Home / Romansa / Menantang Kasta / Langkah Pertama

Share

Langkah Pertama

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-03-31 21:44:09

Pintu ruang kerja utama terbuka tanpa suara keras.

“Permisi, Pak.”

Suara itu tenang, tapi cukup untuk membuat pria di balik meja besar pimpinan tertinggi AG Group mengangkat pandangan.

Kama menatap lurus ke arah pintu.

“Masuk.”

Bu Nia melangkah masuk dengan membawa sebuah map tipis di tangannya. Wajahnya profesional seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda—lebih berat.

Ia berhenti di depan meja.

“Pak Kama, ada hal yang perlu saya sampaikan.”

Kama menyandarkan punggungnya ke kursi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
rianur378
merasa lebih tinggi sehingga merendahkan orang lain padahal Satria punya kualitas,,,heran...
goodnovel comment avatar
eLLy aprilia
Ayaahh knp jd jahat gn yah?? Kakek Rendra tolongg
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
gak pro bgt kama... untung buk nia masih waras
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Membahagiakan Ratu

    Pagi di Manhattan terasa jauh berbeda dari Jakarta.Udaranya dingin namun segar. Langit biru terang. Sinar matahari memantul di kaca-kaca gedung tinggi, membuat kota itu terlihat seperti hidup tanpa pernah benar-benar tidur.Di dalam penthouse, Ratu baru saja selesai sarapan ketika Zyandru keluar dari walk-in closet.Hari ini pria itu tampil berbeda.Bukan kaos santai seperti semalam.Melainkan kemeja putih fitted, coat hitam panjang, jam tangan mewah, dan rambut yang tertata rapi.Benar-benar seperti pria yang keluar dari cover majalah bisnis.Ratu yang sedang duduk di kitchen island sampai tersedak air putih yang dia minum.Matanya mengerjap beberapa kali.Zyandru yang sadar sedang diperhatikan justru menyeringai.“Kenapa?”Ratu cepat menggeleng.“Enggak…”“Bohong.” Zyandru berjalan mendekat.Membungkuk sedikit.“Gelagat kamu aneh.”Pipi Ratu langsung memanas. “Ganteng banget .…” Kalimat itu keluar beg

  • Menantang Kasta   Memutuskan Untuk Pulang

    Matahari pagi kini sudah benar-benar naik.Cahayanya masuk dari balik jendela apartemen kecil mereka, memantul lembut di lantai keramik dan meja makan mungil yang sejak tadi dipenuhi aroma mentega, roti panggang, dan telur orak-arik.Di dapur kecil itu, Satria sibuk sambil mengenakan celemek hitam yang entah sejak kapan melingkar di pinggangnya.Tangannya cekatan menuang teh hangat ke dalam dua cangkir.Sesekali matanya melirik ke arah kamar.Memastikan Kaluna baik-baik saja.Sejak pulang dari rumah sakit, pagi-pagi mereka berubah.Tidak ada lagi pagi yang terburu-buru.Tidak ada lagi suara notifikasi email pekerjaan atau jadwal interview.Yang ada hanya Kaluna.Dan memastikan istrinya pulih.Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka terdengar.Satria refleks menoleh.Dan seketika tatapannya melembut.Kaluna keluar dari kamar dengan rambut yang masih setengah basah.Tubuhnya dibungkus dress rumahan berbahan katun lembut. Wajahnya masih pucat, tapi jauh le

  • Menantang Kasta   Orang Yang Paling Mengerti

    Langit masih gelap.Sinar matahari belum benar-benar muncul, hanya semburat jingga tipis yang mulai membelah ufuk timur.Area kolam renang apartemen pun masih sepi.Belum banyak penghuni yang turun. Belum ada suara anak-anak. Belum ada riuh percakapan para penghuni.Hanya suara air yang sesekali beriak dan embusan angin pagi yang menyentuh permukaan kolam.Satria duduk sendirian di salah satu kursi santai dekat tepi kolam.Rambutnya masih basah sehabis berenang.Kaos abu-abu tipis menempel di tubuh atletisnya yang juga masih sedikit lembab setelah sesi gym dan berenang.Biasanya aktivitas pagi seperti ini bisa membuat kepala Satria lebih jernih.Tapi tidak hari ini. Tatapannya kosong ke permukaan air.Ponsel di tangannya sudah terbuka sejak beberapa menit lalu.Nama Bapak yang tertera di layar membuat dadanya terasa berat.Jempolnya sempat berhenti beberapa detik. Ragu.Lalu akhirnya Satria menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar.Satu kali.Dua kali.Sampai ak

  • Menantang Kasta   Saran Untuk Pulang

    Matahari sore mulai condong ketika pintu ruang rawat akhirnya terbuka.Seorang dokter masuk sambil membawa clipboard di tangan.“Untuk kondisi pasien sudah stabil,” katanya sambil menatap Satria. “Lukanya juga bagus, tidak ada perdarahan lanjutan. Kalau tidak ada keluhan, pasien sudah boleh pulang hari ini.”Sesuatu di dada Satria yang sejak beberapa hari terakhir terasa berat akhirnya sedikit mengendur.“Terima kasih, Dok.”Dokter mengangguk lalu pergi.Begitu pintu tertutup, Satria langsung menoleh ke arah Kaluna.Kaluna yang sejak tadi duduk bersandar di ranjang pasien tersenyum kecil. Lemas. Tapi hangat.“Akhirnya…,” bisiknya.Satria ikut tersenyum.Namun senyum itu berbeda. Lebih lega. Lebih tulus. Dan mungkin sedikit rapuh.Karena hanya dia yang tahu betapa berat beberapa hari terakhir. Biaya rumah sakit. Biaya operasi.Harga dirinya yang diinjak di depan keluarga Kaluna.Dan jam Rolex yang kini sudah tidak lagi

  • Menantang Kasta   Hanya Pelukan

    Malam di Manhattan terasa berbeda.Lebih hidup. Lebih berkilau. Dan entah kenapa—lebih romantis.Setelah makan malam selesai, Ratu membantu membereskan meja meski Zyandru beberapa kali mengusirnya kembali ke sofa.Namun Ratu tetap keras kepala.Minimal membuang tissue bekas atau membawa gelas ke kitchen island.Sampai akhirnya Zyandru menyerah dan hanya memperhatikannya sambil tersenyum tipis.“Neng.”“Hm?” Ratu menoleh.“Aa baru tahu .…”Ratu mengangkat alis. “Tahu apa?”Zyandru menyandarkan tubuhnya di meja dapur.“Kalau ternyata menyenangkan ya punya calon istri itu.”Deg.Gerakan Ratu langsung berhenti. Piring di tangannya nyaris lepas.“A… Aa!”Zyandru tertawa puas melihat wajah Ratu yang langsung merah.“Aa ngaco ah!”Ratu mengambil tissue lalu melemparkannya ke arah Zyandru.Pria itu menangkapnya dengan mudah. “Tapi lucu.”“Ih…” Ratu langsung membuang muka.Zyandru berjalan men

  • Menantang Kasta   Ratunya Zyandru

    Udara hangat memenuhi kamar mandi marmer yang luas.Cermin besar dipenuhi embun tipis.Ratu keluar sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk putih lembut yang bahkan terasa jauh lebih halus dari handuk mana pun yang pernah ia pakai.Kaos oversize milik Zyandru membungkus tubuhnya.Ukurannya terlalu besar.Bagian bawahnya bahkan hampir menutupi paha.Namun justru itu yang membuat Zyandru tadi tersenyum lama sebelum menyuruhnya mandi lebih dulu.Langkah Ratu melambat begitu keluar dari kamar.Ia mendapati Zyandru berdiri di dekat jendela kaca besar dengan pemandangan Manhattan yang masih hidup meski malam semakin larut.Ponsel menempel di telinganya.Raut wajahnya berubah.Tidak santai.Tidak jahil seperti biasanya.Tampak sangat serius.“Iya, Kak… Terus sekarang gimana?”Langkah Ratu refleks berhenti.Kak?Kaluna?Ratu tidak sadar jari-jarinya menggenggam handuk sedikit lebih erat.Ia tidak berani mendekat terlalu jelas.Namun jarak mereka cukup dekat untuk m

  • Menantang Kasta   Tidak Mungkin Bersama

    Detik selanjutnya tangan Satria perlahan membalas pelukan itu.Ia memeluk Kaluna dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.Tangannya mengusap punggung Kaluna perlahan.Gerakan yang lembut, tenang, hangat.Kaluna semakin merapat.Satria menundukkan kepala sedikit.Bibirnya tan

  • Menantang Kasta   Pelukan Hangat

    Langkah mereka pelan ketika kembali dari restoran dekat pantai menuju bangunan utama resort.Malam Bali terasa hangat saat itu. Angin laut masih berembus lembut membawa aroma asin yang samar.Satria berjalan di samping Kaluna, kedua tangan mereka saling bergandengan.Sesekali Satria menoleh ke s

  • Menantang Kasta   Lebih Dari Cukup

    Langit Bali berubah menjadi jingga lembut ketika malam mulai turun.Tidak jauh-jauh, Satria memilih dinner di resort itu yang memiliki restoran terbuka, langsung menghadap pantai. Lampu-lampu kecil digantung di antara pohon kelapa, menciptakan cahaya hangat yang romantis.Meja-meja dita

  • Menantang Kasta   Tidak Akan Menyangkal Lagi

    Pagi itu di meja makan sudah tertata rapih sarapan pagi.Kama duduk di ujung meja dengan tablet di tangan.Di hadapannya secangkir kopi hitam mengepul lembut.Beberapa menit kemudian Kaluna turun dari lantai dua.Ia sudah berpakaian rapi—blazer semi casual warna krem, celana bahan, dan rambut y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status