MasukBegitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat.
“Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Kalimat itu terdengar terlalu intim untuk diucapkan kepada pria yang baru saja pindah sekolah dan bahkan belum saling mengenal. Terlebih lagi, pria itu adalah Arkana Pratama, putra tunggal keluarga Pratama Holdings. Siswa pindahan misterius yang datang dengan kursi roda, tatapan dingin, dan reputasi tak mudah didekati. Anindya di kehidupan pertama bahkan tak pernah menoleh padanya di hari ini. Kini ia justru berdiri sangat dekat dengan Arkana. Arkana menatapnya datar selama beberapa detik, tatapan yang tajam, tenang, dan seolah bisa membaca isi kepala orang lain. “Aku tidak punya kebiasaan membela orang asing,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan dingin. Anindya tersenyum. “Kalau begitu kita jangan jadi orang asing.” Bisik-bisik langsung pecah di antara kerumunan. “Anindya naksir Arkana?” “Bukannya dia suka Rafael?” “Dia habis kesurupan apa?” Rafael melangkah maju dengan wajah gelap. “Anin, cukup," kata Rafael dengan nada suara yang terdengar seperti perintah. Dulu Anindya akan otomatis menoleh, lalu menenangkan pria itu karena takut Rafael marah. Sekarang ia bahkan malas memandangnya. “Cukup apa?” tanyanya sambil masih menghadap Arkana. “Kau membuat keributan.” Anindya tertawa kecil. “Lucu sekali. Yang berteriak dari tadi itu kau.” Rafael tersentak. Beberapa siswa menutup mulut menahan tawa, membuat wajah pria itu memerah. Citra buru-buru memegang lengan Rafael, matanya berkaca-kaca. “Rafael, jangan bertengkar karena aku...” Anindya memutar bola mata. Akting gadis itu masih sama menyebalkannya. Namun kali ini ia tak tertarik meladeni. Sebaliknya, Anindya menatap sopir yang berdiri di belakang Arkana. “Pak, kelas XI-A di gedung timur, kan?” Sopir itu tampak bingung lalu mengangguk pelan. “Benar, Nona.” “Bagus.” Tanpa meminta izin, Anindya memegang gagang kursi roda Arkana. “Aku antar.” Semua orang tersentak. Sopir itu refleks maju. “Nona, biar saya saja—” “Tidak perlu.” Anindya mulai mendorong kursi roda itu dengan tenang. Arkana langsung menahan roda dengan tangan kirinya sehingga membuat kursi rodanya berhenti mendadak. “Lepas," kata Arkana, nadanya memerintah. “Tidak.” “Aku tidak suka disentuh orang asing.” Anindya membungkuk sedikit, mendekat ke samping wajahnya. “Tadi kan sudah kubilang, jangan jadi orang asing.” Untuk pertama kalinya, sudut bibir beberapa siswa berkedut menahan tawa. Arkana menatapnya lama. Lalu perlahan melepaskan tangannya dari roda, ia tidak berkata apa-apa lagi. Anindya menang tipis. Ia mendorong kursi roda itu meninggalkan kerumunan, melewati tatapan syok semua orang. Di belakang mereka, Rafael memanggil keras. “Anindya!” Langkah Anindya tak berhenti. Tak sekali pun ia menoleh. Koridor gedung timur jauh lebih sepi. Suara riuh halaman sekolah mulai memudar, digantikan langkah kaki mereka dan bunyi roda halus di lantai marmer. Anindya menatap punggung pria di depannya. Rapi, tegak, dingin. Siapa yang akan percaya bahwa pria ini di masa depan akan diam-diam menunggu istrinya pulang hingga tertidur di sofa? Siapa yang akan percaya bahwa pria ini, yang sekarang tampak tak peduli pada siapa pun, nanti akan memeluk anak kecil sambil memasak bubur sendiri karena istrinya sibuk syuting? Lalu siapa yang akan percaya bahwa pria ini mati... tanpa pernah mendengar kata maaf darinya? Tiba-tiba dadanya terasa sesak, matanya memanas. “Kau menangis?” suara Arkana tiba-tiba memotong pikirannya. Anindya tersentak. Lalu ia cepat-cepat menyeka sudut mata. “Tidak, " kata Anindya dengan suara berat karena menahan tangis. “Kau bohong.” “Kau cerewet sekali untuk orang yang baru kukenal.” Arkana menoleh sedikit. “Kau yang aneh.” “Kenapa?” “Kau menatapku seperti sudah mengenalku lama.” Langkah Anindya terhenti sesaat. Jantungnya berdebar. Setajam ini rupanya insting Arkana sejak muda. Tapi, Anindya tersenyum santai. “Mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama.” Arkana memalingkan wajah ke depan lagi. “Gombal murahan.” Namun telinganya memerah tipis. Anindya hampir tertawa keras. Jadi sejak muda pun, pria ini tetap tak pandai menghadapi serangan langsung. Sesampainya di kelas XI-A, beberapa siswa langsung berdiri ketika melihat mereka masuk bersama. Wajah-wajah penuh rasa ingin tahu menoleh bergantian antara Anindya dan Arkana. Seorang guru perempuan yang baru masuk kelas ikut terdiam. “Ah... Tuan Muda Pratama. Saya wali kelas Anda.” Arkana mengangguk singkat. Guru itu lalu menatap Anindya. “Dan... kenapa kamu mengantar beliau?” “Karena saya baik hati,” jawab Anindya cepat. Satu kelas tertawa kecil. Guru itu berdeham bingung. “Baiklah... Arkana duduk di dekat jendela belakang. Tempatnya sudah disiapkan.” Anindya langsung angkat tangan. “Bu, saya pindah ke sebelahnya.” “Tidak.” Jawaban itu datang dari Arkana. Satu kelas terdiam. Anindya menoleh manis. “Kenapa?” “Aku suka tenang.” “Aku juga tenang.” “Kau tidak terlihat begitu.” “Tapi aku bisa belajar.” Guru itu memijat pelipis. “Anindya, kembali ke tempat dudukmu.” Anindya mendesah dramatis lalu berjalan ke bangku lamanya, yang kebetulan... berada dua baris di depan Arkana. Lumayan, masih dekat. Saat duduk, ia menoleh ke belakang dan tersenyum lebar pada pria itu. Arkana sedang membuka buku, pura-pura tak melihat. Namun saat Anindya membalik badan lagi, ia sempat menangkap satu hal. Pria itu sedang menatap punggungnya. Jam pelajaran berjalan lambat. Rafael beberapa kali menoleh dari sisi kelas lain, mencoba mencari kontak mata ddengannya Anindya mengabaikan sepenuhnya. Citra juga beberapa kali melirik Arkana dan dirinya dengan ekspresi tak senang. Wanita manipulatif itu rupanya sudah merasa pusat perhatian direbut. Bel tanda istirahat berbunyi. Anindya berdiri lebih dulu, mengambil bekal makan siangnya, lalu berjalan lurus ke bangku belakang. Ia meletakkan kotak makan di meja Arkana. “Ayo makan.” “Aku tidak lapar.” “Aku lapar.” “Lalu?” “Temani aku.” Arkana menutup bukunya perlahan. “Kau selalu sememaksa ini?” Anindya tersenyum. “Untuk hal yang kuinginkan, iya.” “Dan apa yang kau inginkan sekarang?” Ia menatap lurus ke matanya. “Kau.” Sunyi. Lalu, kotak makan di tangan Anindya nyaris jatuh ketika seluruh kelas mendadak ribut. Sementara Arkana... benar-benar kehilangan kata-kata untuk pertama kali.Arkana masih memandang Anindya yang menggenggam tangannya."Kita butuh bicara," kata Anindya. Lelaki itu menghela napas pelan, kemudian melirik jam dinding yang tergantung di seberang ranjang. "Apa tidak bisa besok saja?"Anindya langsung menggeleng. "Tidak."Arkana kembali menatapnya. "Anin, aku baru sadar setelah sepuluh hari tidak sadarkan diri. Aku masih lelah.""Aku tahu.""Kalau begitu, kita bicara besok saja.""Tidak, Arkana. Kita butuh bicara sekarang."Nada suara Anindya tegas. Tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat Arkana memahami bahwa kali ini perempuan itu tidak akan membiarkannya mengalihkan pembicaraan begitu saja.Arkana terdiam. Ia memperhatikan wajah Anindya, berharap menemukan sedikit keraguan yang bisa memberinya kesempatan untuk menunda percakapan tersebut. Namun, tidak ada.Anindya tetap menatapnya dengan sorot mata yang sama. Teguh. Serius. Dan jelas tidak berniat mengalah.Arkana akhirnya mengembuskan napas panjang. "Baiklah."Arkana menggeser sedikit kepala
Setelah berpamitan sekali lagi, akhirnya Tuan Adipati, Nyonya Adipati, dan Tuan Ranaditya meninggalkan kamar rawat. Dari balik pintu yang perlahan tertutup, suara Tuan Adipati masih terdengar."Besok kita datang lagi lebih pagi."Ranaditya menjawab singkat, "Lihat nanti.""Kamu ini selalu begitu."Suara mereka semakin menjauh, disusul tawa kecil Nyonya Adipati yang terdengar samar. Anindya memperhatikan pintu itu selama beberapa detik.Ketiga orang tersebut pulang dengan wajah ceria. Setidaknya, kini mereka tidak lagi harus menunggu dengan kecemasan yang sama seperti sepuluh hari terakhir.Arkana sudah sadar. Ia sudah bisa berbicara. Ia bahkan sudah mampu tersenyum kepada mereka. Namun, bagi Anindya, ada sesuatu yang masih belum selesai. Sejak Arkana membuka mata, ia hampir tidak mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya secara pribadi.Setiap kali ia ingin menanyakan sesuatu, selalu ada orang lain yang datang. Ketika ia hendak memastikan bagaimana perasaan Arkana, dokter masuk
Kata-kata Nyonya Adipati membuat Tuan Adipati terdiam. Kalau ada yang bisa membuat Tuan Adipati terdiam, memang orang itu hanya istrinya. Nyonya Adipati menatap suaminya dengan ekspresi yang tidak memberi banyak ruang untuk perdebatan. "Dokter juga sudah mengatakan bahwa dia perlu beristirahat. Kalau kita terus berada di sini dan mengajaknya berbicara, kapan dia bisa tidur?""Aku tidak mengajaknya berbicara terus-menerus.""Benarkah?"Tuan Adipati terdiam lagi. Di sisi lain, Ranaditya mengalihkan wajahnya, menyembunyikan senyum tipis yang nyaris muncul di sudut bibirnya. Setidaknya, ada seseorang yang bisa memahami maksudnya tanpa perlu diberi kode berkali-kali."Tapi aku masih ingin menemani Arkana," ujar Tuan Adipati, kali ini dengan nada lebih pelan.Nyonya Adipati menghela napas. "Kamu bisa datang lagi besok. Arkana tidak akan pergi ke mana-mana.""Kamu bicara seolah-olah aku menghalangi dia istirahat.""Kalau begitu, ayo pulang." Perempuan itu bangkit, kemudian merapikan tasnya.
Anindya sendiri berdiri tidak jauh dari ranjang. Ia memperhatikan Arkana dengan saksama, mencoba menangkap setiap perubahan ekspresi laki-laki itu.Sesekali, Arkana menjawab pertanyaan mereka. Namun, ada saat-saat ketika ia justru diam terlalu lama, menatap satu titik tanpa mengatakan apa pun.Ketika Tuan Adipati memanggil namanya, Arkana baru kembali menoleh beberapa detik kemudian. Ranaditya pun menyadarinya."Jangan terlalu banyak bertanya dulu," katanya kepada Tuan Adipati. "Dia baru sadar. Beri dia waktu."Tuan Adipati akhirnya mengangguk. "Benar juga."Nyonya Adipati menarik kursi dan duduk di sisi lain ranjang. "Kamu tidak perlu memikirkan apa pun sekarang, Arkana. Istirahat saja. Kami semua ada di sini."Arkana menatapnya sebentar. Kemudian, ia mengangguk pelan. Anindya memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk.Anindya merasa bahagia melihat Arkana dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Ia juga bersyukur kedua kakek dan Nyonya Adipati bisa melihat sendiri
Setelah dokter dan perawat selesai melakukan pemeriksaan, Anindya menghampiri ranjang."Arkana, bagaimana perasaanmu?"Arkana menoleh perlahan. "Capek." Suaranya terdengar serak.Anindya langsung mengangguk. "Kalau begitu, istirahat dulu. Jangan pikirkan apa-apa sekarang."Ia ingin bertanya tentang Arsen. Pertanyaan itu masih memenuhi pikirannya sejak tadi.Namun, melihat Arkana yang kembali memejamkan mata, Anindya tidak tega memaksanya berbicara. Ia menarik kursi ke dekat ranjang, lalu duduk kembali."Kalau kamu membutuhkan sesuatu, panggil aku, ya."Arkana membuka mata sebentar dan menatapnya. Setelah itu, ia kembali diam.Anindya menghela napas perlahan. Arkana sudah sadar. Itu seharusnya menjadi kabar paling membahagiakan baginya. Namun, kebingungan yang terlihat di wajah laki-laki itu membuat Anindya belum bisa benar-benar tenang.Dan pertanyaan tentang Arsen masih belum mendapatkan jawaban.***Kabar bahwa Arkana telah sadar menyebar dengan cepat kepada keluarga. Orang pertama
Anindya masih belum mampu mengalihkan pandangannya dari Arkana. Laki-laki itu baru saja terbangun setelah sepuluh hari tidak sadarkan diri. Seharusnya, saat ini ia bisa menangis lega, memeluk tangan Arkana, dan mengucapkan semua hal yang selama ini hanya bisa disampaikannya kepada laki-laki yang terbaring diam.Namun, pertanyaan Arkana tentang Arsen telah mengubah segalanya.'Di mana Arsen? Bagaimana keadaannya?'Nama itu terus terngiang di telinga Anindya. Ia ingin segera bertanya mengapa Arkana menyebut nama anak mereka. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya diingat laki-laki itu. Namun, ketika melihat wajah Arkana yang masih pucat dan tatapannya yang tampak belum sepenuhnya fokus, Anindya mengurungkan niatnya.Arkana baru saja sadar. Ia belum tentu benar-benar memahami keadaan di sekelilingnya.Mungkin ada sesuatu yang belum beres dengan kondisinya. Mungkin ia masih mengalami kebingungan setelah kehilangan kesadaran begitu lama.Anindya tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri."
Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men
Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d
Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid
Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d







