LOGINKabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut koridor.
“Arkana senyum ke Anindya?” “Mustahil.” “Aku lihat sendiri!” “Anindya benar-benar gila... tapi berhasil.” Anindya mendengar semuanya dan sama sekali tidak peduli. Ia sedang berdiri di depan loker sambil menyusun buku ketika seseorang menghentikan langkah di sampingnya. “Anindya.” Suara rendah dan dingin itu membuat beberapa siswi langsung menoleh. Arkana berada di sana, duduk di kursi roda hitamnya dengan seragam rapi seperti biasa. Pagi itu matahari jatuh tepat di sisi wajahnya, membuat garis rahangnya tampak lebih tegas, tampan sekali. Dulu ia terlalu buta untuk menyadarinya. Anindya menutup loker lalu tersenyum lebar. “Selamat pagi.” Arkana menatapnya datar. “Kau berisik.” “Pagi juga.” “Aku tidak mengatakan itu.” “Tapi maksudmu begitu.” Pria itu memalingkan wajah sekilas, seolah malas meladeni. “Aku datang untuk mengatakan satu hal.” “Aku siap mendengarkan apa pun darimu.” “Jangan menungguku di gerbang seperti kemarin sore lagi.” Anindya berkedip. “Kenapa?” “Aku tidak butuh diantar pulang.” Ia hampir tertawa mengingat kejadian kemarin. Setelah mendorong kursi roda Arkana sampai area parkir, ia memang menunggu sampai mobil pria itu benar-benar pergi baru pulang sendiri. Rupanya Arkana sadar. “Aku hanya memastikan kau tidak diculik.” “Aku lebih mungkin menculik orang lain.” “Itu juga masuk akal.” Arkana menatapnya lama, seperti mencoba memastikan apakah gadis ini selalu seaneh ini. Sebelum ia sempat bicara lagi, suara sepatu cepat terdengar mendekat. “Arkana!” Rafael datang dengan wajah tegang. Tatapannya langsung beralih ke Anindya, lalu kembali ke Arkana. “Kita perlu bicara.” Arkana tampak tak tertarik. “Bicara saja.” “Berdua.” “Kalau begitu nanti.” Rafael menahan napas kesal. “Kau berubah aneh sejak datang ke sini.” Anindya menyandarkan tubuh ke loker sambil menonton. Menarik. Di kehidupan pertama, Rafael selalu percaya Arkana akan berada di sisinya tanpa syarat. Ia tak pernah sadar sahabatnya punya batas. “Aku berubah?” Arkana bertanya tenang. “Atau kau baru sadar aku tidak selalu setuju denganmu?” Wajah Rafael menegang. “Kau membelanya terus.” “Aku membela logika.” Anindya menahan senyum. Jawaban itu benar-benar khas Arkana. Rafael menoleh tajam padanya. “Kau senang sekarang?” tanya Rafael pada Anindya yang masih menonton. “Lumayan.” “Berhenti memanfaatkan Arkana.” Suasana koridor mendadak hening. Beberapa siswa yang lewat sengaja melambat. Anindya menatap Rafael tanpa emosi. “Memanfaatkan?” “Kau mendekatinya hanya untuk permainanmu.” “Permainan apa?” “Membuatku terlihat buruk.” Anindya hampir kagum pada tingkat narsisme pria ini. Sebelum ia menjawab, Arkana bicara lebih dulu. “Rafael.” Nada suaranya rendah, tapi cukup membuat sahabatnya diam. “Kau tahu apa yang paling mengganggu?” Rafael mengernyit. “Kau terus berbicara seolah semua orang mengatur hidupnya berdasarkan reaksimu.” Wajah Rafael memucat. “Aku hanya peduli padamu," kata Rafael tak terima. “Kalau begitu berhenti membuatku repot.” Sunyi. Anindya menatap Arkana dengan dada hangat. Ia ingat banyak malam di kehidupan pertama ketika Arkana diam menerima perlakuan buruknya tanpa membela diri. Namun pada orang lain, pria ini tak pernah ragu menaruh batas. Citra datang di saat yang tepat, seperti biasa. “Rafael... ternyata kau di sini.” Gadis itu membawa map tipis dan berhenti saat melihat mereka bertiga. Matanya membesar seolah terkejut. “Oh... maaf, aku mengganggu?” 'Tidak. Kau memang datang untuk masuk ke tengah drama,' pikir Anindya. Rafael langsung melunak. “Tidak. Ada apa?” “Aku hanya mau mengembalikan catatanmu.” Citra menunduk malu-malu, lalu menatap Arkana dengan ragu. “Selamat pagi, Arkana.” Arkana mengangguk tipis, tanpa senyum. Citra tampak sedikit kecewa. Lalu ia menoleh ke Anindya. “Anindya... soal kemarin, aku harap kita tidak bermusuhan.” Nada lembut. Wajah tulus dengan mata yang bening. Sebuah penampilan yang sempurna. Anindya menatapnya dua detik. “Siapa bilang kita cukup dekat untuk bermusuhan?” Beberapa siswa spontan menahan tawa. Wajah Citra membeku sepersekian detik sebelum kembali sedih. “Aku hanya ingin berteman...” “Kalau begitu cari teman yang mau.” Citra menggigit bibir. Rafael langsung berdiri di depannya lagi. “Anindya, kenapa kau selalu kasar?” “Aku belum mulai kasar.” “Cukup.” Sekali lagi Arkana memotong. Ia menggerakkan kursi rodanya maju, berada tepat di sisi Anindya. Tanpa sengaja, posisi itu seperti bentuk perlindungan. Tatapan matanya yang dingin menatap ke arah Rafael dan Citra. “Kalian berdua terlalu berisik untuk pagi hari.” Rafael frustrasi. “Arkana!” “Aku ingin ke kelas.” Ia menoleh sedikit ke Anindya. “Kau ikut?” Jantung Anindya berdetak lebih cepat. Pria ini... Mengajaknya pergi bersama di depan semua orang. “Tentu,” jawabnya manis. Ia langsung berdiri di belakang kursi roda dan memegang gagangnya. Arkana tak menolak. Rafael menatap pemandangan itu dengan wajah gelap. Sementara Citra tersenyum tipis, tapi jari-jarinya mengepal. Mereka berjalan meninggalkan koridor. Saat sudah cukup jauh, Anindya menunduk mendekati telinga Arkana. “Barusan kau menyelamatkanku lagi.” “Aku menyelamatkan telingaku.” “Alasan bagus.” “Jangan besar kepala.” Ia tersenyum lebar. “Kalau begitu izinkan aku besar hati.” Arkana mendesah pelan. Namun kali ini Anindya mendengar sesuatu di nada suara itu. Bukan kesal, melainkan... pasrah yang samar. Dan itu jauh lebih berbahaya. Karena pria di balik kursi roda ini perlahan mulai membiarkannya masuk.Sikap Arkana cukup memberi kejutan bagi Anindya dan bukannya Arkana tidak tahu tentang hal itu. Di sisi lain ruangan, Arkana menggenggam pena terlalu erat. Ia mendengar napas Anindya berubah. Mendengar semangat gadis itu turun. Dan bagian dirinya ingin langsung menarik kata-kata tadi. Namun bagian lain menahan. Karena justru itulah masalahnya. Ia mulai terlalu lembut padanya. Terlalu nyaman. Terlalu ingin dekat.Jika nanti Anindya sadar hidup nyata tak seindah bayangannya... maka semakin dekat mereka sekarang, semakin sakit saat hancur. Lebih baik ia menarik jarak lebih dulu. Lebih aman begitu. Setidaknya begitu yang ia paksa percaya.Sore hari, Anindya pulang lebih diam dari biasanya. Neneknya langsung menyadari.“Kamu berantem?” tanya Neneknya.“Tidak.”“Nilai jelek?”“Tidak.”“Laki-laki?”Anindya menatap neneknya. “Kok tahu?”“Karena wajahmu terlalu mahal untuk rusak gara-gara matematika.”Ia menghela napas dan menjatuhkan diri ke sofa. “Dia dingin.”“Bukannya memang dingin?”“Ini
Arkana menghentikan kursi rodanya di sisi Anindya sambil menatap Rafael. Pandangannya sulit dijelaskan maknanya.“Sudah selesai?” tanya Arkana pada Anindya.Rafael menegakkan tubuh. “Ini urusan kami.”“Sekarang urusanku juga.” Nada Arkana tenang.Dan justru itu lebih menekan. Anindya menoleh cepat. “Kamu dengar?”“Cukup.”Arkana tak melihat Anindya. Matanya tetap pada Rafael.“Kamu banyak bicara soal hidup orang lain," kata Arkana.Rafael membalas tajam. “Aku bicara fakta.”Arkana memiringkan kepala sedikit. “Fakta atau ketakutanmu sendiri?”Rafael mengepal tangan. Arkana melanjutkan, “Kalau kau meragukan dia, itu urusanmu. Kalau kau meragukan aku, itu lucu. Dan kalau kau datang untuk merendahkan kondisiku di depan dia...”Arkana berhenti sejenak. Tatapannya menusuk lurus. “Maka kau jauh lebih kecil dari yang kupikir.”Sunyi. Berat. Rafael belum pernah merasa dipandang serendah itu tanpa suara tinggi. Anindya berdiri di samping Arkana dengan dada berdebar. Ia menatap profil wajah pria
Di sisi lain sekolah, Rafael melihat dari kejauhan. Anindya berdiri di depan Arkana sambil tersenyum cerah. Arkana memegang kertas nilainya. Mereka tampak seperti pasangan bahkan sebelum resmi menjadi apa-apa. Rafael merasakan sesuatu yang makin sering datang akhir-akhir ini. Penyesalan. Bukan hanya karena kehilangan perhatian Anindya. Tapi karena baru sadar gadis itu bersinar saat diberi ruang untuk berkembang. Dan dulu... ia justru sering memadamkannya.Citra yang berdiri di samping Rafael menangkap arah pandangnya.“Kamu lihat Anindya lagi.”Rafael menoleh cepat. “Aku cuma kebetulan.”“Sudah sering kebetulan.” Nada Citra lembut, namun ujungnya tajam.Rafael menghela napas. “Kamu terlalu sensitif.”“Dan kamu terlalu tidak jujur pada diri sendiri.”Citra tersenyum kecil setelah berkata begitu. Lalu berjalan lebih dulu. Rafael berdiri diam. Ia mulai lelah dengan kalimat-kalimat yang terasa seperti cermin.Sore hari di perpustakaan, Anindya sedang mengerjakan soal ketika tiba-tiba menu
Sikap Arkana yang membiarkan Anindya tertidur dengan posisi bersandar di bahunya adalah suatu pemandangan yang sangat aneh dilihat. Untuk pria yang menjaga jarak selama ini, itu sudah hampir seperti pengakuan. Sayangnya momen itu tak berlangsung lama.Suara pintu perpustakaan terbuka. Rafael masuk untuk mencari referensi tugas. Ia berhenti begitu melihat pemandangan di depan. Anindya tertidur di bahu Arkana. Arkana tidak menolak. Dan ekspresi pria itu...tenang. Seolah hal tersebut wajar. Arkana bahkan merasa tidak perlu repot-repot menyingkirkan Anindya dari bahunya atau terlihat ekspresi terganggu dari wajahnya.Dada Rafael menegang. Ia tak tahu kenapa langkahnya terasa berat. Anindya dulu pernah tertidur saat menunggunya di ruang musik. Saat itu ia membangunkannya dengan kesal karena merasa terganggu. Kini ia melihat pria lain memberi apa yang tak pernah ia berikan: kenyamanan.Rafael menggenggam buku di tangannya terlalu erat. Arkana mengangkat kepala dan melihat Rafael. Tatapan ke
Latihan soal yang diberikan Arkana cukup sulit. Namun kemajuan Anindya di bidang akademis memang mulai terlihat dari cara dan kecepatannya menyelesaikan soal. Setengah jam kemudian, Anindya mengangkat tangan.“Aku selesai.”Arkana memeriksa jawabannya. “Nomor tiga salah.”“Mustahil.”“Nomor lima juga.”“Fitnah.”“Nomor delapan bahkan kreatif sekali salahnya.”Anindya merebut kertasnya. “Kamu jahat.”“Kamu lemah.”“Aku sedang berusaha.”“Aku tahu.”Nada suaranya lebih lembut dari kata-katanya. Anindya mendadak diam. Arkana sadar ucapannya, lalu berdeham kecil. “Lanjut nomor sebelas.”Anindya tertawa. “Kamu lucu kalau gugup.”“Aku tidak gugup.”“Telingamu merah.”“Belajar.”Di luar perpustakaan, seseorang berhenti melangkah. Rafael Mahendra. Ia awalnya hanya lewat sepulang kelas tambahan. Namun suara tawa Anindya membuatnya menoleh. Dari balik kaca, ia melihat pemandangan yang kini terlalu sering berulang.Anindya duduk di depan Arkana dengan wajah hidup dan cerah. Arkana yang terkenal
Anindya mulai menyesali keputusannya dalam membuat pertaruhan kepada Arkana dulu. Pertaruhannya terancam gagal.“Kenapa dulu aku suka bicara besar?” gumamnya sambil menepuk meja.Jawabannya sebetulnya mudah. Karena dulu ia terlalu percaya diri. Dan terlalu terpikat wajah tampan di kursi roda. Siang itu, ia pergi ke perpustakaan. Tempat favorit yang kini terasa seperti ruang latihan neraka. Arkana sudah ada di sana. Kemeja gelap sederhana. Ekspresi tenang. Tumpukan buku di meja.Saat melihat Anindya datang dengan wajah menderita, sudut bibirnya naik tipis. “Kamu tampak kalah perang.”“Aku baru lihat jadwal kelas XII.”“Itu baru pembuka.”“Aku ingin mundur dari pendidikan.”“Ditolak.”“Aku ingin menikah kaya saja.”Arkana menatapnya datar. “Kamu sudah kaya.”“Benar juga.”Anindya duduk di depan Arkana lalu menunduk lemas. “Kalau aku gagal masuk kampusmu gimana?”Arkana membuka buku tanpa tergesa. “Maka kamu gagal.”“Kejam sekali.”“Itu fakta.”“Aku butuh dukungan emosional.”“Aku sediak







