LOGINBandung malam itu jauh lebih ramai dibanding biasanya.Akhir pekan membuat jalanan di sekitar kampus dipenuhi kendaraan.Namun hal itu sama sekali tidak mengurangi suasana bahagia keluarga kecil bapak Sutisna karena besok adalah hari yang sangat penting.Hari wisuda Ratu.Setelah bertahun-tahun kuliah, perjuangan panjang si bungsu akhirnya mencapai garis akhir.Dan malam itu mereka memilih menginap di hotel yang tidak terlalu jauh dari kampus.Satria sengaja memesan family room yang cukup besar.Terdiri dari dua kamar tidur.Satu kamar untuk bapak dan ibu.Satu kamar lagi untuk dirinya bersama Kaluna.Sementara Ratu mendapat tempat tidur tambahan di ruang televisi.Setelah makan malam bersama, mereka akhirnya berkumpul santai di ruang keluarga yang luas di dalam kamar hotel.Ibu baru saja menyeduh teh hangat.Bapak duduk santai sambil menonton berita.Sementara Kaluna berselonjor di sofa karena pinggangnya kembali pegal.Satria duduk di sampingnya memijat kaki Kaluna sa
Ratu mengembuskan napas panjang begitu pintu apartemennya tertutup.Hari itu benar-benar melelahkan.Sejak pagi dia mondar-mandir membantu tim proyek di kantor konsultan arsitek milik Om Kaivan, tempatnya magang.Mengecek gambar kerja. Membantu revisi desain. Mengikuti meeting dengan klien.Sampai kepalanya terasa penuh oleh angka, ukuran struktur, dan gambar bangunan.Namun anehnya—Ratu justru menyukai semua itu.Semakin lama berada di dunia tersebut, semakin dia yakin kalau teknik sipil memang bukan sekadar jurusan kuliah yang dia pilih secara kebetulan.Ini adalah sesuatu yang benar-benar dia sukai.Ratu meletakkan tas kerjanya di atas sofa.Lalu meregangkan kedua tangan sambil mengeluh pelan.“Ya Tuhaaan capek banget tapi aku bahagia, terimakasih ….”Dia tersenyum dengan mata nyaris terpejam ketika hendak berjalan menuju dapur.Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.“Hah apa itu?”Di dekat pintu masuk terdapat sebuah kotak besar berwarna krem dengan pita emas yang teri
Kaluna membuka mata saat langit di luar jendela masih sedikit gelap.Udara pagi Lembang menusuk dingin.Beberapa detik wanita itu hanya diam sambil menatap langit-langit kamar.Lalu perlahan—matanya membesar.“Oh iya!” Teringat sesuatu.Kaluna menengakan punggungnya buru-buru sampai selimutnya berantakan.Satria yang masih tertidur di sebelahnya hanya bergerak mengubah posisi dengan mata masih terpejam.Kaluna spontan menoleh, tatapannya berubah lembut.Tadi malam dia ketiduran saat menunggu Satria pulang dari Ciwidey, bahkan dia sama sekali tidak sadar kapan pria itu masuk kamar dan tidur di sebelahnya.Kaluna tersenyum kecil lalu mengusap rambut Satria pelan.“Kasian ayah baby…,” gumamnya lirih.Namun detik berikutnya semangatnya kembali naik.Dia bergegas mengambil laptop miliknya di meja kerja lalu kembali duduk di atas ranjang.Klik.Laptop menyala.Kaluna membuka email berisi design rumah impiannya yang
Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu sibuk—Satria bahkan bangun sedikit lebih siang.Udara Lembang pagi itu dingin sekali.Kabut masih menggantung tipis di balik jendela kamar.Kaluna sudah bangun sejak tadi tapi dia memilih tidak bergerak, diam dalam pelukan hangat sang suami tercinta sambil menatap wajah tampannya.Kemudian tersenyum begitu melihat Satria membuka mata.“Pagi sayang.” Kaluna berbisik.Satria mengerjap pelan lalu otomatis mengeratkan pelukan di pinggang istrinya.“Hm… pagi.”Kaluna terkekeh kecil saat wajah pria itu melesak di lehernya.“Masih ngantuk?”“Banget,” gumam Satria pelan.Kaluna mengusap rambut suaminya lembut.Hari itu mereka memang sudah berjanji akan mencari tanah untuk rumah impian mereka.Bahkan semalam Kaluna sampai susah tidur karena terlalu bersemangat.“Sayang…” Kaluna memainkan ujung rambut Satria pelan.“Nanti kalau rumahnya jadi, aku mau dapur yang jendelanya langsung ngadep kebun.”Satria tersenyum kecil tanpa membuka m
“Mr. Satria…”Salah satu pria asing di layar tersenyum kecil sambil membuka file laporan di depannya.“We’ve reviewed the inspection report from our Asia representatives.”Satria yang duduk di depan laptop langsung fokus dengan menegakan punggung.Malam itu udara Lembang kembali terasa dingin.Jam menunjukkan pukul delapan malam waktu Indonesia.Sementara di New York—matahari bahkan belum terlalu tinggi.Seperti biasa, Kaluna selalu ikut menemani dengan duduk bersandar di kepala ranjang sambil memeluk bantal kecil.Matanya tidak lepas memperhatikan Satria sejak tadi.Slide laporan mulai muncul di layar. Foto workshop paman Elan. Area oven kayu. Sistem finishing. Gudang material. Sampai alur produksi yang tempo hari ditinjau langsung oleh tim Alterio Corp regional Asia.Dan semakin lama laporan itu dibuka—raut wajah Satria perlahan berubah lebih tenang karena dia tahu hasilnya bagus.“Production flow is good.”“Material quality meets resort standards.”“Finishing section i
Pintu kamar terbuka pelan.Aroma sabun dan udara dingin seketika ikut masuk bersama langkah Satria.Rambut pria itu masih sedikit basah.Kaos hitam membalut tubuh atletisnya yang baru selesai mandi.Sementara handuk kecil masih tersampir di bahunya.Kaluna yang sejak tadi berbaring sambil scroll media sosial refleks mendongak.Matanya berubah lembut.“Hai ganteng.” Kaluna menyapa.Satria tersenyum. “Kalau sekarang, kamu mau dipeluk?” sindir Satria karena tadi saat pulang, Kaluna mengatainya bau ketek dan memaksanya untuk mandi, katanya baby yang meminta.Kaluna tertawa, merentang kedua tangan. “Mauuuuu.” Satria tersenyum sembari mendekat, duduk di tepi ranjang lalu memeluk Kaluna.“Malem banget sih pulangnya, sayang.” Kaluna menggerutu.“Macet tadi dari Ciwidey.”Kaluna menjauhkan tubuhnya sedikit. Dia mendongak.“Capek banget ya?”Satria tidak langsung menjawab, dia menatap hangat Kaluna selama beberapa det
“Parkir di sana aja,” kata Kaluna sembari menunjuk space parkir kosong di depan loby restoran.“Aku antar kamu sampai loby dulu.” “Enggak usah, kita parkir aja dulu nanti barengan ke restonya.”Kaluna tidak ingin memperlakukan Satria seperti driver.Akhirnya Satria menurut dan langsung memarki
Pintu ruang kerja Kaluna terbuka pelan.Satria masuk dengan langkah tenang seperti biasa. Jasnya sudah dilepas menyisakan kemeja putih yang digulung hingga sikut.Ia berhenti beberapa langkah dari meja Kaluna.“Anda memanggil saya, Nona?”Nada suaranya formal. Terlalu formal.Kaluna yang sedan
“Ya udah deh, oke.”Satria yang berdiri di dekat mobil dengan pintu kabin belakang terbuka, sempat terlihat bingung.Kenapa Kaluna bersedia menerima ajakan dinner itu?Kenapa Kaluna tidak menjaga perasaannya?“Satria, kamu bawa pakaian ganti aku, kan?”“Bawa Nona … ada di
Siang itu langit Jakarta terlihat pucat di balik kaca gedung-gedung tinggi.Mobil sedan hitam mewah CEO anak perusahaan AG Group berhenti perlahan di depan gedung kantor Andre Pratama Group. Bangunan modern dengan fasad kaca itu memantulkan cahaya matahari siang yang terik.Satria turun lebih dul







