Partager

Chapter 4

Auteur: Nyctus
last update Date de publication: 2026-04-26 10:17:38

Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.

Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal di dunia. Saat istirahat, ia bahkan terang-terangan membawa makan siang ke meja Arkana dan mengatakan bahwa yang ia inginkan adalah pria itu. Bagi orang lain, itu drama besar. Tetapi bagi Anindya, itu baru permulaan.

Ia duduk santai di bangkunya sambil memutar pena di jari. Dari sudut mata, ia bisa merasakan tatapan panas seseorang dari sisi kiri kelas. Rafael Mahendra. Pria itu sejak tadi terus menoleh ke arahnya.

Di kehidupan pertama, tatapan Rafael saja cukup membuat jantungnya berdebar. Ia akan sibuk menebak-nebak suasana hati pria itu, takut Rafael kesal, takut Rafael mmenjauh. Sekarang? Ia hanya merasa terganggu.

Bel pelajaran terakhir berbunyi. Guru keluar kelas, dan suara ramai langsung memenuhi ruangan. Anindya baru saja hendak berdiri ketika sebuah tangan menahan meja depannya. Rafael berdiri di sana dengan wajah dingin.

“Kita bicara.”

Anindya bahkan tidak mengangkat kepala.

“Aku tidak mau.”

“Aku tidak sedang meminta izin.”

Ia mendongak perlahan.

“Sayang sekali. Aku tetap menolak.”

Beberapa siswa mulai memperhatikan membuat Rafael menahan emosi. “Berhenti bersikap kekanak-kanakan.”

Anindya tertawa kecil.

“Lucu. Sejak kapan kau berhak mengatur sikapku?”

Rafael menatap tajam ke arah bangku belakang, tempat Arkana sedang membaca dokumen tanpa peduli sekitar.

“Kau sengaja melakukan semua ini, kan?”

“Melakukan apa?”

“Mendekati Arkana.” Rahang Rafael menegang. “Kau pikir aku akan cemburu?”

Kelas langsung hening. Bahkan beberapa siswa sengaja memperlambat gerakan agar bisa mendengar jelas. Anindya menyandarkan tubuh ke kursi. Jadi memang ini isi kepala Rafael.

Di kehidupan pertama pun sama. Ia selalu mengira semua hal berpusat pada dirinya.

“Rafael,” ucap Anindya tenang, “kenapa kau begitu percaya diri?”

Wajah pria itu mengeras.

“Kau dulu mengejarku ke mana-mana. Sekarang tiba-tiba berubah hanya sehari setelah Arkana datang. Siapa pun bisa melihat maksudmu.”

Anindya hampir bertepuk tangan. Logika bodoh seperti ini rupanya bawaan lahir. Tiba-tiba, dari samping suara lembut menyela.

“Rafael, jangan bicara begitu...” Citra berdiri dengan wajah cemas. “Mungkin Anindya hanya ingin berteman dengan Arkana.”

Nada suaranya terdengar membela. Namun cara ia menatap Anindya justru penuh kemenangan kecil. Ia sengaja menambah minyak ke api.

Rafael mendengus. “Kau terlalu baik, Citra.”

Citra menunduk malu-malu. “Tidak... aku hanya tidak ingin ada salah paham.”

Anindya memandang adegan itu dengan ekspresi datar. Benar-benar pasangan yang cocok. Satu orang suka menjadi pahlawan. Sementara yang satunya suka pura-pura menjadi korban suci. Sayangnya, kali ini ia tidak berminat menjadi penjahat dalam cerita mereka.

Ia berdiri perlahan. “Sudah selesai?”

Rafael mengernyit. “Kau belum menjawab.”

“Baik, aku jawab.” Anindya mengambil tasnya. “Aku mendekati Arkana bukan untuk membuatmu cemburu.”

Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Aku mendekatinya karena seleraku membaik."

Beberapa siswa spontan tertawa keras. Rafael memucat sementara Citra mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.

“Anindya!” bentak Rafael seraya melangkah maju satu langkah. “Jangan keterlaluan.”

“Keterlaluan?” suara lain terdengar datar dari belakang.

Semua kepala menoleh. Arkana menutup buku yang tadinya sedang dibacanya dengan perlahan lalu mengangkat pandangan. Mata gelapnya berhenti tepat pada Rafael.

“Orang yang menghalangi jalan orang lain sejak tadi adalah kau.”

Rafael menegang. “Aku bicara dengan Anindya.”

“Dan dia sudah bilang tidak mau.”

Arkana menggerakkan kursi rodanya maju beberapa sentimeter. Gerakannya tenang, tapi tekanan yang dibawanya membuat kelas makin sunyi.

“Kau punya kebiasaan buruk,” lanjut Arkana, “menganggap semua tindakan orang lain berkaitan denganmu.”

Wajah Rafael berubah merah.

“Arkana, aku hanya—”

“Juga kebiasaan buruk memotong ucapan orang," potong Arkana dengan wajah datar.

Beberapa siswa menunduk, pura-pura batuk agar tidak ketahuan menahan tawa. Anindya menatap Arkana tanpa berkedip. Di kehidupan pertama, pria ini memang sering membelanya. Tapi itu dilakukannya dengan diam-diam, tepat, tanpa pernah meminta imbalan. Namun Anindya terlalu bodoh untuk melihatnya. Citra melangkah maju dengan mata berkaca-kaca.

“Arkana, jangan salah paham. Rafael hanya khawatir suasana kelas jadi buruk karena kami bertengkar.”

Arkana menoleh padanya sebentar. Tatapannya begitu datar sampai senyum Citra nyaris runtuh.

“Kalau begitu, berhentilah bicara.”

Ruangan membeku. Sementara Anindya menggigit bibir menahan tawa. Citra tidak menyangka akan dipermalukan secepat itu. Matanya langsung berkaca-kaca sungguhan kali ini.

“Aku... aku cuma berniat baik...”

“Kalau niat baikmu selalu menambah keributan,” kata Arkana tenang, “mungkin kau perlu evaluasi.”

Rafael langsung berdiri di depan Citra.

“Cukup, Arkana!”

Anindya mendesah pelan. Lihat? Selalu seperti ini. Citra hanya perlu sedikit air mata, dan Rafael berubah menjadi ksatria. Namun kali ini ia tidak marah. Ia justru lega. Karena semakin mereka memainkan peran lama, semakin mudah semua orang melihat pola aslinya.

Anindya berjalan ke sisi Arkana lalu berdiri di samping kursi rodanya.

“Sudah? Kalau iya, aku mau pulang.”

Arkana menoleh sedikit. “Siapa bilang aku pulang denganmu?”

“Karena aku sudah memutuskan.”

“Kau selalu memutuskan sendiri?”

“Ya.”

Ia memegang gagang kursi roda itu tanpa menunggu izin. Rafael menatap mereka dengan rahang mengeras.

“Anindya, kau akan menyesal.”

Anindya berhenti dan menoleh setengah badan.

“Tenang saja,” katanya ringan. “Aku justru sedang memperbaiki penyesalan terbesarku.”

Rafael mengernyit tak mengerti. Namun Arkana menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir pria dingin itu terangkat tipis. Dan itu cukup membuat seluruh kelas geger lagi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 219

    Pagi itu, Anindya sedang duduk di kursi di samping ranjang Arkana ketika pintu kamar terbuka. Ia menoleh dan mendapati Tuan Ranaditya masuk dengan seorang staf yang membawa nampan makanan.Anindya segera berdiri. "Kakek."Ranaditya mengangguk singkat. "Duduk saja."Anindya kembali duduk, meskipun matanya mengikuti staf yang meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela. Setelah staf itu keluar, Ranaditya menunjuk makanan yang baru saja dibawanya. "Makanlah."Anindya sedikit terkejut. "Saya sudah sarapan tadi, Kek."Ranaditya menatapnya. "Jam berapa?"Anindya terdiam sejenak. "Tadi pagi.""Itu bukan jawaban."Anindya akhirnya menunduk sedikit. "Belum sempat, Kek."Ranaditya menarik napas perlahan. Ia tidak langsung menegurnya, tetapi mendorong piring yang tersedia agar lebih mudah dijangkau Anindya. "Kalau begitu, makan sekarang.""Tapi, saya masih ingin menemani Arkana.""Dia tidak akan ke mana-mana."Anindya terdiam.Ranaditya melanjutkan dengan nada tenang, "Kamu bisa makan di sini.

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 218

    Kemudian, senyum tipis muncul di wajah Tuan Adipati. "Aku sudah bilang kepadamu bahwa Anindya bukan perempuan yang hanya memikirkan dirinya sendiri," kata Tuan AdipatiTuan Ranaditya meliriknya. "Jangan terburu-buru merasa menang. Aku tidak sedang mengatakan bahwa penilaianmu sejak awal sepenuhnya benar."Tuan Adipati terkekeh kecil. "Baiklah. Kalau begitu, katakan saja apa yang sebenarnya ingin kau katakan."Ranaditya tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah lorong yang mengarah ke kamar Arkana.Selama ini, ia ingin memastikan bahwa Anindya mampu memahami tanggung jawab yang menyertai hubungannya dengan Arkana. Ia ingin melihat apakah perempuan itu akan tetap bertahan ketika keadaan menjadi sulit, bukan sekadar ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya. Kini, ia telah melihat jawabannya."Setelah Arkana sadar nanti," kata Tuan Ranaditya akhirnya, "aku tidak akan lagi menentang apa yang diinginkannya mengenai Anindya."Tuan Adipati menoleh dengan cepat. "Kau serius?""Aku seri

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 217

    Ranaditya tidak tahu apakah Anindya menyadari bahwa seseorang telah mendengar pertengkaran mereka. Ia juga tidak berniat memberitahunya bahwa dirinya berada di luar selama percakapan itu berlangsung.Namun, satu hal sudah jelas bagi Ranaditya. Ia telah mendengar cukup banyak untuk memahami sesuatu yang selama ini ingin ia pastikan. Dan kali ini, ia tidak membutuhkan penjelasan siapa pun untuk mengambil keputusan.Ranaditya masih diam di luar, ketika mendengar kata-kata Anindya pada Arkana yang masih belum sadar. Permohonan dari Anindya agar Arkana segera sadar. Suara Anindya yang bergetar membuat Ranaditya memutuskan untuk menunggu sejenak, memberi waktu sampai Anindya kembali stabil. ***Anindya sedang duduk kembali di sisi ranjang Arkana ketika Ranaditya akhirnya memutuskan masuk. Perempuan itu mengusap tangan cucunya dengan gerakan perlahan. Matanya merah. Ia jelas baru saja menangis.Namun, ketika menyadari kedatangan Ranaditya, Anindya segera menyeka pipinya dan berusaha menegak

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 216

    Seolah tak cukup, Anindya kembali menambahkan. "Kamu tahu apa yang paling menyedihkan dari semua ini, Rafael? Kamu bahkan tidak menyadari bahwa selama ini kamu lebih sibuk memperjuangkan keinginanmu sendiri daripada memahami orang yang katanya kamu cintai."Ranaditya memejamkan mata sesaat. Ia pernah mempertanyakan apakah Anindya benar-benar memahami Arkana. Apakah perempuan itu mengerti bahwa hidup bersama cucunya tidak akan selalu mudah? Apakah ia sanggup menghadapi ketidakpastian, perbedaan pendapat, dan kesulitan yang mungkin muncul dalam pernikahan mereka kelak?Ranaditya tidak ingin Arkana menikah hanya karena sedang jatuh cinta. Ia ingin cucunya memiliki pasangan yang mampu berdiri di sisinya, bukan seseorang yang akan pergi ketika keadaan menjadi sulit. Namun, Anindya sekarang sedang menunjukkan sesuatu yang selama ini ingin ia lihat.Arkana belum sadar. Tidak ada jaminan bahwa laki-laki itu akan segera membuka mata. Tidak ada kepastian kapan kondisinya akan membaik. Bahkan pa

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 215

    Tuan Ranaditya berdiri beberapa langkah dari pintu kamar rawat Arkana ketika suara tamparan terdengar dari dalam. Langkahnya terhenti.Ia sebenarnya datang untuk melihat keadaan cucunya. Sejak pagi, ia dan Tuan Adipati bergantian mengurus konsultasi dengan para dokter, berharap ada perkembangan yang bisa menjelaskan mengapa Arkana belum juga sadarkan diri.Tuan Adipati sedang berbicara dengan salah seorang dokter ketika Ranaditya memutuskan kembali lebih dahulu ke kamar. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu, suara Anindya terdengar dari dalam."Keluar."Ranaditya mengenali suara itu. Ia juga mengenali suara Rafael yang menyusul beberapa saat kemudian."Kamu menamparku?"Ranaditya mengernyit. Ia tidak berniat menguping percakapan mereka. Namun, mendengar nama cucunya disebut dalam nada yang meninggi, ia memilih menahan diri dan memberi mereka waktu untuk menyelesaikan urusan tersebut.Lagi pula, dari percakapan yang terdengar, ia bisa memahami bahwa Rafael kembali mel

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 214

    Rafael mengikuti arah pandangan Anindya. Arkana masih belum sadar. Tidak ada gerakan, tidak ada suara, tidak ada tanda bahwa laki-laki itu mendengar semua yang baru saja dikatakan Anindya. Namun, bagi Anindya, diamnya Arkana tidak pernah membuat pilihannya menjadi kurang berarti. Ia tidak memilih Arkana karena laki-laki itu sempurna. Ia tidak memilih Arkana karena hubungan mereka akan selalu mudah.Ia memilih Arkana karena ia mencintainya, karena ia ingin berada di sisinya, dan karena ia percaya bahwa hubungan mereka layak diperjuangkan bersama. Bahkan ketika masa depan mereka belum memberikan kepastian."Aku tidak tahu kapan Arkana akan sadar," kata Anindya akhirnya. "Aku juga tidak tahu berapa lama dia akan membutuhkan waktu untuk pulih. Aku takut, Rafael. Aku sangat takut kehilangan dia."Suara Anindya melemah. "Tapi ketakutanku tidak membuatku ingin meninggalkannya. Ketidakpastian ini tidak membuatku menyesali pilihanku."Anindya menyeka air matanya. "Jadi, jangan pernah datang la

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 2

    Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 1

    Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 7

    Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status