Share

Bab 5. Bantuan

Author: Bara Islami
last update publish date: 2023-03-03 23:56:16

“Apa salahnya Frisya masuk ke kamarmu? Kalian kan sudah kenal sejak lama? Mama juga hanya menyuruhnya untuk membangunkanmu, itu saja! Karena kamu dan istrimu yang tidak tahu diri itu belum juga bangun, makanya mama menyuruh Frisya,” cecar Rullistya tanpa jeda, “lalu istrimu juga! Pagi-pagi, bukannya sudah bangun, malah masih tidur! Bagaimana bisa orang seperti itu menjadi menantuku?”

Rullistya memegang lehernya yang tegang. 

Dia benci menantunya itu dan kesal dengan anaknya yang memilih perempuan seperti itu.

“Tante … tenanglah! Tidak baik tante marah-marah begini. Bagaimana kalau tekanan darah tante naik lagi?” Frisya mencoba menenangkan Rullistya.

Melihat bagaimana Frisya bersikap baik dihadapan Mamanya, membuat Arvan muak. 

Dia pun memalingkan wajah dari pemandangan menjijikan itu. Dia tidak mengerti bagaimana mamanya bahkan Idris menyukai perempuan ini?

Insting Arvan mengatakan bahwa Frisya tidaklah “sebaik” yang dia tunjukkan.

“Bagaimana Tante tidak marah, Sya? Perempuan kasar tidak tahu diri itu jadi menantu Tante! Seharusnya, kamu yang menjadi menantu Tante, bukannya dia!”

Mendengar bagaimana wanita itu mengeluh, Frisya hanya bisa menunjukkan wajah kasihan.

Andaikan Arvan menikah dengannya, tidak mungkin mereka akan pusing seperti ini. Apalagi, Aeri sangat aneh. Tanpa sadar, Frisya kembali merinding mengingat apa yang terjadi pagi tadi. 

“Arvan, pokoknya mama tidak mau tahu! Usir perempuan itu dari rumah ini karena mama tidak mau harus tinggal satu atap dengannya!” bentak Rullistya lagi.

Senopati yang baru saja selesai bersiap-siap dan akan berangkat kerja menatap bingung ke arah pertengkaran.

Dia pun menghampiri anggota keluarganya itu. “Ini ada apa sih, ma? Pagi-pagi, kenapa ribut-ribut?”

“Ini loh pa, gara-gara menantu kurang ajar itu Mama jadi marah.”

Senopati lantas menghela napas. 

Dia menoleh pada Arvan yang memijat area diantara matanya.

“Memang, apa yang Aeri lakukan?” tanya papa Arvan itu berusaha tenang.

Perlahan, Rullistya menceritakan apa yang terjadi pada suaminya.

Selesai mendengar apa yang diceritakan istrinya, Senopati tampak diam.

“Mama juga salah. Kenapa Mama menyuruh Frisya masuk ke kamar Arvan? Mama kan tahu sekarang Arvan sudah menikah. Bagaimana tanggapan Aeri kalau melihat ada perempuan lain di kamarnya?”

Mendengar ucapan sang suami yang terkesan membela menantu yang dibenci, Rullistya mengepalkan tangannya–marah.

“Ohh?! Papa juga nyalahin mama begitu? Frisya itu lebih lama kenal dengan Arvan, Pa. Mereka itu berteman! Kalau masalah ini saja perempuan kasar itu tidak terima, sebaiknya nggak usah jadi istri Arvan, lah!” sinis Rullistya.

“Bukan begitu, Ma. Tidak ada hubungannya Arvan dan Frisya kenal lebih lama dengan Aeri. Mama tolong pikirkan dong perasaan Aeri yang jadi istri Arvan,” bujuk Senopati pada istrinya itu.

“Lalu bagaimana dengan perasaan mama pa, apa Papa lupa apa yang perempuan itu katakan pada Mama tadi malam, apa papa juga mau menutup mata soal Aeri yang melecehkan Frisya.”

“Aeri tidak melecehkan Frisya, dia hanya bercanda, Ma.” Arvan mencoba membela Aeri meski dalam hati, Arvan sebenarnya juga kesal pada istrinya itu. 

Di mana Aeri sekarang?

Saat di rumahnya tengah ribut begini, Arvan akan memberi pelajaran untuknya jika perempuan itu masih tidur.

“Terus maksud Papa? Dia yang bilang ingin mencium Frisya itu bukan pelecehan? Istrimu itu benar-benar gila Arvan!”

Arvan memejamkan matanya.

Sebenarnya, Aeri tidak gila. 

‘Dia hanya punya preferensi yang sedikit unik, itu saja,’ batin Arvan. Namun, alih-alih mengatakan pikirannya, Arvan justru kembali membela istrinya, “Mungkin maksud Aeri bukan seperti itu, Ma.”

“Lalu, apa?”

Arvan terdiam. Dia bingung cara menjelaskan pada sang ibu. Lagi pula, hanya Aeri yang bisa menjelaskan maksud tindakannya sendiri.

Untungnya, sang ayah menyela pembicaraan itu, “Sudahlah! Daripada ribut, lebih baik kita tanya saja pada Aeri. Apa maksudnya mencium Frisya?” 

Senopati tiba-tiba menatap Arvan. “Arvan, sekarang Aeri di mana?”

“Arvan tidak tahu, Pa.”

“Bagaimana bisa kamu tidak tahu di mana istrimu Arvan?” omel Rullistya lagi.

Dalam hati, Arvan menahan emosi.Bagaimana dia bisa tahu? Dia bahkan tidak punya waktu mengurus istrinya itu karena langsung dimarahi oleh mamanya saat Frisya mengadu.

Menyadari keterdiaman sang putra, Senopati pun menyuruh Arvan untuk mencari Aeri. 

Tapi, belum sempat Arvan pergi, Aeri yang telah selesai berolahraga–menghampiri mereka.

“Cari aku, Om?”

Semua orang terkejut melihat penampilan Aeri. Hanya Frisya yang tidak tahu penampilan syar’i Aeri di pernikahan yang terlihat santai. 

Arvan bahkan langsung menghampiri perempuan itu dan menutupi tubuh Aeri dengan badannya.

“Aeri! Pakaian apa yang sedang kamu pakai ini? Di mana kerudungmu?” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 49. Deal! Sepakat

    "Oke, dengan ini semua selesai," ucap Aeri pada dirinya sendiri selesai membuat jadwal. Arika yang sejak tadi memperhatikan apa yang dilakukan mbaknya itu, mencuri pandang pada kertas yang sekarang tengah Aeri foto. "Jadwal? Jadwal piket? Kayak anak SD aja, buat gituan." Arika dengan tenang menyeruput es tehnya. "Kalau sudah berumah tangga, mengatur jadwal pembagian tugas itu penting." "Ya, ya, ya ..., terserah mbak saja." Jika menyangkut urusan rumah tangga Aeri, Arika sudah tidak mau ikut campur. Setidaknya sekarang wajah mbaknya itu kembali cerah seperti biasa, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang datang ke studio langsung mengeluh karena rumah kotor lah, suaminya yang nggak mau bantu urusan rumah tangga lah, suaminya inilah, itulah, and lah, lah, lah ... yang f*ck mah kata Arika buat tahu. "Morning ladies." Lian yang datang ke studio dengan wajah ceria menambah beban mental yang dirasakan Arika. "Satu lagi orang bodoh berwajah ceria." Arika memutar bola matanya. Dia tidak

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 48. Keributan dalam Rumah tangga

    Menikah dan akhirnya tinggal serumah adalah dua hal yang berbeda bagi Arvan. Sudah lebih seminggu semenjak mereka menikah, dan selama itu, mereka belum sepenuhnya dapat dibilang tinggal bersama.Untuk beberapa bulan ke depan, dia kira dapat menjalani masa pernikahan dengan damai, hanya saja dengan Aeri sebagai pasangannya hal itu rasanya mustahil untuk terwujud."Aeri!" Seperti hari pada biasanya semenjak tinggal bersama. Tidak pernah Arvan absen berteriak untuk memanggil istrinya itu.Tidak kamar, tidak juga ruang tamu, semuanya berantakan saat perempuan itu ada di rumah. Mendengar panggilannya, Aeri sedikit tergopoh-gopoh menemuinya dengan masih mengenakan celemek kucing yang banyak terdapat noda di sana."Apa sih, bisa nggak, nggak usah teriak-teriak. Ini sudah malam, gimana kalau tetangga dengar.""For your information, kita nggak punya tetangga, ya, Ri. Dan perasaan aku sudah menyuruhmu untuk membereskan semua kekacauan yang bikin rumah ini jadi kayak kapal pecah sejak tadi pagi

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 47. Obsesi

    Pernyataan Arvan membuat binar di mata Aeri berganti tatapan tajam. Aeri menggerutu, namun Arvan tidak peduli. Dia kembali melanjutkan langkahnya. "Di mana-mana yang didahului itu istri, ini malah teman, dasar logikamu itu gimana, sih, kon-" Sebelum kata mutiara itu keluar dari mulut perempuan cantik ini. Idris dengan sigap menutup mulut kasar itu. "Aeri, ini kita lagi di rumah sakit. Tolong, ya, bahasanya itu dijaga." Aeri dengan patuh mengangguk sembari melepas tangan Idris, lalu. "Dontol." Idris spontan menoyor kepala Aeri. "Sopan sekali, ya, bahasa Anda." Karena Idris terlalu kuat menoyornya, Aeri sampai menubruk punggung Arvan di depan. "Ck." Arvan tadinya mau diam saja, tapi kelakuan kedua temannya benar-benar tidak bisa dia biarkan. "Kalian-," Aeri melepas genggaman tangannya sebelum Arvan sempat menoleh ke belakang, dan begitu dia balik badan. Dua temannya sudah jauh main kejar-kejaran, dan itu di lorong rumah sakit pula. "Woi, anjing! Jangan kabur kalau kamu laki-laki.

  • Mempelai Tanpa Kontrak   BAB 46. Ambigu

    "Jadi, alasanmu apa pergi tanpa bilang-bilang?" Sembari menunggu Aeri yang tidak mau ditemani menemui dokter. Kedua laki-laki itu akhirnya bisa bicara setelah beberapa hari tidak bertemu.Idris mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut beludru hitam. Arvan menghela napas, dia menatap kasihan pada temannya itu."Kamu tahu kan, ini tidak ada gunanya."Idris tertawa kecil, dia membuka kotak itu yang di dalamnya berisi sebuah cincin bertabur berlian sembari menghadap Arvan."Gimana, bagus, nggak?" Idris tersenyum melihat cincin di tangannya.Melihat ekspresi temannya yang tengah kasmaran membuat Arvan ingin sekali memeriksakannya juga. Mungkin ke dokter neurologi. Karena jatuh cinta membuat saraf di otak Idris tidak berfungsi. Alias membuat laki-laki jangkung itu jadi bodoh.Atau mungkin bodoh masih terlalu bagus kalau melihat kelakuannya saat ini yang begitu tidak tahu malunya. Bagaimana tidak, dengan nada suara lembut dia mengucapkan kali

  • Mempelai Tanpa Kontrak   BAB 45. Menangkap Tikus

    Sudah 30 menit pergerakan hewan pengerat itu masuk dalam radar pengintai. Tubuh si hewan begitu mungil, tapi suaranya cukup bergema."Ck, tunggu apa lagi itu tikusnya sudah diam." Si pengintai penakut menowel punggung istrinya yang tidak lepas melihat pergerakan tikus yang nampak gelisah."Bentar."Arvan memutar bola matanya, sudah sejak tadi Aeri hanya mengatakan itu.Saat tikus tepat di depan mereka, Aeri hanya bergeming, dan sekarang ketika tikus itu lebih dekat lagi dari mereka, itu juga yang Aeri katakan."Bisa-bisa tikusnya kabur lagi nanti." Arvan rasanya ingin mengambil sapu di tangan Aeri. Andaikan dia punya keberanian, sudah pasti tikus itu dia tangkap sendiri."Cerewet, kamu kira aku siap nangkap tikus semungil itu?" kesal Aeri karena suaminya begitu mengganggu konsentrasinya sejak tadi."Kalau kamu mau kita tidur bareng, sana tangkap itu tikus." Arvan memberi penekanan pada kalimat yang dia ucapkan.Sejujurnya ucapan penuh penegasannya sama sekali tidak cocok dengan situas

  • Mempelai Tanpa Kontrak   BAB 44. Malam Pertama, Tidur Bersama?

    Tidak ada rasa takut ketika mereka mendengar bunyi mencurigakan itu."Penunggunya tuh, mau disapa?" Malah Aeri masih sempatnya bercanda."Kamu saja sana." Arvan malah menghiraukan dan lanjut melihat sekitar.Aeri lalu menuju ke arah suara, namun yang dia dapati adalah pintu yang tertutup rapat. Karena tidak ada apapun di sana, dia menyusul ke mana suaminya pergi.Laki-laki itu begitu teliti mengecek setiap sudut rumah, tidak peduli kalau malam sudah semakin larut.Aeri yang melihat suaminya sampai capek sendiri. "Haruskah lihat-lihatnya malam ini?"Meski tidak sebesar rumah orang tua Arvan, rumah itu cukup besar untuk ditempati mereka berdua. "Besok kan, bisa."Arvan menggeleng, "Aku harus pastikan tidak ada tikus-tikus itu malam ini."Aeri memutar bola matanya, ternyata masalah tikus dulu masih menjadi trauma bagi suaminya."Sebelum jadi rumah kita, ini tadinya rumah mereka, loh. Kamu kayak penjajah aja ngusir tikus dari rumahnya.""Sebelum jadi rumah tikus, ini awalnya rumah manusia.

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 6. Diusir

    Arvan masih berusaha menutupi tubuh Aeri dengan badannya. Namun, Aeri justru mendorong Arvan ke samping.“Apa sih? Memang ada yang salah dengan pakaianku? Sudah, minggir, dong! Gerah tahu.” Perempuan itu bahkan melepas jaket yang ia pakai.“Tapi, kerudungmu?” “Mulai sekarang, aku tidak mau pakai

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 4. Keributan

    Berbeda dengan Arvan yang tidak bisa tertidur nyenyak, maka berbeda halnya dengan Aeri. Selimut hangat yang menyelimutinya membuat Aeri tidak mau beranjak dari sana, hingga sesuatu tiba-tiba memeluknya yang masih terbungkus selimut.“Hei, Arvan! Aku kan sudah bilang kalau kamu tidak juga bangun pa

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 3. Selamanya

    “Kalau begitu, kenapa kamu tadi setuju menikah denganku? Berarti, kau bodoh?” Arvan kini ikut mencondongkan wajahnya. Tak lupa, dia menaruh jarinya di dahi Aeri. “Dan, tolong berhentilah mengumpat!”“Sayangnya, kenyataannya memang seperti itu. Aku tadi terlanjur berbuat bodoh. Tapi, aku tidak mau

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 1. Pengantin Sempurna

    “Bagaimana saksi, sah?”Begitu penghulu mengatakannya, status Aeri berubah.Dia bukan lagi teman Arvan, melainkan istrinya.Aeri lantas menoleh pada pria di sampingnya itu yang terlihat tampan dan mengenakan setelan baju pengantin warna putih–senada dengan gaun yang digunakan Aeri saat ini.Meski t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status