MasukKetika kamu pergi, seluruh hidupku ikut mati.. Tak ada lagi alasan untukku menatap dunia.. semua percuma tanpa ada senyum manismu.. Tak ada lagi yang bisa kulakukan disini.. semua sia-sia karena kamu yang memilih pergi.. Aku mencintaimu sampai maut memisahkan. Seperti janji kita saat dahulu.. Tapi kenapa semesta lebih menyayangimu? **** Nicho harus kehilangan istri yang dicintainya untuk selamanya. Setiap hari, ia berdoa merayu malaikat maut untuk menjemput ajalnya. Namun jiwa yang rapuh itu kembali menguat akan kehadiran seorang wanita yang mampu menyinari kehidupannya. Seorang wanita yang mirip sekali dengan mendiang istrinya.. Wanita yang rupanya datang untuk menyibak pengkhianatan yang telah terjadi di masa lalu..
Lihat lebih banyakRose akhirnya membuat keputusan untuk tinggal di rumah sederhana milik ayahnya. Sambil menyelesaikan pendidikan dokternya, Rose juga sering mengunjungi Citra di rumah baru milik wanita itu. Abraham dan Citra telah resmi berpisah dua bulan setelahnya. Kehidupan Rose di rumah sakit juga berjalan dengan normal. Keinginannya tidak dipandang sebagai anak direktur telah dicapai. Sekarang dia bisa belajar dengan bebas tanpa gangguan. Gelar dokter resmi diraih Rose. Nicho dan Citra mendampingi Rose sebagai orang tuanya saat wisuda. "Kamu selalu membanggakan mama." Citra memeluk anaknya dengan erat. Rose berjalan ke sebelah dan memeluk ayahnya. "Ayah sangat menyayangimu." "Aku juga!" Rose menarik diri. "Kita ke makam ibu Bunga. Aku mau menunjukkan ini." Rose ingin memamerkan ijazahnya pada Bunga. Ketiganya lalu pergi ke makam milik Bunga. Disana Rose bercerita mengenai perjuangan selanjut
Rose dibawa pulang oleh ayah kandungnya. Wanita ini diberikan kamar, diminta untuk berganti pakaian. Tantenya yang baik langsung menghidangkan makanan. Takut jika Rose kelaparan karena terlalu lama berkelana di jalanan."Rumah ini kecil, Rose. Mungkin nggak sebesar tempat tinggal kalian." Ucap Nadia sambil menuangkan nasi pada piring keponakannya.Rose tersenyum pahit. "Itu bukan rumahku, bu Nadia. Itu rumah papa Bram dan mama Citra.""Mamamu bilang kalau kamu kabur dari rumah. Apa itu benar?" Tanya Nadia.Rose mengangguk sambil menunduk."Mereka bilang ingin berpisah. Papa juga ingin menjual rumah itu. Lagi pula, mereka bukan orang tuaku." Jawab Rose sambil memandang wajah ayahnya. "Aku tahu pak Nicho pasti sangat terpukul karena perbuatan mama. Aku pun sama. Aku.. merasa seperti alat yang digunakan untuk mama mendapatkan pak Nicho. Aku.. aku..." Rose menangis tak mampu melanjutkan ucapannya."Nak.." tegur Nicho lembut.
Citra menghubungi semua divisi rumah sakit. Termasuk rekan-rekan coas putrinya. Sayang sekali, Rose tak muncul sejak tiga hari yang lalu. Wanita itu bahkan melewatkan jadwal jaganya tanpa izin."Dimana kamu, Rose.." Citra sangat bersusah hati. Ia terduduk lemas di kursi kerjanya. Andai saja Citra menahan kepergian Rose. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Putrinya itu pasti mengalami hal yang berat. Ia terpukul karena mendapatkan fakta jika bukan anak kandung dari Citra.Terlebih mengingat perlakuan Abraham selama ini padanya. Oh.. Rose pasti kecewa.Pintu diketuk membuat Citra cepat-cepat mengusap air matanya. "Masuk lah." Ujarnya.Seseorang masuk. Citra bersiap dengan menggunakan jas dokternya. Kebetulan dia harus melaksanakan praktek di poliklinik hari ini."Abraham.." mata Citra langsung menyipit. Mau apa lagi pria ini?"Aku sedang melakukan ronde manajemen, jadi sekalian mampir kemari." Abraham menaruh
"Sudah cukup, Renza. Terima kasih." Ucap Nicho menarik kakinya.Keponakannya yang manja ini sudah tumbuh dewasa. Meskipun sedikit galak, Renza memiliki kepribadian seperti ibunya. Yaitu lembut dan penuh perhatian.Contohnya seperti hari ini, Renza bersama Nadia mampir lagi ke rumah Nicho. Tak hanya membawakan bekal makanan, Renza juga memberikan pijatan pada pamannya yang terlihat letih itu."Bahunya mau aku pijit juga nggak?" Tawar Renza.Nicho terkekeh. "Tidak perlu. Kapan kamu wisuda?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan."Dua bulan lagi, paman. Nanti aku mau paman datang.""Pasti paman datang.."Setelah Renza, kini giliran Nadia yang menegur. Wanita ini baru saja membuat bubur kacang hijau."Cicip dulu, mas. Ini nggak terlalu manis."Nicho menerima mangkuk kecil tersebut dan mengaduknya perlahan."Sudah lebih dari tiga hari. Apakah Rose menghubungimu?" Tanya Nadia penasaran.Tiga hari






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan