MasukSejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.
Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal di dunia. Saat istirahat, ia bahkan terang-terangan membawa makan siang ke meja Arkana dan mengatakan bahwa yang ia inginkan adalah pria itu. Bagi orang lain, itu drama besar. Tetapi bagi Anindya, itu baru permulaan. Ia duduk santai di bangkunya sambil memutar pena di jari. Dari sudut mata, ia bisa merasakan tatapan panas seseorang dari sisi kiri kelas. Rafael Mahendra. Pria itu sejak tadi terus menoleh ke arahnya. Di kehidupan pertama, tatapan Rafael saja cukup membuat jantungnya berdebar. Ia akan sibuk menebak-nebak suasana hati pria itu, takut Rafael kesal, takut Rafael mmenjauh. Sekarang? Ia hanya merasa terganggu. Bel pelajaran terakhir berbunyi. Guru keluar kelas, dan suara ramai langsung memenuhi ruangan. Anindya baru saja hendak berdiri ketika sebuah tangan menahan meja depannya. Rafael berdiri di sana dengan wajah dingin. “Kita bicara.” Anindya bahkan tidak mengangkat kepala. “Aku tidak mau.” “Aku tidak sedang meminta izin.” Ia mendongak perlahan. “Sayang sekali. Aku tetap menolak.” Beberapa siswa mulai memperhatikan membuat Rafael menahan emosi. “Berhenti bersikap kekanak-kanakan.” Anindya tertawa kecil. “Lucu. Sejak kapan kau berhak mengatur sikapku?” Rafael menatap tajam ke arah bangku belakang, tempat Arkana sedang membaca dokumen tanpa peduli sekitar. “Kau sengaja melakukan semua ini, kan?” “Melakukan apa?” “Mendekati Arkana.” Rahang Rafael menegang. “Kau pikir aku akan cemburu?” Kelas langsung hening. Bahkan beberapa siswa sengaja memperlambat gerakan agar bisa mendengar jelas. Anindya menyandarkan tubuh ke kursi. Jadi memang ini isi kepala Rafael. Di kehidupan pertama pun sama. Ia selalu mengira semua hal berpusat pada dirinya. “Rafael,” ucap Anindya tenang, “kenapa kau begitu percaya diri?” Wajah pria itu mengeras. “Kau dulu mengejarku ke mana-mana. Sekarang tiba-tiba berubah hanya sehari setelah Arkana datang. Siapa pun bisa melihat maksudmu.” Anindya hampir bertepuk tangan. Logika bodoh seperti ini rupanya bawaan lahir. Tiba-tiba, dari samping suara lembut menyela. “Rafael, jangan bicara begitu...” Citra berdiri dengan wajah cemas. “Mungkin Anindya hanya ingin berteman dengan Arkana.” Nada suaranya terdengar membela. Namun cara ia menatap Anindya justru penuh kemenangan kecil. Ia sengaja menambah minyak ke api. Rafael mendengus. “Kau terlalu baik, Citra.” Citra menunduk malu-malu. “Tidak... aku hanya tidak ingin ada salah paham.” Anindya memandang adegan itu dengan ekspresi datar. Benar-benar pasangan yang cocok. Satu orang suka menjadi pahlawan. Sementara yang satunya suka pura-pura menjadi korban suci. Sayangnya, kali ini ia tidak berminat menjadi penjahat dalam cerita mereka. Ia berdiri perlahan. “Sudah selesai?” Rafael mengernyit. “Kau belum menjawab.” “Baik, aku jawab.” Anindya mengambil tasnya. “Aku mendekati Arkana bukan untuk membuatmu cemburu.” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis. “Aku mendekatinya karena seleraku membaik." Beberapa siswa spontan tertawa keras. Rafael memucat sementara Citra mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. “Anindya!” bentak Rafael seraya melangkah maju satu langkah. “Jangan keterlaluan.” “Keterlaluan?” suara lain terdengar datar dari belakang. Semua kepala menoleh. Arkana menutup buku yang tadinya sedang dibacanya dengan perlahan lalu mengangkat pandangan. Mata gelapnya berhenti tepat pada Rafael. “Orang yang menghalangi jalan orang lain sejak tadi adalah kau.” Rafael menegang. “Aku bicara dengan Anindya.” “Dan dia sudah bilang tidak mau.” Arkana menggerakkan kursi rodanya maju beberapa sentimeter. Gerakannya tenang, tapi tekanan yang dibawanya membuat kelas makin sunyi. “Kau punya kebiasaan buruk,” lanjut Arkana, “menganggap semua tindakan orang lain berkaitan denganmu.” Wajah Rafael berubah merah. “Arkana, aku hanya—” “Juga kebiasaan buruk memotong ucapan orang," potong Arkana dengan wajah datar. Beberapa siswa menunduk, pura-pura batuk agar tidak ketahuan menahan tawa. Anindya menatap Arkana tanpa berkedip. Di kehidupan pertama, pria ini memang sering membelanya. Tapi itu dilakukannya dengan diam-diam, tepat, tanpa pernah meminta imbalan. Namun Anindya terlalu bodoh untuk melihatnya. Citra melangkah maju dengan mata berkaca-kaca. “Arkana, jangan salah paham. Rafael hanya khawatir suasana kelas jadi buruk karena kami bertengkar.” Arkana menoleh padanya sebentar. Tatapannya begitu datar sampai senyum Citra nyaris runtuh. “Kalau begitu, berhentilah bicara.” Ruangan membeku. Sementara Anindya menggigit bibir menahan tawa. Citra tidak menyangka akan dipermalukan secepat itu. Matanya langsung berkaca-kaca sungguhan kali ini. “Aku... aku cuma berniat baik...” “Kalau niat baikmu selalu menambah keributan,” kata Arkana tenang, “mungkin kau perlu evaluasi.” Rafael langsung berdiri di depan Citra. “Cukup, Arkana!” Anindya mendesah pelan. Lihat? Selalu seperti ini. Citra hanya perlu sedikit air mata, dan Rafael berubah menjadi ksatria. Namun kali ini ia tidak marah. Ia justru lega. Karena semakin mereka memainkan peran lama, semakin mudah semua orang melihat pola aslinya. Anindya berjalan ke sisi Arkana lalu berdiri di samping kursi rodanya. “Sudah? Kalau iya, aku mau pulang.” Arkana menoleh sedikit. “Siapa bilang aku pulang denganmu?” “Karena aku sudah memutuskan.” “Kau selalu memutuskan sendiri?” “Ya.” Ia memegang gagang kursi roda itu tanpa menunggu izin. Rafael menatap mereka dengan rahang mengeras. “Anindya, kau akan menyesal.” Anindya berhenti dan menoleh setengah badan. “Tenang saja,” katanya ringan. “Aku justru sedang memperbaiki penyesalan terbesarku.” Rafael mengernyit tak mengerti. Namun Arkana menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir pria dingin itu terangkat tipis. Dan itu cukup membuat seluruh kelas geger lagi.Sudah dua hari sejak pertengkaran mereka di taman kampus. Dua hari. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka resmi berpacaran, Anindya benar-benar tidak menghubungi Arkana.Tidak ada pesan selamat pagi. Tidak ada foto makanan yang biasa ia kirim saat makan siang. Tidak ada pertanyaan sederhana seperti, 'Sudah makan?' atau 'Kuliahmu selesai jam berapa?'Semuanya menghilang. Arkana berkali-kali membuka layar ponselnya. Kotak percakapan mereka tetap menjadi yang paling atas. Namun tidak ada pesan baru. Ia beberapa kali ingin mengetik sesuatu.'Maaf.''Apa kita bisa bicara?''Aku jemput pulang?'Semua kalimat itu ditulis. Lalu dihapus kembali. Hingga akhirnya, pada malam kedua, Arkana menyadari satu hal. Jika ia terus diam, jurang di antara mereka hanya akan semakin lebar. Ia menarik napas panjang. Lalu menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar.Sekali.Dua kali.Tiga kali."...Halo."Suara Anindya terdengar pelan. Tidak dingin. Namun juga tidak sehangat biasanya."Anin...""Ada apa?"
Sejak percakapan antara Arkana dengan Tuan Adipati beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang berubah pada diri Arkana.Perubahannya tidak besar. Bahkan mungkin tidak akan disadari oleh orang lain. Namun bagi Anindya... Perubahan sekecil apa pun pada Arkana hampir tidak pernah luput dari perhatiannya.Arkana masih menghubunginya setiap pagi. Masih menjemputnya ke kampus dengan sopir keluarga Pratama. Masih menemaninya makan siang ketika jadwal kuliah mereka bertemu. Masih mengantar pulang seperti biasa. Semuanya tetap sama. Setidaknya di permukaan. Namun, Arkana menjadi jauh lebih pendiam.Ketika Anindya bercerita tentang dosen yang tiba-tiba memberi revisi tambahan, Arkana tetap mendengarkan, tetapi jawabannya hanya singkat."Hm.""Iya.""Bagus."Sesekali ia tersenyum. Tetapi senyumnya tidak lagi benar-benar sampai ke matanya.Anindya mencoba mengabaikannya. Mungkin Arkana sedang lelah. Mungkin tugas akhirnya sedang menumpuk. Mungkin ada masalah di perusahaan keluarga.Anindya tidak i
Beberapa hari setelah menghadiri jamuan makan malam bersama para rekan bisnis dan bertemu dengan Rafael, Tuan Adipati Pradikusuma kembali mengunjungi kediaman keluarga Pratama.Kunjungannya kali ini bukan untuk urusan perusahaan. Ia hanya ingin bertemu dengan cucunya. Arkana yang sedang berada di ruang baca segera menghentikan pekerjaannya begitu mendengar kedatangan sang kakek."Kakek."Tuan Adipati mengangguk pelan. "Masih sibuk?""Sedikit. Tugas akhir sudah hampir selesai.""Bagus."Keduanya kemudian berpindah ke ruang keluarga. Seperti biasa, pelayan menghidangkan teh hangat dan beberapa kudapan sederhana sebelum meninggalkan mereka berdua.Tuan Adipati tidak langsung membuka tujuan kedatangannya. Beliau lebih dulu menanyakan perkembangan kuliah Arkana, tugas akhirnya, hingga rencana memasuki Grup Pratama setelah wisuda nanti.Arkana menjawab satu per satu dengan tenang. Semua berjalan sesuai rencana. Ia dan Anindya tinggal menyelesaikan beberapa mata kuliah terakhir sebelum resmi
Beberapa hari setelah reuni, Rafael menghadiri sebuah jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh salah satu mitra bisnis keluarga Mahendra.Acara itu dipenuhi para pengusaha, komisaris, dan keluarga-keluarga besar yang telah lama saling mengenal. Sebagai putra keluarga Mahendra, Rafael memang beberapa kali mulai diminta ayahnya menghadiri acara seperti ini."Belajar mengenal orang-orang penting," begitu kata ayahnya.Rafael tidak terlalu menikmati acara semacam itu. Baginya, percakapan mengenai bisnis jauh lebih membosankan dibanding menghadiri presentasi kuliah. Namun sebagai penerus keluarga, ia tidak memiliki banyak pilihan.Setelah menyapa beberapa tamu, pandangannya tiba-tiba berhenti pada seorang pria tua berambut putih yang sedang berbincang dengan beberapa pengusaha. Posturnya masih tegap. Tatapannya tajam. Meski usianya tidak lagi muda, wibawanya tetap terasa begitu kuat.Rafael langsung mengenalinya. Tuan Adipati Pradikusuma. Kakek dari pihak ibu Arkana.Rafael menarik nap
Malam telah larut ketika Rafael akhirnya tiba di apartemennya. Setelah kuliah, Rafael memang memutuskan untuk tinggal sendiri. Ingin merasakan mandiri, alasannya dulu. Padahal, Rafael hanya tidak ingin merasa diawasi oleh orang tuanya. Terlebih karena hubungannya dengan Citra yang masih ditentang oleh orang tuanya. Rafael melepaskan jas tipis yang dikenakannya, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas sofa. Ruangan itu sunyi. Biasanya, setelah mengantar Citra pulang, ia akan langsung mandi lalu tidur. Namun malam ini berbeda.Entah mengapa, pikirannya justru kembali ke acara reuni yang baru saja selesai beberapa jam lalu. Rafael mengembuskan napas panjang. Bayangan teman-teman sekelas mereka satu per satu bermunculan di kepalanya.Lina yang tetap cerewet. Teman-teman yang masih tetap berisik dan bersemangat dengan gosip. Dan... Anindya.Rafael memejamkan mata. Ia masih ingat jelas saat melihat Anindya di restoran bersama Arkana. Selama bertahun-tahun mereka tidak benar-benar bertemu.
Malam itu, setelah mengucapkan selamat malam kepada Arkana, Anindya berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan. Rumah keluarga Wijaya sudah mulai sunyi. Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang.Entah mengapa, pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang terjadi selama reuni. Namun, yang paling mengganggunya justru bukan Rafael. Melainkan Arkana.Anindya menghela napas pelan. Beberapa tahun terakhir, hubungan mereka berjalan begitu baik. Mereka hampir tidak pernah bertengkar. Jarang salah paham. Bahkan jika ada perbedaan pendapat, semuanya selalu selesai melalui percakapan yang tenang.Di mata siapa pun, mereka adalah pasangan yang nyaris sempurna. Namun... Anindya menyadari ada satu hal yang tidak pernah berubah sejak mereka resmi berpacaran.Arkana selalu menjaga jarak. Bukan jarak emosional. Justru sebaliknya. Arkana selalu ada ketika ia membutuhkan. Selalu mendengarkan. Selalu mengutamakan dirinya.Namun, ketika hubungan mereka mulai mengarah pad
Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid
Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka
Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe
Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R







