Share

Bab 4. Keributan

Author: Bara Islami
last update Last Updated: 2023-03-03 23:56:08

Berbeda dengan Arvan yang tidak bisa tertidur nyenyak, maka berbeda halnya dengan Aeri. 

Selimut hangat yang menyelimutinya membuat Aeri tidak mau beranjak dari sana, hingga sesuatu tiba-tiba memeluknya yang masih terbungkus selimut.

“Hei, Arvan! Aku kan sudah bilang kalau kamu tidak juga bangun pagi-pagi aku akan memelukmu seperti ini.”

Aeri terkejut mendengar suara perempuan sangat indah.

Dalam hati, ia membatin bahwa perempuan yang memeluknya ini pasti adalah perempuan cantik. 

“Ayo, Arvan! Bangun! Mau sampai kapan hah kamu terus tidur begini?” Suara indah itu kini terdengar manja. Rasanya, seperti memiliki adik perempuan.

Rasanya sangat menyenangkan mendengar suara indah perempuan pagi-pagi begini.

“Tante Rullis menyuruhku membangunkanmu. Ayo, dong bangun!”

Mendengar nama mertuanya disebut, Aeri seketika malas.

Tapi, Aeri penasaran. Siapa perempuan ini? Dan mengapa si makla menyuruh perempuan itu membangunkan putranya? 

Apa mertuanya itu lupa kalau putranya itu sudah punya istri?

Kalau tidak, apakah etis menyuruh perempuan lain datang ke kamar putranya yang sudah menikah?

“Cih, emang dasar Mak Lampir tuh ibu-ibu boomer,” batin Aeri kesal.

“Ehh, tunggu! Arvan, tubuhmu kok kurusan gini?”

Tangan perempuan itu tiba-tiba bergerak dan meraba tubuh Aeris; dari kepalanya lalu semakin turun. Bahkan, tangan perempuan itu tidak sengaja menyentuh dadanya.

Aeri lantas menutup mulutnya. Dia menahan diri untuk tidak tertawa karena geli.

“Arvan kamu sakit, ya? Padahal, baru satu minggu aku pergi. Tapi, berat badanmu kenapa menurun drastis begini?”

Aeri masih saja diam. Dia membiarkan perempuan itu salah mengira dirinya sebagai Arvan. 

Rasanya menyenangkan bermain-main dengan perempuan itu. Aeri bahkan masih ingin melakukannya lebih lama. Tapi sayangnya, Arvan malah tiba-tiba datang.

“Frisya! Apa yang kamu lakukan di kamarku?”

“Arvan?!” Perempuan bernama Frisya itu tampak terkejut. “Kamu kok di sana? Lalu, siapa yang ada di sini?”

Frisya mungkin menunjuk padanya di luar selimut.

Tak lama, Aeri pun membuka selimut yang menutupinya. 

Dan seperti yang dia duga, perempuan itu sangat cantik. 

Tanpa sadar, Aeri menarik tangan Frisya agar dia bisa melihat lebih dekat wajah cantik itu. Sebagai fotografer, jelas dia peka dengan objek indah yang layak difoto.

“Girl! You look so sexy! Ini masih pagi dan membuatku ingin segera mengambil kameraku,” ucap Aeri berbinar.

Sementara itu, Frisya tampak terkejut dengan perkataan Aeri. 

Tidak hanya terkejut, dia juga merinding. 

Tak jauh dari sana, Arvan pun tertegun. Dia melupakan satu hal penting tentang Aeri. Perempuan itu mencintai orang-orang rupawan, seperti Frisya!

“I think I want a Kiss,” lirih Aeri tiba-tiba membuat Frisya berteriak.

“Arrgh!” Frisya pun berteriak. Tidak hanya itu, dia juga memukul wajah Aeri dan segera menjauh dari perempuan itu.

“Shit,” umpat Aeri, “aku kan hanya ingin ingin permen kiss.”

Dia memang biasa makan permen saat bangun tidur untuk menghilangkan asam di mulut. Tapi, Frisya sepertinya salah mengartikan pada kiss yang lain. 

Aeri lantas duduk di atas tempat tidur sambil mengusap-usap wajahnya yang sakit. 

Dia juga menatap Frisya yang bersembunyi di belakang Arvan. 

“Untung cantik,” ucap Aeri malas. 

Yang jika diartikan, Aeri tidak marah Frisya memukulnya.

Bagaimana bisa Aeri marah? Dia pecinta wajah cantik.

Hal sepenting ini, bagaimana bisa Arvan melupakannya?

*******

“Arvan! Istrimu itu benar-benar gila! Bagaimana bisa dia melecehkan Frisya di rumah mama? Pokoknya, mama tidak mau tahu! Mama mau perempuan itu keluar dari rumah ini.”

Aeri mengorek telinganya dengan jari manisnya. 

Teriakan Rullistya dapat terdengar sampai depan rumah. 

Padahal, mertuanya itu ada di ruang tengah.

Aeri masih memakan permen kissnya.

Pagi-pagi sekali, dengan hanya memakai tank top dengan dipadukan jaket dan celana pendek, Aeri keluar dari rumah. 

Dia merenggangkan tangannya, menghirup udara pagi yang tercemar polusi.

Barulah Aeri menyadari bahwa perempuan yang dijodohkan dengan Arvan bernama Frisya.

“Jika benar perempuan cantik tadi yang dijodohkan dengannya, bagaimana bisa Arvan tidak mau dengan perempuan itu?” gumam Aeri bingung sambil memperhatikan rumah keluarga Arvan.

Rumah keluarga sang suami ini sangat besar. Di depan rumah ada kebun bunga, sementara untuk garasi penuh dengan mobil dan motor. Ada seorang pembantu yang tengah menyiram kebun bunga itu, dan di depan gerbang utama, dua satpam tengah bermain catur di posnya.

“Halo, semua!” sapa Aeri ramah melihat pegawai-pegawai di rumah ini.

Melihat Aeri yang dengan santai keluar rumah sambil menyapa mereka, semua menatapnya heran.

Mereka mungkin bertanya-tanya siapa dia, tapi Aeri tidak peduli. 

Dia pun keluar dari rumah–terlalu malas mendengar mama mertuanya marah-marah pagi-pagi. 

Lebih baik, dia olahraga saja.

******

Sementara itu, ketegangan masih berlanjut dalam rumah.

Rullistya terus saja mengomel. Emosinya menjadi-jadi karena orang yang ingin dimarahi, malah tak terlihat. 

Jadi, wanita itu melimpahkan semua kepada Arvan.

Merasa lelah, Arvan yang sedari tadi diam pun menghela napas panjang. 

Dia menatap ibunya dalam. “Tapi, mama juga salah. Kenapa mama membiarkan Frisya masuk ke kamar kami yang pengantin baru?” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mempelai Tanpa Kontrak   BAB 44. Malam Pertama, Tidur Bersama?

    Tidak ada rasa takut ketika mereka mendengar bunyi mencurigakan itu."Penunggunya tuh, mau disapa?" Malah Aeri masih sempatnya bercanda."Kamu saja sana." Arvan malah menghiraukan dan lanjut melihat sekitar.Aeri lalu menuju ke arah suara, namun yang dia dapati adalah pintu yang tertutup rapat. Karena tidak ada apapun di sana, dia menyusul ke mana suaminya pergi.Laki-laki itu begitu teliti mengecek setiap sudut rumah, tidak peduli kalau malam sudah semakin larut.Aeri yang melihat suaminya sampai capek sendiri. "Haruskah lihat-lihatnya malam ini?"Meski tidak sebesar rumah orang tua Arvan, rumah itu cukup besar untuk ditempati mereka berdua. "Besok kan, bisa."Arvan menggeleng, "Aku harus pastikan tidak ada tikus-tikus itu malam ini."Aeri memutar bola matanya, ternyata masalah tikus dulu masih menjadi trauma bagi suaminya."Sebelum jadi rumah kita, ini tadinya rumah mereka, loh. Kamu kayak penjajah aja ngusir tikus dari rumahnya.""Sebelum jadi rumah tikus, ini awalnya rumah manusia.

  • Mempelai Tanpa Kontrak   BAB 43. Pindah rumah

    Aeri mengarahkan senyumnya melihat kedatangan tidak terduga perempuan itu.Begitupun Arvan, namun tidak halnya dengan Senopati. Seakan papa-nya itu sudah menduga kedatangannya.“Hai,” sapa Frisya tanpa canggung ketika masuk tadi langsung menjadi pusat perhatian. “Mm ... maaf aku telat, karena masih ada kerjaan,” jelasnya.“Tidak apa-apa, kamu duduk di sini, Sya.” Rullistya tersenyum pada perempuan itu sebelum menyuruhnya duduk di sampingnya.“Kenapa dia ada di sini?” tanya Arvan bersikap dingin saat Frisya memberinya senyum.Arvan meminta penjelasan dari Senopati yang nampak tidak terlalu peduli.“Mama yang mengajaknya ikut serta.” Malah Rullistya yang menjawab.Bagaimana makan malam ini sampai terjadi meski awalnya Rullistya tidak setuju, karena Senopati berjanji untuk mengizinkan Frisya ikut serta.Bagi Senopati keberadaan perempuan itu bukanlah ancaman, karena itu d

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 42. Pertengkaran pasangan

    Semua orang menoleh pada Alvin, dibanding semua orang di sana, dialah yang paling menikmati keributan kecil ini.“Alvin kalau makannya sudah selesai, balik belajar sana.” Sayangnya dia malah diusir oleh sang papa.“Tapi aku belum selesai makan.” Kenyataannya dia sengaja menambah makanannya agar ada alasan untuk tetap di sana.“Alvin.” Namun satu kata penuh ketegasan dari sang Mama membuatnya langsung beranjak.Saat ini Mama-nya sedang sensitif, Alvin tidak mau menggali kuburannya sendiri dengan membuat marah sang Mama.Seusai kepergian Alvin, Arvan menyentil dahi istrinya itu. “Kalau ngomong jangan sembarangan.”“Makanya jangan sembarangan juga meremas pahaku.” Aeri menggeser kursinya agak menjauh dari Arvan. “Dikira nggak geli, apa,” lanjutnya membuat Arvan ingin sekali menjitaknya lagi.“Aeri itu istri pilihan Arvan. Pasti ada alasannya kenapa dia memilih Aeri. Lagipula Aeri adalah anak yang baik.” Ucapan Senopati membuat Rullistya menggebrak meja.“Baik apanya perempuan itu, malah

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 41. Makan Malam

    Sebenarnya dalam rangka apa makan malam itu diadakan?Suasananya saat makan terasa mencekam. Selain bunyi sendok dan piring beradu, tidak ada lagi suara yang terdengar.Aeri mengedarkan pandangannya memperhatikan semua orang di ruangan itu. Sepertinya memang tradisi di rumah ini untuk tidak bicara saat makan.Tapi bukan berarti suasana harus sesunyi ini. Kembali dadanya merasa sesak, sama sesaknya saat alerginya kumat."Uhuk ..., uhuk ...." Sialnya lagi dia harus tersedak di situasi sekarang.Arvan segera menyodorkan air putih padanya. Suaminya itu dengan lembut menepuk punggungnya."Kamu nggak apa-apa, Ri?" tanya Arvan.Aeri menunjuk pada punggungnya, "B ... huk ... biha lebih ... huk dikherasin?" pinta Aeri saat suaranya belum sepenuhnya jelas.Mengikuti perkataan Aeri, Arvan memukul punggungnya lebih keras lagi. Sayangnya dia terlalu mengerahkan tenaga, sampai-sampai badan Aeri terdorong ke depan."Sialan!" Tanpa sengaja umpatan itu lolos dari mulutnya.Rullistya yang mendengarnya,

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 40. Mama marah

    “Halo Bumer ketemu lagi kita, rasanya baru sebentar deh kita berpisah, kok, Bumer sudah di sini lagi, kangen, ya?”Rullistya memutar bola matanya, saat ini dia sedang menghubungi seseorang namun tidak kunjung di angkat. “Ini rumahku, terserah aku mau di mana, saja,” ketus Rullistya yang akhirnya duduk di sofa panjang agak jauh dari Aeri.Aeri manggut-manggut sambil mengulas tipis senyum jail. “Jadi Bumer di sini karena bosen tidak ada temannya, kayak aku?”Rullistya menghela napas, sebenarnya dia pun tidak mau satu tempat dengan perempuan kurang ajar ini. Namun, dia tidak bisa membiarkan Aeri sendirian di rumahnya, bisa-bisa perempuan itu benar-benar akan meracuninya dan anggota keluarganya. Dia tidak mau hal itu terjadi.Dan melihat bagaimana perlakuan Aeri pada Ratih tadi, menyuruh salah seorang pembantunya untuk mengawasi perempuan itu akan membahayakan mereka. Rullistya tidak sampai hati menyuruh mereka mengawasi perempuan berbahaya ini. Akhirnya, meski enggan, dia lah yang harus m

  • Mempelai Tanpa Kontrak   Bab 39. Mengadukan Bumer

    “Kamu ini-.” Ucapan Rullistya terhenti saat Aeri menunjukkan ponselnya yang sedang menelpon. Tertera di layar nama PapMer (Senopati) yang di bawahnya menunjuk angka 05.30.Aeri memencet tombol pengeras suara saat Senopati akhirnya bicara juga dari seberang setelah 5 menit lamanya hanya diam saja.“Mama mertuamu itu sebenarnya orang yang baik, kamu jangan masukkan ke dalam hati ucapan kasarnya itu, ya, Nak?” Berbeda dengan Rullistya yang selalu berapi-api, Senopati malah seperti pegunungan yang menyejukkan.“Papa?” ujar Rullistya.Aeri mengangguk, “Iya Bumer, dia Papa, suami Bumer, Papa mertuaku, Papanya suami ber...belahan jiwaku.” Hampir Aeri keceplosan bilang brengsek.Kali ini dia sedang bermain peran sebagai menantu menyebalkan di depan bumer sekaligus menantu yang baik untuk papmer. Jadi untuk hari ini tidak boleh ada kata kasar yang dia tujukan untuk anak mereka.Aeri tersenyum, meski jujur ingin sekali dia muntah mengatakan kalimat menggelikan itu.“Pap, jadikan makan malam kita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status