Share

Sang Penjaga

Auteur: Erna Azura
last update Date de publication: 2026-03-14 21:31:00

Hari itu Kaluna bangun pagi sekali, bahkan ketika matahari belum terbit.

Setelah meregangkan tubuhnya mengangkat kedua tangan ke atas, dia langsung berpikir bagaimana caranya bertemu Satria.

Karena hari ini weekend, kantor tutup.

Karyawan AG Group pasti senang, namun tidak begitu dengan Kaluna yang jadi tidak bisa bertemu Satria.

Dia menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding.

Waktu menunjukkan pukul 05.45 pagi.

Kaluna menggigit bibirnya pelan lalu menoleh k
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (4)
goodnovel comment avatar
rianur378
go go go Aa Satria,,, fighting!!!
goodnovel comment avatar
Ferinda Yanti
ayo aa' kamu bisa,,hehehe
goodnovel comment avatar
virna putri
Semangat Aa Satria... bisa yuk bisa.. usaha dan do'anya dikencengin Aa
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Terlalu Egois

    “Sayaaang ….” Seperti biasa, Kaluna selalu menyambut Satria di depan pintu.Satria yang baru saja turun dari mobil mengangkat keresek di tangannya.Sorot mata Kaluna langsung berbinar.“Ketan bakar … pesenan kamu,” kata Satria begitu langkahnya sampai di teras, di depan Kaluna.“Maaciiii ….” Kaluna mengecup pipi Satria.Cup.“Aku mandi dulu ya ….” Satria merangkul Kaluna masuk ke dalam rumah.“Eh … aku ambilin handuk dulu ya.” “Enggak usah sayang … nanti aku ambil sendiri … kami makan aja ketan bakarnya sama ibu ya.” “Sudah pulang, Nak?” Ibu mendengar suara Satria langsung menyambut.“Iya Bu.” Satria mengecup punggung tangannya.“Ibu, Satria bawa ketan bakar … kita makan berdua yuk!” “Waaa … boleh-boleh.” Kaluna duduk di samping Ibu.Satria mengecup puncak kepala Kaluna sebelum akhirnya pergi ke kamar mengambil handuk.“Wangi apa ini?” Bapak baru saja masuk ke dalam rumah, pulang dari masjid.“Ini Pak, Satria bawa ketan bakar … Bapak mau?”“Mau dooonk.” Bapak du

  • Menantang Kasta   Malaikat Penolongnya Ratu

    Lift privat berhenti tepat di lantai tertinggi.Ting.Pintu terbuka.Om Kaivan melangkah keluar dengan satu tangan masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang ponsel.Beberapa staff yang berpapasan langsung membungkuk hormat.“Siang, Pak.”Kaivan hanya mengangguk kecil sambil terus berjalan menuju ruangannya.Begitu pintu kaca bertuliskan President Director tertutup—Kaivan melempar tubuhnya ke kursi kebesaran.Tatapannya sempat jatuh pada kartu nama yang tadi sempat ia berikan kepada Ratu.Lalu tanpa berpikir panjang—ia menekan salah satu nama di kontak favoritnya.Zyandru.Nada sambung baru berdering dua kali—langsung diangkat.“Om Kaivan …..” Suara berat di sana terdengar datar seperti biasa.Kaivan tersenyum kecil.“Lagi sibuk?”“Enggak juga … Kenapa?”Kaivan menyandarkan tubuhnya.“Tadi Om ketemu cewek kamu.”Di seberang sana mendadak sunyi.Beberapa detik.Lalu suara Zyandru terdengar lebih pelan dari sebelumnya.“Siapa? Ratu?”Kaivan tersenyum t

  • Menantang Kasta   Tidak Sama

    Pagi keesokan harinya, Kaluna dan Satria kembali ke Lembang.Gedung bertingkat berganti hamparan kebun teh.Sampai akhirnya mobil Satria memasuki jalan desa.Meski udara menusuk hingga tulang, namun kali ini—entah kenapa—Kaluna merasa jauh lebih hangat.Karena tangan kirinya sejak tadi tidak pernah lepas dari genggaman Satria di atas console tengah.Tidak ada banyak obrolan selama perjalanan dari Jakarta menuju Bandung.Kadang Satria hanya melirik sekilas.Kadang mengusap punggung tangan Kaluna dengan ibu jarinya.Sesederhana itu.Tapi cukup membuat hati Kaluna terasa penuh.Sampai akhirnya mobil berhenti di halaman rumah bapak dan ibu.Kaluna menelan ludah.Jantungnya berdebar kencang.Tangannya mulai dingin.“Aku takut…,” bisiknya pelan.Satria menoleh.Tatapannya lembut.“Takut kenapa?”Kaluna menggigit bibir bawah.“Aku pergi tanpa bilang … aku pasti bikin ibu sama bapak khawatir.”Satria tersenyum kecil.Tangannya terangkat, mengusap kepala Kaluna.“Tenaaaan

  • Menantang Kasta   Memberi Waktu Tanpa Meninggalkan

    “Kamu udah makan, sayang?” Satria bertanya sambil menutup pintu.Mereka baru saja sampai di kamar hotel milik AG Group.Langkah Kaluna berhenti di tengah kamar suite itu, dia membalikan badan.Matanya kembali basah.“Sayaaang … aku salah apa?” Satria mendekat.Mengusap pipi Kaluna yang basah.“Maafin aku … Maafin aku …..” Kaluna terisak, seketika itu juga Satria membawanya ke dalam pelukan.“Aku yang mau minta maaf sama kamu sampai kamu pergi enggak kasih tahu aku … aku salah apa?” Satria mengecup kepala Kaluna dalam.Kaluna mengurai pelukan, dia menarik tangan Satria menuntunnya duduk di sofa.“Tapi kalau aku cerita, kamu enggak akan marah, kan?” tanya Kaluna hati-hati.Satria tersenyum kecil, tangannya mengusap kepala Kaluna lembut.“Apa pernah aku marah sama kamu?” Kaluna menggelengkan kepala.“Kalau aku cerita, apapun itu yang menyakiti hati kamu … Kamu enggak akan benci sama aku?” Kaluna bertanya lagi mencari keyakinan.Satria terpekur sebentar sampai akhirnya di

  • Menantang Kasta   Pergi Bukan Untuk Meninggalkan

    Malam telah larut.Jam di dinding rumah keluarga Gunadhya sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.Udara Jakarta terasa berbeda dari Lembang.Lebih hangat. Lebih padat. Lebih sesak.Namun di teras samping mansion megah itu, suasananya justru terasa begitu dingin.Kaluna masih berlutut.Dress cream yang dikenakannya kini sudah kusut di beberapa bagian.Rambut panjangnya semakin berantakan.Wajah cantiknya tampak sembab.Bibirnya pucat.Dan tubuhnya sesekali bergetar menahan lelah.Di sampingnya—bunda Arshavina masih duduk bersimpuh.Sesekali mengusap pundak Kaluna.Sesekali menghapus air mata sendiri.Bahkan dari tadi—wanita yang masih cantik diusianya meski tak lagi muda itu belum berhenti menangis.“Luna .…” Suara bunda terdengar pecah.“Cukup, Sayang … ayo bangun, nanti lutut kamu sakit .…”Kaluna menggeleng lemah.“Ayah belum janji, Bun ... Luna enggak mau pulang tanpa hasil, kasian Satria … Bu, dia berjuang mati-matian membahagiakan Luna … kedua orang tuanya

  • Menantang Kasta   Memohon Untuk Satria

    Siang sudah berganti malam ketika mobil Satria yang dikendarai Kaluna akhirnya memasuki kawasan elite Pondok Indah.Lampu-lampu taman di sepanjang jalan menyala hangat.Deretan mansion megah berdiri angkuh.Semuanya masih sama.Tidak ada yang berubah.Rumput-rumput dipangkas sempurna.Air mancur menyala indah.Petugas keamanan membungkuk hormat begitu tahu Kaluna yang mengemudikan mobil tersebut.Dengan perlahan mobil memasuki gerbang rumah keluarga Gunadhya.Namun anehnya—untuk pertama kalinya sejak kecil—Kaluna tidak lagi merasa pulang.Tangannya masih menggenggam setir erat.Napasnya memburu. Matanya sembab. Dan dadanya terasa begitu penuh.Bukan karena rindu. Melainkan karena marah.Karena hari ini—Kaluna datang bukan sebagai putri manja keluarga Gunadhya.Tapi sebagai istri Satria.Sebagai perempuan yang sedang memperjuangkan suaminya.Setelah mobil berhenti di area carport—Kaluna langsung turun.Tidak peduli rambutnya sedikit berantakan.Tidak peduli wajahnya p

  • Menantang Kasta   Sembunyi-sembunyi

    Kaluna bangun dengan perasaan bahagia, dia mandi sambil bersenandung.Dan ketika berdiri di depan cermin tinggi di walk in closet untuk mengecek penampilannya, dia melihat pantulan dirinya di sana begitu cantik karena bahagia.Bukan Kaluna dengan kantung mata hitam dan tatapan sendu lantaran mena

  • Menantang Kasta   Pria Biasa

    Kaluna sudah dalam keadaan segar habis mandi ketika malam benar-benar turun di Jakarta.Lampu kamar hanya menyala setengah, tirai jendela terbuka sedikit memperlihatkan gemerlap lampu kota dari kejauhan.Ia duduk bersila di atas tempat tidur dengan ponsel di tangan.Tiba-tiba dia t

  • Menantang Kasta   Tak Lagi Dirundung Kesedihan

    Langit sudah beranjak siang ketika privet jet mewah itu landing. Jalanan ibukota kembali dipenuhi kesibukan seperti biasa, sangat berbeda dengan suasana tenang di Bali.Mobil yang dikemudikan Satria akhirnya berhenti di depan rumah besar milik keluarga Gunadhya di kawasan elite kota Jakarta.Satr

  • Menantang Kasta   Sudah Terlalu Jauh

    Punggung Kaluna menekan dada bidang seseorang.“Apa yang kamu lakukan?” Bentak Satria dari belakang.Kaluna berguling menjauh.“Jangan ikut campur!” seru Kaluna marah.“Apa aku bilang kemarin? Kamu berharga Luna! Satria mendekat, meraih tangan Kaluna.Kaluna menggel

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status