Share

Masih tidak Mau Jujur

Penulis: Suhadii90
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-20 23:34:04

Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden raksasa di ruang kerja Steven, menusuk tepat ke arah matanya yang terpejam.

Steven Michael Gilbert mengerang kecil, merasakan denyut yang menyakitkan di pelipisnya seolah ada palu yang menghantam otaknya secara berulang.

Dia mengerjapkan matanya, menyadari dirinya masih mengenakan kemeja semalam yang kini sudah kusut masai, meringkuk di atas sofa kulit ruang kerjanya yang beraroma alkohol.

Dia mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Membawa Kabur Benih Sang Paman   Dia Akhirnya Datang

    Waktu seolah membeku di dalam penthouse mewah milik Steven Michael Gilbert.Lima hari telah berlalu sejak badai malam itu, dan Lucas kini telah kembali menjadi bocah yang ceria.Ruang tamu yang dulunya terasa dingin dan kaku, kini dipenuhi dengan suara tawa melengking Lucas yang sedang mengejar robot mainan barunya.Steven, yang biasanya selalu berkutat dengan dokumen-dokumen konstruksi yang membosankan, kini seringkali pulang lebih awal.Pria itu tampak tidak keberatan duduk di lantai marmer, melepaskan dasinya, dan ikut merangkak bersama Lucas.Mereka tampak begitu serasi; cara Steven mengacak rambut Lucas, dan cara Lucas menatap Steven dengan kekaguman yang murni, seolah pria itu adalah pahlawan tanpa celah.Yara berdiri di ambang pintu dapur, memegangi nampan berisi camilan dengan tangan yang sedikit bergetar.Dadanya terasa sesak melihat pemandangan di depannya. Setiap kali dia melihat kemiripan gerakan tangan Steven dan Lucas saat mereka berkonsentrasi, sebuah kenyataan pahit me

  • Membawa Kabur Benih Sang Paman   Masih tidak Mau Jujur

    Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden raksasa di ruang kerja Steven, menusuk tepat ke arah matanya yang terpejam.Steven Michael Gilbert mengerang kecil, merasakan denyut yang menyakitkan di pelipisnya seolah ada palu yang menghantam otaknya secara berulang.Dia mengerjapkan matanya, menyadari dirinya masih mengenakan kemeja semalam yang kini sudah kusut masai, meringkuk di atas sofa kulit ruang kerjanya yang beraroma alkohol.Dia mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam tangan perak yang masih melingkar di sana. Jarum jam menunjuk ke angka tujuh pagi.Seketika, memori malam tadi menghantamnya seperti ombak pasang.Dia teringat Yara yang masuk ke ruangannya, dia teringat bagaimana dia memegang dagu wanita itu, dan puncaknya, sebuah kilasan saat dia mencium bibir Yara dengan liar, penuh paksaan, dan menuntut jawaban yang tak kunjung ia dapatkan.Steven tertegun. Dia menyentuh bibirnya sendiri dengan jemari yang sedikit gemetar, lalu menelan salivanya dengan susah

  • Membawa Kabur Benih Sang Paman   Seperti Ini?

    Malam di penthouse itu terasa semakin mencekam dalam kesunyian yang dingin. Jam dinding digital di atas nakas menunjukkan pukul dua pagi, namun kantuk seolah menjadi musuh yang enggan berdamai dengan Yara.Dia terus membolak-balikkan tubuh di atas ranjang sutra yang mahal, namun pikirannya tetap tertuju pada retakan hidupnya yang kian menganga.Setiap kali dia memejamkan mata, wajah James yang murka dan senyum licik Nadine menari-nari dalam kegelapan.Dengan helaan napas panjang yang sarat akan beban, Yara memutuskan untuk bangkit.Dia butuh air minum untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.Namun, saat melewati lorong, ia melihat seberkas cahaya remang keluar dari celah pintu ruang kerja Steven yang sedikit terbuka.Yara melangkah ragu. Dia mendekat dan mengintip ke dalam. Di sana, Steven sedang duduk di balik meja mahoni besarnya.Kepalanya menunduk ke bawah, bertumpu pada kedua telapak tangannya yang terbuka.

  • Membawa Kabur Benih Sang Paman   Pada Akhirnya Bersamanya Lagi

    Dua hari berlalu dengan ketegangan yang merambat pelan di lorong-lorong rumah sakit.Begitu dokter memberikan izin tertulis bagi Lucas untuk pulang, Steven tidak membiarkan Yara mengambil napas untuk membantah.Dengan pengawalan ketat dari tiga mobil hitam yang menjaga jarak aman, mereka tiba di sebuah gedung pencakar langit di pusat distrik bisnis.Lift pribadi membawa mereka langsung menuju lantai tertinggi. Saat pintu lift berdenting terbuka, Yara disambut oleh kesunyian yang mencekam.Penthouse itu adalah definisi dari kemewahan yang gersang. Lantai marmer hitam mengkilap, dinding kaca setinggi plafon yang menampilkan cakrawala kota yang angkuh, serta furnitur minimalis dengan sudut-sudut tajam yang dingin.Tempat ini sangat kontras dengan butik “Les Jardins de Yara” miliknya yang selalu beraroma bunga melati dan dipenuhi kain-kain sutra hangat.Yara melangkah masuk sambil menggendong Lucas yang masih tampak lemas. I

  • Membawa Kabur Benih Sang Paman   Janji yang tidak akan Berubah

    Aroma aspal basah dan udara dingin sisa badai semalam menyusup masuk ke dalam lobi rumah sakit, namun tidak sedingin suasana di dalam ruang kerja pribadi James Arthur.Steven Michael Gilbert berdiri di depan meja besar James dengan kedua tangan bertumpu pada permukaan kayu jati yang kokoh. Matanya yang tajam mengunci pandangan James yang tampak mulai goyah.“Aku tidak sedang bernegosiasi, James,” suara Steven rendah, namun setiap suku katanya membawa ancaman yang nyata.“Tarik laporan penculikan itu dalam sepuluh menit, atau aku akan memastikan seluruh proyek konstruksi pelabuhan di utara dihentikan total sore ini juga. Kau tahu persis berapa miliar kerugian yang akan kau tanggung jika alat beratku berhenti bekerja.”James Arthur mendongak, wajahnya yang menua tampak merah padam karena terhina.“Kau mengancamku demi wanita yang telah mempermalukan keluarga kita, Steven? Dia membawa lari cucuku atau siapa pun anak itu k

  • Membawa Kabur Benih Sang Paman   Sudah Berharap Lebih

    Aroma antiseptik yang tajam memenuhi koridor rumah sakit swasta yang sepi itu.Di balik dinding kaca ruang perawatan intensif, Lucas tampak tertidur dengan berbagai selang medis yang menempel pada tubuh kecilnya.Yara berdiri mematung di depan kaca tersebut, jemarinya menyentuh permukaan dingin transparan itu seolah ingin meraih tangan putranya.Di belakangnya, Steven berdiri tegak. Setelan jasnya yang rapi kini tampak kusut, mencerminkan kekacauan pikiran yang sedang melandanya.Matanya yang tajam tidak beralih dari punggung Yara, menatap wanita itu dengan bauran antara kerinduan, kemarahan, dan keraguan yang menyiksa.“Yara,” suara Steven terdengar berat, memecah kesunyian lorong. “Lihat aku.”Yara tetap bergeming, matanya terpaku pada monitor detak jantung Lucas yang berbunyi teratur. “Biarkan aku sendiri, Steven. Lucas butuh ketenangan.”Steven melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ia bisa merasakan sisa hawa dingin dari pakaian Yara yang masih sedikit lembap.“K

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status