Share

Memilihmu di Kesempatan Kedua
Memilihmu di Kesempatan Kedua
Penulis: Nyctus

Chapter 1

Penulis: Nyctus
last update Tanggal publikasi: 2026-04-25 20:53:12

Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera.

“Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!”

Riuh tepuk tangan langsung memenuhi ruangan. Semua mata tertuju pada wanita cantik yang duduk di barisan depan. Gaun hitam berpotongan elegan membalut tubuh rampingnya.

Rambut panjangnya ditata rapi, senyumnya sempurna, seperti tidak ada satu hal pun di dunia ini yang mampu mengganggunya.

Di mata orang lain, Anindya memiliki segalanya. Ia lahir dari keluarga kaya raya. Kariernya berada di puncak, wajahnya selalu menghiasi billboard dan layar televisi. Bahkan suaminya adalah pewaris keluarga konglomerat besar. Hidupnya sempurna.

Begitulah yang dipikirkan semua orang. Tak seorang pun tahu bahwa setiap malam Anindya tidur dengan hati kosong.

Ia berdiri dan melangkah ke panggung dengan anggun. Kamera mengikuti tiap geraknya. Ia sudah terbiasa dengan kilatan lampu, sorak penonton, dan pujian yang terasa semakin hambar dari tahun ke tahun.

Piala emas diletakkan di tangannya. Ia menatap benda itu sesaat. Dulu ia percaya penghargaan seperti ini adalah segalanya. Kini ia tak lagi yakin.

“Terima kasih kepada semua orang yang sudah mendukung saya...” ucapnya sambil tersenyum.

Namun kalimat itu terputus ketika seseorang berlari dari sisi panggung.

“Nona Anin!”

Itu Nara, manajernya. Wanita itu pucat, napas terengah, wajahnya penuh air mata. Anindya mengernyit. Siaran ini disaksikan jutaan orang. Nara tak mungkin bertindak seceroboh ini jika bukan sesuatu yang sangat buruk.

“Ada apa?” tanyanya pelan.

Nara memegang lengannya dengan tangan gemetar.

“Pesawat Tuan Arkana... jatuh.”

Dunia seolah berhenti. Anindya menatap kosong.

“Apa?”

“Pesawat pribadi Tuan Arkana Pratama...” suara Nara pecah. “Beliau... bersama Tuan Kecil.”

Piala di tangan Anindya jatuh ke lantai marmer. Suara denting keras menggema ke seluruh ballroom. Tubuhnya membeku.

Tuan kecil yang dimaksud Nara adalah Arsen. Putranya dengan Arkana yang baru berusia lima tahun. Pagi tadi, bocah kecil itu memeluk lututnya sambil tersenyum malu-malu.

'Mama ikut kami, ya?'

Anindya bahkan tidak menoleh dari cermin meja rias dan hanya berkata dengan dingin.

“Mama sibuk.”

Arsen terdiam. Lalu seseorang datang mendekat. Suara roda kursi menyentuh lantai kayu terdengar pelan. Pria yang duduk di kursi roda itu adalah Arkana Pratama, suaminya.

Pria tinggi dengan wajah tampan dingin yang duduk di kursi roda hitam eksklusif. Kakinya tertutup selimut tipis. Tangan kirinya berada di controller kursi roda elektriknya sementara tangan kanan lainnya mengusap kepala putra mereka.

“Jangan ganggu mama,” katanya tenang pada Arsen. “Papa saja yang menemanimu.”

Ia menatap Anindya sejenak pagi itu. Tatapan yang selalu sulit ia artikan. Arkana tak marah, memang tidak pernah marah padanya. Tak juga memohon. Tak juga kecewa. Hanya tenang... terlalu tenang.

Itulah terakhir kali ia melihat mereka. Air mata mulai menggenang di mata Anindya. Kenangan lama menghantam kepalanya tanpa ampun.

Kenangan akan hari pernikahan mereka muncul dalam ingatan Anindya. Ia mengenakan gaun putih mewah, wajah dingin seperti es. Di altar, Arkana duduk di kursi roda dengan jas hitam sempurna. Semua tamu membicarakan mereka diam-diam.

Putri keluarga Wijaya menikahi pria cacat. Pewaris Pratama Holdings menikah karena skandal.

Semua itu bermula dari malam pernikahan Rafael Mahendra—pria yang dulu sangat dicintainya. Karena patah hati, ia mabuk berat. Saat sadar, ia berada di kamar hotel bersama Arkana bersama ingatan akan malam panas yang mereka lalui bersama.

Sebulan kemudian, hasil tes kehamilan menunjukkan dua garis merah. Dua keluarga memaksa pernikahan segera dilangsungkan, karena keluarga Pratama membutuhkan penerus dan keluarga Wijaya tidak bisa menanggung malu. Sementara Anindya membenci semuanya. Ia membenci Arkana, membenci kursi rodanya, dan membenci kenyataan bahwa hidupnya terikat pada pria yang tidak ia cintai.

Padahal selama lima tahun pernikahan, Arkana tak pernah memaksanya melakukan apa pun. Ia tak pernah menuntut cinta, tak pernah menahan kariernya, tak pernah marah ketika ia pulang dini hari, tak pernah protes ketika ia mengabaikan anak mereka. Ia hanya diam. Selalu diam.

Dan kini... Pria itu pergi, bersama anak yang tak pernah ia peluk sepenuh hati.

“N... tidak...” bibir Anindya bergetar.

Ia mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Lampu panggung terasa berputar, suara orang-orang mulai menjauh.

Ia baru sadar sekarang, bahwa yang paling berharga bukan piala ini. Bukan pula sorotan kamera. Apalagi cinta sepihaknya pada Rafael di masa lalu, membuatnya semakin muak kepada dirinya sendiri.

Kini Anindya sadar bahwa yang paling berharga justru pria di kursi roda yang selalu menunggunya pulang... dan anak kecil yang selalu memanggilnya mama.

Tubuhnya roboh ke lantai, jeritan memenuhi ruangan. Di dalam gelap yang menelan kesadarannya, satu nama keluar dari bibirnya.

“Arkana...”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Anindya berharap diberi satu kesempatan lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 219

    Pagi itu, Anindya sedang duduk di kursi di samping ranjang Arkana ketika pintu kamar terbuka. Ia menoleh dan mendapati Tuan Ranaditya masuk dengan seorang staf yang membawa nampan makanan.Anindya segera berdiri. "Kakek."Ranaditya mengangguk singkat. "Duduk saja."Anindya kembali duduk, meskipun matanya mengikuti staf yang meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela. Setelah staf itu keluar, Ranaditya menunjuk makanan yang baru saja dibawanya. "Makanlah."Anindya sedikit terkejut. "Saya sudah sarapan tadi, Kek."Ranaditya menatapnya. "Jam berapa?"Anindya terdiam sejenak. "Tadi pagi.""Itu bukan jawaban."Anindya akhirnya menunduk sedikit. "Belum sempat, Kek."Ranaditya menarik napas perlahan. Ia tidak langsung menegurnya, tetapi mendorong piring yang tersedia agar lebih mudah dijangkau Anindya. "Kalau begitu, makan sekarang.""Tapi, saya masih ingin menemani Arkana.""Dia tidak akan ke mana-mana."Anindya terdiam.Ranaditya melanjutkan dengan nada tenang, "Kamu bisa makan di sini.

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 218

    Kemudian, senyum tipis muncul di wajah Tuan Adipati. "Aku sudah bilang kepadamu bahwa Anindya bukan perempuan yang hanya memikirkan dirinya sendiri," kata Tuan AdipatiTuan Ranaditya meliriknya. "Jangan terburu-buru merasa menang. Aku tidak sedang mengatakan bahwa penilaianmu sejak awal sepenuhnya benar."Tuan Adipati terkekeh kecil. "Baiklah. Kalau begitu, katakan saja apa yang sebenarnya ingin kau katakan."Ranaditya tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah lorong yang mengarah ke kamar Arkana.Selama ini, ia ingin memastikan bahwa Anindya mampu memahami tanggung jawab yang menyertai hubungannya dengan Arkana. Ia ingin melihat apakah perempuan itu akan tetap bertahan ketika keadaan menjadi sulit, bukan sekadar ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya. Kini, ia telah melihat jawabannya."Setelah Arkana sadar nanti," kata Tuan Ranaditya akhirnya, "aku tidak akan lagi menentang apa yang diinginkannya mengenai Anindya."Tuan Adipati menoleh dengan cepat. "Kau serius?""Aku seri

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 217

    Ranaditya tidak tahu apakah Anindya menyadari bahwa seseorang telah mendengar pertengkaran mereka. Ia juga tidak berniat memberitahunya bahwa dirinya berada di luar selama percakapan itu berlangsung.Namun, satu hal sudah jelas bagi Ranaditya. Ia telah mendengar cukup banyak untuk memahami sesuatu yang selama ini ingin ia pastikan. Dan kali ini, ia tidak membutuhkan penjelasan siapa pun untuk mengambil keputusan.Ranaditya masih diam di luar, ketika mendengar kata-kata Anindya pada Arkana yang masih belum sadar. Permohonan dari Anindya agar Arkana segera sadar. Suara Anindya yang bergetar membuat Ranaditya memutuskan untuk menunggu sejenak, memberi waktu sampai Anindya kembali stabil. ***Anindya sedang duduk kembali di sisi ranjang Arkana ketika Ranaditya akhirnya memutuskan masuk. Perempuan itu mengusap tangan cucunya dengan gerakan perlahan. Matanya merah. Ia jelas baru saja menangis.Namun, ketika menyadari kedatangan Ranaditya, Anindya segera menyeka pipinya dan berusaha menegak

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 216

    Seolah tak cukup, Anindya kembali menambahkan. "Kamu tahu apa yang paling menyedihkan dari semua ini, Rafael? Kamu bahkan tidak menyadari bahwa selama ini kamu lebih sibuk memperjuangkan keinginanmu sendiri daripada memahami orang yang katanya kamu cintai."Ranaditya memejamkan mata sesaat. Ia pernah mempertanyakan apakah Anindya benar-benar memahami Arkana. Apakah perempuan itu mengerti bahwa hidup bersama cucunya tidak akan selalu mudah? Apakah ia sanggup menghadapi ketidakpastian, perbedaan pendapat, dan kesulitan yang mungkin muncul dalam pernikahan mereka kelak?Ranaditya tidak ingin Arkana menikah hanya karena sedang jatuh cinta. Ia ingin cucunya memiliki pasangan yang mampu berdiri di sisinya, bukan seseorang yang akan pergi ketika keadaan menjadi sulit. Namun, Anindya sekarang sedang menunjukkan sesuatu yang selama ini ingin ia lihat.Arkana belum sadar. Tidak ada jaminan bahwa laki-laki itu akan segera membuka mata. Tidak ada kepastian kapan kondisinya akan membaik. Bahkan pa

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 215

    Tuan Ranaditya berdiri beberapa langkah dari pintu kamar rawat Arkana ketika suara tamparan terdengar dari dalam. Langkahnya terhenti.Ia sebenarnya datang untuk melihat keadaan cucunya. Sejak pagi, ia dan Tuan Adipati bergantian mengurus konsultasi dengan para dokter, berharap ada perkembangan yang bisa menjelaskan mengapa Arkana belum juga sadarkan diri.Tuan Adipati sedang berbicara dengan salah seorang dokter ketika Ranaditya memutuskan kembali lebih dahulu ke kamar. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu, suara Anindya terdengar dari dalam."Keluar."Ranaditya mengenali suara itu. Ia juga mengenali suara Rafael yang menyusul beberapa saat kemudian."Kamu menamparku?"Ranaditya mengernyit. Ia tidak berniat menguping percakapan mereka. Namun, mendengar nama cucunya disebut dalam nada yang meninggi, ia memilih menahan diri dan memberi mereka waktu untuk menyelesaikan urusan tersebut.Lagi pula, dari percakapan yang terdengar, ia bisa memahami bahwa Rafael kembali mel

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 214

    Rafael mengikuti arah pandangan Anindya. Arkana masih belum sadar. Tidak ada gerakan, tidak ada suara, tidak ada tanda bahwa laki-laki itu mendengar semua yang baru saja dikatakan Anindya. Namun, bagi Anindya, diamnya Arkana tidak pernah membuat pilihannya menjadi kurang berarti. Ia tidak memilih Arkana karena laki-laki itu sempurna. Ia tidak memilih Arkana karena hubungan mereka akan selalu mudah.Ia memilih Arkana karena ia mencintainya, karena ia ingin berada di sisinya, dan karena ia percaya bahwa hubungan mereka layak diperjuangkan bersama. Bahkan ketika masa depan mereka belum memberikan kepastian."Aku tidak tahu kapan Arkana akan sadar," kata Anindya akhirnya. "Aku juga tidak tahu berapa lama dia akan membutuhkan waktu untuk pulih. Aku takut, Rafael. Aku sangat takut kehilangan dia."Suara Anindya melemah. "Tapi ketakutanku tidak membuatku ingin meninggalkannya. Ketidakpastian ini tidak membuatku menyesali pilihanku."Anindya menyeka air matanya. "Jadi, jangan pernah datang la

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 4

    Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 2

    Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 7

    Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status