Share

Chapter 3

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-04-26 10:17:15

Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat.

“Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.”

Kalimat itu terdengar terlalu intim untuk diucapkan kepada pria yang baru saja pindah sekolah dan bahkan belum saling mengenal. Terlebih lagi, pria itu adalah Arkana Pratama, putra tunggal keluarga Pratama Holdings. Siswa pindahan misterius yang datang dengan kursi roda, tatapan dingin, dan reputasi tak mudah didekati.

Anindya di kehidupan pertama bahkan tak pernah menoleh padanya di hari ini. Kini ia justru berdiri sangat dekat dengan Arkana. Arkana menatapnya datar selama beberapa detik, tatapan yang tajam, tenang, dan seolah bisa membaca isi kepala orang lain.

“Aku tidak punya kebiasaan membela orang asing,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan dingin.

Anindya tersenyum.

“Kalau begitu kita jangan jadi orang asing.”

Bisik-bisik langsung pecah di antara kerumunan.

“Anindya naksir Arkana?”

“Bukannya dia suka Rafael?”

“Dia habis kesurupan apa?”

Rafael melangkah maju dengan wajah gelap.

“Anin, cukup," kata Rafael dengan nada suara yang terdengar seperti perintah.

Dulu Anindya akan otomatis menoleh, lalu menenangkan pria itu karena takut Rafael marah. Sekarang ia bahkan malas memandangnya.

“Cukup apa?” tanyanya sambil masih menghadap Arkana.

“Kau membuat keributan.”

Anindya tertawa kecil.

“Lucu sekali. Yang berteriak dari tadi itu kau.”

Rafael tersentak. Beberapa siswa menutup mulut menahan tawa, membuat wajah pria itu memerah. Citra buru-buru memegang lengan Rafael, matanya berkaca-kaca.

“Rafael, jangan bertengkar karena aku...”

Anindya memutar bola mata. Akting gadis itu masih sama menyebalkannya. Namun kali ini ia tak tertarik meladeni. Sebaliknya, Anindya menatap sopir yang berdiri di belakang Arkana.

“Pak, kelas XI-A di gedung timur, kan?”

Sopir itu tampak bingung lalu mengangguk pelan.

“Benar, Nona.”

“Bagus.”

Tanpa meminta izin, Anindya memegang gagang kursi roda Arkana.

“Aku antar.”

Semua orang tersentak. Sopir itu refleks maju. “Nona, biar saya saja—”

“Tidak perlu.”

Anindya mulai mendorong kursi roda itu dengan tenang. Arkana langsung menahan roda dengan tangan kirinya sehingga membuat kursi rodanya berhenti mendadak.

“Lepas," kata Arkana, nadanya memerintah.

“Tidak.”

“Aku tidak suka disentuh orang asing.”

Anindya membungkuk sedikit, mendekat ke samping wajahnya.

“Tadi kan sudah kubilang, jangan jadi orang asing.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir beberapa siswa berkedut menahan tawa. Arkana menatapnya lama. Lalu perlahan melepaskan tangannya dari roda, ia tidak berkata apa-apa lagi. Anindya menang tipis.

Ia mendorong kursi roda itu meninggalkan kerumunan, melewati tatapan syok semua orang. Di belakang mereka, Rafael memanggil keras.

“Anindya!”

Langkah Anindya tak berhenti. Tak sekali pun ia menoleh. Koridor gedung timur jauh lebih sepi. Suara riuh halaman sekolah mulai memudar, digantikan langkah kaki mereka dan bunyi roda halus di lantai marmer. Anindya menatap punggung pria di depannya. Rapi, tegak, dingin. Siapa yang akan percaya bahwa pria ini di masa depan akan diam-diam menunggu istrinya pulang hingga tertidur di sofa? Siapa yang akan percaya bahwa pria ini, yang sekarang tampak tak peduli pada siapa pun, nanti akan memeluk anak kecil sambil memasak bubur sendiri karena istrinya sibuk syuting? Lalu siapa yang akan percaya bahwa pria ini mati... tanpa pernah mendengar kata maaf darinya?

Tiba-tiba dadanya terasa sesak, matanya memanas.

“Kau menangis?” suara Arkana tiba-tiba memotong pikirannya.

Anindya tersentak. Lalu ia cepat-cepat menyeka sudut mata.

“Tidak, " kata Anindya dengan suara berat karena menahan tangis.

“Kau bohong.”

“Kau cerewet sekali untuk orang yang baru kukenal.”

Arkana menoleh sedikit. “Kau yang aneh.”

“Kenapa?”

“Kau menatapku seperti sudah mengenalku lama.”

Langkah Anindya terhenti sesaat. Jantungnya berdebar. Setajam ini rupanya insting Arkana sejak muda. Tapi, Anindya tersenyum santai.

“Mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama.”

Arkana memalingkan wajah ke depan lagi.

“Gombal murahan.”

Namun telinganya memerah tipis. Anindya hampir tertawa keras. Jadi sejak muda pun, pria ini tetap tak pandai menghadapi serangan langsung. Sesampainya di kelas XI-A, beberapa siswa langsung berdiri ketika melihat mereka masuk bersama. Wajah-wajah penuh rasa ingin tahu menoleh bergantian antara Anindya dan Arkana. Seorang guru perempuan yang baru masuk kelas ikut terdiam.

“Ah... Tuan Muda Pratama. Saya wali kelas Anda.”

Arkana mengangguk singkat. Guru itu lalu menatap Anindya.

“Dan... kenapa kamu mengantar beliau?”

“Karena saya baik hati,” jawab Anindya cepat.

Satu kelas tertawa kecil. Guru itu berdeham bingung.

“Baiklah... Arkana duduk di dekat jendela belakang. Tempatnya sudah disiapkan.”

Anindya langsung angkat tangan.

“Bu, saya pindah ke sebelahnya.”

“Tidak.” Jawaban itu datang dari Arkana.

Satu kelas terdiam. Anindya menoleh manis.

“Kenapa?”

“Aku suka tenang.”

“Aku juga tenang.”

“Kau tidak terlihat begitu.”

“Tapi aku bisa belajar.”

Guru itu memijat pelipis.

“Anindya, kembali ke tempat dudukmu.”

Anindya mendesah dramatis lalu berjalan ke bangku lamanya, yang kebetulan... berada dua baris di depan Arkana. Lumayan, masih dekat.

Saat duduk, ia menoleh ke belakang dan tersenyum lebar pada pria itu. Arkana sedang membuka buku, pura-pura tak melihat. Namun saat Anindya membalik badan lagi, ia sempat menangkap satu hal. Pria itu sedang menatap punggungnya.

Jam pelajaran berjalan lambat. Rafael beberapa kali menoleh dari sisi kelas lain, mencoba mencari kontak mata ddengannya Anindya mengabaikan sepenuhnya. Citra juga beberapa kali melirik Arkana dan dirinya dengan ekspresi tak senang. Wanita manipulatif itu rupanya sudah merasa pusat perhatian direbut.

Bel tanda istirahat berbunyi. Anindya berdiri lebih dulu, mengambil bekal makan siangnya, lalu berjalan lurus ke bangku belakang. Ia meletakkan kotak makan di meja Arkana.

“Ayo makan.”

“Aku tidak lapar.”

“Aku lapar.”

“Lalu?”

“Temani aku.”

Arkana menutup bukunya perlahan.

“Kau selalu sememaksa ini?”

Anindya tersenyum.

“Untuk hal yang kuinginkan, iya.”

“Dan apa yang kau inginkan sekarang?”

Ia menatap lurus ke matanya.

“Kau.”

Sunyi. Lalu, kotak makan di tangan Anindya nyaris jatuh ketika seluruh kelas mendadak ribut. Sementara Arkana... benar-benar kehilangan kata-kata untuk pertama kali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 68

    Sikap Arkana cukup memberi kejutan bagi Anindya dan bukannya Arkana tidak tahu tentang hal itu. Di sisi lain ruangan, Arkana menggenggam pena terlalu erat. Ia mendengar napas Anindya berubah. Mendengar semangat gadis itu turun. Dan bagian dirinya ingin langsung menarik kata-kata tadi. Namun bagian lain menahan. Karena justru itulah masalahnya. Ia mulai terlalu lembut padanya. Terlalu nyaman. Terlalu ingin dekat.Jika nanti Anindya sadar hidup nyata tak seindah bayangannya... maka semakin dekat mereka sekarang, semakin sakit saat hancur. Lebih baik ia menarik jarak lebih dulu. Lebih aman begitu. Setidaknya begitu yang ia paksa percaya.Sore hari, Anindya pulang lebih diam dari biasanya. Neneknya langsung menyadari.“Kamu berantem?” tanya Neneknya.“Tidak.”“Nilai jelek?”“Tidak.”“Laki-laki?”Anindya menatap neneknya. “Kok tahu?”“Karena wajahmu terlalu mahal untuk rusak gara-gara matematika.”Ia menghela napas dan menjatuhkan diri ke sofa. “Dia dingin.”“Bukannya memang dingin?”“Ini

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 67

    Arkana menghentikan kursi rodanya di sisi Anindya sambil menatap Rafael. Pandangannya sulit dijelaskan maknanya.“Sudah selesai?” tanya Arkana pada Anindya.Rafael menegakkan tubuh. “Ini urusan kami.”“Sekarang urusanku juga.” Nada Arkana tenang.Dan justru itu lebih menekan. Anindya menoleh cepat. “Kamu dengar?”“Cukup.”Arkana tak melihat Anindya. Matanya tetap pada Rafael.“Kamu banyak bicara soal hidup orang lain," kata Arkana.Rafael membalas tajam. “Aku bicara fakta.”Arkana memiringkan kepala sedikit. “Fakta atau ketakutanmu sendiri?”Rafael mengepal tangan. Arkana melanjutkan, “Kalau kau meragukan dia, itu urusanmu. Kalau kau meragukan aku, itu lucu. Dan kalau kau datang untuk merendahkan kondisiku di depan dia...”Arkana berhenti sejenak. Tatapannya menusuk lurus. “Maka kau jauh lebih kecil dari yang kupikir.”Sunyi. Berat. Rafael belum pernah merasa dipandang serendah itu tanpa suara tinggi. Anindya berdiri di samping Arkana dengan dada berdebar. Ia menatap profil wajah pria

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 66

    Di sisi lain sekolah, Rafael melihat dari kejauhan. Anindya berdiri di depan Arkana sambil tersenyum cerah. Arkana memegang kertas nilainya. Mereka tampak seperti pasangan bahkan sebelum resmi menjadi apa-apa. Rafael merasakan sesuatu yang makin sering datang akhir-akhir ini. Penyesalan. Bukan hanya karena kehilangan perhatian Anindya. Tapi karena baru sadar gadis itu bersinar saat diberi ruang untuk berkembang. Dan dulu... ia justru sering memadamkannya.Citra yang berdiri di samping Rafael menangkap arah pandangnya.“Kamu lihat Anindya lagi.”Rafael menoleh cepat. “Aku cuma kebetulan.”“Sudah sering kebetulan.” Nada Citra lembut, namun ujungnya tajam.Rafael menghela napas. “Kamu terlalu sensitif.”“Dan kamu terlalu tidak jujur pada diri sendiri.”Citra tersenyum kecil setelah berkata begitu. Lalu berjalan lebih dulu. Rafael berdiri diam. Ia mulai lelah dengan kalimat-kalimat yang terasa seperti cermin.Sore hari di perpustakaan, Anindya sedang mengerjakan soal ketika tiba-tiba menu

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 65

    Sikap Arkana yang membiarkan Anindya tertidur dengan posisi bersandar di bahunya adalah suatu pemandangan yang sangat aneh dilihat. Untuk pria yang menjaga jarak selama ini, itu sudah hampir seperti pengakuan. Sayangnya momen itu tak berlangsung lama.Suara pintu perpustakaan terbuka. Rafael masuk untuk mencari referensi tugas. Ia berhenti begitu melihat pemandangan di depan. Anindya tertidur di bahu Arkana. Arkana tidak menolak. Dan ekspresi pria itu...tenang. Seolah hal tersebut wajar. Arkana bahkan merasa tidak perlu repot-repot menyingkirkan Anindya dari bahunya atau terlihat ekspresi terganggu dari wajahnya.Dada Rafael menegang. Ia tak tahu kenapa langkahnya terasa berat. Anindya dulu pernah tertidur saat menunggunya di ruang musik. Saat itu ia membangunkannya dengan kesal karena merasa terganggu. Kini ia melihat pria lain memberi apa yang tak pernah ia berikan: kenyamanan.Rafael menggenggam buku di tangannya terlalu erat. Arkana mengangkat kepala dan melihat Rafael. Tatapan ke

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 64

    Latihan soal yang diberikan Arkana cukup sulit. Namun kemajuan Anindya di bidang akademis memang mulai terlihat dari cara dan kecepatannya menyelesaikan soal. Setengah jam kemudian, Anindya mengangkat tangan.“Aku selesai.”Arkana memeriksa jawabannya. “Nomor tiga salah.”“Mustahil.”“Nomor lima juga.”“Fitnah.”“Nomor delapan bahkan kreatif sekali salahnya.”Anindya merebut kertasnya. “Kamu jahat.”“Kamu lemah.”“Aku sedang berusaha.”“Aku tahu.”Nada suaranya lebih lembut dari kata-katanya. Anindya mendadak diam. Arkana sadar ucapannya, lalu berdeham kecil. “Lanjut nomor sebelas.”Anindya tertawa. “Kamu lucu kalau gugup.”“Aku tidak gugup.”“Telingamu merah.”“Belajar.”Di luar perpustakaan, seseorang berhenti melangkah. Rafael Mahendra. Ia awalnya hanya lewat sepulang kelas tambahan. Namun suara tawa Anindya membuatnya menoleh. Dari balik kaca, ia melihat pemandangan yang kini terlalu sering berulang.Anindya duduk di depan Arkana dengan wajah hidup dan cerah. Arkana yang terkenal

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 63

    Anindya mulai menyesali keputusannya dalam membuat pertaruhan kepada Arkana dulu. Pertaruhannya terancam gagal.“Kenapa dulu aku suka bicara besar?” gumamnya sambil menepuk meja.Jawabannya sebetulnya mudah. Karena dulu ia terlalu percaya diri. Dan terlalu terpikat wajah tampan di kursi roda. Siang itu, ia pergi ke perpustakaan. Tempat favorit yang kini terasa seperti ruang latihan neraka. Arkana sudah ada di sana. Kemeja gelap sederhana. Ekspresi tenang. Tumpukan buku di meja.Saat melihat Anindya datang dengan wajah menderita, sudut bibirnya naik tipis. “Kamu tampak kalah perang.”“Aku baru lihat jadwal kelas XII.”“Itu baru pembuka.”“Aku ingin mundur dari pendidikan.”“Ditolak.”“Aku ingin menikah kaya saja.”Arkana menatapnya datar. “Kamu sudah kaya.”“Benar juga.”Anindya duduk di depan Arkana lalu menunduk lemas. “Kalau aku gagal masuk kampusmu gimana?”Arkana membuka buku tanpa tergesa. “Maka kamu gagal.”“Kejam sekali.”“Itu fakta.”“Aku butuh dukungan emosional.”“Aku sediak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status