sampai ke kaki gunung tempat ada halte bus, dia harus berjalan kaki selama satu jam penuh.

Dulu saat mereka datang untuk kerja paruh waktu, mereka tidak tega mengeluarkan uang untuk naik taksi, jadi mereka berjalan sambil mengobrol menuju kaki gunung.

Di tengah jalan, kalau dia lelah, Niam akan menggendongnya sampai mereka tiba di rumah sewaan. Saat itu, dia berpikir kalau seumur hidup bisa terus seperti ini, rasanya juga cukup baik.

Meskipun miskin dan hidup sederhana, setidaknya jarak di antara mereka tidak sejauh sekarang. Kini, di antara mereka sudah terbentang jurang yang tak mungkin diseberangi lagi. Dia tak akan pernah bisa melangkah melewatinya.

Arsy menghabiskan tiga jam untuk berjalan pulang. Karena tubuhnya basah dan terkena angin dingin, saat kembali ke kamar sewaan, dia pun merasa tidak enak badan.

Dengan susah payah, dia mandi dan mengganti pakaian, lalu berbaring di tempat tidur. Tak lama kemudian, tubuhnya mulai terasa sangat panas.

Apalagi dia lupa menutup jendela sebelum tidur. Angin dingin terus menerpa, membuatnya sebentar berkeringat karena panas, sebentar menggigil karena kedinginan. Seluruh tubuhnya seperti berada dalam siksaan panas dan dingin bergantian.

Tubuhnya memang tidak terlalu sehat. Dulu setiap kali dia sakit, Niam akan membatalkan kerja malamnya dan tinggal di sisinya.

Itu adalah satu-satunya waktu dia bisa bersikap manja dan dekat dengan Niam. Dia akan meringkuk dalam pelukan Niam, menggesekkan wajahnya di leher Niam seperti anak kucing.

"Niam, kamu harum sekali."

Niam akan mengusap dahinya dengan sabar, lalu menyuapi obat penurun panas sedikit demi sedikit ke mulutnya.

"Cuma bau deterjen, apa yang istimewa?"

Arsy pun selalu memeluknya erat sambil memejamkan mata. "Tetap istimewa. Aku suka sekali. Rasanya ingin mencium bau ini seumur hidup."

Di depan Niam, dia tak pernah berani mengungkapkan perasaannya secara langsung. Dia juga tidak pernah berani mengatakan bahwa sebenarnya dia sangat menyukainya dan ingin berada di sisinya seumur hidup.

Sejak Niam kembali ke lingkaran lamanya, aroma itu tak pernah lagi ada padanya. Sebagai gantinya adalah aroma parfum mahal atau bau samar tembakau. Apa pun itu, tidak ada yang menjadi miliknya lagi.

Dalam keadaan setengah sadar karena demam, kepalanya terasa seperti akan pecah. Arsy susah payah mengambil ponsel dan hendak meminta bantuan, tetapi tanpa sengaja menekan nomor yang salah.

Telepon berdering beberapa kali, lalu diangkat. Namun, dari seberang tidak terdengar suara orang, hanya suara musik yang bising.

"Halo ... ini layanan darurat?" Arsy bertanya dengan lemah, tetapi tidak ada jawaban. Dengan sisa tenaga terakhir, dia membuka mata dan baru menyadari ternyata dia salah menelepon Niam.

Dia hendak menutup telepon, tetapi dari sana tiba-tiba terdengar suara beberapa orang berbicara. Seseorang sedang mengobrol dengan Niam.

"Niam, kamu sudah lama kembali, kenapa belum juga putus dengan si gadis kampungan yang tinggal di kamar sewaan itu?"

"Benar, sekarang Eira juga sudah pulang. Kalian sudah menunggu bertahun-tahun, sudah saatnya berakhir bahagia, 'kan?"

"Atau jangan-jangan ... kamu sudah jatuh hati pada gadis kampungan itu?"

Niam tertawa ringan. Bibir tipisnya terbuka, setiap kata yang keluar terdengar dingin dan tanpa perasaan.

"Dia cuma pasangan di ranjang yang memenuhi kualifikasi. Jatuh hati? Mana mungkin."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 28

    "Cium! Cium!"Di pesta pernikahan, mempelai pria dan wanita saling menggenggam tangan, mengucapkan janji sehidup semati. Para keluarga dan teman-teman di bawah panggung bersorak riuh.Enzo memegang wajah Arsy, satu tangannya menutup pandangan orang-orang. Dengan penuh kehati-hatian, dia mencium bibir Arsy."Waaah!"Upacara pernikahan segera selesai. Para tamu sibuk makan dan mengobrol, hanya satu orang di sudut yang tampak tidak pada tempatnya.Pengantin mengenakan pakaian adat, para tamu sebagian besar memakai warna merah untuk melambangkan kebahagiaan.Hanya Niam yang mengenakan jas putih bersih. Di saku dadanya terpasang bunga kecil bertuliskan "pengantin pria: Niam".Setelah menyaksikan upacara, dia diam-diam pergi tanpa ada yang menyadari. Semua orang mengira itu adalah pengantin pria dari acara lain yang salah masuk tempat.Bagaimanapun, restoran itu sering dipakai untuk pernikahan. Kejadian salah lokasi bukan hal aneh."Arsy, aku pernah bilang ... kalau kamu mau, kamu bisa selal

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 27

    Sore hari, setelah berpamitan dengan Enzo, Arsy naik ke lantai atas. Lampu di tangga entah kenapa tiba-tiba mati.Arsy sedikit takut, lalu menyalakan senter dari ponselnya. Cahayanya tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk melihat jalan.Dengan meraba-raba, Arsy akhirnya sampai di depan pintu rumahnya. Dia mengeluarkan kunci dari tas, memasukkannya ke lubang kunci, lalu memutarnya.Begitu terdengar suara, dia hendak membuka pintu dan segera masuk. Namun saat itu, sebuah tubuh tinggi menempel dari belakangnya, mendorongnya masuk ke rumah.Niam menangkap kedua tangan Arsy dan mengangkatnya ke atas kepalanya. Tubuhnya yang tinggi menutup seluruh ruang di sekitar Arsy.Arsy langsung panik. Sambil berusaha melepaskan diri, dia juga menekan tombol panggilan darurat di ponselnya."Lepaskan aku! Aku punya uang. Aku ambilkan untukmu ya? Jangan gegabah!" Dia tidak langsung mengenali bahwa itu adalah Niam. Dalam kegelapan, dia tidak bisa melihat, bahkan tidak tahu apakah panggilan daruratnya sud

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 26

    Setelah makan malam, Enzo mengajak Arsy berjalan-jalan. Senyuman di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan."Sisy, kamu senang?""Enzo, jujur saja ... aku nggak tahu."Jawaban gugup Arsy justru membuat Enzo tertawa lepas. Suaranya menggema di sepanjang jalan."Nggak apa-apa, nikmati saja sekarang. Aku nggak ingin membuatmu menunggu terlalu lama!" seru Enzo dengan agak polos.Untungnya jalanan tidak terlalu ramai. Kalau tidak, Arsy pasti sudah ingin bersembunyi karena malu.Enzo dan Niam adalah dua orang yang benar-benar berbeda. Dulu, Niam tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Pertunangan, pernikahan, semuanya terasa seperti sesuatu yang jauh dan tak terjangkau.Rasa aman yang Arsy dapatkan dari Niam terlalu sedikit, sampai setiap hari dia khawatir, apakah besok adalah hari mereka berpisah. Setiap hari bersama Niam terasa seperti sesuatu yang dipinjam, yang bisa hilang kapan saja.Namun, sekarang berbeda. Perasaan Enzo jelas dan terang-terangan. Arsy bisa merasakannya deng

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 25

    Sore hari berikutnya, Arsy datang. Namun, dia tidak datang sendiri. Dia datang bersama Enzo untuk menjenguk Niam. Di tangannya hanya ada buah-buahan biasa, terlihat tidak terlalu dipersiapkan dengan serius.Namun, pakaian mereka justru tampak serasi. Bernuansa cokelat, seperti pakaian pasangan. Keduanya jelas sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Riasan Arsy sederhana dan anggun seperti hendak bertemu orang tua.Begitu pikiran itu muncul, Niam sendiri sampai terkejut. Dia mencoba menyangkalnya. Bahkan kalau Enzo sengaja membawa Arsy untuk menunjukkan kepemilikan, itu masih seribu kali lebih masuk akal daripada pikiran barusan."Pak Niam, gimana kondisimu? Aku membawa Arsy menjengukmu." Enzo berkata sambil meletakkan buah yang dibawanya."Kalian ...." Kata-kata Niam tertahan di bibir, lalu dia telan kembali."Arsy, kamu datang saja sudah cukup." Untuk sesaat, dia menatap wajah Arsy, tetapi justru tidak tahu harus berkata apa.Haruskah dia mengatakan "bisakah kamu merawatku", "aku sangat

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 24

    Dulu memang Eira pernah menukar obat yang seharusnya diminum Niam, tetapi obat untuk orang tua Niam juga adalah ulahnya.Karena usianya masih muda dan hubungannya dekat dengan Keluarga Charista, dia sering datang ke rumah Niam untuk bermain. Dia bisa melakukan hal-hal kecil secara diam-diam tanpa menarik perhatian.Saat itu, hampir tidak ada yang akan curiga pada seorang gadis kecil seperti dirinya. Setelahnya, demi melindungi Eira, Keluarga Halahi bahkan mengirimnya ke luar negeri."Selesaikan mereka." Niam melemparkan satu kalimat dingin, lalu seseorang segera menyeret pasangan suami istri itu pergi.Dia menyuruh anak buahnya memberi obat pada mereka, membuat mereka kehilangan kewarasan, selalu curiga, dan hidup dalam kebingungan. Dia hanya membalas dengan cara yang sama, itu bahkan sudah termasuk belas kasihan.Malam terasa dingin seperti air. Niam duduk sendirian di depan jendela besar, rasa kesepian menyelimuti dirinya.Di kakinya sudah ada beberapa botol anggur kosong. Namun, sem

  • Melepaskan Suami Bangsawan Sebelum Ditinggalkan   Bab 23

    Suasana ambigu menyelimuti keduanya. Niam benar-benar tidak bisa bersembunyi lagi.Dengan wajah dingin, dia langsung berdiri di antara Arsy dan Enzo, memisahkan mereka. Dia bahkan tidak berani membayangkan, kalau dia tidak muncul, apakah mereka akan benar-benar berciuman?Niam berdiri di tengah, tidak berkata apa-apa, hanya menatap Enzo dengan tajam. Akhirnya, Arsy yang lebih dulu memecah keheningan."Niam, kamu ngapain di sini? Grup Charista sudah mau bangkrut sampai kamu sesenggang ini?"Niam menoleh, lalu tersenyum lembut. "Arsy, ini kebun binatang. Semua orang boleh datang. Kamu juga nggak perlu khawatir, setidaknya beberapa tahun ke depan, Grup Charista nggak mungkin bangkrut."Senyuman lembut yang jarang muncul itu tidak membuat Arsy nyaman, malah terasa aneh. Bahkan sesaat, dia sempat curiga, apakah Niam kerasukan. Dia tidak pernah tersenyum seperti itu."Niam, jangan senyum begitu. Jelek." Arsy melewati Niam, lalu menarik tangan Enzo. "Ayo kita pergi. Memang semua orang boleh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status