/ Romansa / Menantang Kasta / Semakin Sulit Membenci

공유

Semakin Sulit Membenci

작가: Erna Azura
last update 게시일: 2026-05-24 08:52:03

Pagi itu udara Lembang terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena musim kemarau akan segera tiba.

Kabut masih turun tipis di antara pepohonan ketika lampu kamar Satria dan Kaluna sudah menyala sejak subuh.

Kaluna berdiri di depan lemari sambil menggigit bibir bawah.

Tangannya sibuk memilih dress.

Yang ini terlalu formal.

Yang itu terlalu terbuka.

Yang satu lagi terlalu mencolok.

“Aduh….” Kaluna mendesah pelan.

Sementara di atas ranjang—Satria duduk sambil memakai jam tangan.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (4)
goodnovel comment avatar
kartiwie yanie
gentle bgt satriaaaa top dehhh....
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
ya semakin sulit lah karna satria gak melakukan kesalahan .... kesalahan yg menurut kamu itu salah satria karna satria lahir dari keluarga yg gak sebanding sama gunadhya... tapi bagi yg lain gak ada yg melihat itu.... kamu aja
goodnovel comment avatar
eLLy aprilia
Alhamdulillahh, sedikit demi sedikit pertahanan hati kama yg keras itu terkikiss, bismillah semangat satria luna. Kalian keren. Terus bela satria ya om kana n om kaivan
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Menantang Kasta   Tampak Bahagia

    Pagi di villa privat itu dimulai dengan suara deburan ombak dan cahaya matahari Bali yang menembus tirai putih transparan.Satria membuka mata lebih dulu.Tangannya masih melingkar erat di pinggang Kaluna.Wanita itu masih tertidur di dadanya.Rambut panjangnya sedikit berantakan.Bibirnya sedikit terbuka.Dan entah kenapa—setiap pagi melihat wajah itu, dada Satria selalu terasa penuh.Tangannya naik. Menyingkirkan anak rambut di wajah Kaluna. Lalu mengecup keningnya lama.Cup.Kaluna menggeliat pelan. Bulu matanya berkedip.“Sayaang .…” Suaranya masih serak.Membuat Satria tersenyum.“Bangun yuk.”Kaluna justru memeluknya lebih erat. “Lima menit lagi.”Satria terkekeh. “Nanti sepupu kamu nikah tanpa kamu.”Kaluna langsung membuka mata.“Ya ampuuun, enggak boleh!”Dan sukses membuat Satria tertawa.Sekitar pukul empat sore—semua keluarga besar Gunadhya sudah berkumpul di area pantai pribadi.

  • Menantang Kasta   Tawaran Bisnis

    Sekitar empat puluh menit perjalanan dari bandara—iring-iringan mobil keluarga besar Gunadhya akhirnya memasuki kawasan resort privat di tepi laut Bali bagian selatan.Gerbang kayu ukir khas Bali terbuka perlahan.Patung batu dengan bunga kamboja menghiasi sisi kanan kiri jalan.Suara deburan ombak mulai terdengar semakin jelas.Dan ketika mobil berbelok melewati deretan pohon kelapa—Kaluna sampai membulatkan mata dengan bibir tersenyum.Dia benar-benar merindukan Bali. Di hadapan mereka berdiri sebuah kawasan villa privat yang benar-benar luar biasa.Bukan sekadar resort.Melainkan private estate.Beberapa cottage mewah berdiri berjajar menghadap laut.Dinding kayu ulin berpadu kaca full height.Kolam renang infinity memantulkan cahaya jingga matahari senja.Jembatan-jembatan kayu kecil menghubungkan tiap cottage.Dan yang paling membuat Kaluna terdiam membeku adalah hamparan pasir putih dan pantai pribadi sejauh mata memandang.Satria ikut terdiam menikmati keindahan

  • Menantang Kasta   Semakin Sulit Membenci

    Pagi itu udara Lembang terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena musim kemarau akan segera tiba.Kabut masih turun tipis di antara pepohonan ketika lampu kamar Satria dan Kaluna sudah menyala sejak subuh.Kaluna berdiri di depan lemari sambil menggigit bibir bawah.Tangannya sibuk memilih dress.Yang ini terlalu formal.Yang itu terlalu terbuka.Yang satu lagi terlalu mencolok.“Aduh….” Kaluna mendesah pelan.Sementara di atas ranjang—Satria duduk sambil memakai jam tangan.Tatapannya mengawasi tingkah istrinya sejak tadi.“Sayang.”“Hm?”“Kita ke nikahan… bukan fashion week.”Kaluna langsung menoleh.“Eeeh, Iya sih… tapi aku mau keliatan paling keren.”Satria terkekeh pelan. “Apa mau beli yang baru nanti di Jakarta?”Kaluna menggelengkan kepala. “Enggak usah, pemborosan.”Satria bangkit dari tepi ranjang.Langkahnya mendekat.Tangannya naik meraih satu dress satin berwarna sage green dari tangan Kaluna.“Pakai ini saja kalau begitu, ini baru ‘kan… bel

  • Menantang Kasta   Terlalu Egois

    “Sayaaang ….” Seperti biasa, Kaluna selalu menyambut Satria di depan pintu.Satria yang baru saja turun dari mobil mengangkat keresek di tangannya.Sorot mata Kaluna langsung berbinar.“Ketan bakar … pesenan kamu,” kata Satria begitu langkahnya sampai di teras, di depan Kaluna.“Maaciiii ….” Kaluna mengecup pipi Satria.Cup.“Aku mandi dulu ya ….” Satria merangkul Kaluna masuk ke dalam rumah.“Eh … aku ambilin handuk dulu ya.” “Enggak usah sayang … nanti aku ambil sendiri … kami makan aja ketan bakarnya sama ibu ya.” “Sudah pulang, Nak?” Ibu mendengar suara Satria langsung menyambut.“Iya Bu.” Satria mengecup punggung tangannya.“Ibu, Satria bawa ketan bakar … kita makan berdua yuk!” “Waaa … boleh-boleh.” Kaluna duduk di samping Ibu.Satria mengecup puncak kepala Kaluna sebelum akhirnya pergi ke kamar mengambil handuk.“Wangi apa ini?” Bapak baru saja masuk ke dalam rumah, pulang dari masjid.“Ini Pak, Satria bawa ketan bakar … Bapak mau?”“Mau dooonk.” Bapak du

  • Menantang Kasta   Malaikat Penolongnya Ratu

    Lift privat berhenti tepat di lantai tertinggi.Ting.Pintu terbuka.Om Kaivan melangkah keluar dengan satu tangan masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang ponsel.Beberapa staff yang berpapasan langsung membungkuk hormat.“Siang, Pak.”Kaivan hanya mengangguk kecil sambil terus berjalan menuju ruangannya.Begitu pintu kaca bertuliskan President Director tertutup—Kaivan melempar tubuhnya ke kursi kebesaran.Tatapannya sempat jatuh pada kartu nama yang tadi sempat ia berikan kepada Ratu.Lalu tanpa berpikir panjang—ia menekan salah satu nama di kontak favoritnya.Zyandru.Nada sambung baru berdering dua kali—langsung diangkat.“Om Kaivan …..” Suara berat di sana terdengar datar seperti biasa.Kaivan tersenyum kecil.“Lagi sibuk?”“Enggak juga … Kenapa?”Kaivan menyandarkan tubuhnya.“Tadi Om ketemu cewek kamu.”Di seberang sana mendadak sunyi.Beberapa detik.Lalu suara Zyandru terdengar lebih pelan dari sebelumnya.“Siapa? Ratu?”Kaivan tersenyum t

  • Menantang Kasta   Tidak Sama

    Pagi keesokan harinya, Kaluna dan Satria kembali ke Lembang.Gedung bertingkat berganti hamparan kebun teh.Sampai akhirnya mobil Satria memasuki jalan desa.Meski udara menusuk hingga tulang, namun kali ini—entah kenapa—Kaluna merasa jauh lebih hangat.Karena tangan kirinya sejak tadi tidak pernah lepas dari genggaman Satria di atas console tengah.Tidak ada banyak obrolan selama perjalanan dari Jakarta menuju Bandung.Kadang Satria hanya melirik sekilas.Kadang mengusap punggung tangan Kaluna dengan ibu jarinya.Sesederhana itu.Tapi cukup membuat hati Kaluna terasa penuh.Sampai akhirnya mobil berhenti di halaman rumah bapak dan ibu.Kaluna menelan ludah.Jantungnya berdebar kencang.Tangannya mulai dingin.“Aku takut…,” bisiknya pelan.Satria menoleh.Tatapannya lembut.“Takut kenapa?”Kaluna menggigit bibir bawah.“Aku pergi tanpa bilang … aku pasti bikin ibu sama bapak khawatir.”Satria tersenyum kecil.Tangannya terangkat, mengusap kepala Kaluna.“Tenaaaan

  • Menantang Kasta   Paling Berbahaya

    Nightclub itu penuh.Lampu-lampu strobo memantul di dinding kaca, musik EDM menghentak hingga dada terasa bergetar. Para sosialita, pebisnis muda, selebriti, dan pewaris kaya memenuhi ruangan.Kaluna berdiri di tengah lobi VIP.“Siapkan meja,” katanya singkat pada Satria.Petu

  • Menantang Kasta   Tidak Pernah Sendiri

    Mobil mewah khusus operasional CEO AG Group meluncur halus meninggalkan gedung perusahaan.Sore Jakarta mulai meredup, cahaya keemasan berubah jingga di balik gedung-gedung tinggi.Kaluna bersandar di kursi belakang.Hari pertamanya berjalan baik.Terlalu baik.Ia baru saja membuktikan diri.

  • Menantang Kasta   Lebih Kuat

    Pagi itu, meja sarapan di mansion keluarga Gunadhya terasa sedikit berbeda.Biasanya santai tapi tidak seperti biasa, hari ini lebih khidmat.Kaluna turun mengenakan setelan blazer putih gading dengan rok span selutut. Rambutnya ditata rapi, makeup natural namun tegas. Elegan. Profesional. Tak te

  • Menantang Kasta   Tidak Dengan Pria Manapun

    Arshavina gelisah semalaman setelah sang suami memberitahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan Kaluna, dia yakin kalau Kanaya-kakak kembar Kaluna belum tahu tentang ini.Jadi, keesokan harinya setelah sang suami tercinta pergi ke kantor.Ia duduk lama di paviliun sayap kanan Mansion dengan buku

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status