Share

Chapter 5

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-04-26 14:19:37

Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut koridor.

“Arkana senyum ke Anindya?”

“Mustahil.”

“Aku lihat sendiri!”

“Anindya benar-benar gila... tapi berhasil.”

Anindya mendengar semuanya dan sama sekali tidak peduli. Ia sedang berdiri di depan loker sambil menyusun buku ketika seseorang menghentikan langkah di sampingnya.

“Anindya.”

Suara rendah dan dingin itu membuat beberapa siswi langsung menoleh. Arkana berada di sana, duduk di kursi roda hitamnya dengan seragam rapi seperti biasa. Pagi itu matahari jatuh tepat di sisi wajahnya, membuat garis rahangnya tampak lebih tegas, tampan sekali. Dulu ia terlalu buta untuk menyadarinya. Anindya menutup loker lalu tersenyum lebar.

“Selamat pagi.”

Arkana menatapnya datar.

“Kau berisik.”

“Pagi juga.”

“Aku tidak mengatakan itu.”

“Tapi maksudmu begitu.”

Pria itu memalingkan wajah sekilas, seolah malas meladeni.

“Aku datang untuk mengatakan satu hal.”

“Aku siap mendengarkan apa pun darimu.”

“Jangan menungguku di gerbang seperti kemarin sore lagi.”

Anindya berkedip. “Kenapa?”

“Aku tidak butuh diantar pulang.”

Ia hampir tertawa mengingat kejadian kemarin. Setelah mendorong kursi roda Arkana sampai area parkir, ia memang menunggu sampai mobil pria itu benar-benar pergi baru pulang sendiri. Rupanya Arkana sadar.

“Aku hanya memastikan kau tidak diculik.”

“Aku lebih mungkin menculik orang lain.”

“Itu juga masuk akal.”

Arkana menatapnya lama, seperti mencoba memastikan apakah gadis ini selalu seaneh ini. Sebelum ia sempat bicara lagi, suara sepatu cepat terdengar mendekat.

“Arkana!” Rafael datang dengan wajah tegang.

Tatapannya langsung beralih ke Anindya, lalu kembali ke Arkana.

“Kita perlu bicara.”

Arkana tampak tak tertarik. “Bicara saja.”

“Berdua.”

“Kalau begitu nanti.”

Rafael menahan napas kesal. “Kau berubah aneh sejak datang ke sini.”

Anindya menyandarkan tubuh ke loker sambil menonton. Menarik. Di kehidupan pertama, Rafael selalu percaya Arkana akan berada di sisinya tanpa syarat. Ia tak pernah sadar sahabatnya punya batas.

“Aku berubah?” Arkana bertanya tenang. “Atau kau baru sadar aku tidak selalu setuju denganmu?”

Wajah Rafael menegang. “Kau membelanya terus.”

“Aku membela logika.”

Anindya menahan senyum. Jawaban itu benar-benar khas Arkana. Rafael menoleh tajam padanya.

“Kau senang sekarang?” tanya Rafael pada Anindya yang masih menonton.

“Lumayan.”

“Berhenti memanfaatkan Arkana.”

Suasana koridor mendadak hening. Beberapa siswa yang lewat sengaja melambat. Anindya menatap Rafael tanpa emosi.

“Memanfaatkan?”

“Kau mendekatinya hanya untuk permainanmu.”

“Permainan apa?”

“Membuatku terlihat buruk.”

Anindya hampir kagum pada tingkat narsisme pria ini. Sebelum ia menjawab, Arkana bicara lebih dulu.

“Rafael.”

Nada suaranya rendah, tapi cukup membuat sahabatnya diam.

“Kau tahu apa yang paling mengganggu?”

Rafael mengernyit.

“Kau terus berbicara seolah semua orang mengatur hidupnya berdasarkan reaksimu.”

Wajah Rafael memucat.

“Aku hanya peduli padamu," kata Rafael tak terima.

“Kalau begitu berhenti membuatku repot.”

Sunyi. Anindya menatap Arkana dengan dada hangat. Ia ingat banyak malam di kehidupan pertama ketika Arkana diam menerima perlakuan buruknya tanpa membela diri. Namun pada orang lain, pria ini tak pernah ragu menaruh batas.

Citra datang di saat yang tepat, seperti biasa. “Rafael... ternyata kau di sini.”

Gadis itu membawa map tipis dan berhenti saat melihat mereka bertiga. Matanya membesar seolah terkejut.

“Oh... maaf, aku mengganggu?”

'Tidak. Kau memang datang untuk masuk ke tengah drama,' pikir Anindya.

Rafael langsung melunak. “Tidak. Ada apa?”

“Aku hanya mau mengembalikan catatanmu.” Citra menunduk malu-malu, lalu menatap Arkana dengan ragu. “Selamat pagi, Arkana.”

Arkana mengangguk tipis, tanpa senyum. Citra tampak sedikit kecewa. Lalu ia menoleh ke Anindya.

“Anindya... soal kemarin, aku harap kita tidak bermusuhan.”

Nada lembut. Wajah tulus dengan mata yang bening. Sebuah penampilan yang sempurna. Anindya menatapnya dua detik.

“Siapa bilang kita cukup dekat untuk bermusuhan?”

Beberapa siswa spontan menahan tawa. Wajah Citra membeku sepersekian detik sebelum kembali sedih.

“Aku hanya ingin berteman...”

“Kalau begitu cari teman yang mau.”

Citra menggigit bibir. Rafael langsung berdiri di depannya lagi.

“Anindya, kenapa kau selalu kasar?”

“Aku belum mulai kasar.”

“Cukup.” Sekali lagi Arkana memotong.

Ia menggerakkan kursi rodanya maju, berada tepat di sisi Anindya. Tanpa sengaja, posisi itu seperti bentuk perlindungan. Tatapan matanya yang dingin menatap ke arah Rafael dan Citra.

“Kalian berdua terlalu berisik untuk pagi hari.”

Rafael frustrasi. “Arkana!”

“Aku ingin ke kelas.”

Ia menoleh sedikit ke Anindya. “Kau ikut?”

Jantung Anindya berdetak lebih cepat. Pria ini... Mengajaknya pergi bersama di depan semua orang.

“Tentu,” jawabnya manis.

Ia langsung berdiri di belakang kursi roda dan memegang gagangnya. Arkana tak menolak. Rafael menatap pemandangan itu dengan wajah gelap. Sementara Citra tersenyum tipis, tapi jari-jarinya mengepal.

Mereka berjalan meninggalkan koridor. Saat sudah cukup jauh, Anindya menunduk mendekati telinga Arkana.

“Barusan kau menyelamatkanku lagi.”

“Aku menyelamatkan telingaku.”

“Alasan bagus.”

“Jangan besar kepala.”

Ia tersenyum lebar.

“Kalau begitu izinkan aku besar hati.”

Arkana mendesah pelan. Namun kali ini Anindya mendengar sesuatu di nada suara itu. Bukan kesal, melainkan... pasrah yang samar. Dan itu jauh lebih berbahaya. Karena pria di balik kursi roda ini perlahan mulai membiarkannya masuk.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 111

    Sudah dua hari sejak pertengkaran mereka di taman kampus. Dua hari. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka resmi berpacaran, Anindya benar-benar tidak menghubungi Arkana.Tidak ada pesan selamat pagi. Tidak ada foto makanan yang biasa ia kirim saat makan siang. Tidak ada pertanyaan sederhana seperti, 'Sudah makan?' atau 'Kuliahmu selesai jam berapa?'Semuanya menghilang. Arkana berkali-kali membuka layar ponselnya. Kotak percakapan mereka tetap menjadi yang paling atas. Namun tidak ada pesan baru. Ia beberapa kali ingin mengetik sesuatu.'Maaf.''Apa kita bisa bicara?''Aku jemput pulang?'Semua kalimat itu ditulis. Lalu dihapus kembali. Hingga akhirnya, pada malam kedua, Arkana menyadari satu hal. Jika ia terus diam, jurang di antara mereka hanya akan semakin lebar. Ia menarik napas panjang. Lalu menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar.Sekali.Dua kali.Tiga kali."...Halo."Suara Anindya terdengar pelan. Tidak dingin. Namun juga tidak sehangat biasanya."Anin...""Ada apa?"

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 110

    Sejak percakapan antara Arkana dengan Tuan Adipati beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang berubah pada diri Arkana.Perubahannya tidak besar. Bahkan mungkin tidak akan disadari oleh orang lain. Namun bagi Anindya... Perubahan sekecil apa pun pada Arkana hampir tidak pernah luput dari perhatiannya.Arkana masih menghubunginya setiap pagi. Masih menjemputnya ke kampus dengan sopir keluarga Pratama. Masih menemaninya makan siang ketika jadwal kuliah mereka bertemu. Masih mengantar pulang seperti biasa. Semuanya tetap sama. Setidaknya di permukaan. Namun, Arkana menjadi jauh lebih pendiam.Ketika Anindya bercerita tentang dosen yang tiba-tiba memberi revisi tambahan, Arkana tetap mendengarkan, tetapi jawabannya hanya singkat."Hm.""Iya.""Bagus."Sesekali ia tersenyum. Tetapi senyumnya tidak lagi benar-benar sampai ke matanya.Anindya mencoba mengabaikannya. Mungkin Arkana sedang lelah. Mungkin tugas akhirnya sedang menumpuk. Mungkin ada masalah di perusahaan keluarga.Anindya tidak i

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 109

    Beberapa hari setelah menghadiri jamuan makan malam bersama para rekan bisnis dan bertemu dengan Rafael, Tuan Adipati Pradikusuma kembali mengunjungi kediaman keluarga Pratama.Kunjungannya kali ini bukan untuk urusan perusahaan. Ia hanya ingin bertemu dengan cucunya. Arkana yang sedang berada di ruang baca segera menghentikan pekerjaannya begitu mendengar kedatangan sang kakek."Kakek."Tuan Adipati mengangguk pelan. "Masih sibuk?""Sedikit. Tugas akhir sudah hampir selesai.""Bagus."Keduanya kemudian berpindah ke ruang keluarga. Seperti biasa, pelayan menghidangkan teh hangat dan beberapa kudapan sederhana sebelum meninggalkan mereka berdua.Tuan Adipati tidak langsung membuka tujuan kedatangannya. Beliau lebih dulu menanyakan perkembangan kuliah Arkana, tugas akhirnya, hingga rencana memasuki Grup Pratama setelah wisuda nanti.Arkana menjawab satu per satu dengan tenang. Semua berjalan sesuai rencana. Ia dan Anindya tinggal menyelesaikan beberapa mata kuliah terakhir sebelum resmi

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 108

    Beberapa hari setelah reuni, Rafael menghadiri sebuah jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh salah satu mitra bisnis keluarga Mahendra.Acara itu dipenuhi para pengusaha, komisaris, dan keluarga-keluarga besar yang telah lama saling mengenal. Sebagai putra keluarga Mahendra, Rafael memang beberapa kali mulai diminta ayahnya menghadiri acara seperti ini."Belajar mengenal orang-orang penting," begitu kata ayahnya.Rafael tidak terlalu menikmati acara semacam itu. Baginya, percakapan mengenai bisnis jauh lebih membosankan dibanding menghadiri presentasi kuliah. Namun sebagai penerus keluarga, ia tidak memiliki banyak pilihan.Setelah menyapa beberapa tamu, pandangannya tiba-tiba berhenti pada seorang pria tua berambut putih yang sedang berbincang dengan beberapa pengusaha. Posturnya masih tegap. Tatapannya tajam. Meski usianya tidak lagi muda, wibawanya tetap terasa begitu kuat.Rafael langsung mengenalinya. Tuan Adipati Pradikusuma. Kakek dari pihak ibu Arkana.Rafael menarik nap

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 107

    Malam telah larut ketika Rafael akhirnya tiba di apartemennya. Setelah kuliah, Rafael memang memutuskan untuk tinggal sendiri. Ingin merasakan mandiri, alasannya dulu. Padahal, Rafael hanya tidak ingin merasa diawasi oleh orang tuanya. Terlebih karena hubungannya dengan Citra yang masih ditentang oleh orang tuanya. Rafael melepaskan jas tipis yang dikenakannya, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas sofa. Ruangan itu sunyi. Biasanya, setelah mengantar Citra pulang, ia akan langsung mandi lalu tidur. Namun malam ini berbeda.Entah mengapa, pikirannya justru kembali ke acara reuni yang baru saja selesai beberapa jam lalu. Rafael mengembuskan napas panjang. Bayangan teman-teman sekelas mereka satu per satu bermunculan di kepalanya.Lina yang tetap cerewet. Teman-teman yang masih tetap berisik dan bersemangat dengan gosip. Dan... Anindya.Rafael memejamkan mata. Ia masih ingat jelas saat melihat Anindya di restoran bersama Arkana. Selama bertahun-tahun mereka tidak benar-benar bertemu.

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 106

    Malam itu, setelah mengucapkan selamat malam kepada Arkana, Anindya berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan. Rumah keluarga Wijaya sudah mulai sunyi. Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang.Entah mengapa, pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang terjadi selama reuni. Namun, yang paling mengganggunya justru bukan Rafael. Melainkan Arkana.Anindya menghela napas pelan. Beberapa tahun terakhir, hubungan mereka berjalan begitu baik. Mereka hampir tidak pernah bertengkar. Jarang salah paham. Bahkan jika ada perbedaan pendapat, semuanya selalu selesai melalui percakapan yang tenang.Di mata siapa pun, mereka adalah pasangan yang nyaris sempurna. Namun... Anindya menyadari ada satu hal yang tidak pernah berubah sejak mereka resmi berpacaran.Arkana selalu menjaga jarak. Bukan jarak emosional. Justru sebaliknya. Arkana selalu ada ketika ia membutuhkan. Selalu mendengarkan. Selalu mengutamakan dirinya.Namun, ketika hubungan mereka mulai mengarah pad

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 7

    Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 6

    Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 56

    Perayaan lima puluh tahun perusahaan Mahendra berjalan semakin ramai. Musik berganti lebih hangat. Para tamu mulai berpindah dari meja formal ke kelompok-kelompok kecil. Bisnis dibicarakan sambil tersenyum. Aliansi lama diperkuat dengan gelas anggur. Dan gosip sosial mulai bergerak sama cepatnya de

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 40

    Hari-hari setelah itu bergerak cepat. Terlalu cepat bagi sebagian orang. Namun terlalu lambat bagi yang sedang gelisah.Di Nusantara Academy, banyak siswa mulai terbiasa melihat satu pemandangan baru: Anindya Wijaya di dekat Arkana Pratama. Kadang membawa buku. Kadang membawa camilan. Kadang hanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status