Se connecterTujuan pertama mereka adalah Times SquareBegitu turun dari mobil—Ratu benar-benar membeku.Matanya membesar. Mulutnya sedikit terbuka.Gedung tinggi mengelilingi mereka. Layar digital raksasa menyala di segala arah. Iklan fashion. Film. Brand dunia. Lampu warna-warni. Suara musik jalanan. Turis dari berbagai negara. Dan energi kota yang seperti tidak pernah tidur.“Aa .…” Ratu menatap sekeliling, suaranya pelan sekali.“Aku kayak masuk film Hollywood.”Zyandru tertawa kecil. “Iyaaa, Neng pemeran utamanya.”Ratu tidak merespon. Ia justru berputar pelan demi bisa menjangkau penglihatan ke segala arah.Lalu—cekrek.Zyandru diam-diam memotret.Detik itu juga Ratu menoleh.“Aa!”“Kenapa?”“Jangan candid!”“Tapi cantik.”Dan sukses.Pipi Ratu kembali merah.Beberapa menit kemudian—mereka berfoto bersama.Ratu memaksa Zyandru ikut gaya lucu.Zyandru awalnya menolak.Namun akhirnya menyerah.Dan hasilnya—Ratu tertawa sampai memegangi perut.“Ya ampun… muka Aa kaku bange
“Oh iya … iya Kak ….”“….”“Iya juga sih ….”Suara Ratu yang sedang bicara di telepon terdengar hingga lorong menuju pintu keluar.Zyandru yang baru masuk membawa satu paperbag makan malam langsung menuju ke asal suara.Dia menggeser pelan pintu ke arah balkon membuat Ratu membalikan badan.Telunjuknya refleks menempel di bibir disertai tatapan penuh peringatan.Dia masih bicara di telepon dan jika Zyandru tidak salah menebak, Kaluna yang ada di ujung panggilan sana.Zyandru mengedipkan satu mata, mengangkat paperbag sebagai kode kalau dia yang akan menyiapkan makan malam.Sebelum mendapat anggukan Ratu—Zyandru kembali masuk ke dalam Penthouse untuk menyajikan makan malam mereka.Ratu masih di balkon ditemani udara sejuk malam itu, percakapan dengan kakak iparnya sepertinya seru.Sementara itu Zyandru mulai menyiapkan piring dan mengisi gelas dengan air mineral.Tidak lama sosok Ratu muncul di ruang makan, Zyandru mendongak dan dia melihat ekspresi tidak terbaca di wajah c
Pagi di rumah bapak dan ibu dimulai jauh lebih cepat dibanding kehidupan mereka di Jakarta.Saat langit masih diselimuti kabut tipis, suara ayam jantan sudah lebih dulu memecah kesunyian.Udara Bandung yang dingin menyelinap masuk dari sela jendela.Aroma kopi hitam dan bawang putih tumis dari dapur membuat Kaluna perlahan membuka mata.Ia mengerjap beberapa kali.Butuh beberapa detik untuk mengingat kalau sekarang dia bukan lagi berada di apartemen kecil mereka di Jakarta.Melainkan di rumah sederhana milik bapak dan ibu.Di desa.Kaluna menoleh ke samping.Satria sudah tidak ada.Selimut di sisinya dingin.Berarti pria itu sudah bangun lebih dulu.Kaluna duduk perlahan.Bekas operasinya masih terasa sedikit tertarik, tapi jauh lebih baik dibanding beberapa hari lalu.Setelah mandi dan berganti pakaian dengan blouse krem longgar dan celana kulot bahan linen, Kaluna keluar kamar.Ia mendapati Satria sedang membantu bapak di halaman belakang.Keduanya tampak sedang memi
Perjalanan dari Jakarta ke Bandung terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.Satria dan Kaluna sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.Mobil Satria melaju membelah jalan tol dengan kecepatan stabil.Kaluna duduk di kursi penumpang sambil sesekali menatap ke luar jendela.Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang.Digantikan hamparan hijau, pepohonan, sawah, dan langit yang terasa lebih luas.Udara pun perlahan berubah.Lebih sejuk dan ringan.Dan entah kenapa lebih menenangkan.Kaluna mengusap perutnya pelan.Bekas operasi itu masih terasa sesekali.Tidak terlalu sakit.Tapi cukup untuk mengingatkannya pada apa yang baru saja mereka lalui.Di sampingnya, Satria fokus menyetir.Tangannya mantap di kemudi.Namun tatapannya lebih dalam dari biasanya.Kaluna melirik sekilas.“Sayang…”“Hm?”“Kamu enggak nyesel, kan?”Pertanyaan itu membuat tangan Satria sedikit mengencang di setir.“NyeseI apa?”“Pulang ke Bandung.”Sunyi beberapa detik.Sampai akhirnya Satria mengg
Pagi di Manhattan terasa jauh berbeda dari Jakarta.Udaranya dingin namun segar. Langit biru terang. Sinar matahari memantul di kaca-kaca gedung tinggi, membuat kota itu terlihat seperti hidup tanpa pernah benar-benar tidur.Di dalam penthouse, Ratu baru saja selesai sarapan ketika Zyandru keluar dari walk-in closet.Hari ini pria itu tampil berbeda.Bukan kaos santai seperti semalam.Melainkan kemeja putih fitted, coat hitam panjang, jam tangan mewah, dan rambut yang tertata rapi.Benar-benar seperti pria yang keluar dari cover majalah bisnis.Ratu yang sedang duduk di kitchen island sampai tersedak air putih yang dia minum.Matanya mengerjap beberapa kali.Zyandru yang sadar sedang diperhatikan justru menyeringai.“Kenapa?”Ratu cepat menggeleng.“Enggak…”“Bohong.” Zyandru berjalan mendekat.Membungkuk sedikit.“Gelagat kamu aneh.”Pipi Ratu langsung memanas. “Ganteng banget .…” Kalimat itu keluar beg
Matahari pagi kini sudah benar-benar naik.Cahayanya masuk dari balik jendela apartemen kecil mereka, memantul lembut di lantai keramik dan meja makan mungil yang sejak tadi dipenuhi aroma mentega, roti panggang, dan telur orak-arik.Di dapur kecil itu, Satria sibuk sambil mengenakan celemek hitam yang entah sejak kapan melingkar di pinggangnya.Tangannya cekatan menuang teh hangat ke dalam dua cangkir.Sesekali matanya melirik ke arah kamar.Memastikan Kaluna baik-baik saja.Sejak pulang dari rumah sakit, pagi-pagi mereka berubah.Tidak ada lagi pagi yang terburu-buru.Tidak ada lagi suara notifikasi email pekerjaan atau jadwal interview.Yang ada hanya Kaluna.Dan memastikan istrinya pulih.Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka terdengar.Satria refleks menoleh.Dan seketika tatapannya melembut.Kaluna keluar dari kamar dengan rambut yang masih setengah basah.Tubuhnya dibungkus dress rumahan berbahan katun lembut. Wajahnya masih pucat, tapi jauh le
Kaluna terbangun dari tidurnya yang nyenyak, tidak ada lagi begadang, pikirannya sudah tenang sekarang setelah dia memenangkan tender dari klien Jepang.Punggungnya menegak, mengangkat kedua tangan meregangkan tubuh.Dia lantas turun ke lantai satu setelah mencuci wajah.Weekend di mansion Gunad
Ruang rapat lantai dua puluh satu terasa lebih dingin dari biasanya.Empat perwakilan perusahaan Jepang duduk dengan postur tegak, tablet dan dokumen terbuka rapi di depan mereka. Para direksi anak perusahaan AG Group yang Kaluna pimpin terlihat duduk di sisi lain meja panjang, tegang namun
Ruang rawat VIP itu sunyi.Kaluna tertidur setelah infus bekerja.Satria duduk di sofa dekat jendela. Laptop terbuka. Slide presentasi terpampang.Ia memeriksa ulang angka.Mengoreksi tata bahasa.Menandai potensi pertanyaan yang mungkin muncul dari klien Jepang.Sesekali ia melirik ke arah r
Presentasi dengan klien besar dari Jepang tinggal hitungan hari. Ruang CEO berubah seperti markas perang.Meja panjang penuh dengan berkas, grafik, catatan tangan, sticky notes warna-warni, dan iPad yang tidak pernah benar-benar mati.Kaluna sedang berdiri di depan layar proyektor, mengulang s







