LOGINKabut tipis mulai menyelimuti kebun teh, lampu-lampu kecil di sepanjang jalan menyala satu per satu, menciptakan suasana hangat di tengah udara dingin dan gelapnya malam.Di dalam kamar villa, Kaluna sedang duduk di depan cermin, merapikan rambutnya yang kini dibiarkan jatuh alami di bahu.Satria keluar dari kamar mandi, sudah rapi dengan kemeja kasual berwarna gelap.“Kita keluar sebentar ya,” katanya sambil mengambil kunci mobil.Kaluna menoleh. “Makan malam?”Satria mengangguk. “Ada Caffe yang lagi viral, enggak jauh dari sini. Tadi aku lihat di sosial media.”Kaluna tersenyum. “Yeaaaay.” Dia senang sekali.Tidak berapa lama kemudian, Satria sudah memarkirkan mobilnya di depan Caffe yang dimaksud.Caffe itu tidak terlalu besar.Bangunannya dominan kayu dengan lampu kuning temaram yang memberi kesan hangat dan intim.Dari luar sudah terlihat beberapa meja terisi, sebagian besar pasangan atau keluarga kecil.Begitu mereka masuk
Perjalanan menuju resort terasa lebih sunyi.Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan melainkan karena keduanya sedang menikmati jeda.Jeda setelah hari kemarin yang penuh tawa dan kebahagiaan.Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di sebuah gerbang kayu dengan ukiran sederhana.Tidak terlalu mencolok.Tidak terlalu mewah.Namun begitu mereka masuk—hamparan kebun teh langsung menyambut.Hijau.Luas.Seolah tidak berujung.Udara di sana lebih dingin.Lebih bersih.Lebih menenangkan.“Keren banget pemandangannya…,” gumam Kaluna pelan.Satria tersenyum tipis.“Lumayan lah buat second honeymoon,” katanya santai, padahal ia memilih tempat ini dengan sangat hati-hati dan menekan kebutuhan pribadinya mengingat saldo di rekening semakin menipis.Villa yang mereka tempati berdiri sedikit terpisah.Privat. Tenang. Menenangkan.Begitu pintu dibuka—aroma kayu dan udara hangat langsung menyambut.Interiornya sederhana. Elegan.Dengan jendela besar menghadap langsung ke
Pagi ini, tidak ada lagi musik maupun suara tawa yang memecah halaman.Tenda masih berdiri, meski sebagian sudah setengah dibongkar.Beberapa kursi ditumpuk di sudut.Sisa-sisa pesta masih terasa tapi suasananya jauh lebih hening.Kaluna menghirup udara pagi yang dingin di teras rumah.Rambut sengaja digerai, wajahnya masih segar setelah mandi.Tidak lama kemudian Satria keluar sambil membawa koper kecil.“Sudah siap?” tanyanya.Kaluna menoleh, lalu mengangguk.“Iya .…”Hari ini mereka akan pergi.Bulan madu kedua—kata Satria.Di sebuah resort tidak jauh dari sini tepatnya di Lembang.Bukan milik Gunadhya.Bukan sesuatu yang mewah berlebihan.Tapi cukup untuk mereka berdua.“Kalian yakin enggak akan sarapan dulu?” kata ibu karena tadi Satria dan Kaluna melarangnya membuat sarapan pagi.“Enggak Bu, kita mau kuliner ….” Kaluna yang menjawab.“Jangan bawa Kaluna makan di pinggir jalan ya, Satria.” Bapak Sutisna berpesan.Satria dan Kaluna terkekeh.“Enggak lah, Pak.”
Setelah mandi bersama dengan alasan mempersingkat waktu—Kaluna dan Satria kembali ke kamar.“Sini duduk sayang,” kata Satria menuntun Kaluna duduk di depan meja rias.Rambut Kaluna basah.Ujung-ujungnya menetes pelan ke bahu.Satria berdiri di belakangnya.Memegang hairdryer.Suara mesin kecil itu mulai terdengar.Hembusan hangat mengalir di antara helai rambut Kaluna.Gerakan Satria pelan.Hati-hati.Seolah rambut itu sesuatu yang rapuh.Kaluna menatap pantulan mereka di cermin.“Capek?” tanya Satria pelan.Kaluna menggeleng kecil.“Enggak… malah senang.”Satria tersenyum tipis.“Acaranya… di luar ekspektasi aku,” lanjut Kaluna.“Lebih ramai ya?” tanya Satria.“Lebih hangat,” jawab Kaluna pelan.Jeda.“Aku lihat sendiri … keluarga aku benar-benar menikmati.”Nada suaranya jujur.Masih menyimpan sisa haru.Satria terus mengeringkan rambut Kaluna.“Sepupu-sepupu kam
Sore mulai turun perlahan.Langit desa berubah jingga.Sinar matahari yang tadinya terang kini melembut, jatuh di antara tenda dan rangkaian bunga yang mulai sedikit layu setelah seharian dipenuhi manusia dan tawa.Suara musik tidak lagi sekeras tadi.Beberapa tamu mulai berpamitan.Piring-piring mulai dirapikan.Anak-anak sudah kelelahan dan digendong pulang.Dan di antara semua itu—keluarga Gunadhya mulai bersiap pulang.Mobil-mobil mewah kembali dipanaskan.Para sopir berdiri siaga.Namun suasana perpisahan tidak terasa dingin.Justru hangat. Sangat kekeluargaan.Di depan rumah, bapak Sutisna dan ibu Ratna berdiri berdampingan.Masih dengan pakaian yang dikenakan saat acara.Masih dengan wajah lelah … tapi bahagia.Om Kana yang paling dulu mendekat.Langsung menjabat tangan bapak dengan erat.“Pak… terima kasih banyak ya,” katanya tulus.“Ini… luar biasa sekali.”Bapak Sutisna tersenyum canggung.“Ah… biasa saja, Pak… seadanya.”“Seadanya?” Om Kana tertawa ke
Riuh pesta masih terasa di halaman rumah Bapak Sutisna.Musik dangdut bercampur tawa para Gunadhya yang tampak menikmati acara ini karena merupakan hal baru bagi mereka.Suara gelas beradu, denting sendok garpu terdengar dari para tamu undangan yang hadir siang itu.Anak-anak berlarian mengelilingi panggung.Tapi di sisi lain halaman rumah—sedikit menjauh dari keramaian itu—suasananya berbeda.Lebih tenang.Lebih sunyi.Dan lebih … jujur.Kaluna tengah berdiri di dekat pagar kayu, memandang ke arah jalan desa yang dipenuhi mobil-mobil mewah yang terparkir rapih beraturan.Tangannya terlipat di depan dada.Tatapannya kosong, tapi pikirannya jelas tidak.“Lun.” Suara itu membuatnya menoleh.Davanka berjalan mendekat.Masih rapi dengan kemeja mahalnya, tapi wajahnya tidak setenang biasanya.Ia sudah lama memperhatikan adiknya dari jauh sampai akhirnya mengambil inisiatif untuk mendatangi.“Lo kenapa?” tanyanya pelan.Kaluna tidak langsung menjawab.Ia hanya menatap kakak
Setelah makan siang yang dia lakukan sendirian sambil melanjutkan membaca berkas di ruangannya—pertemuan dengan calon partner logistik pun berlangsung di ruang meeting lantai dua puluh.Pria-pria berjas mahal duduk di seberang meja.Kaluna mempresentasikan visi ekspansi dengan percaya diri.Namu
Sampai di rumah, Kaluna disambut bunda dan ayah dengan senyum dan tatapan mencurigakan penuh tanya.“Sayang ….” Bunda mendekat lebih dulu, mengecup kedua belah pipinya.“Are you oke?”Kaluna menarik nafas panjang bersama pejaman mata sekilas.“Ada yang mau Kaluna bicarakan,” katanya sembari men
Perjalanan kembali ke Jakarta lebih hening dibanding pagi tadi.Kaluna lelah.Bukan hanya fisik, tapi juga mental.Survey berjalan sukses. Ia berhasil membuktikan kapasitasnya. Namun satu hal yang tidak bisa ia kuasai adalah pikirannya sendiri.Dan bibir itu.Setibanya di
Brian menatap ke luar dinding kaca yang menampilkan pemandangan sungai Hudson.Tatapannya kosong, pundaknya terasa berat penuh dengan beban.Dia lantas melirik arloji mahal di pergelangan tangannya, sudah lima menit dia menunggu.Andaikan saja bukan Ryley yang mengajaknya bertemu, Brian pasti su







