ログインAku pergi mencoba gaun pengantin bersama pacarku. Tepat saat kami hendak membayar, seorang wanita tiba-tiba merebut gaunnya dari tanganku. "Maaf ya, ini sudah aku pilih duluan!" Aku mengerutkan kening, hendak mengatakan sesuatu, tapi seorang teman tiba-tiba menepuk bahuku dan berbisik, "Tadi kudengar dari pelayan toko, gaun pengantin ini sudah dipesan Jordy sebulan yang lalu. Pasti dia sengaja menunggumu datang dan memilihnya." Aku refleks menoleh ke arah Jordy, dan benar saja, aku melihatnya berjalan mendekat. Tapi, tangannya terulur kepada wanita itu untuk merapikan ujung gaun yang terjatuh. "Kalau memang dia yang pilih duluan, ya sudah, mau bagaimana lagi." Dia mencubit pipiku, tersenyum lembut tapi santai. "Erika kan baik. Gaunnya nggak harus ini juga, kan?" Aku terpaku menatap ekspresi bangga dan puas di wajah wanita itu. Gaun pengantinnya memang tidak harus yang ini. Orang yang aku nikahi juga ... tidak harus Jordy.
もっと見るJordy mengepalkan tangan, seolah tidak bisa menahan diri lagi."Apa-apaan, dasar bajingan ...."Tepat sebelum dia hendak memukul, polisi tiba.Seperti yang sudah diduga, Jordy pun dibawa pergi.Masalah pun selesai. Aku bergegas masuk ke ruang rawat dan baru bisa merasa lega setelah melihat ibuku baik-baik saja.Beberapa waktu berikutnya, Jordy menjadi tenang setelah ditegur polisi.Tapi, dia sesekali masih mengirimiku pesan, atau muncul dalam hidupku.Suatu hari, Sean mengatakan bahwa dia benar-benar merasa terganggu.Aku pun bertanya padanya, "Jadi, apa rencanamu?"Aku sebenarnya sudah bisa menebak apa yang ingin dia lakukan, dan benar saja, Sean mengusulkan seketika itu juga."Ayo kita liburan, keliling dunia. Bukan cuma buat menenangkan hati, tapi sekaligus menyingkirkan masalah."Kami langsung memulai perjalanan keesokan harinya.Sean membuatkan kartu baru untukku. Yang lama sudah kubuang.Tanpa gangguan Jordy, aku tidak teringat masa lalu lagi. Ditambah dengan perhatian Sean yang
Jordy sangat marah dan langsung memecat Nindy.Dia juga menyebarkan nama Nindy agar diblokir di semua perusahaan.Dia sangat marah dan tidak bisa duduk tenang di kantor, lalu mengambil ponselnya untuk meneleponku, tapi nomornya sudah kublokir.Semakin dipikir-pikir, semakin tidak tenang.Akhirnya, dia meminta bantuan seseorang untuk mencari tahu informasi tiket penerbanganku.Setelah tahu aku benar-benar menikah, akal sehatnya kembali hilang.Faktanya, dia tidak pernah bertanya "kenapa" pada dirinya sendiri.Kenapa dia tidak ingin menikah, tapi juga tidak ingin melihatku menikah dengan orang lain.Kontradiktif dan tidak waras....Aku digendong ke dalam kamar.Jordy mengirimiku banyak sekali pesan.Mulai dari ancaman di awal, hingga kemudian berubah, mencoba mengubah pikiranku.Aku tidak mengerti mengapa dia masih merasa berhak mengatakan semua itu.Di akhir, ada satu kalimat dengan nada yang berbeda dari sebelumnya.[Erika, beri aku sepuluh menit, ayo kita bicara.]Aku tidak membalas
"Erika, kamu segitu nggak sabarnya?!""Nggak bisa menikah denganku, jadi langsung asal cari orang lain? Ini kan taktik licikmu? Ini memang demi ibumu? Atau sengaja buat mancing emosiku?!"Sean mengerutkan kening, raut wajahnya suram.Dia membungkuk dan menurunkanku dengan lembut."Tunggu sebentar."Lalu, dia menyingsingkan lengan bajunya.Jordy tertawa sinis."Mau adu denganku? Kamu pikir siapa dirimu? Dasar bodoh, nggak sadar sedang dimanfaatkan. Kamu pikir dia suka denganmu? Dia cuma ...."Plak!Tangan Sean yang tadinya sudah terangkat segera ditarik kembali.Dia meraih tanganku dengan panik.Sambil mengerutkan kening, dia berkata, "Kenapa kamu sendiri yang pukul? Kamu sudah terluka.""Tanganmu sakit? Sini aku lihat ...."Jordy yang baru saja menerima tamparan berubah dari marah menjadi terkejut.Dia menatapku tidak percaya."Erika, kamu tampar aku?"Aku menatapnya, entah kenapa, tiba-tiba merasa adegan ini agak lucu.Sambil memikirkannya, aku benar-benar tertawa."Jordy, waktu aku m
Mempelai pria dadakan dalam pernikahan ini.Sean Sasongko....Dia menangkapku dengan mantap dan tepat waktu.Meskipun begitu, rasa sakit yang tajam masih terasa di pergelangan kakiku.Bibirku refleks mengaduh.Sean pun berhenti dan bertanya dengan suara pelan, "Mana yang sakit?"Aku memaksakan senyuman dan menegakkan tubuh."Nggak apa-apa, ayo lanjut."Sean tidak berkata apa-apa.Dia hanya menatapku selama dua detik dan berkata pelan, "Peluk aku."Sebelum aku sempat memahami maksudnya, dia memegang belakang lututku dan menggendongku.Pemandangan ini sontak memicu sorak-sorai dan tepuk tangan dari penonton.Di tengah semarak suasana dan hujan kelopak bunga, Sean mantap menggendongku kembali ke tengah aula.Aku masih terkejut, tapi tubuhku ditopang dengan kokoh.Sean berbisik, "Kamu bisa bersandar padaku.""Kalau memang sakit, bilang saja. Nggak apa-apa pernikahannya ditunda sebentar, yang terpenting keselamatanmu."Aku mengangguk.Tapi, keinginan agar ibuku melihat pernikahan yang semp






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.